Kesempurnaan itu langka, tetapi bukannya tidak ada. Bagi sebagian orang kesempurnaan bisa mereka temukan dalam karya-karya seni buatan manusia, bagi sebagian lainnya kesempurnaan bisa mereka temukan dalam karya-karya agung ciptaan Tuhan. Ada berbagai macam cara untuk menemukan kesempurnaan, dan semuanya sah-sah saja.

Bagiku, kesempurnaan hanya bisa dilihat dengan jarak.

Dalam jarak yang tepat, sesuatu yang sesederhana lampu jalan bisa jadi adalah sesuatu yang sempurna. Satu langkah lebih jauh, kau mungkin tak akan bisa melihat dengan jelas pendar cahayanya menerpa jalanan. Sebaliknya, satu langkah lebih dekat, kau mungkin akan melihat tiang lampunya dipenuhi coretan-coretan serta poster-poster cabul yang tidak pantas dilihat oleh mata.

Pun dengan hal-hal lainnya, termasuk juga manusia. Walaupun sulit, terkadang kita akan menemukan satu atau dua manusia yang kita anggap sempurna dalam hidup kita. Dan ketika kita menemukannya, kupikir adalah hal yang bodoh jika kita menyia-nyiakannya.

Nah, saat ini aku sedang memandangi seseorang yang sempurna.

Seorang perempuan.

Dia duduk di sebuah bangku taman kira-kira lima belas meter dari tempatku saat ini duduk. Perhatiannya tertuju pada layar ponselnya, matanya bergerak-gerak, seiring dengan jemarinya yang menari menekan-nekan layar ponsel.

Ada semacam pertanda saat kita menemukan sesuatu yang sempurna. Selentingan firasat, sekelebat perasaan, atau dalam kasusku ini, perasaan haru bercampur gembira.

Perempuan itu tingginya sedang, berkulit kuning langsat, usianya mungkin pertengahan dua puluh tahun. Proporsi tubuhnya sempurna, dengan payudara yang tidak terlalu besar dan pantat yang tidak terlalu menonjol, tidak seperti kebanyakan perempuan seusianya yang lain.

Rambutnya berwarna cokelat. Terkadang terlihat bergoyang perlahan tertiup angin sepoi-sepoi. Bentuknya bergelombang, tak teratur namun indah. Bak ombak menggulung di bibir pantai, yang membuat setiap peselancar meneteskan liur dan berharap untuk segera melompat ke atas papan luncur untuk mencicipi gulungan-gulungan itu, seraya menyentuh permukaannya yang halus dengan sebelah telapak tangan mereka. Bayangkan betapa halusnya rambut itu, bagaimana rasanya menyentuhnya, merasakan kelembutannya di sela jemari kita saat mengelus kepalanya.

Kedua matanya tak terlalu besar, simetris dengan ukuran yang tepat. Bola matanya jernih dan berwarna biru. Tatapan matanya polos, cenderung menggemaskan jika kita terus menerus melihatnya. Seperti tatapan mata seekor anak kucing yang sedang bermanja-manja di telapak kaki kita. Aku yakin kita bisa menatap matanya berjam-jam, tanpa akan pernah merasa bosan.

Pipinya merona. Serupa buah peach. Ronanya seperti buah yang sudah ranum jika boleh kubilang. Memang tidak sampai ingin kita gigit, tapi mencubit pipi seperti itu pasti menyenangkan, bukan?

Hidungnya lentik. Lentik? Bukankah itu istilah untuk bulu mata? Ya, tapi bagaimana lagi, memang seperti itulah yang kulihat. Lengkuk hidungnya benar-benar sebuah karya seni. Tuhan tahu apa yang sedang dia kerjakan saat sedang membuat dirinya. Dia bahkan meninggalkan tanda keberadaan-Nya pada hidung gadis itu. Kau deret Fibonacchi? Lengkung hidungnya serupa proporsi agung tersebut, indah dan mengagumkan.

Turun sedikit ke bawah, terdapat sebuah bibir tipis dengan senyuman yang lebih misterius dari senyuman monalisa karya Da Vinci. Dia jarang tersenyum, dan di situlah menariknya. Menurutku tidak pantas bagi seorang perempuan untuk mengumbar senyumnya kepada sembarang orang. Apalagi seorang perempuan sekelasnya.

Aku belum melihat deret giginya, tapi dengan melihat struktur bibir dan tulang pipinya, aku bisa tahu bahwa dia memiliki deretan gigi yang tertata rapi.

Di telinganya yang mungil terdapat anting-anting kecil yang.. –Ups, dia berdiri, aku harus segera menyusulnya. Aku tak mau kehilangan dia.

Aku sedikit takut kesempurnaannya hilang pada saat dia berjalan, aku sempat menahan napas selama beberapa detik, sampai akhirnya aku bisa bernapas lega. Cara berjalannya sungguh sangat anggun, dengan langkah-langkah kecil dia menyusuri jalanan kerikil yang mengarah ke bagian terdalam dari taman ini.

Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, aku tak ingin kesempurnaan ini hilang dengan sia-sia. Jadi kupercepat langkah kakiku, mendekatinya. Jantungku semakin berdegup kencang selaras langkah kakiku yang mengencang. Oh Tuhan! Bisa kurasakan tanganku mulai gemetar karena gugup. Tapi aku tak boleh membatalkan niatku. Kesempatan seperti ini sangat jarang kudapatkan.

Aku menepuk pundaknya, dengan tangan masih gemetar dan telinga yang mulai terasa panas.

Dia menoleh, matanya yang indah bertemu dengan kedua mataku. Dia membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu.

Aku panik. Dengan sigap langsung kubekap mulutnya dengan sebelah tangan. Matanya membelalak, dia meronta, tapi aku bergerak lebih cepat, sebelah tanganku yang satunya langsung melingkari badannya, menahan kedua tangannya agar tetap di samping.

“Ssst.. jangan bicara, kau mungkin akan menodai kesempurnaanmu dengan berbicara.” Bisikku pelan ke telinganya.

Aku benar-benar takut ketika dia hendak berbicara. Ayolah, siapa yang tahu bagaimana suaranya? Bisa saja suaranya terlalu tinggi seperti kicauan burung gagak atau bahkan terlalu rendah seperti suara gajah, kan? Aku tak mau mengambil resiko.

Kuakui, saat bertemu dengannya aku langsung jatuh hati. Aku mencintainya, sungguh, mencintai kesempurnaannya. Dan sebagaimana semua orang akan berusaha untuk melindungi hal-hal yang mereka cintai, akupun begitu. Aku ingin melindungi cintaku, melindungi kesempurnaannya.

Kau tahu sendiri kan? Semakin kita mengenal seseorang, semakin kita akan tahu watak jeleknya, sifat-sifat buruknya, kebiasaan joroknya, masa lalu kelamnya, serta impian-impian konyolnya. Perlahan-lahan kesempurnaan itu akan menjauh, untuk kemudian menguap dan menghilang.

Maka kalian harus mengerti. Ketika beberapa saat lagi aku menggorok lehernya dengan pisau yang kusimpan di sakuku, semuanya demi adalah demi melindungi kesempurnaannya. Melindungi hal yang kusayangi sepenuh hati. Aku ingin membuatnya kekal, membuatnya lebih dari sekedar manusia fana. Aku ingin meningkatkan derajatnya, membuatnya menjadi makhluk bernama kenangan.

Dan sesungguhnya kenangan dan cintaku akan terus sempurna, dan tersimpan abadi di dalam ingatanku.

Sama seperti perempuan-perempuan lainnya yang kucintai dan telah kupertahankan kesempurnaannya.

***

Tanjungpinang, 17 Februari 2015

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
4 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
ana

ini cara melindungi kesempurnaan yg sadis. Bener-bener gk tau gimana jalan pikiran tuh orang

orang awam

Ja, jangan bilang ini.. evolusi trburuk dari virus jomblo

orang awam

Ja, jangan bilang ini.. evolusi terburuk dari virus jomblo

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
4
0
Beri Komentarx
()
x