Sang Mualim

Pagi itu sang mualim dibangunkan oleh semburat sinar matahari dari sela-sela jendela kabin. Setelah mengerjap beberapa kali, dia bangun sambil menggaruk kepala. Sang mualim kemudian membuka tirai penutup jendela, membiarkan cahaya menerangi ruangan mungil yang menjadi tempatnya tidur setiap malam.

Setelah meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal karena harus tidur dengan posisi meringkuk, dia berpakaian dan berjalan keluar dari kamarnya.

Continue reading “Sang Mualim”

#22 – Kalimongso dan Lorong-lorong Sunyi

Beberapa waktu yang lalu, pembicaraan tentang stress, anxiety, dan safe place di sekitar saya kembali terjadi. Bagai fenomena bapak-bapak berumur yang gemar membicarakan penyakit yang dimiliki satu sama lain, generasi milenial dan 90an di sekitar saya mulai gemar membicarakan tentang stress dalam pekerjaan dan keseharian mereka.

Sebagaimana diungkap dalam berbagai sumber dan penelitian, membagi masalah dan stress kepada teman adalah salah satu cara untuk mengurangi stress di dalam diri kita.

Dengan membicarakannya, berarti kita menerima kenyataan bahwa kondisi mental kita memang sedang tidak bagus. Mengakui adanya masalah adalah langkah pertama untuk mengatasi masalah itu. Dengan membicarakannya juga berarti kita bisa membangun support system satu sama lain yang bisa mengawasi dan menjauhkan diri kita dari depresi.

Namun kita memang harus pandai-pandai mencari orang yang akan kita ajak bicara. Jangan sampai satu-satunya hal yang keluar dari mulut lawan bicara kita adalah ceramah dan judgement tentang lembeknya mental dan kurangnya iman kita.

Continue reading “#22 – Kalimongso dan Lorong-lorong Sunyi”

[Fiksi] – Getihwesi (Bagian 2)

“Jangan disentuh, bahaya!” Teriak seseorang di belakang Astri. Mendengar teriakan itu, Astri sontak menarik tangannya dari bawah tetasan air. Ia menoleh ke belakang, Kusumo tergopoh-gopoh berlari ke arahnya. Di sebelah Kusumo berjalan seorang pria. Pria itu mengenakan beskap[1]. Dia terlihat masih muda, mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari Astri. Wajahnya halus, dan sorot matanya lembut.

“Air hujan merah ini berbahaya jika disentuh,” ujar pria itu. Suaranya ternyata sehalus dan selembut sorot matanya. Dia menyeka tangan Astri dengan sapu tangan putih yang dibawanya, seraya memperkenalkan diri. “Saya Pringadi, Kepala Desa Getihwesi. Mas Mo, tolong antar Mbaknya ini diantar cuci tangan,” perintahnya.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (Bagian 2)”

[Fiksi] – Getihwesi (Bagian I)

“Seharusnya kita sudah dekat,” ujar Rendy. Dia menggaruk kepalanya sambil membolak-balik selembar peta lecek di udara. Astri mengangguk pasrah, dia sudah terlalu lelah untuk protes dan mengomel. Yanti yang sedari tadi duduk di atas batu juga hanya terdiam. Nafasnya terengah-engah. Kaus dan kardigan yang dia kenakan tampak basah oleh keringat.

Setelah beristirahat untuk minum selama lima menit, mereka bertiga memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar setengah jam kemudian mereka menemukan jalan setapak yang sepertinya sering digunakan oleh warga sekitar.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (Bagian I)”

#21 – Plan the Unplannable: How to Financially Prepare Having A Baby in Pandemic Time, and More.

Bagi kalian yang sibuk dan ingin tahu kesimpulan akhirnya; caranya dengan menabung

Otherwise, this is the complete story. 

Continue reading “#21 – Plan the Unplannable: How to Financially Prepare Having A Baby in Pandemic Time, and More.”

[Fiksi] – Simbol (Bagian II – Selesai)

Kami menyusuri sebuah lorong yang panjang dan gelap. Penerangan hanya berasal dari satu-dua lampu LED yang berada di langit-langit. Kapten berjalan paling depan sementara Ollie berjaga paling belakang. Di antara mereka berdua aku dan Lewis berjalan beriringan. Aku berjaga dengan extra siaga karena Lewis hanya bisa menggunakan sebelah tangannya.

Continue reading “[Fiksi] – Simbol (Bagian II – Selesai)”

#20 – Days of Manic Pixie Dream

Kala pertama kali menonton film 500 Days of Summer tahun 2010 silam, saya sebagai pria merasa sangat senang dan terwakili. Visualisasi galau dan jatuh bangunnya Tom Hansen dalam mengejar Summer Fin terasa sangat personal dan sangat nyata. Termasuk bagian ending saat Summer memutuskan untuk menikah dengan pria lain yang belum lama dia kenal.

Setelah menonton itu saya berkesimpulan bahwa walaupun seorang pria sudah berupaya maksimal dan habis-habisan seperti Tom, pada akhirnya ada perempuan seperti Summer yang mengabaikannya dan memilih untuk bersama dengan orang lain.

Terkadang, secantik dan semenarik apapun perempuan, bisa jadi dia brengsek.

Continue reading “#20 – Days of Manic Pixie Dream”

[Fiksi] – Simbol (Bagian I)

Kami berlima meringkuk di balik sebuah tembok beton reruntuhan bangunan peradaban lama. Di seberang sana riuh dengan desingan senapan laser dan dentuman granat antimatter. Tentara Imperium dan Republik perlahan tapi pasti mulai merangsek masuk dan menjadikan tempat ini arena pertempuran.

Negara kecil ini akan segera hancur. Tapi sebelum itu terjadi, kami harus bisa mengambil benda yang menjadi penyebab semua peperangan ini. Sebuah harapan. Sebuah simbol.

Antara kami dan tempat benda itu disimpan, berdiri beberapa buah Crawler, robot-monster setinggi tiga meter. Cakar-cakar mereka berlapis baja, bisa dengan mudah mengoyak dinding beton. Keenam mata mereka berputar liar, mengawasi keadaan sekitar. Punggung mereka berdengung, dengan lubang-lubang yang mengeluarkan asap panas.

Continue reading “[Fiksi] – Simbol (Bagian I)”

#19 – Semangat Belajar

Saat berkunjung ke Bangkok pada tahun 2014, ada sebuah tempat yang sangat ingin saya kunjungi.

Tempat itu bukan Grand Palace, Wat Arun, maupun Flower Market, tetapi Masjid. Di kota dengan ratusan kuil megah ini, saya ingin tahu apakah ada masjid yang tak kalah megahnya.⁣

Niat tinggalah niat. Karena sibuk mengunjungi lokasi wisata yang lain, sampai hari terakhir di Bangkok saya tidak sempat menuntaskan niat menjelajah masjid-masjid di Bangkok.

Saya hanya sempat berkunjung ke satu masjid.⁣

Continue reading “#19 – Semangat Belajar”

#18 – Latte Factor

Teori Latte Factor dipopulerkan oleh David Bach, seorang Financial Expert berkebangsaan Amerika Serikat.

Latte Factor merujuk kepada kebiasaan sebagian orang dalam membelanjakan uang (dengan jumlah yang dirasa tak seberapa) namun secara rutin.

Continue reading “#18 – Latte Factor”