Teori Latte Factor dipopulerkan oleh David Bach, seorang Financial Expert berkebangsaan Amerika Serikat.

Latte Factor merujuk kepada kebiasaan sebagian orang dalam membelanjakan uang (dengan jumlah yang dirasa tak seberapa) namun secara rutin.

Nama itu diambil dari kebiasaan membeli kopi dan nongkrong di kafe yang biasa dilakukan oleh sebagian besar kaula muda dan kelas menengah, termasuk di Indonesia.

Padahal uang tersebut jika ditabung atau diinvestasikan, mungkin akan lebih bermanfaat.

Saya termasuk di antara orang-orang itu. Membeli kopi dan menikmat suasana santai di kafe, ditemani renyah tawa pengunjung lain, lagu-lagu indie yang mengalun dari pengeras suara, rasanya sangat pas untuk melepas penat di tengah rutinitas pekerjaan yang menggunung.

Tapi ternyata hal itu membebani saya secara finansial. Dari mana saya tahu? Kebetulan memang saya memiliki aplikasi pencatatan keuangan yang selalu saya isi dengan rajin. Ketika saya coba lihat rekapitulasinya, sepanjang tahun 2018 paling tidak saya telah menghabiskan 1,4 juta hanya untuk membeli kopi.

Apakah itu besar? tentu relatif bagi setiap orang. Bagi saya tentu saja itu jumlah yang cukup besar. Sebagai perbandingan, harga sebungkus kopi sejuta umat dengan ukuran 360 gram kurang lebih Rp 29.000. dengan takaran 8 gram per cangkir, satu bungkus cukup untuk 45 cangkir. Uang 1,4 juta cukup untuk membeli 48 bungkus kopi, berarti dengan uang itu saya bisa menyeduh kopi hitam tanpa gula sebanyak 2.160 cangkir, atau 5-6 cangkir per hari selama setahun penuh.

Ya bukan berarti saya akan berhenti membeli kopi di luar sana. Karena salah satu kenikmatan dalam meminum kopi adalah ketika kopi itu diseduhkan oleh orang lain. Kita cukup mengaduk dan menyesapnya saja selagi panas. Hanya saja sepertinya saya akan jauh mengurangi kebiasaan itu, dan mengalokasikan dananya untuk kebutuhan lain, semisal membeli lego.

Maka dari itu, tahun 2019 ini saya ingin mencoba untuk kembali pada kopi tubruk dan kopi kapal api.

Bandar Lampung, 8 Januari 2019

Tulisan terkait:
1. Mengelola Keuangan Keluarga

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x