Bagi kalian yang sibuk dan ingin tahu kesimpulan akhirnya; caranya dengan menabung

Otherwise, this is the complete story. 

Noury mengandung anak pertama kami tak lama setelah menikah. Saat itu memang tak ada rencana untuk menunda karena kebetulan saya masih berstatus sebagai Pegawai Tugas Belajar (PTB) dan berkuliah di Jakarta sampai setidaknya setahun ke depan.

Menurut kami lebih baik memiliki anak saat masih berada di kota besar, karena kami tak tahu setelah ini akan ditempatkan bekerja di mana lagi.

Status sebagai PTB ini sebenarnya tak ubah bagai pedang bermata dua.  

Di satu sisi saya punya fleksibilitas waktu. Kala itu saya bisa cukup leluasa untuk melangsungkan pernikahan sekaligus berbulan madu tanpa harus mengurus cuti ini itu, dan terbatas selama lima hari kerja. Cukup menyesuaikan dengan jadwal libur semester kuliah. 

Pun dengan keseharian sebagai pengantin baru. Kami punya banyak waktu bersama karena saya tak harus pergi ngantor setiap hari. Transisi dari fase bujangan ke fase keluarga relatif mulus. 

Di sisi lain, karena berstatus sebagai PTB penghasilan saya terjun bebas. Tunjangan dipangkas hampir setengahnya, sementara biaya hidup jauh meningkat dibandingkan dengan saat masih bujangan di kota Tanjung Pinang. Tabungan selama masa bujanganpun ludes saat resepsi pernikahan dan kontrak rusun selama satu tahun.

Jadi jika dikatakan memulai dari awal saat berkeluarga, memang seperti itu adanya. Mulai dari tabungan 0 rupiah.

Saya mulai menabung untuk biaya persalinan ketika dua garis biru muncul di testpack. sebagai penganut aliran konservatif, saya menargetkan jumlah tabungan kelak dengan mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, yaitu jika nanti lahir dengan proses caesar

Tapi karena target akhir tabungan yang direncanakan cukup tinggi, sebagian besar pendapatan saya setiap bulannya teralokasikan ke sana. Karena hal itu, masalah-masalah mulai bermunculan.

Pertama, saya tidak cakap menghitung biaya bulanan selama masa kehamilan.

Terlalu fokus pada biaya persalinan membuat saya lupa bahwa setiap bulan kandungan Noury harus diperiksa dan juga harus membeli obat dan suplemen kehamilan. Saat itu terkadang setelah pulang kontrol saya uring-uringan karena uang yang seharusnya untuk pos lain tersedot untuk biaya pemeriksaan kandungan.

Kedua, adanya biaya-biaya pasca kelahiran, seperti NICU dan Fototerapi untuk pengobatan bilirubin.

Walaupun biaya persalinan sudah tercover, tapi pasca persalinan masih ada biaya-biaya yang mungkin timbul. Niskala setelah lahir harus masuk NICU karena berat badannya masih kurang. Beberapa minggu kemudian dia harus masuk rumah sakit lagi untuk fototerapi. Ini sama sekali tidak saya perkirakan dan persiapkan biayanya.

Ketiga, ada biaya-biaya untuk vaksinasi.

Aduhai ternyata vaksinasi itu mahal ya … terutama sebelum anak berusia satu tahun. Tentu saja adalah pilihan masing-masing untuk memvaksin anak di posyandu, bidan, rumah vaksin, maupun rumah sakit. Apapun itu, ada biaya cukup besar yang harus dipersiapkan sebelumnya.

*

Kehamilan kedua lalu, kami sudah cukup banyak punya pengalaman. Berkaca dari kehamilan sebelumnya, segera setelah Noury melepas KB saya langsung membuat tiga alokasi tabungan khusus, tanpa menunggu adanya dua garis biru di testpack. Saya membagi dana tersebut ke dalam beberapa pos, yaitu:

Pertama, Tabungan Persalinan

Bagi kalian yang juga sedang mempersiapkan tabungan persalinan, silakan cari metode yang paling nyaman bagi masing-masing keluarga. Bisa dengan reksadana, tabungan berjangka, deposito, atau tabungan biasa. Namun begitu, setelah menetapkan target tabungan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tabungan persalinan, yaitu:

  1. Jangka waktu hingga perkiraan saat persalinan;
  2. Keamanan dana;
  3. Kemudahan penarikan dana;

Saya menabung dana dalam bentuk reksadana pendapatan tetap. Kenapa saya memilih reksadana pendapatan tetap? Karena imbal hasilnya sedikit lebih tinggi daripada deposito, tanpa ada risiko penurunan nilai. Penarikan dana juga bisa dilakukan dalam waktu 2×24 jam, kapan saja. Target dana saya tetapkan sebesar biaya caesar di kota Bandung, tempat di mana persalinan rencananya dilakukan.

Note: sangat penting untuk mencari dimana tempat bayi direncanakan untuk dilahirkan kelak, dan mencari tahu berapa biaya-biaya terkait persalinan di tempat itu. Jangan lupa juga untuk mencari tempat alternatif jika ternyata tempat utama kita tak memungkinkan untuk digunakan, karena penuh atau alasan lainnya.

Ketika pada akhirnya ternyata anak kedua lahir dengan proses normal, saya punya cukup banyak dana sisa, yang saya gunakan untuk menambal pos-pos lain yang sekiranya masih kurang. 

Kedua, alokasi biaya kesehatan 

Yang mencakup biaya kontrol dokter, obat, suplemen, webinar, alat olahraga, lab, dan vaksinasi anak. Sebaiknya siapkan alokasi biaya ini dari jauh-jauh hari agar tidak keteteran, dan dalam bentuk cash/tabungan biasa.

Kita tidak pernah tahu pada saat kontrol kehamilan kelak, ada tindakan maupaun pengecekan laboratorium yang bisa memakan biaya banyak. Syukur-syukur jika tercover oleh asuransi, jika tidak, bisa mengganggu cashflow

Tambahan pengetahuan berupa webinar dan kelas-kelas persalinan menjadi hal yang sangat penting dalam kehamilan kedua ini. Noury sangat bersemangat untuk melahirkan anak kedua kami dengan proses VBAC (Vaginal Birth After Caesarian), sehingga sejak awal kehamilan ada sangat banyak prekondisi dan rutinitas kehamilan yang harus dipenuhi, dua diantaranya adalah makanan yang terjaga dan olahraga yang teratur. 

Ketiga, alokasi biaya kebutuhan bayi pasca lahir. 

Disadari ataupun tidak, kita sangat beruntung menjadi orang indonesia yang masih kental dengan kebudayaan ngado saat pernikahan dan persalinan. Kemungkinan besar pakaian-pakaian, bantal, perlak, botol, pompa, stroller, dan kebutuhan lainnya telah tersedia dalam bentuk kado dari kerabat atau rekan kerja. Jika kita termasuk ke dalam golongan berpriviledged tersebut, ada baiknya koordinasikan kado yang akan diberikan agar tidak ada yang serupa dan malah tidak terpakai, itupun kalau memang tidak sungkan dan si pemberi menawarkan pilihan, sih.

Jika kita tidak seberuntung itu, sebaiknya dicicil membeli perlengkapan dan kebutuhan bayi sebelum bayinya lahir. Benda-benda seperti pakaian, popok dan perlak, tidak usah terlalu banyak dan terlalu bagus, toh bayi tumbuh dengan cepat. Lebih baik beli dengan beberapa ukuran agar bisa terpakai seluruhnya.

Keempat, dan terakhir, alokasi biaya vaksinasi.

Lagi-lagi saya katakan, vaksinasi anak itu aduhai sekali, mahal dan sering. Untuk kehamilan kedua ini terus terang saya sendiri agak terlambat menyiapkannya, sehingga bisa jadi nanti keteteran. (semoga tidak).

Jika semua alokasi dana itu sudah disiapkan dan diamankan, pandemi ataupun tidak, resesi ataupun tidak, kemungkinan besar ibu dan calon bayi kita akan baik-baik saja, semoga.

Bandar Lampung, 3 Februari 2021, pukul tiga dini hari.

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x