Kita terkadang terjebak dalam paradigma gelas setengah kosong atau setengah isi. Membagi manusia ke dalam dua kotak; si pesimis yang harus berubah dan si optimis yang harus mengubah.

Padahal mungkin tidak seperti itu. Pandangan kita terhadap hidup (atau suatu masalah) sangat tergantung dengan berbagai macam faktor, seperti usia, keluarga, pendidikan, dan pengalaman.

Lima orang bisa melihat dan menyikapi sebuah masalah yang sama dengan lima cara yang berbeda.

Beberapa waktu yang lalu, saya melaksanakan tugas lapangan ke Palembang bersama dengan empat pegawai kantor lainnya. Sebagian besar pekerjaan kami dilakukan di dalam ruangan, dengan sesekali pergi ke luar untuk berwisata kuliner.

Salah satu pegawai yang ikut adalah seorang Bapak asli Palembang. Dua kali ke kota itu bersamanya, dia selalu menceritakan tentang betapa nikmatnya masakan-masakan yang dibuat dari Ikan Belida, dan betapa sayangnya bahwa saat ini Ikan tersebut sudah di ambang kepunahan.

Ikan Belida atau Chitala lopis adalah ikan yang dulu hidup melimpah di sepanjang Sungai Musi. Ikan legendaris yang dagingnya sangat gurih dan enak jika diolah menjadi pindang, kemplang, dan tentu saja, pempek.

Dari cerita-cerita bapak itu, kami tentu saja penasaran bagaimana rasanya makan Ikan Belida. Kebetulan pada saat makan siang di sebuah restoran pindang ikan, kami mendapat kabar kalau masakan dari Ikan Belida sedang tersedia. Tanpa pikir panjang, kami berlima memesan menu yang sama, Pindang Ikan Belida.

Kami memesan tanpa pikir panjang, tanpa penasaran kenapa di menu Ikan Belida itu tidak ada price listnya.

Hujan deras mulai mengguyur kota Palembang ketika pesanan kami tiba. Saat itu yang terpikir oleh saya hanyalah betapa pasnya situasi ini, makan pindang ikan legendaris yang masih panas, ditemani oleh udara dingin dan rintik hujan. Beuh, asoy!

Masing-masing potongan yang kami dapat memang cukup besar. Saya sendiri tidak bisa menghabiskannya. Selain karena sudah kenyang, juga karena jika makan ikan, ayam, atau sapi, saya hanya suka bagian dagingnya, sementara lemak dan perintilan lainnya tidak terlalu membuat saya berselera.

Tapi keempat rekan sekantor saya yang lain makan dengan jauh lebih lahap. Salah satunya bahkan diemut sampai hanya bersisa tulang-tulangnya saja.

Setelah puas makan dan mengobrol, kami meminta bill.

And there’s come the truth, Pindang Ikan Belida ternyata sangat mahal (setidaknya untuk ukuran PNS seperti kami.)

Nah, di sinilah saya benar-benar melihat, bagaimana kami berlima menyikapi masalah mahalnya pindang itu dengan cara yang beragam.

Saya terus terang menelan ludah melihat billnya. Saya melihat mangkok pindang saya yang masih berisi potongan-potongan lemak, kulit, dan daging-daging yang menempel. Saya menyesal karena tidak menghabiskan pindang itu. Saya juga menyesal kenapa tidak pesan menu yang lain saja seperti ikan bakar atau udang asam manis? toh sebenarnya saya tidak terlalu suka pindang ikan.

Pegawai A, menjadikannya sebagai bahan lelucon. Selama sisa tugas lapangan (dan sampai hari postingan ini ditulis) jika menemukan situasi di mana dia harus membayar sesuatu, atau melihat sebuah barang yang mahal, dia pasti akan bilang; cuma segini, masih belum semahal makan Pindang Ikan Belida.

Pegawai B, setelah mengetahui harganya (dan sepanjang perjalanan kembali ke lokasi tugas) tak henti-hentinya browsing tentang Ikan Belida. Dia mencari justifikasi dengan memberitahu kami tentang bagaimana langkanya ikan itu, dan bagaimana harga bahan perkilogramnya yang memang mahal, jadi harga makanan yang kami bayar itu sudah wajar.

Pegawai C, yang benar-benar menikmati pindang itu sampi hanya bersisa tulang-tulangnya, hanya berkata bahwa pindang itu sangat enak. Dia tidak mempermasalahkan soal harganya, karena menurutnya pengalaman dan rasa dari pindang itu sendiri yang lebih penting. Bahkan pada malam harinya, dia mengaku pergi ke restoran yang lain dan kembali memesan Pindang Ikan Belida. (yang lebih mahal harganya dari pindang yang kami makan)

Pegawai D, yang paling senior di antara kami, memiliki pandangan yang mirip dengan Pegawai C. Dia sebagai orang Palembang asli yang sudah jarang menemukan Ikan Belida, sangat bersyukur karena bisa merasakan lagi makanan itu, walaupun dengan harga yang mahal.

Ini baru lima orang. bagaimana jika ada sepuluh, lima puluh, atau seratus? tentu saja bisa sangat beragam, dan belum tentu bisa kita bagi menjadi dua sebagai hitam dan putih.

Manakah di antara pandangan kami tentang pindang itu yang paling benar? Apakah jika saya menganggap pandangan saya yang benar, artinya saya harus menganggap pandangan keempat orang lainnya itu salah? atau sebaliknya jika saya menganggap pandangan mereka benar, berarti pandangan saya salah?

Ataukah kita bisa mengambil belajar dari perbedaan-perbedaan pandangan itu. Kita bisa mengambil intisari dan dari argumen mereka, menjadikannya pengalaman dan bahan renungan. Agar jika kita menghadapi masalah serupa di kemudian hari, kita bisa menjadi pribadi lebih terbuka.

Menjadi orang yang mengerti apa artinya saling menghargai dan memahami, yang tidak gampang menghakimi.

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
2 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Falzart Plain

Mungkin B juga menyesal, tapi menutupi penyesalannya dengan mencari justifikasi.

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
2
0
Beri Komentarx
()
x