Belakangan ini sedang gaduh sekali soal Fincancial Advisor (FA) Jouska yang menyalahgunakan kepercayaan klien mereka, dengan menjerumuskan klien-klien itu ke dalam investasi saham gorengan, padahal dia tidak memiliki izin sebagai manajer investasi dari OJK.

Sekitar setahun ke belakang saya follow akun Instagram Jouska karena sering membahas topik-topik populer dalam manajemen keuangan kaum millenial. Jujur saya salut karena literasi keuangan yang mereka sampaikan di Instagram dibungkus dengan sangat menarik dan dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Tapi semakin lama diperhatikan, mereka semakin sering membuat contoh kasus yang ‘menurut saya’ tidak wajar dan sangat tidak relevan untuk masyarakat kelas menengah seperti saya, sehingga saya jadi malas melihat dan berhenti memfollow akun Instagramnya sekitar setengah tahun yang lalu, walaupun saya tetap sering melihat unggahan-unggahannya berseliweran di sana-sini, termasuk dari istri dan rekan kerja.

Semakin lama contoh-contoh kasus yang mereka sampaikan rasanya semakin superficial, hanya menyentuh sebagian atas dari lapisan kelas masyarakat. Itupun mereka masih mengisyaratkan bahwa, “masih banyak, lho, yang lebih wah dari ini…”

Muncul rasa suudzon bahwa unggahan-unggahan yang “WAH” itu memang sengaja mereka buat agar kaum menengah seperti saya merasa insecure dalam mengelola uang sendiri.

Mereka dengan cerdas membangun narasi bahwa segala sesuatu haruslah besar dan mahal, bahwa itulah standar yang harus kita capai. anything less means you are a failure.

Kita diperlihatkan bahwa pendidikan itu harus mahal. Orangtua yang mampu menyekolahkan anaknya di sekolah yang uang masuknya ratusan juta itu lebih sophisticated daripada Orangtua yang hanya mampu menyekolahkan anaknya di sekolah negeri.

Kita diperlihatkan bahwa melahirkan itu harus mahal. ibu yang biaya melahirkannya sampai dengan ratusan juta artinya lebih menyayangi dan perhatian terhadap kesehatan bayinya daripada ibu yang hanya bolak-balik ke puskesmas setiap bulannya.

Kita diperlihatkan bahwa pernikahan itu harus mahal. Calon pengantin yang menghabiskan ratusan juta untuk prewed dan bachelor party itu adalah keren dan kekinian, dibandingkan dengan menikah di KUA dan hanya membagikan nasi kotak.

Secara implisit, unggahan-unggahan dari contoh kasusnya membuat kita merasa tak berdaya dan serba tak berkecukupan, sehingga mau tidak mau kita harus mebayar financial advisor untuk mengelola penghasilan dan pengeluaran yang segitu-segitu saja.

*

Tapi jangan salah, sebagai seorang akuntan yang berkecimpung di dunia keuangan, saya menganggap mengelola keuangan keluarga adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan, hanya saja tidak perlu sampai melibatkan orang lain.

Uang kita adalah tanggung jawab kita. Jika sudah berkeluarga, artinya tanggung jawab bersama antara suami dan istri.

Tidak bijak rasanya jika sesudah menikah keputusan finansial hanya diambil oleh suami atau istri saja. Walaupun jika memiliki penghasilan dari pekerjaan masing-masing.

Memang rasanya lebih mudah mengatakan, “pokoknya sebulan aku kasih lima juta buat semua keperluan kita,” atau “Pokoknya gajiku dipakai buat uang belanja, dan gajimu dipakai buat nabung.”

Namun jika itu saja yang kita lakukan, tanpa mengecek lagi bagaimana penggunannya, cepat atau lambat akan muncul ketidakpuasan bahkan kecurigaan dari pasangan kita. Bukan tidak mungkin pasangan akan protes (diam-diam atau diviralkan) dengan keputusan finansial yang kita buat tanpa sepengetahuan dan sepersetujuan dari pasangan.

Selain untuk transparansi, memang harus ada mekanisme check and recheck dan pengawasan dari pasangan (yes, you read that right).

Jadi ketika ada keputusan finansial yang salah atau kurang tepat (misal ikut investasi bodong atau daftar suatu produk asuransi yang ternyata nggak berguna) itu akan menjadi pelajaran bagi keduanya, bukan sebatas bahan gunjingan atau pertengkaran.

Berdasarkan pengalaman yang saya dapat dari diri sendiri dan teman-teman kaum menengah seperjuangan lainnya, bagi yang ingin memulai mengelola keuangan keluarga ada beberapa saran aplikatif dan sederhana yang bisa diikuti, yaitu:

  1. Buat kelompok pengeluaran seperti ‘Belanja’ ‘Jajan’ ‘Skincare’ ‘Listrik’ dan sebagainya. Sesederhana memisahkan masing-masing ke dalam setiap amplop sudah cukup. Ini akan memberikan gambaran kasar tentang seberapa besar dana yang kita butuhkan untuk hal-hal tersebut setiap bulannya, dan membantu kita mengerem dan mengevaluasi pengeluaran yang dirasa berlebihan;
  2. Jika ingin lebih detail dari poin pertama, bisa menggunakan spreadsheet excel atau aplikasi semacam Monefy atau Money Lover. Bisa juga menggunakan fitur pencatatan dari digital banking seperti Jenius;
  3. Sebelum mencadangkan untuk tabungan dan investasi macam-macam, siapkan dulu Dana Darurat. Kita tidak pernah tahu seaman apa pekerjaan kita sekarang. Pandemi yang sedang terjadi sekarang menyadarkan saya bahwa penghasilan ASNpun ternyata bisa terkena dampaknya. Besarnya variatif, tergantung dari kesepakatan keluarga, bisa 6 sampai 12 kali jumlah pengeluaran bulanan;
  4. Setelah selesai dengan urusan Dana Darurat, baru siapkan tabungan yang lainnya. Tabungan-tabungan lainnya ini akan lebih efektif jika kita sudah mementukan dari awal peruntukannya, dan menghitung berapa besar dana yang dibutuhkan. Misal: Tabungan untuk uang masuk SD X tahun lagi, kurang lebih sebesar Y juta. silakan dibagi dan dihitung per bulan berapa besaran tabungan yang dibutuhkan. (feel free to include iflation etc etc);
  5. Jauhi investasi saham jika belum paham risikonya;
  6. Unit Link adalah asuransi nanggung dan investasi nanggung. Jauhi jika belum paham mekanismenya.

Pada akhirnya, mengelola keuangan keluarga tidak perlu menggunakan FA berbayar jutaan, cukup suami istri duduk berdua dan mengobrol sore-sore sambil ditemani biskuit khong guan dan secangkir kopi.

***

Sebagai catatan akhir, ada sebuah video menarik dari Ferry Irwandi tentang FA yang saya sebutkan tadi. Silakan dinikmati.

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
3 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Falzart Plain

Istri saya senang sekali mengikuti Jouska (sebelum berkasus), jadi saya ikut follow juga di Instagram untuk memahami apa sih yang menarik dari edukasinya Jouska ini.

Tapi melihat contoh yang diberikan sepertinya tidak realistis untuk kalangan saya. Mungkin edukasinya lebih cocok untuk kalangan ekonomi atas yang bergaya hidup hedonis. Kemudian saya unfollow.

Falzart Plain

Tidak ada, tidak dibahas lagi.
Seolah-olah tidak pernah follow.

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
3
0
Beri Komentarx
()
x