Tahun 2008, saat pindah ke Bintaro untuk melanjutkan sekolah, saya baru menyadari bahwa selama empat belas tahun sebelumnya saya tinggal di rumah yang terletak di sebuah jalan dengan nama yang ternyata cukup nyeleneh; Jalan Burujul.

Jalan Burujul tidak terlalu panjang, hanya membentang sepanjang kurang lebih 1,5 km. Jalanannya sempit dan padat, dengan jalanan rusak dan berlubang di sana-sini. Tapi Jalan Burujul menjadi jalan yang sangat vital karena menghubungkan dua kompleks perumahan besar yaitu Margahayu Permai dan Taman Kopo Indah. Jalan Burujul juga menjadi jalur alternatif bagi yang ingin menghindari kemacetan di daerah sayati.

Keluarga kami pindah ke Jalan Burujul saat saya masih berusia empat tahun. Kami membangun kembali rumah yang dulu ditempati oleh Eni (nenek).

Karena Eni memiliki delapan putra dan satu putri yang semuanya masih tinggal bersama (ditambah dua menantu dan dua cucu), rumah baru itu didesain dengan ukuran cukup besar. Rumahnya berlantai dua, berbentuk U terbarik dengan taman di bagian tengah. Di dalamnya ada sembilan kamar tidur, dua ruang tamu, empat kamar mandi, dua dapur, serta sebuah ruang utama panjang yang digunakan untuk makan dan berkumpul.

Karena anak perempuan Eni sedang kuliah di Purwakarta (setelah itu menikah dan tetap tinggal di Purwakarta), bisa dibilang penghuni tetap rumah burujul ada dua belas orang. Sangat ramai.

Saya tumbuh di tengah keramaian itu. Setiap jam makan selalu heboh dengan argumen dan canda tawa. Ruang tengah hampir tak pernah kosong, bahkan sampai larut malam. Selalu saja ada anggota keluarga yang mengobrol atau bermain musik. Rumah akan semakin ramai saat bulan ramadan tiba. Setiap sahur dan buka seluruh anggota keluarga berkumpul dan makan bersama, diselingi dengan menonton kuis di televisi atau mendengarkan lantunan lagu-lagu Bimbo di radio.

Tahun-tahun berlalu. Satu-persatu anak Eni kuliah, bekerja, menikah kemudian meninggalkan rumah. Kamar-kamar yang sebelumnya terisi penuh, satu-persatu beralih fungsi menjadi gudang dan tempat penyimpanan. Ruang makan yang sebelumnya tak cukup untuk menampung semua anggota keluarga kini tinggal kursi-kursi kosong. Riuh rendah suara obrolan tergantikan oleh kicauan burung peliharaan.

Transisi itu begitu perlahan, dan terjadi selama bertahun-tahun. Hingga tanpa saya sadari kini di burujul hanya tersisa tiga orang, yaitu Abah (Ayah), Ambu (Ibu), dan Mang Dian (Paman). Rumah Jalan Burujul sendiri sudah mengalami beberapa kali renovasi. Dari sembilan kamar tidur kini hanya tersisa enam kamar tidur. Selain menjadi gudang penyimpanan, salah satu kamar dan sebagian dari ruang tamu telah dialihfungsikan menjadi ruko dua lantai.

Anehnya kamar mandi malah bertambah dari empat menjadi lima. Ini sampai menjadi bahan bercandaan saya dan istri, karena jumlah kamari mandi di Rumah Jalan Burujul lebih banyak daripada jumlah penghuninya.

Bagi saya yang sudah keluar dari rumah semenjak tahun 2008, hanya berkunjung dua atau tiga kali setahun sudah menjadi hal biasa. Saya juga sering menyepelekan apabila ada orangtua yang terlihat sedih saat anaknya pergi merantau.

Hingga pada tahun lalu teman-teman Noury datang berkunjung ke Lampung dan menginap di kontrakan kami selama beberapa hari.

Rumah kontrakan kami kebetulan juga cukup besar, karena asalnya adalah rumah milik keluarga seorang teman yang sekarang tak lagi ditinggali, jadi bisa disewa dengan harga yang cukup murah. Rumah ini berlantai dua, terdapat lima kamar tidur dan tiga kamar mandi. sementara penghuninya hanya Saya, Noury, dan Niskala. Sedikit banyak kondisinya mirip dengan rumah di burujul.

Kontrakan kami yang biasanya sepi tiba-tiba menjadi ramai, membuat saya teringat situasi di burujul saat saya masih kecil dulu. Malam-malam yang biasanya hanya kami bertiga habiskan di kamar, kini bergeser ke ruang tengah dan kamar sebelah, tempat teman-teman Noury menginap.

Ketika teman-teman Noury akhirnya pulang, saya terenyuh. Rasanya saya sedikit mengerti apa yang orangtua saya biasa rasakan ketika kami kembali ke perantauan.

Setiap pulang kampung untuk berlibur, saya biasanya mengajukan cuti sekaligus lima hari. Terkadang momennya dipaskan semisal pada saat lebaran, sehingga saya jadi orang terakhir yang pergi kembali ke perantauan. Tahun itu, saya ikut merasakan bagaimana kosongnya rumah di burujul setelah semua acara keluarga selesai.

Alih-alih rasa lapang, kekosongan rumah itu malah menyesakkan. Perasaan yang amat tak menyenangkan.

Hari ini perasaan itu kembali. Merasuki saya yang tinggal sendirian di rumah dua lantai dengan lima kamar tidur dan dua kamar mandi. Selain suara tuts kibor, hanya terdengar sayup-sayup detak jam dinding di ruang tengah.

Bandar Lampung, 26 November 2020

NB: Sebelum tinggal di Jalan Burujul, kami sekeluarga tinggal di sebuah daerah yang bernama Cilokotot.

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
3 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Sep kevin
Sep kevin

Semangat kang iil,wah menarik ya cerita nya jadi langsung terbayang bagaimana suasana kala itu

Last edited 6 bulan lalu by Sep kevin
Abah Heri

Burujul nama yang cukup asing ditelinga bagi yang baru mendengar, padahal nama Burujul bukan satu-satunya di Jawa Barat, di Sumedang, Garut, Tasik, Jatiwangi ada nama itu. Jadi tidak mungkin tidak punya arti. Burujul adalah nama alat bajak yang ditarik Kerbau, ada yang menyebut Singkal. Tapi Burujul diperuntukan untuk anak Kerbau untuk dilatih dari kecil. Anak Abah, Ilham juga mungkin baru tahu.

3
0
Beri Komentarx
()
x