Dahulu kala, seorang Sufi pernah diminta oleh Sultan Persia untuk membuat sebuah kutipan bijak yang bisa mencakup seluruh aspek dari kehidupan. Sebuah Maha-kutipan yang bisa dan cocok untuk digunakan dalam setiap situasi.

Sufi itu berpikir cukup lama, kemudian berkata; “īn nīz bogzarad.”

Kutipan itu kemudian pada abad ke 19 dibawa ke dunia modern oleh pujangga Edward FitzGerald, (juga Abraham Lincoln) dan hingga saat ini populer. Kutipan itu adalah; “and this too, shall pass away”, atau versi singkatnya, “This too shall pass.”

Kutipan itu begitu populer. Kutipan magis yang mendefinisikan kefanaan dengan singkat dan sederhana. Memberikan harapan untuk yang sedang putus asa, sekaligus peringatan bagi yang sedang bersuka cita.

Sudah sekitar satu bulan terakhir, mulai pukul tujuh atau delapan setelah Niskala tidur, malam-malam kami selalu diisi dengan suara tak-tik-tuk ketikan.

Sejak dulu, saya senang mendengarkan suara tuts kibor ditekan, terutama kibor mekanikal. Suara ketikan sendiri memang terasa syahdu, tapi saya nggak menyangka ternyata jika berduet suaranya jauh lebih merdu. Berbeda kepala berarti berbeda cara mengetik. Berbeda filosofi bagaimana metode mengetikkan huruf kapital, berbeda mahzab penggunaan semikolon (;), juga berbeda cara dalam memulai cerita.

Simfoni ketikkan itu bak rintik hujan yang jatuh cepat-cepat, membasahi kanvas putih dengan ide-ide cemerlang atau basa-basi omong kosong.

Masing-masing dari kami punya tempat sendiri. Saya sambil bersandar di tempat tidur, sementara Noury sambil duduk dan mendengarkan musik dari headphone.

Rasanya jauh lebih semangat jika pasangan kita juga memiliki minat yang sama (setidaknya dalam bidang literasi). Saya jadi punya rekan untuk sesi brainstorming ide. Ada yang selalu siap dan “sukarela” menjadi pembaca pertama, juga jika diminta menjadi editor dan kritikus dadakan.

Walaupun memang tidak selalu berjalan lancar. Ada saat-saat kita kita dibuat kesal dengan komentar-komentar yang dia berikan. Ada juga saat-saat dimana muncul rasa iri dan rendah diri kala tulisan dia jauh lebih bagus daripada tulisan kita. (Ini yang sering saya rasakan, karena tulisan-tulisan Noury jauh lebih keren daripada tulisan-tulisan saya.)

Kami menggarap dua hal yang berbeda. Saya menggarap draf sekuel novel diselingi sesekali membuat cerpen atau postingan blog (dan sesekali main nintendo), sementara Noury mengejar target menyelesaikan novel di salah satu platform digital.

Setiap malam dia harus mengunggah satu bab, dengan jumlah minimal per bab sekitar seribu kata. Banyak sih, tapi karena orangnya memang terampil ya ternyata bisa dilakukan. (Beberapa hari yang lalu novel itu sudah selesai, dan bisa dibaca di sini, sementara kisah-kisahnya yang lain bisa dibaca di sini dan di sini)

Kembali ke kutipan di awal, sebenarnya sering ada rasa sedih yang muncul pada malam-malam itu. Karena saya tahu di depan sana kelak semuanya bisa saja berubah. Saat ini pekerjaan cukup senggang karena sedang masa pandemi, entah nanti. Saat ini belum riweuh mengurus bayi, entah nanti. Saat ini Niskala rutin tidur cepat, entah nanti. Saat ini ide-ide masih lancar bermunculan, entah nanti. Saat ini semangat masih menggebu-gebu, entah nanti.

Suatu hari Rintik kibor di malam hari ini akan terhenti. Seumpama becek hujan yang terpapar mentari, serupa istana pasir yang sewaktu-waktu luruh tersapu ombak.

Namun mungkin karena fanalah momen-momen itu terasa amat berharga dan harus disyukuri dan dinikmati setiap detiknya.

Bandar Lampung, 7 September 2020

Sumber sampul: Photo by Immo Wegmann on Unsplash

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x