Tahun 1994, seminggu sebelum perayaan natal, tiga pria asal Prancis bernama  Eliette Brunel-Deschamps, Christian Hillaire, and Jean-Marie Chauvet, berpetualang di sepanjang sungai Ardèche, yang terletak bagian selatan Prancis. Mereka berniat untuk menjelajah ke dalam sebuah lubang kecil yang oleh penduduk lokal diberi nama Trou de Baba.

Ketiganya adalah Speolologist, peneliti dan penjelajah gua profesional.

Selama beberapa jam mereka berusaha untuk masuk ke dalam lubang itu, tapi mereka gagal. Lubang itu terlalu kecil untuk dimasuki oleh tubuh mereka.

Mereka mulai lelah dan putus asa. Sebagai jalan terakhir, mereka memutuskan untuk membuka jalan masuk ke dalam lubang itu dengan menggunakan bahan peledak.

Mereka berhasil.

Mereka masuk dan menyusuri lubang itu. terowongan yang mereka susuri meliuk-liuk hingga jauh ke dalam perut bumi. Semakin lama lubang itu semakin membesar, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah ruangan besar. Sebuah gua.

Chauvet menyalakan senter dan melihat ke sekeliling gua. Gua itu besar dan sangat indah. dihiasi oleh stalagtit dan stalagmit beraneka warna. Belum selesai dia terkagum-kagum dengan pemandangan itu, ujung senternya menangkap sesuatu di dinding gua.

Dinding gua itu dipenuhi dengan gambar dan lukisan-lukisan purba. Ada banyak sekali gambar. Mulai dari gambar titik, lingkaran, telapak tangan, hingga gambar gerombolan bison, harimau, dan binatang-binatang purba lainnya.

Penelitian lanjutan membuktikan bahwa usia dari lukisan-lukisan itu diperkirakan lebih dari 36.000 tahun.

*

Gambar-gambar yang ditemukan di dalam gua menjadi medium bercerita visual tertua yang diketahui oleh manusia.

Dalam sebuah acara di stasiun televisi BBC, profesor dan fisikawan Brian Cox mengunjungi El Castillo, salah satu gua di Spanyol yang juga memiliki lukisan-lukisan dari zaman purba. Brian Cox menjelaskan bahwa dengan adanya lukisan-lukisan di dinding gua, membuktikan bahwa telah terjadi perubahan paradigma dalam pemikiran orang-orang neanderthal. Mereka sudah berubah dari sekadar makhluk yang mementingkan masa sekarang dengan cara berburu, menjadi makhluk yang memikirkan tentang pesan-pesan masa lalu, yang ingin diabadikan untuk kepentingan di masa depan.

Saat melihat gambar ini, Brian Cox mulai bercerita tentang seorang anak kecil yang hidup setidaknya 35 ribu tahun silam. Kemungkinan seorang gadis kecil, katanya.

Pada suatu hari gadis kecil itu bermain-main ke dalam gua. Dia menempelkan tangannya ke dinding gua, kemudian meniupkan cat merah.

Gadis kecil itu mungkin tidak menyadari, stensil tangan yang diabuatkan untuk main-main ternyata bertahan selama puluhan ribu tahun.

Narasi singkat itu membuat saya terkagum-kagum. Bahwa dari sebuah gambar yang sederhana, kita bisa mencari konteks yang tepat dan membuat kisah yang mengagumkan.

Jauh setelahnya, pada tahun 3.000 SM, bangsa mesir menggunakan simbol-simbol hieroglif sebagai medium bercerita. Manusia modern sama sekali tidak bisa memahami maksud dari hieroglif sampai pada abad ke-18 Jean-François Champollion berhasil menerjemahkan artefak yang bernama batu rosetta. Sulitnya menerjemahkan hieroglif adalah karena setiap gambar memiliki perpaduan dan konteks tersendiri.

Bisa dibilang 700 simbol hieroglif adalah transisi dari sistem gambar menuju sistem abjad yang populer setelahnya. Gambar dan lukisan tidak lagi menjadi media bercerita satu-satunya. Manusia sekarang memiliki abjad dan tulisan.

*

Saat ini, kita terbiasa dengan membaca kisah dalam bentuk narasi. Dengan konteks, simbol, dan suasana yang disodorkan di depan mata kita dalam bentuk kata-kata. Dengan sederet aturan dan urutan.

Tapi bukan berarti kita harus terjebak dengan cara bercerita seperti itu. Ada cara bercerita lainnya yang bisa kita jelajahi. Katakanlah, sesederhana kisah yang memberikan pembacanya pilihan seperti dalam Goosebumps karya R.L. Stine (Jika pilih A, buka halaman X, jika pilih B, buka halaman Y), mengganti format narasi dengan format surat seperti dalam The Wednesday Letters karya Jason F. Wright, membuat satu cerita utuh dengan hanya menggunakan satu kalimat, membuat dalam format kliping artikel dan laporan seperti dalam Carrie karya Stephen King, menggunakan format chatting atau format tweet media sosial, menggunakan meme, dan masih banyak cara-cara kreatif lainnya.

Saya, Istri, dan beberapa teman satu komunitas pernah membuat hal serupa. Proyek kecil kami lebih menitikberatkan penggunaan medium untuk bercerita daripada mengotak-atik teknik menulis. Memang bukan hal mudah, karena selain harus memikirkan ide cerita, kami juga harus memikirkan tentang presentasi visual yang akan ditampilkan, dan bagaimana pembaca mungkin bisa dengan berbagai sudut pandang, menjadikan kisah-kisah yang kami buat tidak koheren dan sulit dimengerti.

Tapi pada akhirnya kami mencoba, dan menghasilkan cukup banyak kisah eksperimental. Sebagian bisa dilihat melalui tautan di bawah ini:

  1. Kartu Nama
  2. Menghitung Hari

*

NB: Berdasaran artikel yang dimuat di stasiun berita DW, lukisan tertua yang diketahui oleh manusia berasal dari Indonesia, tepatnya lukisan orang yang sedang berburu. Lukisan itu berusia kurang lebih 44.000 tahun.

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
4 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Amela

Aku jadi rindu cerita-cerita RL Stine yang bisa menentukan ending sesuai pilihan kita. Seringkali kutandai halamannya untuk memastikan tidak ada jalur cerita yang terlewat.

Falzart Plain

Membaca paragraf-paragraf awal, kupikir akan ada semacam cerita fiksi. Ternyata bukan.

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
4
0
Beri Komentarx
()
x