Saat masih SD saya rutin mengaji di masjid dari mulai magrib sampai isya. Saya dan beberapa anak seusia lainnya akan duduk berbaris, kemudian bergantian membaca Al-Quran sambil dikoreksi oleh guru ngaji. Di sela-sela menunggu antrian, kami biasanya mengobrol dan bercanda. Topik yang kala itu sering diobrolkan tak jauh dari game-game yang biasa kami mainkan sepulang sekolah di rental PS.

Suatu hari seorang teman mengaji datang dengan membawa sebuah gimbot ke masjid.

Well, saya pernah punya gimbot dan tahu seperti luar dalamnya, tapi gimbot yang dibawa anak itu berbeda. Setelah diperhatikan baik-baik, gimbot itu ternyata adalah sebuah Gameboy Color.

Gimbot yang sangat kece
sumber

Bentuknya sepintas terlihat sama dengan gimbot berisi tetris, tapi uh-la-la isinya bukan sekadar permainan tetris dan balap mobil berbentuk balok. Isinya jauh berbeda. Saya mencoba memainkan beberapa permainan di sela-sela antri mengaji. Sampai pada akhirnya saya menemukan sebuah permainan yang berjudul Pokémon.

Saat itulah yang menjadi titik perkenalan saya dengan seri-seri game Pokémon. Seri permainan yang selama kurang lebih dua dekade mempertahankan formula dasarnya, namun tetap laris bagai kacang polong setiap kali ada seri baru yang diluncurkan.

Dalam postingan ini saya sebenarnya hanya ingin mengenang game-game Pokémon yang dulu pernah saya mainkan, serta sedikit cerita dibalik tiap seri gamenya.

Pokémon Gold

rival paling ngehe sejagat pokemon
sumber

Pokémon Gold adalah game Pokémon yang pertama saya mainkan. Tahun 2000an Play Station sudah bukan hal yang aneh sebenarnya. Kami saat itu sudah terbiasa melihat permainan game dengan tampilan 3D, sehingga seharusnya game dengan grafik 2D seperti Pokémon ini tidak membuat takjub.

Tapi justru grafiknya inilah yang membuat saya langsung jatuh cinta. Grafik ini mengingatkan saya dengan permainan tabletop adventure ala-ala yang sering dibuat bersama dengan teman-teman sekolah.

Saat itu di sela-sela jam pelajaran kami sering membuat konsep peta sebuah kota (atau apapun settingnya sesuai selera). Peta itu dilengkapi dengan bangunan-bangunan tembus pandang, serta orang-orangan yang kami gambar sendiri.

Pada jam istirahat, kami akan berkumpul dan memainkannya. si pembuat peta biasanya menjadi GM (Game Master), sementara satu atau dua orang lain jadi pemain, sisanya menonton. Skenarionya singkat dan asal-asalan, dipenuhi dengan aturan dan logika yang seenaknya dibuat. Tapi tetap saja jadi saat-saat yang menyenangkan.

Memainkan Pokémon membuat saya mengingat saat-saat itu.

Ada banyak fitur kecil di dalam Pokémon Gold yang menakjubkan. Ini pertama kalinya saya memainkan Game yang memiliki waktu (hari dan jam) yang sama dengan dunia nyata, sehingga jika kita memainkannya di malam hari, di dalam game pun sedang malam hari. Beberapa in-game event hanya bisa terjadi di waktu-waktu tertentu, sehingga jika terlewat, kita harus menunggu waktu berikutnya datang.

Seperti fitur untuk menyimpan nomor ponsel lawan yang telah kita kalahkan, kita atau mereka bisa sewaktu-waktu menghubungi mereka untuk melakukan tanding ulang. Ada juga fitur radio yang bisa kita dengarkan untuk mencari informasi.

Karena tidak mempunyai Gameboy sendiri, saya harus menunggu teman saya itu datang ke tempat mengaji jika ingin memainkannya lagi. Saya juga pernah meminjam Gameboy itu selama satu-dua hari saat akhir pekan. Tapi lama kelamaan dia tidak membawa lagi Gameboynya ke tempat mengaji, alasananya karena rusak. Kalau saya pikir-pikir lagi sekarang, bisa jadi Gameboynya tidak rusak, tapi dia malas membawanya lagi karena selalu saya pinjam.

Pokémon Blue

nostalgic intro
sumber

Berselang satu atau dua tahun kemudian, seorang teman sekelas mengajak saya main ke rumahnya. Dia bilang bahwa dia sedang menamatkan game Pokémon di komputernya.

Saya girang bukan main karena saya kira Pokémon hanya bisa dimainkan di Nintendo. Tapi ternyata game Pokémon yang dia miliki berbeda dari yang pernah saya mainkan. Namanya adalah Pokémon Blue. Dari situ saya jadi tahu bahwa ada banyak versi dari game Pokémon ini.

Game itu cukup ringan dan bisa disalin dengan menggunakan disket. Tak alam kemudian Pokémon Blue kemudian menyebar dengan cepat di sekolah kami. Belakangan baru saya ketahui bahwa game Pokémon itu bisa berjalan di komputer dengan semacam emulator, sehingga memiliki banyak fitur yang tidak ada di game aslinya, seperti save state dan load state.

tombol save di microsoft office
sumber

Iqbal, sahabat dekat saya, punya cara unik untuk menamatkan game Pokémonnya. Karena dia tidak bisa leluasa menggunakan komputer di rumahnya, dia menyimpan gamenya di disket. Ketika bermain ke rumah teman yang punya komputer, dia akan membuka dan memainkan Pokémonnya di komputer temannya itu.

Kebiasaan itu ternyata dia lanjutkan hingga dewasa. Seperti hanya memiliki CD dan memory card untuk konsol Play Station, yang akan dia mainkan di rumah teman yang punya PS. Atau hanya memiliki flashdisk saat kuliah, dan menumpang mengerjakan tugas dan skripsi di laptop milik teman.

Pokémon Blue adalah game Pokémon pertama yang saya tamatkan, dan kemudian saya sadari, bahwa game itu ternyata tidak ada tamatnya. Setelah menamatkan satu kali, ada banyak tempat yang sebelumnya tidak bisa diakses kini terbuka. kemudian ada Pokémon-Pokémon legendaris yang kini bisa didapatkan seperti Moltres, Articuno, Zapdos, dan Mewtwo.

Legendary Pokemon GO | Generation 4 Legendary Pokemon
the original legendary trio
sumber

NB: Di dalam sebuah file .txt di folder Pokémon Blue, saya menemukan tulisan bahwa Raticate dapat berubah menjadi Mew dengan sebuah item tertentu. Namun hingga saat ini, saya tak pernah tahu item apakah itu. Pencarian dengan google juga tidak membuahkan hasil, jadi mungkin saja itu hanya tulisan iseng dari seseorang.

Pokémon Emerald

the best entry in the series
sumber

Bagi saya pribadi, Pokémon Emerald adalah Magnum Opus dari seluruh seri Pokémon, bahkan jika dibandingkan dengan seri terbarunya di Nintendo Switch. Ada banyak sekali Pokémon yang bisa dikumpulkan, komplit dari generasi I sampai III. Seingat saya di antara semua seri lainnya, Pokémon Emerald punya jumlah Pokémon legendaris terbanyak yang bisa ditangkap. (Saat ini sebagian dari Pokémon legendaris itu hanya bisa ditangkap dengan menggunakan cheat.)

How To Unlock The Regi trio: Pokemon ORAS | Squirtle's Home
untuk mendapatkan trio Regi ini kita bahkan harus belajar huruf braille.
sumber

Pokémon Emerald juga punya banyak fitur unik, seperti adanya dua tipe sepeda yang bisa digunakan, ponsel untuk menelepon lawan, TV untuk melihat berita, Battle Frontier untuk bertarung sepuasnya, markas yang bisa dipindahkan dan dihias-hias, serta Pokémon Contest untuk lomba kecantikan.

Ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan. Saya mulai merasa bosan dan buntu setelah kurang lebih menghabiskan sekitar 300 jam bermain.

Soal grafik jangan ditanya, nyaman sekali dipandang mata. Tapi ini memang sangat subyektif, karena buat saya hampir seluruh game yang dibuat untuk Gameboy Advance memiliki grafik yang enak untuk dilihat.

Saya memainkan Pokémon Emerald selama masa kuliah dari 2008 – 2011. (dengan menggunakan emulator). Ada sebuah tren yang unik antara saya dan Prima pada masa itu. Semakin dekat ke waktu ujian, kami akan semakin sering bermain Pokémon di laptop. Entah mengapa keinginan untuk memainkan game ini semakin kuat seiring dengan semakin dekatnya waktu ujian. Dulu bahkan biasanya setelah pulang menyelesaikan ujian, kami akan memainkan game ini dulu sampai sore, sebelum belajar lagi pada malam harinya (kadang urutannya dibalik, belajar dulu, kemudian main sampai sebelum tidur.)

Sayangnya Prima berhenti bermain Pokémon sekitar tahun 2010. Saat itu dia tidak sengaja mereplace save yang dia punya, dan data permainannya tidak bisa kembali lagi.

Prima sakit hati, lalu pensiun.

Pokemon Fire Red Fusion Rom Download | Pokémon Amino
prima mainnya yang ini.
sumber

Pokémon X&Y

Memasuki dunia kerja, akhirnya saya punya cukup uang untuk membeli konsol Nintendo. Sekitar tahun 2015, setelah mutasi dari Natuna ke Tanjungpinang, saya merasa harus memberikan reward kepada diri sendiri. Juga untuk menemani keseharian di kantor baru. Jadilah pada saat sedang berdinas ke Batam, saya mampir ke sebuah toko elektronik di mall untuk membeli Nintendo 3DS XL. Di sana saya baru tahu kalau Nintendo menjual konsol ini tanpa menyertakan charger. Bagi yang sudah mempunyai konsol Nintendo lain seperti NDS ini bukan masalah, karena chargernya bisa dipakai di 3DS, tapi bagi pengguna baru seperti saya, artinya saya harus merogoh kocek ekstra untuk membeli charger.

Waktu itu saya juga membeli dua kaset game; Fantasy Life dan Pokémon X&Y.

Jujur setelah sekian tahun hanya bisa memainkan Pokémon dengan menggunakan emulator, rasanya terharu sekali bisa langsung memainkan di konsolnya. Tapi sekaligus ada rasa aneh melihat sudah ada transisi model grafik dari 2D ke 3D, ditambah dengan mode tiga dimensi yang disediakan oleh 3DS, membuat saya kleyengan setelah memainkannya selama dua puluh menit.

Tapi bukan berarti itu adalah hal yang jelek, hanya saja saya perlu sedikit membiasakan diri.

Toh sebagian besar gameplaynya masih terasa familiar, karena desain karakter masih bantet (chibi) dan pergerakan karakter masih terlihat grid based.

Top 30 Pokemon X And Y GIFs | Find the best GIF on Gfycat
settingnya di Prancis
sumber

Saya juga cukup lama memainkan Pokémon ini, sekitar tiga tahun, sampai Niskala cukup besar dan saya punya cukup uang untuk membeli Nintendo Switch.

Sayangnya Pokémon X&Y adalah seri terakhir yang saya mainkan, karena ketika Pokémon Sun & Moon keluar, saya hanya sempat mencoba selama beberapa jam sebelum menyerah. Saya merasa seri ini sudah menjadi benar-benar berbeda. dan saya nggak lagi nyaman untuk terus mengikutinya.

Pokemon pokemon moon pokemon sun GIF on GIFER - by Direweaver
looks just like generic 3D JRPG
sumber

Bukan berarti seri ini sekarang menjadi jelek, hanya bagi saya sudah tidak ada lagi unsur nostalgia terlibat.

Tidak ada lagi grid based movement, tidak ada lagi karakter chibi, tidak ada sistem Gym Badge dan Elite Four, generation gap Pokémon yang cukup jauh, setting tempat yang kurang familiar, dsb dsb dsb..

Ada banyak sekali alasan yang bisa diberikan, tapi pada prinsipnya, nostalgia can only take you so far, the rest is up to you to decide.

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x