Jika dibilang saya fans kaleng-kaleng atau fans karbitan, mungkin memang benar. Saya baru serius menyukai sepak bola dengan serius saat SMA. Itupun karena sering bermain Winning Eleven dan Championship Manager.

Tim Eropa yang saya dukung juga adalah tim-tim yang sedang pada masanya sedang naik daun. Sebut saja Chelsea era Didier Drogba dan Frank Lampard, Inter era duet Samuel Eto’o dan il Principe Diego Milito, Manchester City pasca reformasi Sheikh Mansour.

Suatu hari di tahun 2011, saya melihat tayangan Youtube tentang stadion-stadion paling “angker” di eropa. Salah satunya adalah Signal Iduna Park/Westfalenstadion tempat Borussia Dortmund bermarkas. Semenjak melihat video itu saya jadi mengagumi para fansnya yang selalu bersemangat dan atraktif setiap kali Dortmund bertanding. Saya juga senang dengan filosofi mereka dalam profitisasi pengembangan pemain-pemain muda.

Nah, sayangnya Arsenal tidak termasuk dari tim-tim yang saya sukai. Saya nggak benci dengan Arsenal sebagaimana Fans MU benci dengan Liverpool. Tapi, ya, biasa saja, gitu.

Keluarga, teman dekat, rekan sekantor, banyak sekali dari mereka yang teridentifikasi sebagai gooners (sebutan untuk fans Arsenal). Saya sering meledek mereka karena performa Arsenal di liga domestik dan liga eropa yang begitu-begitu saja dalam satu dekade terakhir. Salah satu yang sering jadi sasaran ledekan adalah Om saya di Bandung.

Saya lupa tepatnya bagaimana, tapi ada satu jaket Arsenal si Om yang berpindah tangan ke saya. Ketika saya menikah dan melanjutkan kuliah di Jakarta, Jaket itu salah satu yang saya bawa.

Karena hanya mempunyai dua buah jaket, saya sering mengenakan jaket itu saat berangkat kuliah. Baik itu ke kampus di Purnawarman maupun ke kampus di Bintaro.

Setiap kali mengenakan jaket Arsenal itu, saya merasakan orang-orang yang saya temui di jalan jauh lebih ramah kepada saya. Orang yang berpapasan seringkali tersenyum dan menyapa dengan anggukan.

Suatu sore sepulang kuliah bahkan di jalan ada yang tiba-tiba ada orang asing menepuk-nepuk bahu saya, dan bilang kalau saya harus terus semangat. Sangat random sekali.

Semenjak itu saya dengan sepihak mengambil kesimpulan bahwa selain jumlahnya sangat banyak, ikatan batin antara para gooners ini sanga hebat dan kuat. Mereka tidak perlu tahu saya benar-benar gooners atau hanya sekadar poser. Pokoknya karena saya mengenakan jaket Arsenal, saya dianggap sebagai saudara senasib sepenanggunangan, dan harus diberi semangat.

Pun dengan kantor yang sekarang. Salah satu petugas keamanan menganggap saya seorang gooners karena saya sering mengenakan jaket Arsenal itu. Jika berpapasan di parkiran motor, beliau selalu menanyakan dan membahas skor pertandingan terakhir Arsenal.

Beliau selalu bersemangat dan menyemangati saya kalau dia tahu Arsenal kalah bertanding.

Karena merasa tidak enak padanya, jadilah selama dua tahun terakhir ini saya selalu melihat aplikasi dan berita bola setiap kali Arsenal bertanding. Saya tidak ingin kebingungan ketika ditanya skor, atau ditanya siapa yang bikin gol? siapa yang kasih assist? atau kalau dia tiba-tiba mencak-mencak nyebut nama Pepe, Mustafi, atau Lacazette minimal saya harus tahu sejelek apa permainan mereka tadi malam.

Saya benar-benar tidak tega untuk mengatakan bahwa saya bukanlah seorang gooners sebagaimana yang dia kira. Walaupun termasuk kategori berbohong, tapi sepertinya saya akan terus menggunakan persona gooners setiap bertemu dengannya.

Saya kadang penasaran, mana yang akan terjadi lebih dulu. Beliau menyadari kebohongan saya, atau saya akhirnya benar-benar menjadi gooners karena selalu memperhatikan Arsenal selama dua tahun terakhir.

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x