Suatu hari, tiba-tiba bayangan semua orang di dalam cermin menghilang, dan tak ada yang tahu mengapa.

Emir menyadarinya ketika dia sedang bersiap-siap pergi bekerja. Jantungnya serasa berhenti berdetak ketika dia hanya melihat bayangan sikat gigi melayang-layang di dalam cermin, sementara dirinya sama sekali tak terlihat. Emir mencoba mengibas-ibaskan tangan, tapi tak ada perubahan apapun.

Ingin sekali rasanya dia berteriak. Untungnya dia masih bisa menahan diri. Emir berlari ke kamar tidur, menghampiri sebuah cemin besar yang ada di pintu lemarinya. Dia berharap bayangannya ada di cermin itu. Tapi sama saja, bayangan dirinya sama sekali tak terlihat.

Emir menggigiti kuku jarinya sambil berjalan mondar mandir di dalam kamar tidur. Dia mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Sejauh ini kemungkinannya hanya ada dua. Pertama, dia sudah gila. Kedua, tadi malam dia digigit oleh vampir. Dari dongeng-dongeng yang dia tahu, hanya vampir yang tidak memiliki bayangan di dalam cermin. Dia meraba leher dan pundaknya, mencoba mencari-cari bekas luka ataupun gigitan vampir. Tapi tak ada apapun di kedua tempat itu.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari apartemen sampingnya. Emir berpakaian dan berlari keluar. Di sana dia melihat tetangganya sedang menjerit-jerit sambil menjambaki rambutnya sendiri.

“Ada apa, bu?” tanya Emir. Tetangganya itu adalah seorang wanita berusia empat puluhan, dan memiliki dua anak yang masih duduk di sekolah dasar.

“Bayanganku hilang! Tolong! Tolong! Aaaaaaaakk!” wanita itu berteriak dengan histeris.

Tak lama kemudian, hampir semua orang yang tinggal di apartemen itu keluar. Sebagian terlihat menangis meraung-raung, sebagian berteriak-teriak, dan sebagian lainnya terduduk lesu di halaman. Orang-orang itu tak bisa menemukan bayangan diri mereka di dalam cermin.

*

Emir menghela napas, dia merasa sangat bosan. Semenjak bayangan semua orang menghilang, toko pakaian yang dijaganya sepi dari pengunjung. Bosnya bahkan sudah berhari-hari tidak datang mengecek keadaan toko. Dia hanya sesekali menanyakan kabar toko lewat pesan singkat.

Beberapa hari pertama setelah menghilangnya bayangan-bayangan dalam cermin, keadaan sangat kacau. Semua orang panik karena tidak bisa berkaca. Ditambah lagi ternyata merekam gambar dan mengambil foto juga tidak bisa lagi dilakukan. Rekaman dan foto-foto yang tercetak masih bisa dilihat, tapi tak ada rekaman ataupun foto baru yang bisa diambil. Tayangan berita di televisi semenjak itu hanya berisi gambar studio tanpa ada orang. Video call dan video conference tidak lagi efektif. Bisnis influencer, mode dan fotografi terancam musnah.

Setiap siang Emir selalu menyalakan radio, mendengarkan berbagai macam teori dan penjelasan tenteng fenomena ini.

Beberapa ilmuan menjelaskan kalau menghilangnya bayangan terkait erat dengan yang disebut dengan teori dawai. Mereka berpendapat bahwa semua benda di alam semesta ini bergetar dalam frekuensi tertentu. Kita bisa melihat benda-benda yang memiliki jangkauan frekuensi sama dengan diri kita. Sementara itu, ada banyak benda-benda dan makhluk lain yang hidup di dunia yang sama dengan kita, tapi memiliki frekuensi getaran yang berbeda. Dan entah bagaimana caranya, frekuensi getaran manusia tiba-tiba berubah, sehingga getaran kita tidak dapat lagi ditangkap dan dipantulkan oleh cermin.

Ada lagi yang mengatakan bahwa ini semua disebabkan oleh kelompok illuminati dan freemason. Konon organisasi itu melakukan hipnotis massal melalui tiang-tiang pemancar sinyal telepon seluler. Emir sempat mendengar berita sekelompok orang membakar tiang-tiang pemancar sinyal di berbagai belahan dunia. Tapi selain sinyal telepon seluler yang jadi sulit didapatkan di tempat-tempat itu, bayangan manusia tetap tidak terlihat lagi.

Tapi yang paling populer tentu saja adalah teori kalau semua ini adalah hukuman dari Tuhan kepada manusia. Ulama dan pendeta sepakat bahwa manusia saat ini telah menjadi domba-domba tersesat di dunia narsisme dan hedonisme. Rupanya Tuhan menghukum manusia karena manusia saat ini sudah menuhankan sesosok makhluk di dalam cermin, yaitu diri mereka sendiri.

Emir tak tahu mana yang benar. Yang jelas, di tengah semua kekacauan itu, ternyata kehidupan harus terus berjalan. Orang-orang terpaksa harus menjalani kehidupan karena mereka butuh makan dan mengurus keluarganya. Termasuk Emir, yang tetap saja menjadi penjaga toko pakaian berdebu di dalam sebuah gang sempit.

Menjelang siang hari, seorang wanita muda masuk ke dalam toko. Emir menyambut wanita itu dengan anggukan dan senyuman seadanya. Wanita itu terlihat sedikit berantakan. Pakaiannya kusut di sana sini, rambutnya tak tersisir dengan rapi, wajahnya polos tanpa ­make up. Dari penampilannya, Emir menebak mungkin wanita itu seumuran dengan dirinya.

Wanita itu mendekati konter tempatnya duduk. Dari dekat Emir bisa melihat kedua mata wanita itu terlihat bengkak dan berwarna kemerahan.

“Apa kalian punya kacamata hitam?” tanyanya.

“Ada beberapa di sana,” Emir menunjuk ke bagian belakang toko. “Kamar gantinya ada di dekat sana juga,” lanjutnya.

Wanita itu bergegas berjalan ke rak yang ditunjuk Emir, memilah-milah kacamata.

“Kalau aku memakai kacamata ini dan berkaca, apakah kacamata ini akan terlihat atau ikut menghilang?” tanya wanita itu sambil membalikan badannya.

Emir keluar dari konter dan menghampirinya. Dia kemudian mengangkat bahu, “Bisa jadi keduanya, Kak. Ada yang bilang menghilang, ada juga yang bilang terlihat kacamatanya saja. Kaka mau kacamata yang mana?”

“Yang itu kayaknya bagus,” jawabnya sambil menunjuk sebuah kacamata hitam berornamen pink.

Emir mengambilkan kacamata itu, kemudian menyerahkannya kepada si wanita. “Kalau mau coba berkaca, bisa pakai cermin ini saja,” katanya sambil menyodorkan sebuah cermin kecil.

Wanita itu memakai kacamata yang diberikan oleh Emir. Dia terlihat ragu, tapi akhirnya dia mengintip ke dalam cermin. Emir ikut mengintip, kacamata hitam itu melayang-layang di dalam cermin.

“Eh, ternyata kacamatanya terlihat,” wanita itu cekikikan. Emir ikut tersenyum.

Tiba-tiba sebentuk tangan muncul di dalam cermin dan menarik bayangan kacamata hitam itu hingga ikut menghilang.

“Aaaaaaaaaaaaaaaa!!” wanita itu menjerit histeris. Dia tergesa-gesa mundur hingga menabrak dan menjatuhkan rak yang berisi syal. Di dalam cermin, sekilas Emir bisa melihat bayangannya dan bayangan wanita itu mengintip mereka. Kedua bayangan itu melotot sambil menyeringai, sebelum tiba-tiba bersembunyi kembali. Bulu kuduknya seketika meremang.

Wanita duduk sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Kedua bola matanya terlihat membesar dan bergerak kesana kemari. Emir duduk dan berusaha menenangkannya. Dia juga sebenarnya sangat terkejut, tapi dia tak bisa menunjukan hal itu sekarang.

“Bayangan-bayangan itu, mereka ternyata nggak hilang. Mereka ada, tapi nggak mau menampakan dirinya di depan kita. Kenapa? Kenapa?” cerocosnya berulang-ulang.

Setelah wanita itu sedikit tenang, Emir membantu memapahnya keluar dari toko.

“Bisa pulang sendiri, Kak? Atau mau kupanggilkan taksi?” tanya Emir.

Wanita itu tidak menjawab. Dia malah berbalik dan mencengkram kerah baju Emir dengan kuat.

“Mereka akan kembali, tunggu saja. Bayangan-bayangan itu akan kembali,” bisiknya.

Setelah itu dia melepaskan cengkeramannya dan pergi dengan langkah terseok-seok. Sesekali Emir mendengarnya tertawa cekikikan. Emir menatap wanita aneh itu hingga dia menghilang di tengah kerumunan orang.

Emir menelan ludah. Dia sebenarnya tak ingin kembali ke dalam toko setelah kejadian tadi. Tapi dia harus membereskan barang-barang yang dijatuhkan oleh wanita itu. Bulu kuduknya kembali meremang ketika dia masuk ke dalam toko. Emir membereskan barang-barang sambil menundukan kepala. Dia tak berani mengintip ke dalam cermin.

*

Semakin hari semakin banyak berita tentang orang-orang yang merasa melihat bayangan mereka di dalam cemin. Kejadiannya serupa, setiap kali ada yang memergoki bayangan mereka di dalam cermin, bayangan itu akan segera berlari pergi dan menghilang.

Berita-berita itu menimbulkan pertanyaan baru di dalam kepala Emir. Apakah ternyata selama ini bayangannya memiliki kesadaran? Jika benar, kenapa mereka memutuskan untuk pergi? Apakah sebenarnya di dalam cermin ada sebuah dunia lain, katakanlah dunia pararel yang berisi bayangan manusia? Semakin sering dia memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, kepalanya semakin terasa sakit.

Sore itu, setelah dia selesai menutup toko, dia melihat ada orang-orang yang bergerombol di depan sebuah toko kaca yang berjarak hanya beberapa meter dari tempatnya bekerja. Toko itu tak pernah lagi buka semenjak bayangan orang-orang menghilang. Maka dia merasa aneh sekali ada kerumunan orang di depan toko itu.

Emir berjalan mendekati kerumunan. Tempat itu berisik dan pengap. Emir berjinjit, tapi dia hanya bisa melihat kepala orang-orang.

“Ada apa?” tanya Emil sambil mencolek bahu seorang pria yang berdiri di depannya.

“Para bayangan sedang berkumpul di balik cermin-cermin di toko itu,”

Emir tidak mengerti maksud dari ucapan pria itu, jadi dia memutuskan untuk ikut berdesak-desakan dan mencari jalan agar bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah beberapa menit berjuang, dia sampai di baris terdepan. Di etalase toko itu ada banyak cermin, dengan berbagai ukuran. Jantungnya mulai berdetak dengan cepat. Pria tadi benar, di balik cermin itu tampak ada orang-orang yang sedang berdiri melingkar. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu.

Emir segera mengenali salah satu dari bayangan itu. Itu adalah bayangannya.

Dia bergeridik, terutama saat bayangannya menyadari kehadirannya. Bayangan itu menunjuk-nunjuk dirinya sambil berteriak tanpa suara. Segera setelahnya, kerumunan bayangan itu berhamburan pergi dari sana dan menghilang.

Terdengar riuh orang-orang membicarakan kejadian tadi. Emir menerobos keluar, dia merasa ketakutan dan ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju apartemennya.

Di tengah perjalanan, dia melihat ada sesosok wanita yang berdiri di dekat cermin cembung yang ada di pertigaan jalan. Emir mengenal wanita itu. dia adalah wanita yang sebelumnya mengunjungi tokonya untuk membeli kacamata hitam.

Wanita itu berdiri tengadah dan memandang ke dalam cermin cembung. Wanita itu tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepala sambil berteriak-teriak. Emir menghentikan langkahnya. Tak cukupkah apa yang dia lihat tadi? Jantungnya kembali berdetak dengan kencang. Kali ini diikuti dengan keringan dingin yang membasahi tengkuknya.

Emir berjalan pelan-pelan, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan wanita itu. Ketika dia melewati wanita itu, dia sekilas mengintip ke dalam cermin cembung. Alangkah terkejutnya dia, karena bayangan wanita itu ada di dalam cermin, dan terlihat sedang tertawa terbahak-bahak. Wanita itu tiba-tiba mengambil sebongkah batu yang cukup besar dari tanah.

“Bajingan! Kubunuh kau!” teriaknya sambil melemparkan batu itu ke cermin.

“KRAAAAAAAK!!” batu itu tepat menghantam bagian tengah cermin. Kemudian disusul dengan suara pecahan kaca.

Tapi cermin cembung itu baik-baik saja. Yang barusan retak dan pecah berkeping-keping adalah tubuh dari wanita itu.

Emir terpaku, tubuhnya sama sekali tak bisa digerakan. Tubuh wanita itu hancur berkeping-keping seperti kaca, sementara itu bayangannya di dalam cermin terlihat baik-baik saja. Bayangan wanita itu menatapnya. Emir berusaha memalingkan wajah, tapi dia tidak bisa. Bayangan wanita itu menggapai cermin. Perlahan, bagai seseorang yang berusaha merangkak keluar dari dalam gua, bayangan itu keluar dari dalam cermin. Mulai dari tangan, kepala, tubuh, dan terakhir kakinya.

Karena itu adalah kaca cembung, bayangan yang keluar tidak proporsional. Kepalanya jauh lebih besar daripada badannya. Saat bayangan itu berdiri, kepalanya terkulai ke kanan dan kiri karena terlalu besar. Bayangan itu menatap Emir dengan sepasang mata besar dan kosong. Tiba-tiba bayangan itu berjalan mendekatinya sambil melambaikan tangan.

Emir menarik napas panjang, kemudian berlari kabur sekuat tenaga.

Sepanjang perjalanan pulang dia tak henti-hentinya mendengarkan bunyi pecahan kaca. Banyak sekali sampai terdengar seperti suara hujan. Emir melihat bayangan-bayangan itu merangkak keluar dari dalam setiap kaca dan jendela yang ada di sepanjang jalan. Beberapa terlihat sempurna, beberapa lainnya tidak. Ada yang sangat tinggi dengan badan seperti lidi, ada juga yang bulat dan pendek.

Emir membanting pintu apartemennya hingga menutup, kemudian menguncinya dengan cepat. Nafasnya memburu, keringatnya mengucur dengan deras. Emir menyeka keringatnya, lalu merebahkan dirinya di sofa.

Namun tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar tidurnya.

Brak Brak Brak..

Emir menelan ludah. Dia lupa bahwa di apartemennya juga ada cermin. Dia memberanikan diri membuka pintu kamar tidur.

Di sana, di dalam cermin kamar tidurnya, bayangannya sedang menggedor-gedor cermin, berusaha untuk keluar.

Brak Brak Brak..

***

Bandar Lampung, 22 Mei 2020

Kisah ini sangat terpengaruh dengan gaya penceritaan dan penggambaran di dalam karya-karya Junji Ito. Kisah sejenis lainnya yang berjudul Perut yang Berbisik dan Rumah Pesirkus

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x