Sepuluh tahun yang lalu saya menginjak usia dua puluh tahun. Usia masa transisi dari ABG ke akang-akang. Waktu itu saya menyangka bahwa dengan berubahnya angka depan usia saya dari “1” menjadi “2” (kita sebut saja versi), saya akan tiba-tiba mendapat hidayah dari langit, lalu berubah menjadi orang yang kalem, dewasa, dan bijaksana.

Pada kenyataannya, dari kacamata saya yang sekarang sudah versi 3, saya versi 2 masih jauh dari definisi kalem, dewasa, dan bijaksana.

Potongan screenshot ini adalah salah satu buktinya.

facebook, never fails to remind how silly and dumb we are back then

Kala itu saya yang merasa sayang jika momen waktu dan tanggal cantik itu lewat begitu saja, dengan tergesa-gesa menelepon dan nembak seorang gadis SMA, yang baru saya kenal dua tiga bulan sebelumnya.

Selain sangat nggak bijak, momen itu juga memalukan karena melibatkan dua orang teman satu kost saya, yang harus ikut meneriakkan kata-kata cinta agar gadis itu mau menerima saya jadi pacarnya.

Dan memang hubungan kami tak bertahan lama. Singkatnya masa perkenalan, serta sulitnya komunikasi karena terpaut usia dan jarak yang cukup jauh membuat hubungan kami berakhir hanya dalam hitungan bulan. Malam tahun baru 2011 saya sudah sendiri lagi.

Highlight saya versi 2 sebenarnya bukan hanya itu. Saat itu bisa-bisanya saya rela menunggu sesuatu yang tak pasti selama bertahun-tahun. Hati saya korslet, mau menunggu seorang gadis tanpa diminta. Tanpa pernah ada janji atau perkataan apapun di antara kami. Hanya dengan sebuah harapan bahwa suatu hari dia akan jengah dengan kekasihnya. Putus, kemudian secara ajaib dan tiba-tiba menerima saya.

Saya versi 2 mungkin menyebutnya “cinta bertepuk sebelah tangan yang romantis”, tapi saya versi 3 menyebutnya “kelakuan tolol yang menyiksa diri sendiri”.

Meskipun begitu, saya versi 2 adalah saya yang paling produktif dalam menulis. Kombinasi dari patah hati dan waktu luang pasca lulus kuliah sungguh mujarab. Ide dan imajinasi muncul tanpa henti, berlompatan kesana kemari di dalam pikiran.

Melihat postingan-postingan di blog lama, saya yang dulu bisa enteng saja menulis dan mengisahkan berbagai topik, tanpa ada kesan bahwa setiap postingan itu isinya harus serius dan berbobot. Saya bisa menulis hal sereceh bertemu dengan gadis cantik di dalam angkot, atau tentang rebutan donat di kost-kostan saat masa kuliah. Rasanya menyenangkan.

Sekarang sulit. Entah mengapa jika membuka dan menulis di blog ini, rasanya selalu ingin menuliskan hal-hal yang berat dan berbobot. Kontradiktif dengan tujuan utama memindahkan blog ini jadi website sendiri , yaitu agar saya lebih leluasa, bebas dan aman dalam menulis.

Padahal buah pikiran baru menjadi nyata jika dituliskan, scribo ergo sum, yang membedakannya bukan perkara berat atau ringan, penting atau tak penting, hanya dituliskan atau tidak.

Ada sebuah kemungkinan yang saya takutkan. Bahwa saya versi 3 ini selain belum menjadi kalem, dewasa, dan bijaksana, malah menjadi kaku dan penggerutu. Menjadi orang yang hanya bisa mengeluh dan melihat hidup dari sisi buruknya. Menjadi orang yang tak sabar, gampang kesal, dan mudah marah.

Jika yang terjadi adalah seperti itu, rasanya saya versi 2 akan sangat kecewa pada saya versi 3.

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x