Saat berkunjung ke Bangkok pada tahun 2014, ada sebuah tempat yang sangat ingin saya kunjungi.

Tempat itu bukan Grand Palace, Wat Arun, maupun Flower Market, tetapi Masjid. Di kota dengan ratusan kuil megah ini, saya ingin tahu apakah ada masjid yang tak kalah megahnya.⁣

Niat tinggalah niat. Karena sibuk mengunjungi lokasi wisata yang lain, sampai hari terakhir di Bangkok saya tidak sempat menuntaskan niat menjelajah masjid-masjid di Bangkok.

Saya hanya sempat berkunjung ke satu masjid.⁣

Siang itu, setelah check out dari penginapan, saya membeli nanas segar dari tukang buah keliling. Sambil makan, saya mengecek google maps. Ternyata di dekat situ ada satu masjid, namanya Chak Pong Mosque.⁣

Karena tempat itu kebetulan satu arah dengan destinasi saya selanjutnya, saya membujuk teman saya agar kami bisa mampir dulu ke sana. Untungnya dia setuju.⁣

lokasi: https://goo.gl/maps/Ygrsruwk4cyEtY7f7

Masjid itu agak sulit ditemukan, karena terletak di dalam sebuah gang sempit. Saya sempat pesimis dan mengira mungkin di situ hanya ada musala, bukan masjid. Ternyata setelah menyusuri gang sempit itu saya sampai di sebuah halaman luas. Di sana berdiri sebuah masjid tua yang cukup besar, dan bertingkat dua. Masjid itu memiliki kombinasi warna kuning dan hijau.⁣

Setelah melihat-lihat, kami menyempatkan diri untuk shalat dzuhur di sana. Selesai shalat, kami dihampiri oleh seorang bapak. Dia warga asli thailand, dan bekerja sebagai marbot di masjid itu.⁣ Kami duduk duduk dan berbincang, dia senang sekali ada orang asing yang shalat di sana. Dia lebih girang ketika tahu bahwa kami adalah orang Indonesia. Katanya, banyak dari kitab yang mereka miliki dibeli dan dikirim dari Indonesia.⁣

bapak marbot Chak Pong

Bapak ini tidak terlampau pintar berbahasa inggris, tapi dia bisa berbahasa melayu. Di tengah-tengah obrolan, dia mengambil sebuah kitab dengan teks bahasa Inggris, dan bertanya kepada kami bagaimana cara membaca dan apa arti dari kata-kata yang ada di dalam kitab itu.⁣ Kami membantu membacakan isi kitab itu sebisanya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, kami pamit karena harus melanjutkan perjalanan. Selama sisa perjalanan, sosok bapak tadi terus menerus menghantui saya. Di tengah segala keterbatasan dan kendala yang dia hadapi, dia masih mau belajar agama dengan penuh semangat.

Saya juga menjadi semakin yakin bahwa batasan antara bodoh dan berilmu itu hanyalah seberapa besar semangat belajar dan rasa ingin tahu yang kita miliki.⁣

Bandar Lampung, 3 Januari 2019

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x