Bagi kehidupan saya pribadi, pandemi ini membuat perasaan dan pengalaman yang campur aduk.

Ada perasaan khawatir karena penularan virus yang bisa datang dari mana saja dan siapa saja di sekitar saya. Tapi ada juga perasaan lega karena sejauh ini di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja tidak ada kasus positif yang terkonfirmasi.

Ada perasaan sedih karena tidak bisa dengan leluasa bertemu dengan teman-teman dan orangtua di kampung halaman. Tapi ada perasaan senang juga karena setidaknya sampai saat ini istri dan anak tinggal bersama saya di perantauan.

Ada perasaan kesal karena rencana perjalanan dan liburan yang sudah disiapkan harus batal dilakukan. Juga karena insentif yang tersunat. Tapi lebih besar rasa syukur karena masih memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap, juga karena bisa mengalihkan dana liburan itu ke hal lain yang lebih urgent.

Dan sebagainya, akan panjang sekali jika disebutkan satu-persatu.

*

Namun terlepas dari semua perasaan itu, yang menarik adalah dengan adanya pandemi ini dunia dipaksa bertransformasi ke era digital lebih cepat dari seharusnya, dan instansi tempat saya bekerja tak terlepas dari transformasi digital ini.

Pertama terkait skema Work From Home (WFH). Bulan maret lalu, semua instansi pemerintah ditutup untuk sementara waktu. Seluruh pelayanan dilakukan secara daring, dan pegawai seluruhnya melaksanakan WFH.

Terus terang saya terkejut (sekaligus salut) karena skema WFH ini pernah jadi bagian dari kajian yang saya ikut kerjakan beberapa tahun yang lalu saat masih bertugas di Jakarta. Kala itu fokusnya tidak terbatas pada WFH, namun kepada ide besar tentang Work Life Balance.

Kala itu saya merasa pesimis karena sulit sekali menembus tembok birokrasi dan sederet aturan yang sudah ada. Padahal kajian tersebut sudah dibungkus dalam program “Reformasi” yang sedang giat digulirkan oleh Instansi.

Jangankan untuk WFH, skema Fleksible Working Hour yang diharapkan bisa diterapkan pada hari Senin dan Jumat untuk mengakomodir pegawai yang PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad) saja rasanya sulit untuk direalisasikan.

Dan tiba-tiba itu harus diimplementasikan serentak dan seketika. Apakah sudah sempurna? Tentu tidak. Ada kekurangan di sana-sini yang ditambal dengan keluarnya peraturan demi peraturan. Tapi toh ternyata hal itu bisa diaplikasikan dengan cukup baik. Dengan standar kinerja yang (setidaknya di kantor tempat saya bekerja) tidak berubah.

Kedua adalah masalah absensi. Sudah sejak lama ada ide agar absensi dilakukan via aplikasi ponsel. Hal ini terutama untuk menghindari antrian panjang yang sering terjadi setiap pagi dan sore di lobi kantor.

Jika sudah menjelang batas jam masuk, antrian bisa sangat panjang. Rasanya jadi pemandangan yang kurang enak dilihat oleh orang luar jika ada antrian panjang di lobi dan basement, terutama jika antrian itu terjadi sebelum waktunya. Ide itu juga dikeluarkan untuk menghindari terjadinya kecelakaan yang disebabkan oleh pegawai yang terburu-buru berlari menuju ke mesin absen saat datang, atau terburu-buru berlari menuju keluar kantor setelah absen sore untuk mengejar angkutan jemputan.

Tapi ide itu belum ada urgensinya. Mungkin juga disebabkan karena instansi belum percaya penuh kepada pegawainya. Banyak muncul ketakutan akan penyalahgunaan jika absen hanya sekadar check in dengan aplikasi ponsel, dibandingkan dengan fingerprint dan facial recognition.

Semenjak pandemi ini, dan untuk menunjang pegawai yang WFH, tak ada pilihan lain selain dengan absen online. Penyalahgunaan bisa diminimalisir dengan pengecekan IP Adress dan geolocation pada ponsel dan komputer yang digunakan untuk absen.

Ketiga adalah masalah surat menyurat dan naskah dinas. Dengan adanya pandemi ini, percepatan implementasi naskah dinas secara elektronik dilakukan. Surat-surat yang sebelumnya harus dioper manual antar bagian, antar pimpinan, dan antar instansi, sekarang bisa seketika dilakukan, dan sudah ditandatangani secara elektronik.

Ini cukup menghemat anggaran instansi untuk mencetak dan berkirim surat. Juga menghemat waktu karena surat akan sampai seketika setelah dikirim secara elektronik, dan bisa dibalas seketika juga. Pengarispan juga lebih rapi dan aman karena dilakukan secara digital, tidak perlu khawatir arsip akan rusak karena kelembaban dan usia.

Walau memang, transisi ini juga belum sempurna. Tingkat akses yang tinggi membuat aplikasi surat-menyurat ini seringkali sulit dibuka, dan memakan waktu lebih banyak untuk membuat surat, dibanding dengan membuat surat secara manual. Tapi pembaruan demi pembaruan terus dilakukan, dan sekarang kecepatannya sudah lumayan.

Masa transisi semua perubahan tadi tidak mudah. Ada protes dan resistensi, walaupun sepertinya hanya sebatas ngedumel dan misuh-misuh antar pegawai saja. Selebihnya manut saja apapun mau instansi, seperti biasanya.

*

Bagi saya sendiri, ada beberapa hal positif yang terjadi semenjak pandemi ini terjadi, diantaranya:

  1. Setahun terakhir ini saya dan istri sedang mencoba untuk memiliki anak ke-2. Tahun lalu Noury melepas IUD, dan kami menjalankan program kehamilan beberapa kali. Namun ternyata tidak segampang itu, kami akhirnya berhenti melakukan program ini itu, dan pasrah saja. Namun ternyata pembuahan itu berhasil terjadi pada masa pandemi ini, beberapa waktu setelah saya WFH;
  2. Karena punya cukup banyak waktu luang di sela-sela pekerjaan, akhirnya draf novel yang sudah sembilan tahun mangkrak dilihat lagi dan diperbaiki. atas desakan istri sekali lagi coba dikirimkan, dengan komitmen diterbitkan secara indie jika gagal tembus (lagi).
  3. Pola makan dan berat badan lebih terjaga. Semenjak awal tahun sampai dengan selesai lebaran, saya punya cukup waktu untuk berolahraga di rumah. Berat badan sempat turun dari 64 ke 57 kg. Sayangnya sekarang naik lagi jadi 61 kg.
  4. Saya bisa merapikan dan memindahkan blog dari tempat lama ke tempat ini.

Sampul: Photo by Evgeni Tcherkasski on Unsplash

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
2 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Falzart Plain

Draf novel apa ini? Sense?

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
2
0
Beri Komentarx
()
x