This is the place

Sit down, you’re safe now

Lift – Radiohead

Pertama kali mendengar Thom Yorke menyanyikan dua bait awal lagu Lift, saya langsung jatuh cinta.

Ada makna mendalam dibalik dua bait lirik itu. Semacam mantra penenang bagi mereka yang menderita anxiety, stres dan depresi. Walaupun lirik dalam lagu itu ditujukan untuk sang vokalis, tapi tidak bisa disangkal bahwa saya sebagai pendengar juga ikut merasa sedang berada di dalam sebuah safe place.

“Safe place” may be thought of as an emotional sanctuary where a person can internally go to recover stability when feeling stressed.

– Shapiro (2001)

Safe place dalam terminologi psikologi, khususnya metode EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) merujuk kepada sebuah tempat imajiner yang kita kunjungi ketika tingkat stres dan anxiety tinggi. Safe place ini haruslah sebuah tempat/gambar yang membuat kita merasa aman dan nyaman.

Tempat itu bisa berbeda-beda bagi tiap orang. Bisa berupa tempat yang pernah mereka datangi, ataupun juga tempat yang benar-benar fiktif.

Tahun 2017-2018 ketika sering mengalami serangan panik dan anxiety karena pekerjaan, saya belum mengenal metode itu. Saya tidak pernah melakukan proses internalisasi dan menenangkan diri dengan membayangkan sedang berada di sebuah safe place.

Kala itu jalan keluar saya hanyalah melarikan diri. Setiap kali merasa ritme jantung saya naik tak karuan dan rasa gelisah membuncah, saya akan pergi mencari tempat sepi untuk tidur atau pergi ke lantai 16 gedung sebelah untuk duduk-duduk sendirian sambil minum kopi.

Kedua hal itu cukup ampuh untuk membuat saya tenang kembali.

Sayangnya pelarian diri itu tidak bisa serta merta saya lakukan. Saya harus mencari waktu khusus atau mencuri-curi waktu di sela padatnya pekerjaan. Tapi ada kalanya perasaan itu benar-benar tak tertahankan. Jika sudah tak kuat lagi, saya biasanya pergi begitu saja meninggalkan apapun yang sedang saya kerjakan.

It was a really hard phase for me.

*

Kembali ke bahasan awal. Mendengarkan lagu Lift membuat saya memikirkan dengan serius tentang tempat-tempat yang bisa saya anggap sebagai safe place. Sekadar untuk berjaga-jaga apa yang terjadi pada tahun-tahun yang lalu terulang kembali.

Ada beberapa kandidat yang cocok, Ini adalah cerita tentang salah satunya; Taman Bacaan Kirana.

Sekitar tahun 1996, saat saya baru masuk ke sekolah dasar, bisnis perpustakaan dan taman bacaan cukup menjamur di daerah tempat saya tinggal. Komik-komik terbitan Elex sedang booming, begitu juga dengan Tiger Wong dan novel-novel Goosebumps dan Fear Street buatan R. L. Stine

Taman bacaan hadir sebagai solusi untuk kaum menengah seperti saya yang tak mampu untuk membeli setiap edisi dari komik Kungfu Boy dan Detektif Conan.

Ada dua taman bacaan yang cukup dekat dengan rumah dan sering saya datangi, yaitu Taman Bacaan Doraemon dan Taman Bacaan Kirana.

Taman Bacaan Doraemon berada sebuah rumah di kompleks perumahaan. Tepatnya tempat itu ada di dalam sebuah garasi mobil.

Tempatnya mungil, tapi sangat ramai. Untuk masuk ke dalam kita harus membuka slot gerbang lalu menekan bel garasi terlebih dahulu, karena biasanya tempat itu dalam keadaan tertutup. Penjaganya tak pernah ganti, seorang wanita paruh baya yang juga merangkap sebagai ART di rumah itu. Dia akan duduk di sebuah kursi kecil, menunggu kita selesai memilih buku. Setelah itu dia akan mencatat nama kita di dalam sebuah buku tulis, disusul dengan judul buku yang kita sewa serta kapan buku itu harus dikembalikan.

Komik-komik di tempat itu disusun di dalam rak-rak di seluruh dinding bagian kiri garasi. Selai itu buku-bukunya juga disimpan di dalam laci-laci kabinet. Sementara buku-buku koleksi terbaru mereka dipajang di atas sebuah meja kecil. disusun sedemikian rupa agar gampang terlihat.

Koleksi buku di taman bacaan itu tak terlalu lengkap, tapi harga sewanya murah dan kebal inflasi. Hingga terakhir dibuka pada tahun 2006/2007, komik-komik lama mereka harga sewanya masih Rp200-250 per buku. Biasanya saya menyewa ke sana jika berniat untuk binge read sebuah seri, seperti Shoot, Kotaro, Rave, dan sebagainya.

Dibandingkan dengan Doraemon, Kirana lebih modern dan lebih besar. Taman Bacaan ini terletak di sebuah ruko dua lantai, lantai satu digunakan sebagai taman bacaan, sementara lantai dua digunakan sebagai tempat les bahasa inggris.

Jaraknya dari rumah tidak terlalu jauh, sekitar sepuluh menit dengan menggunakan sepeda. Saya tak pernah tahu nama dari pemilik taman bacaan ini. Dulu ketika mereka masih aktif menjaga taman bacaan, saya memanggil mereka dengan sebutan umum saja, koko dan cici.

Saya mulai menjadi anggota sekitar kelas dua atau tiga SD, dengan hanya bermodalkan kartu anggota pramuka. Sampai sekarang saya masih ingat nomor keanggotaan saya, 10360.

Yang artinya saya adalah anggota ke 360.

Data para anggota dicatat di dalam sebuah komputer bermonitor CRT dan bersistem operasi DOS. Setiap peminjaman akan disertai dengan sebuah nota yang dicetak dengan sebuah printer dot matrix, berisi judul buku, tanggal pinjam, tanggal kembali, harga sewa masing-masing buku, dan harga totalnya. Jika kita lupa mengembalikan buku, koko atau cici akan menelepon ke rumah kita untuk mengingatkan.

Koleksi komik, novel, dan majalahnya terhitung lengkap. Komik-komik disusun di rak berdasarkan indeks judul secara alfabetis. Sementara novel disusun berdasarkan seri dan penulisnya.

Jika memejamkan mata, saya bisa membayangkan jemari saya sedang menyusuri rak-raknya. Mencari-cari edisi komik Salad Days yang ingin saya baca ulang untuk ke sekian kalinya di rak belakang. Atau sedang berjongkok dan mencuri-curi baca komik One Piece atau Ruler of The Land terbaru. Atau mungkin juga sedang berjalan menyusuri rak novel, mencari-cari cover buku yang menarik perhatian. BeSementara itu di bagian depan, sayup-sayup terdengar suara printer dot matrix yang sedang mencetak nota.

A moment of peace and solitude.

Tak ada hal lain yang mengganggu. Tak ada PR dan tugas kelompok, tak ada teman yang mengganggu, tak ada keluarga yang cerewet, tak ada yang menyuruh ini itu.

Hanya ada saya, buku-buku, dan suara printer dot matrix.

Saat masih sekolah setidaknya dua atau tiga kali seminggu saya ke sana untuk meminjam/mengembalikan buku. Bahkan setelah menikah dan punya anak, setiap kali pulang kampung saya dan istri pasti menyempatkan diri untuk meminjam buku di sana. Definisi pulang ke Bandung bagi saya belum afdol jika belum disertai pergi ke Kirana untuk meminjam buku.

Setelah mengenalkan Noury, saya sebenarnya berencana untuk mengenalkan Niskala juga. Saya kira Kirana akan terus bertahan karena tempat itu adalah satu-satunya taman bacaan yang tersisa di wilayah rumah.

Tapi ternyata tidak, awal tahun ini saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ruko tempat Kirana dulu berdiri, sudah berganti menjadi kedai bakmi.

foto diambil dari google street view.

Mendengar itu, rasanya ada yang pecah di dalam hati saya. Ada serpihan-serpihan yang mungkin akan tersapu hilang seiring dengan berjalannya waktu.

Safe place itu kini hanya tinggal kenangan.

Selamat jalan.

***

Bandar Lampung, 22 September 2020

Bonus: Videoklip Lift – Radiohead

Foto Sampul: Photo by Caleb Woods on Unsplash

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x