Goni berjalan tergesa-gesa. Badannya sedikit tegang, butiran peluh dari wajah dan lehernya merembes ke dalam kerah kemeja cokelatnya yang masih terlihat baru. Dia baru saja turun dari mobilnya yang tiba-tiba mogok dan harus diderek ke bengkel.

Goni tidak sempat ikut ke bengkel, dia punya urusan yang lebih penting untuk ditangani.

Sepanjang trotoar yang dipadati oleh orang-orang yang berlalu lalang, kedua bola matanya terus berputar, memperhatikan pemandangan di sekelilingnya.

Baru beberapa menit berjalan, dia berpapasan dengan seorang pemulung yang sedang asyik mengorek tempat sampah. Goni menutup hidungnya dengan sebelah tangan, mencoba untuk menahan aroma tak sedap yang muncul dari arah pemulung tersebut.

Dia mencoba berpaling, tapi tanpa sengaja tatapan kedua mata mereka malah bertemu. Hal itu membuat tubuh Goni jadi bertambah kaku. Peluh di lehernya bertambah deras, ekspresi wajahnya mengeras.

“Suatu hari bisa saja orang itu adalah kau..” gumamnya kepada diri sendiri.

Cepat-cepat dia merogoh ke dalam saku celana, mengambil ponsel, seraya memeriksa sesuatu sesuatu di dalamnya. Segera setelah itu, ekspresi tegang di wajahnya sedikit memudar.

Goni kembali berjalan, namun langkahnya terhenti saat sebuah angkutan kota berhenti tepat di sampingnya. Sang sopir memanggilnya, mengajaknya untuk naik.

Dia menengok ke dalam. Di dalamnya dia bisa melihat seorang pengamen yang sedang sibuk menyanyi dengan suara tinggi melengking. Melihat hal itu, tubuhnya kembali menjadi kaku, peluhnya kembali bertambah deras, ekspresi wajahnya kembali mengeras.

“Suatu hari bisa saja orang itu adalah kau..” gumamnya lagi.

Goni segera mengambil dan mengecek sesuatu di ponselnya.

Kejadian itu terus berulang. Sepanjang perjalanan pulang, dia bertemu dengan pengemis, tukang sapu jalan, penjual makanan keliling, buruh pembersih got, dan banyak lagi. Sebanyak itu pula dia harus terus mengecek ponselnya untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Akhirnya Goni tiba di halaman rumahnya. Rumah itu besar, berlantai tiga, berjendela banyak, serta memiliki pagar yang tinggi menjulang.

Dengan tak sabar dia menyelesaikan prosedur untuk membuka kunci pintu depan rumahnya. Pertama adalah pemindaian retina mata, sekaligus pemindaian sidik jari. Dilanjutkan dengan memasukan kartu dan kode kombinasi 9 digit yang setiap tiga hari sekali dia ubah.

Goni melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Di hadapannya terbentang sebuah lorong panjang. Lorong itu dipenuhi dengan berbagai macam barang mewah.

Sambil terus berjalan dia melihat ke kanan dan kiri, menghitung semua pajangan, lukisan, patung beserta seluruh hiasan yang tertempel di dinding.

Setelah memastikan tak ada satupun dari benda-benda di lorong tersebut yang hilang, dia naik ke lantai dua, untuk mengulangi prosedur yang sama.

Goni masuk ke dalam kamar tidurnya. Di bagian tengah kamar terdapat sebuah komputer dengan lima buah layar besar. tiga berderet di bawah, sementara dua lainnya berada di atas. Masing-masing dari layar tersebut menampiulkan hal yang kurang lebih sama. Angka, kurva, serta grafik.

Dia menarik nafas panjang, duduk, seraya menatap layar itu satu persatu. Tinggal beberapa menit sampai pasar saham ditutup. Ada isu-isu terbaru yang harus dia selidiki, serta transaksi-transaksi yang harus dia selesaikan. Tidak semuanya bisa dia selesaikan dengan menggunakan ponsel maupun laptopnya. Semuanya harus dia selesaikan dari sini, dari sistem terpusat yang dia bangun sejak lima tahun yang lalu.

Dia memperhatikan angka-angka dalam portofolio saham miliknya. Hampir semua harta kekayaannya berada di sana. Selama memeriksa, jantungnya berdetak dengan kencang. Detak itu baru bisa kembali normal ketika dia sudah memastikan semua harta dan broker-brokernya bekerja dengan optimal.

Tak berapa lama setelahnya, Goni beranjak ke tempat tidur. Dia menghela napas sedikit demi sedikit, memejamkan mata.

Goni sakit.

Dia tahu dia sakit.

Dulu sekali, saat dia masih jadi pemilik kompleks pertokoan, terjadi kebakaran besar. Jantungnya hampir berhenti berdetak saat mengetahui berapa banyak dia kehilangan harta kekayaannya.

Semenjak saat itu, kehidupannya selalu dibayang-bayangi ketakutan. Tiap hari, tiap menit dan detik, kepalanya selalu dipenuhi imajinasi. Bagaimana kalau kebakaran itu terjadi lagi? Bagaimana kalau suatu hari semua hartanya dicuri? Bagaiman jika aset asetnya disita oleh bank? Bagaimana jika suatu hari semuanya hilang begitu saja?

Semua bayangan itu membuatnya paranoid.

Maka dia memutuskan untuk terus mencari, menambah harta kekayaannya.

Tapi semuanya itu sia-sia. Semakin banyak dia harta yang dia miliki, semakin gelap semakin ngeri imajinasi itu menghantui. Semakin banyak harta yang harus dia jaga, semakin besar kemungkinan dia bisa kehilangan mereka.

Lamunannya terusik oleh suara berisik yang muncul dari dalam komputernya.

Goni segera bangkit, memeriksa apa yang sedang terjadi.

Dia mengerutkan kening. Kedua bola matanya lekat menatap layar monitor, memperhatikan angka dan grafik yang mulai bergerak tak terkontrol.

Deg!

Goni merasakan hentakan keras di jantungnya. Tapi dia mengacuhkannya.

Deg! Deg!

Hentakan itu terasa lagi. Kedua matanya kini membelalak, mulutnya menganga. Terdengar dering di ponsel dari meja seberang, tapi dia abaikan.

Deg! Deg! Deg!

Kini Goni mulai merasakan sakit di dadanya. Napasnya tersendat. Dia tiba-tiba terduduk di kursi, memegangi dadanya dengan kedua tangan. Telepon rumahnya kini ikut berbunyi, menambah kegaduhan.

Goni berusaha untuk bangkit dan meraih alat komunikasi terdekat yang bisa dia jangkau, tapi sayangnya tak ada satupun yang berada di dekatnya.

Dia berusaha berteriak meminta tolong, tapi hanya lengkingan parau yang keluar dari dalam mulutnya.

Ketika mencoba berdiri, Goni tersandung dan jatuh terkapar. Badannya mulai menggelepar.

Tak berapa lama, napasnya memudar.

Goni meninggal di lantai beralas kayu.

Ponselnya dan telepon rumahnya masih terus berdering, Layar komputernya masih terus berpendar dan bersuara.

Dari dalam layar itu masih terlihat angka dan grafik. Keduanya terus berubah, tiap detiknya angkanya bertambah, dan grafiknya beranjak naik.

Tanpa dia duga sebelumnya, portofolio sahamnya tiba-tiba meroket, membumbung tinggi, membuat nilai hartanya bertambah hingga tiga kali lipat.

***

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x