[Fiksi] – Taman Tamasya Tak Hingga

Milo sedang menyeduh secangkir kopi ketika menyadari layar monitornya berpendar. Milo menoleh, tapi dia tampak ragu-ragu. Dia menelengkan kepalanya sedikit, sembari memperhatikan kerlap-kerlip cahaya yang muncul di layar monitor. Milo ingat bahwa terakhir kalinya benda itu berpendar adalah 58.347 hari yang lalu. Jadi bisa dibilang sudah cukup lama. 

Continue reading “[Fiksi] – Taman Tamasya Tak Hingga”

[Fiksi] – Bangku Kosong

Pada hari itu, Romi memutuskan untuk pulang lebih awal. Kepalanya pening seperti mau pecah. Walau begitu, dia tidak ingin ke dokter, dia hanya ingin merebahkan diri di kasurnya yang empuk.

Ketika dia melangkahkan kaki keluar dari pintu depan kantor, jam di tangannya baru menunjukkan pukul setengah lima sore.

Dia menyusuri trotoar di sepanjang jalan besar, menuju ke halte bus tempat dia biasa naik.  Bagi Romi yang setiap hari selalu pulang kerja larut malam, pemandangan sore hari malah terasa amat ganjil.

Continue reading “[Fiksi] – Bangku Kosong”

[Fiksi] – Getihwesi (IV)

Beberapa hari yang lalu, saat timnya memutuskan untuk menyelidiki fenomena gunung berapi Laduwesi, salah seorang senior di kantor mendatangi kubikel Rendy. Seniornya itu adalah pria paruh baya dengan rambut dan kumis tebal yang mulai berwarna putih. Sambil mengembuskan asap rokok, senior itu berbicara pelan-pelan di dekat telinganya.

Kalian enggak usah ke sana, percuma. Hampir semua peneliti lama di sini sudah tahu soal fenomena di gunung Laduwesi, tapi mereka membiarkan saja. Penelitian kalian hanya akan menambah pertanyaan daripada jawaban. Ada banyak hal ganjil terjadi di sana, hal mistis dan di luar akal sehat, salah-salah kalian semua enggak bisa pulang.

Pria itu juga mengatakan bahwa kawah Laduwesi hanya aktif setiap selama satu minggu setiap tiga tahun sekali. Setelah ada aktivitas vulkanik kecil, gunung itu akan tertidur lagi.

Mirip seperti binatang yang sedang hibernasi, ujar seniornya itu, sambil kembali mengembuskan asap rokok.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (IV)”

[Fiksi] – Getihwesi (III)

Mimpi tentang kakaknya selalu dimulai dengan pemandangan yang sama. Gunung Vesuvius meletus; menggelegar, melahap seluruh penduduk kota Pompeii. Sementara dia dan kakaknya melayang di angkasa, memerhatikan semua itu dari kejauhan. Teriakan putus asa dan rintih kesakitan memekakan telinganya. Udara terasa pengap dan panas. Langit di atasnya merah, dan daratan di bawah membara. Pada titik ini kakaknya akan menoleh dan tersenyum.

Semua hal yang diberikan bisa diambil lagi, ingat itu, bisik kakaknya lirih.

Biasanya mimpinya akan berakhir di situ. Tapi kali ini tidak, Astri bisa merasakan bau mayat-mayat yang terbakar, serta bangunan-bangunan dan bebatuan yang meleleh. Dia bisa mencium dengan jelas,

bau amis darah dan besi memenuhi udara …

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (III)”

#24 – Pilihan

11 November 2020, kala sedang menumpang kapal yang tengah menyebrangi Selat Sunda, ponsel saya tiba-tiba bergetar. Saya yang sedang duduk bersantai di dek atas, beringsut ke sisi kapal, menyingkir dari keriuhan canda dan obrolan penumpang lain.

Ada pesan masuk dari seorang kawan seangkatan. Isinya lugas, menawarkan kesempatan untuk ikut seleksi tertutup sebuah tim (kita sebut tim A). “Supaya bisa kembali ke Jakarta bareng keluarga,” ajak kawan saya itu.

Continue reading “#24 – Pilihan”

#23 – Shedding Persona

Tiap-tiap diri kita memiliki banyak topeng.

Saya baru menyadari hal itu di usia 21 tahun, dari gurauan seorang kawan kuliah kala dia melihat ada mahasiswa yang seperti berpura-pura bersikap ramah kepada orang yang tidak disukai / berusaha mencari muka di hadapan dosen.

“Hati-hati itu topengnya jatuh,” celetuknya tiap kali melihat pemandangan itu.

Continue reading “#23 – Shedding Persona”

[Fiksi] – Kincir Angin

Dua minggu yang lalu aku berpapasan dengan seorang lelaki tua.

Tubuh lelaki tua itu terlihat ringkih. Wajahnya bertekuk. Dia berjalan tertatih menyusuri trotoar di pinggir jalan raya.

Dipikulnya tiga batang bambu panjang. Di ujung tiap bambu terpasang kincir angin mainan dengan bilah berwarna warni. Merah, kuning, hijau.

Zaman sekarang, siapa yang mau membeli mainan kuno semacam itu? pikirku.

Aku mengkhawatirkan lelaki tua itu, tapi hanya sambil lalu.

Continue reading “[Fiksi] – Kincir Angin”

[Fiksi] – Sang Mualim

Pagi itu sang mualim dibangunkan oleh semburat sinar matahari dari sela-sela jendela kabin. Setelah mengerjap beberapa kali, dia bangun sambil menggaruk kepala. Sang mualim kemudian membuka tirai penutup jendela, membiarkan cahaya menerangi ruangan mungil yang menjadi tempatnya tidur setiap malam.

Setelah meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal karena harus tidur dengan posisi meringkuk, dia berpakaian dan berjalan keluar dari kamarnya.

Continue reading “[Fiksi] – Sang Mualim”

#22 – Kalimongso dan Lorong-lorong Sunyi

Beberapa waktu yang lalu, pembicaraan tentang stress, anxiety, dan safe place di sekitar saya kembali terjadi. Bagai fenomena bapak-bapak berumur yang gemar membicarakan penyakit yang dimiliki satu sama lain, generasi milenial dan 90an di sekitar saya mulai gemar membicarakan tentang stress dalam pekerjaan dan keseharian mereka.

Sebagaimana diungkap dalam berbagai sumber dan penelitian, membagi masalah dan stress kepada teman adalah salah satu cara untuk mengurangi stress di dalam diri kita.

Dengan membicarakannya, berarti kita menerima kenyataan bahwa kondisi mental kita memang sedang tidak bagus. Mengakui adanya masalah adalah langkah pertama untuk mengatasi masalah itu. Dengan membicarakannya juga berarti kita bisa membangun support system satu sama lain yang bisa mengawasi dan menjauhkan diri kita dari depresi.

Namun kita memang harus pandai-pandai mencari orang yang akan kita ajak bicara. Jangan sampai satu-satunya hal yang keluar dari mulut lawan bicara kita adalah ceramah dan judgement tentang lembeknya mental dan kurangnya iman kita.

Continue reading “#22 – Kalimongso dan Lorong-lorong Sunyi”

[Fiksi] – Getihwesi (II)

Astri merasakan tubuhnya ditarik tiba-tiba. Dia menoleh. Di belakangnya berdiri seorang pria muda yang mengenakan setelan beskap[1]. Pria itu bermata teduh dengan kulit putih pucat. Usia pria itu mungkin hanya beberapa tahun lebih tua daripada dirinya. Setelah menarik tubuh Astri, dia mengeluarkan sapu tangan putih dan mengelap jemari Astri yang basah dengan noda berwarna merah.

“Mbak, air hujan merah ini berbahaya jika tidak segera dibersihkan,” ujar pria itu. Suaranya ternyata sehalus dan selembut sorot matanya. “Perkenalkan, saya Pringadi, Kepala Desa Getihwesi. Mas Mo, tolong antar Mbaknya ini diantar cuci tangan,” perintahnya.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (II)”