Beberapa waktu yang lalu, pembicaraan tentang stress, anxiety, dan safe place di sekitar saya kembali terjadi. Bagai fenomena bapak-bapak berumur yang gemar membicarakan penyakit yang dimiliki satu sama lain, generasi milenial dan 90an di sekitar saya mulai gemar membicarakan tentang stress dalam pekerjaan dan keseharian mereka.

Sebagaimana diungkap dalam berbagai sumber dan penelitian, membagi masalah dan stress kepada teman adalah salah satu cara untuk mengurangi stress di dalam diri kita.

Dengan membicarakannya, berarti kita menerima kenyataan bahwa kondisi mental kita memang sedang tidak bagus. Mengakui adanya masalah adalah langkah pertama untuk mengatasi masalah itu. Dengan membicarakannya juga berarti kita bisa membangun support system satu sama lain yang bisa mengawasi dan menjauhkan diri kita dari depresi.

Namun kita memang harus pandai-pandai mencari orang yang akan kita ajak bicara. Jangan sampai satu-satunya hal yang keluar dari mulut lawan bicara kita adalah ceramah dan judgement tentang lembeknya mental dan kurangnya iman kita.

Pembicaraan-pembicaraan itu kembali mengingatkan saya tentang safe space imajiner di dalam postingan beberapa waktu yang lalu. Selain Taman Bacaan Kirana, ada lagi tempat yang memberikan rasa tenang ketika saya membayangkannya, yaitu Kalimongso.

Kalimongso adalah nama sebuah gang dengan lorong-lorong sempit yang menjalar, bercabang, dan berkelok. Gang itu menghubungkan wilayah kampus dengan kantung-kantung indekos dan kontrakan di wilayah sekitar.

Setiap hari Kalimongso selalu ramai oleh orang yang berlalu-lalang. Derap langkah sepatu mahasiswa yang pulang-pergi kuliah; obrolan, candaan dan denting alat makan beradu di warteg; dengung mesin fotokopi yang bekerja tanpa henti; bising mp3 lagu pop dan dangdut dari warnet dan abang-abang penjaga toko; lantunan shalawat dan adzan dari masjid; semua ada, beradu dan berpadu.

Saya tak pernah suka berlama-lama di Kalimongso di siang hari. Selain karena terlalu padat dan sesak, sinar matahari selalu terasa terik dan panas.

Lain halnya dengan malam hari. Selepas matahari terbenam cuaca di sana berangsur berubah menjadi hangat. Segala suasana kerumitan dan kebisingan di Kalimongso jauh berkurang. Lorong-lorong dan segala jalar dan cabangnya kini berangsur sunyi.

Saya dan teman satu kos biasanya keluar dan berjalan-jalan sehabis isya. Untuk mencari makan malam atau sekadar jajan ke warung. Pada jam-jam ini sebagian warteg dan tempat fotokopi sudah tutup, menyisakan beberapa warteg dan warkop yang memang spesialis buka dari petang hingga dini hari.

Pada malam hari saya bisa mendengar dengan jelas suara langkah kaki kami. Dari kanan dari kiri biasanya terdengar samar suara televisi dan orang-orang yang berbincang di dalam rumah kos mereka, atau juga suara orang-orang yang mengobrol di warung makan. Berbeda dengan siang hari, suara-suara itu terasa nyaman dan menyenangkan untuk didengar.

Biasanya ada satu atau dua teman kampus yang tak sengaja berpapasan di jalan. Mereka sekadar menyapa, atau terkadang mengajak makan bersama. Jika sudah begitu, kami bisa duduk-duduk makan mie instan dan mengobrol hingga larut malam.

Tak jarang kami bertemu dengan teman yang sedang memfotokopi bahan atau tugas kuliah untuk esok hari. Jika sudah begini biasanya kami ikut titip fotokopi, terlepas akan dilihat atau tidak bahan tersebut setelahnya.

Sesekali jika beruntung, kami mungkin berpapasan dengan gebetan, mahasiswi kelas atau jurusan sebelah. Jika berani akan kami ajak makan bersama, tapi seringkalinya kami hanya bisa tersenyum-senyum saja tanpa berbuat apa-apa.

Membayangkan semua itu, membantu saya menjadi tenang, dan meringankan anxiety dan stress yang mungkin sedang saya alami.

Ketika melanjutkan kuliah DIV di kampus yang sama, saya pernah mengajak Noury berjalan-jalan di Kalimongso, sembari bercerita pengalaman dan kisah-kisah yang terjadi di tempat itu. Rencananya suatu hari saya ingin ke sana lagi bersama dengan kedua anak saya. Mengenalkannya kepada beberapa penduduk sana memang akrab dengan saya semasa kuliah dulu.

Sayangnya, sama seperti Taman Bacaan Kirana, Kalimongso saat ini hanya tinggal cerita. Pandemi COVID-19 yang membuat mahasiswa tidak lagi berkuliah tatap muka, membuat daerah itu kosong seketika.

Tak ada mahasiswa berarti tak ada pergerakan ekonomi. Kamar Indekos, warteg, warnet, fotokopi, warkop, semuaya tak bisa lagi bertahan.

Semuanya hanya tersisa dalam kenangan

Bandar Lampung, 10 April 2021

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x