Maret 2015, tak lama setelah batal menikah, saya pergi backpacking ke Jepang.⁣

Berbekal sebuah buku guide terbitan tahun lawas dan uang tunai seadanya, saya dan satu orang kawan menyusuri jalur darat Tokyo – Kyoto – Osaka selama kurang lebih 10 hari.⁣

Selama berada di Osaka, kami menginap di sebuah homestay yang berada di kawasan Little Korea.⁣ Jaraknya tak jauh dari stasiun kereta Osaka, sepuluh sampai lima belas menit berjalan kaki.

Selain kami, di tempat itu ada pula beberapa pelancong lain, yaitu seormbongan anak SMA beserta guru pembimbingnya, dan seorang bapak berusia 40 tahunan. Bapak itu tidur di ruangan yang sama dengan kami. Beliau berasal dari Korea, dan datang ke Osaka seorang diri.

Di sela sela waktu santai di malam hari, kami banyak mengobrol.⁣

Di negara asalnya, dia adalah orang sukses, posisinya cukup tinggi di dalam perusahaan. Istrinya cantik, dan dia punya dua anak remaja yang pintar dan baik. Secara materi dia tak memiliki kesulitan dan kekurangan apapun.⁣⁣

Namun dia tidak bahagia.⁣

Dia bercerita bahwa selama berada di negara asalnya dia tidak bisa tersenyum. Dia merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

Katanya dia selalu iri jika melihat orang Indonesia. Mereka bisa terlihat tersenyum dengan tulus dalam kondisi apapun. Padahal dia tahu bahwa kebanyakan dari orang Indonesia tidaklah sekaya dan seberuntung dirinya.

Sekian lama dia melakukan pencarian jati diri. Menggali-gali apa yang salah dengan hidupnya. Di Korea dia punya pekerjaan bagus, keluarga yang bahagia dengan istri dan dua orang anak yang baik, seharusnya dia bahagia. Pada akhirnya dia berkesimpulan bahwa dia tidak bahagia karena hatinya kosong, hampa. Dia merasa tidak punya pijakan dan sandaran.

Maka dia memutuskan untuk sementara meninggalkan semuanya. Rumah, pekerjaan, dan keluarganya. Sudah satu bulan terakhir dia berada di homestay itu. Hanya untuk mengunjungi kuil setiap pagi dan sore. Hanya untuk berdoa.

Ketika kami bertanya kenapa dia harus jauh-jauh berdoa di negara orang, bapak itu tidak menjawab.⁣ Dia hanya berkata bahwa dirinya berharap suatu hari nanti dia bisa tersenyum tulus seperti kita, seperti orang-orang Indonesia⁣.

Bandar Lampung, 1 Januari 2019

Barangkali, hanya barangkali, kejadian itu adalah pesan dari Tuhan agar saya mendefinisi ulang perihal apa itu kebahagiaan, dan dari manakah kebahagiaan sejati berasal.

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x