Site icon Ilham.Menulis

#26 – Home Sweet Home (1)

Sewaktu kecil, tak pernah terpikir sedikitpun kalau saya akan pergi dari Bandung. Dalam angan-angan, yang selalu terbayang adalah saya akan menjalani masa-masa sekolah, jatuh cinta, kuliah, bekerja, menikah, berkeluarga, pensiun, lalu dimakamkan di kota itu. Selayaknya stereotip yang menempel pada masyarakat Jawa Barat, orang sunda enggan merantau.

Kenyataannya, semenjak lulus SMA saya tidak pernah lagi benar-benar tinggal di Bandung. Saat kuliah saya hanya mengunjungi Bandung saat-saat liburan semester. Setelah lulus, saya malah hanya mengunjungi kota itu setiap libur lebaran atau libur akhir tahun.

Bidang pekerjaan yang geluti menuntut saya berpindah dari satu kota ke kota lainnya setiap beberapa tahun sekali. Memaksa saya untuk terbiasa menjadi penghuni kostan, rumah dinas, dan rumah kontrakan, mungkin hingga pensiun kelak.

Jika dihitung semenjak keluar dari Bandung pada tahun 2008 hingga 2022, total saya sudah menempati kurang lebih 15 hunian yang berbeda. Dari sekian banyak hunian tersebut, ada beberapa tempat yang saya kira cukup berkesan dan membekas di ingatan.

Inilah kisahnya.

  1. Mondok di Sektor Sembilan

September 2008, saya duduk di bagian belakang si cepot, julukan untuk Suzuki Jimny tua merah kesayangan Abah. Bagian belakang mobil itu tidak berjok, sehingga saya hanya bisa duduk lesehan selama perjalanan Bandung – Bintaro. Turut serta di bagian belakang mobil itu, sebuah koper besar berisi pakaian, dan satu set PC yang sengaja saya bawa untuk menemani.

Mobil itu melaju ke arah Bintaro Jaya, tepatnya ke Sektor Sembilan. Menuju sebuah rumah milik salah satu Uak. Karena satu dan lain hal, rencananya saya akan dititipkan dan tinggal di sana selama menjalani kuliah.

Rumah itu besar, terdiri dari dua lantai. Uak bekerja di sebuah BUMN, sementara istrinya memiliki sebuah butik yang menjual berbagai pakaian yang didesain dan diproduksi sendiri. Workshop tempat pakaian diproduksi dan didesain berada di rumah itu juga, tepatnya di lantai dua sayap kiri rumah. Di sanalah saya tidur, bersama dengan seorang pria yang menjadi pegawai workshop pakaian.

Di kamar itu ada sebuah televisi kecil dan mini compo. Televisinya jarang dinyalakan, paling hanya sore hari karena pegawai Uak senang menonton acara Termehek-mehek yang tayang di Trans TV. Sebaliknya, mini compo selalu menyala, dari sebelum saya bangun hingga saya tidur. Mini compo itu biasanya hanya disetel di satu stasiun radio, entah apa namanya, yang jelas setiap pagi siarannya selalu dimulai dengan lagu yang sama, yaitu Gaudeamus Igitur.

Vivat academia! Vivant professores! Vivat membrum quodlibet! Vivat membra quaelibet! Semper sint in flore

– dulu sempat hafal liriknya …

Uak memiliki dua orang anak. Keduanya lebih tua beberapa tahun dari saya. Mereka masing-masing juga sedang menjalani masa perkuliahan. Anak pertamanya kuliah di Bandung, sedangkan yang kedua di Jakarta. Walaupun satu rumah, saya jarang bertemu dengan anak uak yang kedua. Mirip seperti saya, anaknya itu lebih senang berdiam diri di kamar, dan hanya sesekali keluar untuk makan atau pergi kuliah. Selama tinggal di sana, pertukaran obrolan di antara kami bisa dihitung dengan jari.

Karena waktu itu sektor sembilan masih didominasi oleh perumahan, tidak ada banyak pilihan outlet penjual makanan. Saat itu belum ada gojek dan sejenisnya. Pada malam hari ada satu penjual nasi goreng di dekat rumah Uak, sementara siang hari, saya harus berjalan agak jauh ke depan untuk mencari makanan, itupun hanya ada penjual mi ayam. Jika kebetulan punya uang saku, saya biasanya menyebrang jalan besar, membeli ayam goreng atau burger dari McD.

Selang beberapa minggu kemudian, kamar saya dipindah ke sayap kanan rumah (masih di lantai dua). Ruangan itu ternyata adalah kamar tamu. Saya tentu saja girang, selain karena tidak harus sekamar dengan orang lain, ruangan itu ternyata adalah ruangan tempat Uak dan anaknya menyimpan koleksi buku-buku akademik, novel, dan komik mereka.

Seingat saya itu pertama kalinya saya tinggal di dalam ruangan yang setengah dindingnya dipenuhi oleh buku. Semester itu jadwal kuliah saya hanya tiga hari seminggu, sehingga ada cukup banyak waktu luang (di sela-sela mengerjalan tugas) untuk membaca komik dan novel. Saya masih ingat sore hari kala berbaring di kasur sambil menamatkan The Tale of The Body Thief, yang ternyata merupakan salah satu lanjutan dari novel Interview with The Vampire dan The Queen of The Damned karya Anne Rice. Selain itu, salah satu hal yang saya ingat adalah koleksi komik di ruangan itu, karena selain komik biasa terbitan Elex, terselip juga komik-komik obscure terbitan penerbit lainnya. (hehe).

Tidak bisa dipungkiri bahwa saya sedikit merasa terisolir di sana. Bukan karena tidak ada orang yang bisa diajak mengobrol, tapi karena semuanya terasa sangat tiba-tiba. Tinggal di kota baru, bersama dengan orang-orang baru, dengan keseharian yang baru. Ada malam-malam dimana rasanya sesak, ingin bercerita. Jika sudah seperti itu biasanya saya duduk di teras atau di balkon, kemudian menelpon seseorang.

Menjelang ujian tengah semester, saya menyadari ternyata semakin sulit untuk mengejar penyelesaian tugas dan jam kuliah dari rumah Uak itu. Saya merasa tertinggal karena sebagian besar mahasiswa lain hanya perlu berjalan saja untuk menuju ke kelas, sementara saya harus berjalan ke depan, naik angkot 15-20 menit, kemudian berjalan lagi ke kampus. Mereka juga bisa keluar dan berkunjung ke kostan teman sekelas pada malam hari, untuk belajar dan mengerjakan tugas bersama-sama, sementara saya hanya bisa melakukan itu semua di siang hari.

Rasanya sulit untuk bisa bertahan dan tidak didrop out jika saya terus-terusan mondok di rumah Uak. Jadilah saya meminta izin kepada Abah dan Uak, agar saya bisa indekos di dekat kampus saja.

Agak tidak enak memang, terutama karena ternyata saat itu Uak membuat sebuah kamar lagi, untuk saya tinggali. (Mereka baru mengatakan hal itu bertahun-tahun kemudian, setelah saya lulus. Sebelumnya mereka bilang kalau ruangan baru itu adalah gudang.)

Dengan Jimny yang sama, saya dijemput, lalu pindah dari rumah Uak.

2. Kostan Pentolers di Jurangmangu

Sebenarnya awalnya hanya kebetulan saja. Saya membicarakan keresahan masalah tempat tinggal yang agak jauh dari kampus itu ke teman satu organta (organisasi kedaerahan di kampus). Kemudian teman saya itu mengatakan bahwa di salah satu rumah kost anak Bandung lain masih ada kamar yang kosong.

Sepulang kuliah, saya iseng mampir ke tempat itu, dan berkenalan dengan para penghuninya, Prima, Galih, dan Hadi. (Untuk para penghuninya sendiri, sudah pernah saya buatkan postingan tersendiri.)

Kamar kost itu milik seorang pria mungil yang terkenal dengan julukan Pak Pentol. Biaya sewa indekos di sana (kalau tidak salah ingat) 2,5 juta per tahun.

Di rumah kost itu saya menempati kamar paling ujung, paling dekat dengan kamar mandi dan pintu samping. Kamarnya sendiri terhitung kecil, jika dibandingkan dengan kamar Hadi maupun Prima. Cahaya mataharipun paling sedikit tertangkap karena hanya ada jendela kecil di bagian atas.

Interiornya standar; sebuah kasur ukuran single, sebuah lemari kayu kecil, dan sebuah meja belajar. Bau kamarnya juga standar; bau apak perabot tua dan bau lembap karena kekurangan cahaya matahari.

Di bagian depan rumah ada sebuah ruangan kecil yang dilengkapi dengan TV tua. Kami biasanya berkumpul di sana untuk makan bersama atau menonton Liga Indonesia sepulang kuliah. di sana Prima meletakan dua kotak donat, konsinyasi dengan pedagang donat sekitar.

Di rumah itu hanya ada satu kamar mandi. Setiap malam saya bisa mendengar suara tetesan air dari keran yang bocor. Saat itulah saya menyadari bahwa suara semacam itu sangat menyebalkan dan membuat saya tidak bisa tidur.

Walaupun airnya cukup jernih, akan tetapi ubin-ubinnya sudah usang dan retak-retak. Di sekitar WC malah terlihat berlubang. Terkadang saat mandi atau buang air, kami harus menghadapi kecoak yang merangkak keluar dari lubang-lubang di kamar mandi.

Sialnya, kombinasi lokasi yang dekat WC dan udara yang lembap, menyebabkan kamar saya menjadi target invasi kecoak. Walaupun sudah saya antsipasi dengan memasang selotip di sela-sela pintu, tetapi ada saja yang lolos masuk ke kamar.

Yang paling berkesan tentu saja adalah; suatu hari, saat saya tidur, saya merasa geli-geli di sekitar bagian dada. Karena saya kira itu nyamuk, langsung saja saya tepok. Saat bangun tidur, saya baru menyadari ternyata yang saya tepok adalah seekor kecoak.

Dua tahun saya tinggal di kamar itu. Sebal tapi sayang, terutama karena para penghuninya yang membuat saya betah dan sanggup bertahan. Kalau tidak salah ingat pernah ada dua kali kasus pencurian, salah satunya menimpa saya. Kala itu saya baru beberapa minggu memiliki ponsel baru, hasil dari kredit kepada salah satu Bibi. Ponsel yang cukup hits, yaitu Samsung Corby.

keren pada zamannya

Sepulang salat jumat, saya terkejut karena gembok pintu kost terbuka. Saat masuk, awalnya tak tampak ada yang berubah. Namun pada saat saya mencari ponsel, ternyata sudah raib. Kemudian saya mengecek dompet yang tersimpan di lemari. Dompetnya ada, tapi isinya juga ikut raib.

Namun begitu, ada hal yang patut saya syukuri. Di kamar itu, jiwa pujangga saya bersemi. Berbagai puisi, cerpen, dan draf novel terlahir. Di kamar itu juga saya merasakan jatuh cinta dan patah hati. Meniti harapan dan keputusasaan. Berbagi tawa dan duka, galau dan bahagia.

Tahun 2010, menjelang kenaikan tingkat, Kami semua sepakat untuk pindah dari kostan itu. Selain faktor keamanan, kami mencari tempat yang tidak terlalu ramai dan berisik, karena sebentar lagi kami harus fokus menyusun Tugas Akhir. Kami juga ingin mengajak beberapa teman yang sering main ke kostan untuk sekalian saja tinggal bersama.

Maka kami mencari tempat baru. Pilihanpun jatuh ke sebuah indekos yang berada di ujung jalan Warung Jengkol, jauh di ujung wilayah kampus. Letaknya bersebelahan dengan kompleks perumahan, di depannya berdempetan dengan sebuah warteg, sehingga kami dipastkan tidak akan susah mencari makan.

Indekos itu berupa kamar petakan yang baru selesai dibangun. kamarnya tidak terlalu besar, tapi masing-masing memiliki kamar mandi sendiri. Kami juga merasa cocok dengan pak haji dan bu haji yang jadi pemiliknya. Masalah utamanya adalah, harga sewa indekos yang dua kali lipat indekos Pak Pentol. Untuk menyiasatinya, masing-masing kamar diisi oleh dua orang. Untungnya Pak haji tak keberatan dan bersedia untuk menyediakan tambahan satu kasur di masing-masing kamar.

Di suatu pagi di akhir pekan, kami menyewa sebuah motor kaisar, dan mulai mengangkut barang-barang kami ke hunian yang baru.

A song for
Someone who needs somewhere
To long for
Homesick
Cause I no longer know
Where home is

Homesick – Kings of Convenience

Sampul: Photo by Tom Thain on Unsplash

Bagikan
Exit mobile version