Pujian dan perhatian adalah candu. Sudah sejak awal waktu, dan akan selalu seperti itu. Pujian dan perhatian adalah dahaga yang tak akan pernah terpuaskan.

Dia tak pernah hilang, hanya berubah bentuk.

Dulu sekali, sewaktu masih SMA, saya pernah diprospect oleh seorang teman untuk ikut menjadi anggota sebuah MLM. Saya terayu untuk ikut, namun karena sama sekali tak punya bakat dan seni ngécap, saya gagal mendapatkan kapal pesiar dan rumah mewah yang dijanjikan akan diberikan ketika menjadi anggota diamond.

Meskipun begitu, ada satu pelajaran penting yang saya petik kala mengikuti beberapa sesi pertemuan MLM, yaitu fakta bahwa manusia selalu lebih tertarik kepada dirinya sendiri daripada kepada orang lain.

Ini bisa jadi tips bagus untuk kita semua. Jika kehabisan bahan saat sedang mengobrol atau PDKT, ganti saja jadi topik-topik yang berkaitan dengan lawan bicara kita, mereka akan dengan senang hati membicarakan tentang diri mereka sendiri tanpa bosan. Apalagi jika ditambah dengan pujian dan sanjungan yang subtle, lawan bicara pasti makin senang.

Kenapa begitu? Karena membicarakan diri sendiri, disanjung dan dipuji membuat kita bahagia. Membuat otak melepaskan dopamin, serupa dengan orang yang sedang menggunakan narkoba, berolahraga, berjudi, atau bercinta.

Dulu opium, pacuan kuda dan rumah bordir, sekarang Tiktok, Instagram dan Facebook. Tak hilang, hanya berubah bentuk.

Dalam sehari, rata-rata 60% obrolan kita adalah tentang diri kita sendiri. Tak cukup hanya dengan meracau dalam hati, kita memiliki kebutuhan untuk membicarakan tentang diri kita kepada orang lain. Sementara saat menggunakan media sosial, angka tersebut naik menjadi 80%.

Mungkin itulah sebabnya mengapa sebagian besar postingan di media sosial adalah tentang diri sendiri. self-bragging, self-promoting, bahkan self-pitying.

Tanpa bermaksud menjadi hipokrit maupun munafik, terus terang saya juga melakukannya.

Sebenarnya itu hal yang lumrah, bukan? Hanya saja mungkin belakangan ini saya terlalu sensitif.

Ketika melihat postingan orang tentang usaha-usaha serta pencapaian (dia dan circlenya) dalam mempersiapkan beasiswa S2, saya merasa mual. Bukan mual terhadap orang itu, tapi mual karena rasanya diri saya tidak punya positivisme dan semangat militan semacam itu.

Padahal sampai saat ini melanjutkan sekolah ke jenjang S2 belum ada di dalam rencana hidup saya sampai beberapa tahun ke depan.

Ketika melihat postingan orang yang bekerja sambil membuka bisnis, membuat produk ini itu, membuka kedai kopi dan rumah makan, kepala saya pusing.

Padahal saya sendiri yang selalu ogah jika diajak untuk berbisnis, karena takut rugi dan menyita waktu bersantai di rumah.

Ketika melihat postingan orang memperbaiki, belanja furnitur, mengurus taman di rumah mereka pada akhir pekan, perut saya mulas, mengingat sampai detik ini saya masih seorang kontrakers.

Padahal menjadi pengontrak dan menghindari KPR adalah jalan yang sudah saya pertimbangkan matang-matang dan saya pilih sendiri dengan penuh kesadaran dan perhitungan.

Cukup lama saya menjauhi media sosial karena hal-hal seperti di atas. Agar dampaknya berkurang, saya juga sempat mute dan unfollow orang-orang itu. Saya tahu itu bukan jalan keluar, tapi saya kira itu langkah yang terbaik sebelum saya bisa menemukan jalan keluar atau cara untuk mengatasinya.

Bukankah itu mudah sekali? Kamu hanya perlu bersyukur, atas apa yang telah kamu dapatkan, dan kurang-kurangi melihat ke atas, lihatlah ke bawah, masih banyak yang lebih membutuhkan daripada kita.

Andai segampang itu.

Saya kira merasa insecure dengan apa yang telah kita peroleh dan capai dalam hidup, bisa jadi lepas (tak terkait) dengan seberapa besar rasa syukur kita kepada Tuhan.

Atau mungkin saja rasa syukur semacam itu disebut dengan syukur yang belum paripurna, masih sekadar dalam ucapan, masih setengah-setengah, entahlah.

Tapi jika boleh saya kutip kalimat dari seorang psikolog,

our desire to compare ourselves to others is a drive—one almost as powerful as thirst or hunger

Leon Festinger

Itu bisa berarti bahwa keinginan untuk membandingkan diri kita, kehidupan kita, adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

Masalahnya adalah bagaimana cara kita memenuhinya, tanpa membuat kita merasa mual, pusing, sakit perut, kecewa, inferior, sedih, dan depresi?

Bisa jadi salah satu caranya adalah bukan dengan melihat ke atas, ke bawah, atau bahkan ke samping; tapi ke depan dan ke belakang.

Itulah yang saya lakukan, yang membuat hati saya berangsur tenang. saya melihat ke belakang. Dalam istilah psikologi, ini dsebut dengan temporal comparison.

Sekitar tahun 2012, ketika masih lajang dan punya banyak waktu luang, saya pernah membuat sebuah bucket list di bagian belakang buku catatan saya. Isinya berbagai macam impian dan cita-cita saya, mulai dari hal remeh seperti “bisa nyetir mobil” dan “bisa main gitar” sampai ke hal besar seperi “Keliling Asia Tenggara” dan “Melaksanakan Ibadah Haji”

Bucket list itu cukup panjang, lebih dari satu halaman. Setelah saya buat kemudian saya simpan, dan terlupakan.

Saya baru ingat adanya bucket list itu setelah ditemukan oleh Istri saya, pada masa-masa awal kami menikah, dan alangkah kagetnya saya, ternyata sudah banyak impian dan target yang tercapai dan bisa saya coret dari daftar itu. Itu tahun 2015, ketika saya lihat lagi sekarang, ada lagi poin-poin lainnya yang bisa saya coret.

Dengan melihat daftar itu saya jadi menyadari, alangkah jauhnya saya sudah melangkah. Saya tahun 2020 adalah saya yang lebih baik daripada saya tahun 2012.

Bukankah itu cara yang cukup bagus dan sederhana?

Dengan melihat ke belakang saya menyadari, bahwa satu-satunya persaingan dan perbandingan yang berarti dalam hidup ini adalah persaingan dan perbandingan dengan diri kita hari kemarin.

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
7 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Sep kevin

Mantaf

Sep kevin

Sami² a iil, sangat menginspirasi&bisa mnjadi bahan introsfeksi,diantos karya2 salajengna

bigprima

Persiapan Kuliah S2 luar dan postingan mengurus anak, dua hal yang membuat saya insecure hahaha

Tapi ya bener kudu liat lagi ke diri sendiri, ternyata lebih banyak yang mesti disyukuri daripada hal-hal yang perlu dicemaskan

Falzart Plain

Setiap orang punya pathway-nya masing-masing, mari membuat dan menjalani pathway untuk diri sendiri.

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
7
0
Beri Komentarx
()
x