Tiap-tiap diri kita memiliki banyak topeng.

Saya baru menyadari hal itu di usia 21 tahun, dari gurauan seorang kawan kuliah kala dia melihat ada mahasiswa yang seperti berpura-pura bersikap ramah kepada orang yang tidak disukai / berusaha mencari muka di hadapan dosen.

“Hati-hati itu topengnya jatuh,” celetuknya tiap kali melihat pemandangan itu.

Karena itu sudah menjadi gurauan kami sehari-hari, saya tak terlalu menganggap perkara itu sebagai sesuatu yang serius.

Tapi ternyata itu adalah perkara serius. Topeng itu disebut juga dengan istilah ‘persona’.

Carl Jung, bapak dari ilmu psikologi analisis, secara sederhana menjelaskan bahwa persona adalah topeng atau kepribadian yang kita pilih untuk ditampilkan dalam kehidupan sosial. Manusia bisa jadi memiliki banyak topeng yang bisa dia bongkar pasang sesuai dengan kebutuhan dan situasi.

Kita menggunakan persona demi mencapai berbagai tujuan; menaikan status sosial, membuat lawan jenis terkesan, menarik simpati, menunjukan kekuasaan, dan berbagai hal lainnya.

Itu menjelaskan kenapa kepribadian seseorang bisa sangat berbeda ketika mereka berkumpul dengan orang-orang yang berbeda.

Fun fact: Jika kalian/teman kalian adalah seorang polyglot, atau orang yang fasih berbagai bahasa, besar kemungkinan kepribadian kalian/teman kalian saat menggunakan bahasa asing berbeda dari kepribadian saat menggunakan bahasa ibu.

Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana kita tahu kepribadian diri kita yang sebenarnya? Apakah kita bisa salah mengira salah satu persona tadi sebagai kepribadian asli kita? Apa implikasinya?

Belakangan saya sering mempertanyakan hal tersebut kepada diri saya sendiri. Saya terkadang merasa ada kontradiksi antara apa yang saya pikir dan rasakan ketika sedang sendirian, dengan apa yang saya pikir dan rasakan ketika sedang berada di antara orang-orang.

Yang saya sadari sedari dulu adalah: saya bukan orang yang terbuka, tidak banyak bicara, jarang membuka percakapan terlebih dahulu.

Namun demikian, Di dalam sebuah sesi kelas pengembangan diri saat SMA, beberapa orang kawan memang pernah mengatakan bahwa ‘pembawaan’ saya itu ramah dan terlihat approachable.

Saat masih zaman cinta-cinta monyet, Setiap kali saya putus dengan seseorang, yang lebih merasa kehilangan dan terkadang menghubungi saya adalah orangtua mereka.

Setelah menikah, Noury pernah mengungkapkan bahwa dia merasa heran karena saya seringkali tiba-tiba diajak mengobrol atau dimintai tolong oleh orang asing.

Saat sedang bersama orang lain, selalu ada dorongan dalam diri saya untuk bersikap seramah mungkin, dan tidak menunjukan rasa kesal walaupun lawan bicara kita mulut dan otaknya seperti tempat sampah. Entah mengapa, tapi ini bisa jadi karena sedari kecil saya dididik untuk menunjukan sikap seperti itu.

Di sisi lain, semenjak Covid 19 melanda, saya jadi menghabiskan lebih banyak waktu sendirian. Kombinasi antara jadwal WFH dan jauh dari keluarga membuat saya sering berada di rumah.

Ketika berkaca saya menyadari bahwa ekspresi wajah saya ketika sendirian sungguh berbeda. Cenderung bertekuk dan sinis.

Salah satu rasa syukur yang saya peroleh dengan keharusan memakai masker adalah saya jadi tidak perlu tersenyum setiap saat.

Yang jauh lebih ekstrim adalah kehidupan sosial saya saat ini. Saya jadi merasa sangat-sangat enggan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Sebelum keluar rumah saya sering mengintip terlebih dahulu dari jendela, memastikan tidak ada siapapun di luar sana. Jika terlanjur terlibat percakapan yang cukup panjang, saya sering meminta bantuan Noury untuk mencarikan alasan agar saya bisa cepat-cepat pergi.

Saya sering mengesankan bahwa saya sedang tidak ada di rumah. Pagar terkunci, sendal dan jemuran disimpan di dalam rumah. Pokoknya sebisa mungkin saya ingin tidak terlihat.

Melelahkan memang, tapi saya merasa jauh lebih melelahkan saat saya berinteraksi sosial dengan sekitar.

Muncul lagi pertanyaan baru. Apakah kepribadian sejati seseorang baru muncul ketika dia sedang dalam kondisi solitude (kesendirian)?

Solitude is dangerous. It’s very addictive. It becomes a habit…It’s like you don’t want to deal with people any more because they drain your energy.

Jim Carrey

Apakah diri saya saat ini, yang cenderung antisosial ini adalah kepribadian saya yang sebenarnya?

Tapi rasanya tidak juga, loh. Toh saya sedari dulu sudah terbiasa hidup sendirian. Pun ketika pada tahun 2013 saya bekerja di pulau terpencil dan seringkali tinggal sendirian, saya tak merasakan ada keengganan ekstrim untuk bertemu dan bergaul dengan orang lain.

Saya punya cukup banyak kawan dan sering mengadakan acara bersama.

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan besar itu sampai saat ini belum saya temukan jawabannya. Tapi berdasarkan proses kontemplasi yang cukup panjang, untuk sementara waktu saya punya dua hipotesis;

  1. Kita memang tidak memiliki kepribadian asli. Semua persona yang kita tunjukan di depan orang lain, dan kepada diri sendiri, kesemuanya adalah otentik milik kita;
  2. The antisocial problem that I have now is all because I have a couple of shitty neighbours.

Bandar Lampung, 15 Mei 2021

gambar sampul: Photo by engin akyurt on Unsplash

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
4 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Noury

I know it from the very first line

Rex

Ternyata punya tetangga nyebelin bisa bikin produktif nulis ya.

4
0
Beri Komentarx
()
x