Kala pertama kali menonton film 500 Days of Summer tahun 2010 silam, saya sebagai pria merasa sangat senang dan terwakili. Visualisasi galau dan jatuh bangunnya Tom Hansen dalam mengejar Summer Fin terasa sangat personal dan sangat nyata. Termasuk bagian ending saat Summer memutuskan untuk menikah dengan pria lain yang belum lama dia kenal.

Setelah menonton itu saya berkesimpulan bahwa walaupun seorang pria sudah berupaya maksimal dan habis-habisan seperti Tom, pada akhirnya ada perempuan seperti Summer yang mengabaikannya dan memilih untuk bersama dengan orang lain.

Terkadang, secantik dan semenarik apapun perempuan, bisa jadi dia brengsek.

Bertahun-tahun kemudian, setelah menemukan dan membaca artikel yang membahas tentang Manic Pixie Dream Girl, Saya menyadari bahwa saya ternyata salah dalam memandang dan mendefinisikan sebuah hubungan.

Istilah Manic Pixie Dream Girl (MPDG) pertama kali digaungkan oleh seorang kritikus film bernama Nathan Rabin setelah menonton film Elizabethtown (2005). Dia mengatakan bahwa MPDG adalah karakter wanita satu dimensi yang hanya memiliki satu tujuan, yaitu membantu karakter pria menyelesaikan masalah apapun yang disajikan sebagai plot. Karakter MPDG biasanya terlihat sangat menarik. Rupawan, ceria, memiliki kepribadian yang unik, dan tentu saja selfless.

Karakter MPDG hadir sebagai proyeksi wanita ideal bagi si tokoh pria. Walaupun pada akhirnya keduanya tidak bersama, tapi MPDG selalu berhasil membuat si pria menyelesaikan masalah dan bertambah dewasa.

Setelah membaca-baca tentang MPDG, ingatan saya langsung kembali ke tahun 2010. Ke masa-masa saya mengidolakan Tom Hansen dan merutuk Summer Fin. Ke masa-masa saya mengalami hal yang serupa dengan Tom. Saat saya menyukai seorang gadis bukan karena benar-benar mengenalnya, melainkan karena proyeksi-proyeksi ideal dan imajinasi saya terhadap gadis itu.

Saya menaruh harapan yang terlampau besar kepadanya. Saya mengharapkannya sebagai jawaban atas semua keresahan dan kegundahan dalam hati saya. Saya ingin dia selalu menjadi penghibur dan menemani saya di saat sedih dan galau. Saya ingin selalu melihatnya tersenyum dan ceria.

Dan saya uring-uringan ketika dia ternyata memutuskan untuk bersama dengan pria lain.

Saya merasa bahwa perbuatannya itu sangat tidak adil. Dalam pikiran saya, telah banyak hal yang saya lakukan hanya untuknya, lebih dari apa yang pria yang dipilihnya lakukan. Secara logika seharusnya dia memilih saya dibandingkan dengan pria itu.

Kesimpulan akhir saya kala itu adalah sama seperti di paragraf awal; Ini bukan salah saya, terkadang perempuanlah yang brengsek.

Setelah memahami konsep MPDG, tentu saja saya menyadari bahwa semua yang terjadi dulu adalah kesalahan saya. dan saya bersikap sangat tidak adil kepada gadis itu.

Saya memaksakan perasaan dan tidak pernah benar-benar mendengarkan apa keinginan dan yang dicari oleh gadis itu. Seperti Tom yang tidak mendengarkan ketika Summer berulang kali berkata bahwa dia saat itu tidak ingin menjalin komitmen, dan memaksakan adanya komitmen hubungan asmara di antara mereka.

Pun rasa kesal yang saya rasakan ketika Summer ternyata memutuskan untuk menikah dengan seorang pria asing yang tak pernah diceritakan dengan jelas di dalam film juga salah.

Dalam kehidupan nyata itu sangat wajar terjadi. Bukankah hal yang biasa jika seseorang merasa lebih cocok dengan orang lain dibandingkan dengan diri kita? Kita bisa jungkir balik melakukan segala hal demi orang itu, tapi jika dia merasa tidak cocok ya mau bagaimana lagi?

Bisa jadi perjuangan dan pengorbanan kita itu bukan sia-sia, hanya salah alamat.

***

Bandar Lampung, 15 Januari 2020

Just because they likes weird things you like, doesn’t mean they are your soulmate.

random 9gag user

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x