“Tempat pernikahannya sangat cantik. Luar biasa,” ujar seorang perempuan paruh baya kepadaku. Aku lantas tersenyum sambil menerima surat undangan yang dia berikan. kuberikan sebuah kotak suvenir kepadanya, dia menerimanya dengan senang.

“Apa isinya?”

“Rahasia,” aku tersenyum. “Terima kasih sudah menyempatkan hadir, Bu Jodi,” kataku lagi.

Oh, dear! Nggak mungkin saya melewatkan pernikahan ini, kan? Kalian berempat kan sudah saya anggap sebagai anak sendiri,” dia terkekeh.

“Di mana Anna dan Ben sekarang?”

“Mereka masih berkutat dengan make up. Ibu datangnya terlalu pagi sih,” aku tertawa kecil.

“Saya ingin melihat prosesinya dari bangku paling depan, Din. Astaga, saya masih sedikit tak percaya karena Ben yang ternyata melamar Anna. A little bit unpredictable. Padahal selama ini bukannya mereka berdua yang paling tidak akur di antara kalian, ya?”

“Iya, Bu. Saya dan Chevi juga kaget saat pertama kali mendengarnya. Terutama Chevi.”

“Oh ya? Di mana dia sekarang?”

“Chevi?”

Ibu Jodi menjawabnya dengan anggukan singkat.

“Di meja makanan. Dia yang jadi koki untuk pernikahan ini.”

“Oh waw. Chevi The Chef turun tangan langsung? Ibu harus lihat apa yang dia siapkan untuk jamuan makan nanti. Ibu ke sana dulu ya? Oh, and yes, you look georgeus in that dress.”

Akut tersenyum lebar mendengar pujian Bu Jodi, ternyata memakai gaun ini adalah pilihan tepat.

Bu Jodi dengan cepat berjalan ke arah meja panjang di bagian samping taman. Aku memperhatikannya sampai dia bertemu dengan Chevi. Bu Jodi sudah ada dalah hidup kami berempat semenjak kami masih kecil. Dulu dia adalah guru di sekolah dasar tempat kami berempat sekolah. Dia sudah seperti orangtua kedua kami. Kami bahkan masih sering menghubunginya jika kebetulan sedang pulang ke kota ini.

Tempat pernikahan yang cantik.

Pandanganku mengedar ke seluruh bagian padang rumput luas ini. Tak sia-sia Anna bersikeras ingin upacara pernikahannya dilangsungkan di luar ruangan.

Padang rumput, pepohonan besar, aliran sungai.

Itu adalah tiga syarat tempat pernikahan yang diinginkan oleh Anna. Aku dan Ben setengah mati mencari tempat yang cocok dengan semua kriteria yang diinginkan oleh Anna. Di zaman modern seperti ini sangat susah mencari tempat seperti yang diingkinkan oleh Anna, apalagi yang dekat dengan akses jalanan kota.

Butuh dua bulan, beberapa buah ban mobil cadangan, serta beberapa kartu nama orang penting untuk menemukan tempat ini. Uang yang dikeluarkan oleh Benpun tidaklah sedikit. Dia harus menyewa tempat ini di bawah tangan dari dinas lingkungan kota, karena tempat ini sepertinya sudah termasuk ke dalam wilayah konservasi yang sebenarnya tak boleh dimasuki oleh manusia.

Tapi kupikir semuanya memang sepadan. Tempat ini sangat indah dan punya kondisi lingkungan yang sempurna.

Tempatnya teduh karena terlindungi oleh ranting dan dedaunan dari  pepohonan yang menjulang tinggi besar. Tapi di saat yang sama pilar-pilar cahaya yang masuk lewat ranting pohon membuat tempat ini tak memerlukan alat bantu penerangan. Teduh namun terang benderang.

Semilir angin yang merembes melewati celah-celah bukit di bagian utara membuat tempat ini sama sekali tak memerlukan pengatur suhu ruangan. Kombinasinya sudah pas, hangat mentari musim semi dipadukan dengan angin segar sisa-sisa musim dingin. Sempurna.

*

“Emily,” aku memanggil seorang gadis remaja yang sedang berjalan sambil menunduk menatap layar ponsel.

“Kenapa, kak?” dia mendongkakan kepala dan melihat ke arahku. Emily kemudian berlari mendekat.

“Jaga sebentar ya, saya mau lihat-lihat ke dalam dulu.”

“Oke,” Emily mengangguk.

Aku melewati gerbang melengkung yang membatasi area yang digunakan sebagai tempat pernikahan. Di bagian atasnya ada lilitan bunga mawar yang merekah dengan sempurna.

Sekarang sudah saatnya melalukan pengecekan terakhir sebelum acaranya dimulai. Aku mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari dalam tas. Kubuka halaman yang sudah kutandai sebelumnya, memeriksa daftar kelengkapan yang sudah kubuat.

Aku mulai menghitung lagi jumlah meja dan kursi yang ada di sana, memastikan ada cukup tempat duduk untuk lima puluh tamu undangan mereka. Setelah itu aku memeriksa dekorasi di tiap meja, memastikan simetri dari buket-buket bunga serta lipatan-lipatan kain dekorasi.

50 tamu undangan.

Konyol sekali. Yang ini adalah ulah Ben. Dia ingin pernikahannya hanya dihadiri oleh sahabat dan keluarga terdekat saja. Untuk ukuran seorang aktor film terkenal dia termasuk sangat pemalu. Dia mewanti-wanti semua orang agar tak membocorkan masalah pesta ini kepada wartawan dan media. Dia tak ingin pernikahannya dimasukan sebagai headline berita koran pagi besok.

Ben bersikeras bahwa pernikahannya haruslah sakral dan intim, sederhana namun romantis, jadi dia tidak mau ada lebih dari lima puluh orang yang datang. Dan kelimapuluh orang itu sudah termasuk semua panitia pesta pernikahannya.

Itulah sebabnya aku sedikit kerepotan. Untuk memaksimalkan jumlah tamu undangan. Aku hanya membawa dua orang asisten dari agensiku untuk mengurus semua hal di pernikahan ini. Menantang sekaligus sangat merepotkan. Seminggu ini aku dan kedua asistenku bahkan nyaris tidak tidur sama sekali. Begitu banyak hal yang harus disiapkan, dan begitu sedikit otak serta tubuh untuk mengerjakan semuanya.

Setelah memastikan semuanya sudah siap, Aku memutuskan untuk mencari sedikit ruang untuk menghirup udara. Aku berjalan ke dekat sebuah sungai kecil yang membelah tempat itu menjadi dua bagian.

Aku berjongkok seraya memandangi aliran sungai yang cukup jernih. Gemericik airnya benar-benar membuatku jadi lebih tenang. Sesekali dapat kulihat binatang-binatang kecil seperti kodok berlompatan di sekitar situ.

Tiba-tiba aku teringat kembali perkataan Ibu Jodi.

Bagaimana mungkin Ben bisa melamar Anna?

Aku sendiri seringkali menanyakan hal serupa. Bagaimana awal dari semua ini?

*

Kami berempat sudah bersahabat sejak kecil. Aku, Chevi, Anna dan Ben dibesarkan sebagai tetangga di sebuah apartemen kecil di daerah pinggiran kota.

Kami bertemu hampir lima belas jam setiap harinya. Pagi hari sebelum berangkat sekolah, di sekolah, di taman bermain saat istirahat dan setelah sekolah, sampai pada malam hari sebelum kami tidur.

Entah bagaimana awalnya kami berempat mulai jadi sahabat dekat. Ben pernah berkata itu karena kami sering bertengkar dan berkelahi satu sama lain. Berebut mainan, berebut buah-buahan yang jatuh dari atas pohon Si Tua Tom di halaman rumahnya di ujung jalan, berebut makanan ekstra yang diberikan gratis di sekolah setiap hari jumat sore, dan hal-hal lainnya.

Dan seperti yang dikatakan oleh Bu Jodi, yang paling sering bertengkar di antara kami adalah Ben dan Anna. Keduanya seperti kutub utara dan selatan, tidak sepaham untuk banyak hal. Sementara aku dan Chevi seperti garis lintang dan bujur yang menyeimbangkan bola dunia mereka.

Setelah keluar dari sekolah dasar kamipun masuk ke SMP dan SMA yang sama. Membuat kami berempat semakin dekat, kami masih sering bertengkar, tapi anehnya kami tak bisa melepaskan diri satu sama lain.

Saat itu kami berempat sudah seperti empat bersaudara. Yang jika diurutkan mungkin seperti ini; Anna sebagai anak tertua yang pikirannya paling dewasa dan paling sering sok mengatur. Chevi sebagai anak kedua yang paling penyayang dan memperhatikan kami semua. Ben sebagai anak ketiga yang pemalu dan paling rajin. Serta aku sebagai anak bungsu yang harus selalu diperhatikan dan dilindungi oleh ketiga anak lainnya karena terlalu naif.

Saat itu secara tak sadar terbentuklah sebuah aturan baku tak tertulis di antara kami yang tak boleh dilanggar.

Tidak boleh ada cerita cinta di antara kami berempat.

Kami berempat sama-sama telah sadar bahwa adanya cinta di dalam kelompok ini akan merusak semuanya, dan itu adalah hal terkahir yang kami inginkan.

Selepas SMA, hubungan kami sedikit merenggang karena kami mempunyai impian masing-masing, dan semuanya berbeda-beda. Anna mendapatkan beasiswa di bidang biologi di sebuah universitas di luar kota. Chevi melakukan perjalanan untuk menimba ilmu agar bisa menjadi seorang koki handal. Ben yang berwajah paling tampan ditawari oleh sebuah agensi untuk menjadi model. Hal itu sekaligus membuka pintu karirnya di bidang seni peran. Sementara aku sendiri mencoba untuk merintis usaha di kota asal kami, salah satunya adalah Event Organizer untuk acara-acara pernikahan seperti ini. Walau harus kuakui tak pernah kusangka akulah yang akan mengurus pernikahan Anna dengan Ben.

*

Aku menoleh ke sebelah kiri, para tamu sudah mulai berdatangan. Lapangan bola di ujung jalan setapak sana sudah mulai terisi oleh mobil. aku bisa melihatnya dengan cukup jelas dari sini.

Aku segera berdiri dan kembali ke area pernikahan. kulihat Chevi sedang membawa setumpuk piring dan peralatan makan. Dia sedang mempersiapkan jamuan untuk setiap meja. Dengan segera kuhampiri dia.

“Hai.”

“Hai,” jawabnya sambil tersenyum.

“Butuh bantuan?”

Chevi mengangguk. Aku mengambil tumpukan sendok dan garpu dari tangannya, kemudian ikut menyusun setiap meja bersama dengannya.

Sesekali aku mencuri pandang ke arah Chevi. Terpatri raut sedih di kedua matanya. Aku menghela napas, cepat atau lambat aku memang harus mengatakan ini kepadanya.

“Chev,”

“Ya?”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Maksudnya?”

You don’t have to do this,” bisikku pelan sambil mendekatkan diriku ke arahnya.

“Maksud kamu apa, Din?” dia menatapku selama beberapa saat.

“Kamu sebenarnya nggak perlu ikut jadi panitia pernikahan ini kan. Heck, aku bahkan ngerasa lebih baik kamu nggak datang sekalian.”

Chevi meletakan tumpukan piring di atas meja. Aku mendapat perhatian penuhnya sekarang. Kedua mata cokelatnya mulai menatapku lekat.

“Dini. Hari ini pernikahan kedua sahabat terbaik saya, dan kamu bilang saya seharusnya nggak datang? Absurd.”

“Absurd?” Aku balik bertanya dengan nada sedikit tinggi. “Chev, jangan munafik. Kita berdua tahu kenapa sebabnya kamu sebaiknya nggak datang hari ini.”

“Dini, begini ya. Hari ini sama sekali bukan tentang saya, ataupun kamu, ataupun tentang semua tamu undangan yang hadir, sepenting apapun mereka. Hari ini adalah tentang Anna dan Ben, kedua sahabat kita, keluarga kita. Mereka akan memulai sesuatu yang baru dalam hidup mereka.”

Dia kemudian mendekat dan memegang kedua bahuku.

“Apapun perasaan saya pada Anna, itu urusan saya sendiri. Dan semua itu udah lewat, oke?”

“Aku cuman nggak mau lihat kamu tambah terluka Chev. That’s all.

Dapat kurasakan air mataku tiba-tiba memaksa naik. Aku seakan bisa merasakan bagaimana perasaan Chevi saat ini. Hatinya sekarang pasti sedang pecah berkeping-keping, remuk jadi butiran kristal, yang nantinya mungkin akan keluar dari kedua ujung matanya.

I’m fine. Percaya deh,” dia tersenyum.

Aku ikut terseyum dengan sedikit terpaksa. Seharusnya ini semua tak pernah terjadi. Kita berempat sudah sekuat tenaga mencegahnya, tapi tetap saja rasa cinta di antara kami tak terelakan.

*

Adalah Chevi yang pertama kali mengakuinya.

Kami mulai kembali dekat beberapa tahun setelah kami bekerja. Secara kebetulan kami berempat sama-sama kembali pulang ke kota ini.

Semenjak kembali ke kota kami dengan gelar Chef dan membuka restorannya sendiri, Chevi mulai merasakan ada perasaan lain tumbuh di dalam dirinya.

Ketika kami berempat sedang berkumpul di bar ataupun restoran, dia jadi lebih banyak diam ketika Anna sedang berada di dekatnya. Sering kudapati Chevi mencuri-curi pandang pada Anna.

Awalnya aku tak menaruh curiga, tapi lama kelamaan aku merasa penasaran. Aku memberanikan diri bertanya langsung tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Chevi awalnya tidak mau mengakui, tapi setelah kubujuk sekian lama, dia akhirnya mengakui bahwa menyukai Anna. Dan dia tak tahu apa yang harus dia lakukan dengan perasaannya itu.

Tak lama dari saat pengakuan itu. Chevi menelponku dan memberitahukan bahwa dia hendak mengutarakan apa yang dia rasakan kepada Anna.

Aku sudah mati-matian mencegahnya, tapi dia tak mau mendengar.

Akhirnya yang tak terelakan terjadi. Chevi mengajak Anna makan malam romantis berdua, dan di sana dia memberitahu Anna bahwa dia mencintainya.

Anna terkejut, tapi di saat yang sama dia menangis. Anna berkata bahwa dia juga menyukai Chevi, tapi sayangnya mereka tak bisa bersama. Alasannya sama dengan yang kucoba jelaskan pada Chevi, dia tak mau merusak persahabatan dengan rasa cinta. Dia ingin agar Chevi melupakan perasaannya itu, dan kami berempat bisa terus bersama.

Chevi tak begitu saja menyerah, selama bertahun-tahun dia terus-menerus berusaha untuk mendapatkan perhatian lebih dari Anna. Silahkan buat daftar tentang hal-hal romantis yang kalian tahu. Aku yakin Chevi telah melakukan semuanya demi untuk mendapatkan Anna. Tapi dia bergeming, Anna tak juga memberikan kepastian.

Akhirnya Chevi menyerah, dia tak lagi mencoba mendekati Anna. Walaupun aku tahu dia masih terus menyimpan perasaannya dalam-dalam.

Butuh waktu cukup lama sampai dia bisa membuka diri lagi. Tapi ketika Chevi mulai bisa bersikap biasa lagi pada Anna, datanglah sebuah berita yang sangat mengejutkan.

Anna tiba-tiba bertunangan dengan Ben. Semua omong kosong tentang tak ingin menghancurkan persahabatan itu rupanya hanya bualan. Dia sudah lama memendam perasaan kepada Ben, tapi tak berani mengatakannya. Ketika dia tahu Ben juga ternyata punya rasa yang sama kepadanya, tanpa membuang-buang waktu lagi mereka memutuskan untuk menikah.

Aku dan Chevi tentu saja memberikan selamat kepada mereka. Tapi setelah mendengar kabar itu, malam harinya Chevi datang ke  apartemenku.

Dia masuk, lalu duduk di sofa depan. Dia sama sekali tak berbuat ataupun berkata apa-apa. Hanya duduk dan memandang ke arah televisi yang bahkan tak kunyalakan.

Aku menghampiri dan mencoba untuk menghiburnya, tapi dia tak merespon semua yang kukatakan. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain mendekapnya dalam pelukanku semalaman.

Setelah diam selama berjam-jam, Chevi akhirnya berbicara kepadaku.

“Sekarang saya tahu kenapa mereka menyebutnya falling in love.”

“Kenapa?”

“Karena jatuh itu menyakitkan dan membuat kita terluka.”

Setelah itu kukira Chevi akan pergi selamanya dari kehidupan kami, kehidupan Anna dan Ben. Tapi tidak, setelah sempat menghilang selama beberapa waktu, dia kembali dan bersikap seakan-akan tak ada yang pernah terjadi. Dia kembali memberikan selamat kepada mereka berdua, dan dengan senang hati dia menawarkan diri untuk menjadi koki di pesta pernikahan mereka. Sinting.

*

I now pronounce you, husband and wife. You may kiss the bride.”

Penghulu baru saja mengesahkan Anna dan Ben sebagai suami istri. Terdengar suara sorak-sorai dan tepuk tangan dari kelimapuluh tamu undangan saat Ben menghampiri Anna dan menciumnya.

Aku ikut bertepuk tangan dan tertawa melihat hal itu, kulirik Chevi yang berdiri tak jauh dariku, dia terlihat ikut bertepuk tangan, senyum tersungging dari bibirnya. Tapi kedua matanya tak bisa berbohong, kulihat ada sesuatu yang hancur di dalam dirinya.

Harus bagaimanakah aku bersikap? Di satu sisi aku sangat bahagia karena kedua sahabatku menikah dan sedang membangun masa depan mereka bersama-sama. Anna dan Ben terlihat sangat bahagia. Dan walau bagaimanapun harus kuakui bahwa Ben adalah yang terbaik untuk Anna.

Di sisi lain aku sangat sedih karena Chevi harus mengalami ini semua. Patah hati dan dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Seharusnya Anna menutup pintu itu rapat-rapat, seharusnya dari awal dia bilang bahwa dia hanya melihat Chevi sebagai teman, tidak lebih. Bukannya memberikan alasan sekaligus harapan semu. Mungkin itu akan lebih baik bagi Chevi. Dan Ben, bagaimana mungkin dia tega melakukan ini padahal dia sangat tahu bahwa Chevi benar-benar mencintai Anna?

*

Aku membawa keluar kue pernikahan Anna dan Ben. Kue raksasa itu luar biasa indah, empat tingkat dengan detail yang cantik di tiap tingkatnya, mewakili rupa-rupa biota dunia. Chevi sendiri yang mendesainnya.

Bagian paling bawah dari kue itu bertemakan laut. Dengan aksen warna biru muda serta ornamen ornamen binatang laut seperti lumba-lumba dan ikan paus. Aku memperhatikan dengan saksama, sepertinya binatang-binatang itu terbuat dari cokelat dan bisa dimakan.

Tingkat selanjutnya adalah daratan. Dengan aksen warna cokelat dan hitam. Ada ornamen pepohonan dan binatang-binatang seperti monyet dan harimau di sana. Ada juga beberapa tupai kecil. Tingkat ketiga adalah langit. Dengan aksen warna putih. Tingkat ketiga ini penuh dengan awan dan beberapa burung plastik yang digantung dengan seutas benang. Sementara di bagian paling atas adalah angkasa. Ada miniatur Anna dan Ben yang sedang berdiri bersebelahan bersama dengan bintang-bintang. Benar-benar indah.

Setelah kuletakan kue itu di depan, Chevi datang menyusul dengan membawa tiga botol besar wine. Dia dibantu oleh dua orang assistennya membuka botol-botol wine itu lalu menuangkannya ke dalam gelas seluruh tamu undangan, termasuk kedua mempelai dan keluarganya.

Beberapa saat kemudian Ben berdiri, kemudian mengambil mikrofon di hadapannya. Terdengar dengung bising feedback dari mikrofon yang membuat semua orang mengernyit dan menutup telinga.

Sorry about that. Selamat siang semuanya,” dia mulai bicara.

“Oke, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua sahabat dan keluarga yang sudah hadir hari ini. Kalian berlima puluh adalah yang keluarga dan sahabat terdekat serta terbaik yang kami miliki.”

Dia menarik napas.

“Err.. Sebelum kita mulai acara memotong kue, saya ingin bersulang dulu. Pertama, untuk Anna. Sahabat dan teman bertengkar saya selama lima belas tahun ke belakang, serta cinta terakhir selama sisa hidup saya. Kedua, untuk Chevi dan Dini. Sahabat sekaligus dua harta saya yang paling berharga selain Anna. You guys are the best.”

Dia menunjuk kami sambil mengangkat gelas

“Dan yang ketiga untuk kita semua yang ada di tempat ini. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kehidupan kita. Cheers!

Ben kembali mengangkat gelas, diikuti oleh semua undangan, termasuk aku dan Chevi. Setelah itu mereka semua serempak meminum wine dari gelas mereka.

Kulihat Chevi menurunkan gelasnya, dia tidak ikut minum. Aku memandangnya, dan kuputuskan untuk tidak ikut bersulang juga, menemani Chevi. Aku hanya berpura-pura meminum anggur dari dalam gelasku.

Chevi tiba-tiba tersenyum. Dia menatap kedua mempelai yang sekarang sedang bersama-sama memotong kue. Chevi melihat jam di tangan kanannya, kian lama senyumnya tampak semakin lebar.

Lalu terjadilah hal yang sama sekali tak kuduga.

Ben tiba-tiba tersentak, dia mengerjap-ngerjap sambil memegangi dadanya dengan kedua tangan. Dia terbatuk, mulutnya tiba-tiba memuntahkan darah segar, tepat ke arah kue pernikahannya. Anna dengan histeris mencoba untuk menolongnya. Tapi dia kemudian mengerang sambil memegangi dadanya.

Setelah itu semuanya menjadi kacau. Jeritan dan teriakan terdengar di mana-mana. Semuanya berlarian kesana kemari. Satu-persatu tamu undangan memuntahkan darah dan roboh ke tanah. Anna, Ben, Bu Jodi, bahkan Emily, yang sepertinya baru kali ini mencicipi wine. Mereka semua mati.

Aku terlalu shock untuk dapat berkata apa-apa. Hampir semua orang yang ada di sana tergeletak bersimbah darah. Hanya tersisa aku dan Chevi, serta beberapa orang yang tidak ikut minum wine. Mereka sedang berusaha untuk memberikan pertolongan pertama. Beberapa lainnya berlarian keluar dari area pernikahan, melarikan diri.

Sementara Chevi hanya berdiri diam memandangi semua itu.

Dia tiba-tiba berjalan mendekati mayat Anna. Chevi berjongkok, memegangi wajah Anna, lalu menghapus darah dari wajahnya. Dia tersenyum sambil menutup kedua mata Anna yang membelalak, setelah itu dia mengelus-elus rambut Anna selama beberapa detik.

Chevi mencium pipi Anna dengan lembut. Setetes air mata menetes ke pipinya.

Chevi berdiri, dia menoleh ke arahku, dia sama sekali tampak tak terkejut melihatku masih berdiri.

“Kamu benar-benar wanita beruntung, Din,” dia tersenyum.

Aku masih tak bisa berkata apa-apa. seluruh badanku bergetar hebat.

“Dini, makamkan Anna dan Ben baik-baik ya.”

“Apa yang sudah kamu lakukan Chev?”

Chevi kembali tersenyum, dia memalingkan wajahnya ke arah Anna.

“Kalau saya nggak bisa memiliki Anna di kehidupan ini, Nggak boleh ada yang bisa memilikinya, Din. Walaupun orang itu Ben.” Dia menggelengkan kepalanya.

“Kenapa Chev, kenapa? Bukannya kita semua sahabat?”

“Ya, kita berempat adalah sahabat yang saling menusuk dari belakang Din.” Sekarang dia tampak sedih.

“Astaga! Dan semua orang ini. Kenapa mereka harus ikut mati? Mereka tidak bersalah, mereka nggak tahu apa-apa.”

“Karena mereka semua menyetujui pernikahan ini. Mereka sama bersalahnya.”

You sick bastard! Chev, Kenapa kamu jadi gini?” Tak terasa air mataku mulai mengalir deras, aku terisak.

“Ssssh..” Dia mendekatkan jari telunjuknya ke bibir.

“Dan aku. Kenapa kamu juga memberikan minuman ini kepadaku Chev?” Aku tak bisa menahan lagi semuanya.

“Maaf Din, saya mengoleskannya pada semua gelas. Agar kita bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.” Ujarnya pelan.

“Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan Anna di kehidupan selanjutnya.” Chevi tersenyum sambil menatapku lemas.

“Chev? mau apa kamu? Jangan! Jangan!” Aku berlari ke arahnya, tapi terlambat. Dia menenggak wine beracun itu dari dalam gelasnya dengan sekali tegukan.

Aku memeluk tubuhnya dengan erat.

“Chevi! Chevi!” Aku terus memanggil namanya sambil memeluk tubuhnya yang mulai kejang-kejang dan mengeluarkan darah. Tak sampai beberapa menit tubuhnya sudah terbujur kaku di dalam pelukanku.

Air mataku mengalir makin deras. Chevi benar-benar melakukan segala yang dia bisa untuk mendapatkan Anna.

“Kenapa Chev.. Kenapa?” Aku benar-benar tak habis pikir.

Setelah beberapa menit menangis. Sebuah kesadaran tiba-tiba menyusup masuk ke dalam pikiranku. Selama hidupnya Chevi percaya bahwa cintanya akan menemui jalan, sampai akhir dia tidak menyerah untuk mendapatkan Anna. Benar, jika tidak di kehidupan ini, mungkin di kehidupan lainnya, atau bahkan di surga kelak.. Entahlah, dunia manapun yang akan dia kunjungi nanti setelah mati nanti.

Aku menghela napas, kutatap wajah Chevi, lalu kucium bibirnya.

Jika Chevi bisa melakukan segalanya untuk orang yang dia cintai. Akupun tak boleh kalah.

Tanpa ragu lagi kutenggak wine dari dalam gelas milikku.

***

Natuna, 26 Januari 2013

Point one. Everything is fair in love and war

Point two. Love sucks

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
25 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
chrismanaby

Wawaawwwwww,…..

chrismanaby

Cintong metong,….

chrismanaby

heheheee

Orang awam

geezzz…squarepants !
Tdi nya ane kira si Dini bkal ngelanjutin idup dgn pnyeslan, galau forever lah, mlah brujung gila…trnyta emg lbih ‘baek’ kalo pda akhirnya mrka berempat sma2 lgi……..
Super, kang !

Orang awam

mrinding ini 😀

Evan

Ending yang gak terduga nih 😀
Kereen bgt

Mita Alakadarnya

saya kira Chevi akan nikah ama Dini,,,,
eh ternyata mereka malah mati semua,,,,
bagus critanya,,,, 🙂

Mita Alakadarnya

silahkan mas,,,, 😀
belum banyak coretan di blog saya,,, karena amsih baru,, 😀

Fauzi

Saya sempat bingung dengan jenis kelamin di cerpen ini. Ahh! Ternyata Chevi laki-laki, ya? <– ini membuat saya sempat ragu dengan jenis kelamin Dini juga.
Anyway, SOURCE belum keluar lagi, ya?

Ilham

wow keren banget. kejutannya meletup2. *halah* 😀 tapi bener keren banget. udah pernah nulis novel ya mas?

danirachmat

keren Kang pendeskripsiannya. Kagum euy..

juniblossom

Bah, ngeri ceritanya…
jadi inget quote temen: gak ada persahabatan yang murni antara laki laki n perempuan, biasanya salah satu ada yang suka…

Kue nikahnya bagus… :3

juniblossom

bagus kuenya kayaknya…

okelah ham, yang udah berpengalaman…

juniblossom

haha… dibikin manis aja semanis kue pengantinmu…

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
25
0
Beri Komentarx
()
x