Tengah malam kini menjelang, kidung lirih kembali terulang. Lantunan manis perih mengudara, menyapa nestapa. Ada kabar tiba, serupa garam yang ditabur di kornea mata.

Kabar dari dia.

Dari dimensi jingga dimana kami seumpama bisa bersama, bercanda ria serta tertawa, menjalani hidup bersahaja.

Kabar itu berisi tumpukan kata, tersirat dalam suratan, bahwa dia sudah tak bisa.

Dimensi jingga itu sudah bukan milik kami berdua, tengah malam bukan lagi masa dimana kami bisa bebas bertukar cerita.

Kabar yang berarti dia sudah mencapai tepi. Bahwa dia sudah berhenti berlari, melemparkan sauh untuk kemudian pergi mejauh.

Aku membalas suratnya tanpa banyak lagi bertanya.

Tak mengapa, aku tak apa.

Kidung lirih ini terulang, untuk lalu hilang. Lantunan manis perih ini mengudara, untuk lalu tiada. Nestapa ini pun pada akhirnya akan berubah ceria.

Akhir kata, semoga kau bahagia.

Natuna, 14 Oktober 2014

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x