Ditulis dalam rangka mengikuti GA mbak Amel 🙂

 

Denova belum beranjak dari situ, sebuah sudut di kantin sekolah. Sudah hampir satu jam dia duduk disana, menatap nanar bangku di hadapannya yang kini kosong. Dulu berbeda, dulu di hadapannya selalu ada senyuman manis Rindang, atau kadang wajah cemberutnya, yang lebih manis dari senyumannya.

Ah, sudah berapa lama sejak dia terakhir kali bertemu Rindang? Dan Dimi? Satu bulan? Dua bulan? Mungkin lebih. Jika dipikirkan sekarang, kejadian di depan rumahnya itu hanyalah seperti mimpi, tampak sangat tidak masuk akal dan sulit dipercaya, kalau bisa dia ingin segera terbangun, dan melupakan mimpi itu.

Tapi sayangnya inilah realita yang harus dihadapinya.

 

Sampai sekarang Dimi tak pernah membalas pesan-pesan yang ditinggalkannya, apakah dia semarah itu? Yah, tentu saja, Dimi bahkan mungkin membencinya setengah mati, dia secara terang-terangan membuat Dimi menjadi orang ketiga di dalam hubungannya dengan Rindang.

Tapi begitulah cinta bukan? Ini bukan soal logika, bukankah dia menyukai Dimi? Bukankah mengorbankan hubungannya dengan Rindang adalah harga yang pantas demi mendapatkan Dimi?

Denova menghela nafas, dia memalingkan wajahnya, menatap rombongan murid yang bergerombol, berjalan pulang. Kantin ini sudah mulai sepi, hanya ada satu-dua pasangan yang sedang asyik menghabiskan sore, sebelum bel terakhir dibunyikan.

Pandangannya kemudian tertuju pada sepasang pria dan wanita yang duduk beberapa bangku du depannya, mereka berdua tampak sedang asyik mengobrol. Denova mengerutkan keningnya, sepertinya dia tau siapa mereka, Ah ya, mereka berdua adalah kakak kelasnya, Denova sering mendengarkan selentingan kabar tentang mereka, rumor miring, terutama tentang yang pria.

Angga.. sekarang dia ingat, laki-laki itu kalau tidak salah bernama Angga, dan wanita yang duduk di depannya adalah murid pindahan yang masuk tahun lalu, Vetra.. kalau tidak salah.

Dia pernah mendengar bahwa kakak kelasnya itu mencampakan kekasihnya untuk mendapatkan murid pindahan itu, membuat kekasihnya sakit hati, sampai memutuskan untuk pindah sekolah.

Laki-laki tidak tahu diri.. Denova mencibir. Padahal kekasihnya yang dulu adalah salah satu perempuan tercantik di sekolah, kaya, pintar dan orangnya ramah. Bahkan dia mengakui bahwa Rindang pun kalah jauh dari Karin. Dan Angga meninggalkannya demi seseorang yang baru dia temui, dasar playboy, paling gak lama lagi juga kamu nyesel.. Denova kembali mencibir.

Tiba-tiba dia menyadari sesuatu.

Jika kakak kelasnya itu tidak tahu diri, lalu apakah sebutan untuk dirinya? Denova tersenyum miris di dalam hati. Apa sebutan bagi dirinya yang tega meninggalkan Rindang untuk Dimi? Yang baru dia kenal sebentar, di halte pula. Apa yang telah dia lakukan selama ini? Dia telah memiliki seorang gadis yang luar biasa, yang menyayanginya sepenuh hati. Tapi kenapa dia malah dengan tega memperlakukan gadis itu dengan kasar? Dengan semena mena?

Oh Tuhan.. Denova menggelengkan kepalanya, menyesal. Dia merasa jadi orang paling brengsek di dunia, tak terasa setitik air muncul dari ujung matanya, dengan cepat dia mengusapnya.

You never know what you have till its gone..

Peribahasa itu benar, dia harus segera memperbaiki ini semua, sebelum benar-benar terlambat.

µ

Keesokan harinya, Denova sengaja datang ke depan kelas Rindang sesaat sebelum bel istirahat berbunyi, dia ingin meminta maaf, mencoba mengais kembali pecahan-pecahan hatinya yang sudah dia remukan dahulu.

Tak sampai lima menit kemudian bel istirahat berbunyi, para murid lelaki langsung meloncat keluar, menuju kantin dan lapangan bola. Diikuti oleh para murid perempuan yang berceloteh riang menyambut jam istirahat.

Denova mencari-cari Rindang diantara kerumunan itu, nah itu dia.. kedua bola mata mereka bertemu, mata Rindang sedikit sayu, dan dia tak kuasa untuk memandang Denova.

“Ndang..”

“Mau apa kakak kesini?”

Denova terdiam, dia tak kuasa mengucapkan deretan kata yang disiapkannya sedari tadi, dia hanya bisa menatap wajah Rindang.

“Boleh bicara bentar?”

“Soal apa?”

“Sebentar aja Ndang, please..

Rindang tampak enggan, hatinya masih terlampau sakit untuk langsung berhadapan dengan Denova. Tetapi dia mengangguk juga.

Mereka berdua berjalan menuju sisi lapangan, kemudian duduk di salah satu bangku.

“Ada apa ka?”

“Apa.. hubungan kita berdua udah gak bisa diselamatin lagi Ndang?”

Rindang tersenyum mendengarnya, menurutnya itu sangat lucu.

“Kenapa tiba-tiba kakak ngomong gitu?”

“Saya ngerasa sebagai orang paling tolol di dunia..”

“Memang.”

“Brengsek juga?”

“Iya, sangat.”

Denova menatap mata Rindang dengan lekat, mata indah yang membuatnya jatuh hati.

“Tolong kasih saya kesempatan Ndang, buat memperbaiki ini semua..”

Rindang mengerutkan keningnya.

“Setelah semua yang kakak lakuin? Apa kakak udah lupa? Kakak bilang sayang sama perempuan lain di depan mata aku kak! Coba kakak pikir gimana perasaan aku!”

Denova hanya menunduk, dia tidak sanggup menjawabnya.

“Dan setelah kakak puas nyabik-nyabik perasaan aku, sekarang kakak bilang pengen memperbaiki hubungan kita? Buat apa kak! Buat apa.. Apa kakak belum puas ngehancurin hati aku?”  Air mata mulai menetes dari pipinya, dia kemudian mengusapnya dengan punggung tangan.

“Apa belum cukup aku kakak sakitin?” Suaranya melirih..

“Maaf..” Denova berbisik lirih. Rasa bersalahnya kian menumpuk, dia dapat merasakan sakit yang dirasakan oleh Rindang.

“Kenapa kakak berubah pikiran? Oh aku tau, pasti gara-gara ditolak sama dia kan kak?”

Denova menggelengkan kepalanya perlahan.

“Sama sekali bukan. Setelah kejadian itu kami gak pernah ketemu lagi Ndang.. apa yang dikatakan Dimi waktu itu benar, setelah saya coba untuk introspeksi diri, memilah-milah perasaan di dalam hati saya. Lalu saya menyadari sesuatu Ndang..”

“Apa?” Rindang mencoba untuk tidak peduli, dia menatap kerumunan orang yang sedang bermain bola di lapangan.

“Apa yang saya rasakan pada Dimi adalah perasaan yang saya rasakan empat tahun lalu, waktu kami pertama kali bertemu. Dulu perasaan ini gak sempet terungkapkan dan tiba-tiba harus dikubur karena Dimi pergi. Ketika saya tau kalau Dimi kembali kesini, perasaan itu muncul lagi Ndang.”

“Maksud kakak apa?”

“Rasa suka saya pada Dimi tuh gak nyata, hanya impuls yang tiba-tiba dateng, perasaan yang harusnya sudah hilang empat tahun lalu, perasaan itu sekarang udah tergantikan dengan rasa sayang yang baru..”

“Tergantikan sama siapa?”

“Sama kamu.”

µ

Dimi membereskan pakaiannya, dia memasukannya satu persatu ke dalam sebuah koper besar. Kemarau berkepanjangan yang melanda Jawa Tengah dan TImur ternyata sangat menghambat progres penelitiannya, kondisi gersang ini menyebabkan area puso kian meluas, termasuk ke daerah penelitiannya.

Beberapa waktu yang lalu Dimi telah melaporkan hal ini. Pihak ISPB sudah setuju untuk menunda penelitian sampai musim penghujan tiba, dan selama itu Dimi dipercayakan untuk melakukan asistensi penelitian lainnya di Amsterdam.

Dimi langsung mengiyakan, dia bahkan tidak bertanya penelitian itu tentang apa, yang penting dia bisa pergi untuk sementara waktu dari Indonesia

Sebenarnya Dimi merasa kesal, tetapi sekaligus bersyukur. Dia kesal karena penelitiannya terhambat, tetapi bersyukur karena dengan ini dia mempunyai alasan menjauhi Denova, dan menjauhi masalah yang mungkin datang bersama dengan Denova.

Tiba-tiba tangannya berhenti memasukan pakaian, sebuah pikiran terlintas di otaknya. Tindakannya menampar Denova sebenarnya keterlaluan, walaupun saat itu dia sedang dalam keadaan terkejut dan marah bukan main, Denova tidak sepenuhnya salah kan? Bukan salahnya jika dia masih menganggap bahwa Dimi yang sekarang adalah sosok Dimi yang empat tahun lalu yang menggodanya, membuatnya jatuh cinta. Awal dari masalah ini berasal dari dirinya,

Gadis itu menghela nafas, rupanya dia memang harus bertemu dengan Denova lagi, menjelaskan semuanya.

µ

“Dimi mau balik ke Amsterdam.” Damian berkata pada Denova, saat itu mereka berdua sedang duduk-duduk di teras rumah, menikmati senja, Damian menyeruput kopi panas yang baru saja dibuanya.

“Serius bang?”

“Iya, minggu depan. Kamu udah baikan belum sama Dimi?”

Denova terdiam selama beberapa saat.

“Saya udah coba ngehubungin dia, tapi gak pernah nyambung. Kayaknya dia benci banget sama saya bang.”

Damian mengangkat bahu.

“Mungkin juga, dia gak pernah ngomongin kamu saat kerja. Tapi bagaimanapun kamu tetep mesti minta maaf sama dia Den.” Damian lalu beranjak pergi dari teras, meninggalkan Denova sendirian, memandangi langit.

“Bang! Jam berapa Dimi berangkatnya?” Denova bangkit berdiri, kemudian menyusul bang Damian ke dalam rumah.

µ

“Halo Ndang.” Denova menelpon Rindang, sambil memandang lukisan cendrawasih yang diberikan oleh Dimi padanya dulu.

“Iya kak, ada apa?”

“Besok kamu ikut ya.”

“Ikut? Kemana kak?”

“Ke airport, Dimi mau balik ke Amsterdam, dan saya mau ngomong sesuatu sama dia.”

“….”

Tuuut.. tuuut..

Sambungan telepon langsung diputus oleh Rindang. Denova menggelengkan kepalanya, dia mencoba untuk menelpon Rindang lagi. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya dia terhubung.

“Kenapa ditutup sih? Belum beres ngomong juga..”

“Apa sih maksud kakak?” Suara Rindang meninggi. “Kakak mau nembak dia di depan aku besok? Jahat banget sih, punya perasaan gak?”

Denova tertawa kecil mendengarnya.

“Aduh, bukan Ndang.. hahaha..”

“Malah ketawa, terus apa? Males banget aku kak..”

“Udah pokoknya ikut aja, nanti kamu ngerti sendiri, besok kakak jemput di rumah ya. Jam delapan pagi.”

Denova kemudian menutup telepon, dia tidak ingin mendengarkan protes dari Rindang. Dia kembali tersenyum, kemudian mencopot lukisan cendrawasih itu dari dinding kamarnya.

µ

Denova akan datang, Dimi menggumam, kemarin Damian mengatakan hal itu di telepon. Ini kesempatan bagus untuk menyelesaikan semuanya.

Dimi baru saja mengambil tikernya, dia sekarang sedang menunggu di lobby airport, satu jam lagi pesawatnya akan berangkat. Dia duduk di sebuah bangku, menunggu.

Dia kemudian melihat mereka, Damian, Denova, dan.. hah? Kenapa ada Rindang? Dan wajahnya tampak cemberut. Dadanya berdegup kencang, dia melihat ke sekelilingnya, menatap panik pada orang-orang yang berlalu lalang di lobby, langsung terbayang olehnya beberapa menit lagi akan ada pertengkaran disana.

“Hey..” Denova menyapanya, sambil tersenyum gugup.

“Hey, Denova.. Rindang..” Dimi balas tersenyum, Rindang hanya mengangguk saja, tidak membalas salamnya, hal yang wajar, menurut Dimi.

“Kapan berangkatnya?” Denova berbasa basi.

“Ehhm, sekitar satu jam lagi.” Dimi menjawab sambil kembali mengecek jam tangannya. Ayo Dim.. katakan..

“Dim, saya mau ngasih kamu sesuatu..”

“Eh?” Dimi terkejut, sambil melirik Rindang, tapi Rindang hanya membuang muka, berusaha untuk tak acuh.

Denova mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam tasnya, dia kemudian memberikan gulungan itu pada Dimi.

“Maaf Dim, tapi ini sepertinya harus saya kembaliin..”

“Ini.. lukisan cendrawasih itu?”

Denova mengangguk.

Dimi mengambil lukisan itu.. dia tersenyum, rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat lukisan ini, lukisan yang menyimpan perasaannya kepada Mas Bagas, perasaan yang kemudian secara paksa dia titipkan kepada Denova.

Dimi memandang Denova, Denova balas memandangnya, dia kemudian meraih tangan Rindang, menggenggamnya dengan erat. Rindang tampak terkejut.

Dimi kemudian tersenyum, tidak dibutuhkan perkataan untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini. Tidak perlu penjelasan darinya, rupanya Denova telah menyadari, sebagaimana dia menyadari, bahwa yang mereka rasakan adalah perasaan masa lalu, sebuah hal yang telah menjadi kenangan, dan sudah tidak dirasakan lagi saat ini.

“Sekali lagi maaf, saya udah ngebuat hari-hari kamu disini berantakan.”

Dimi mengangguk, dia kemudian mengulurkan tangan kanannya, mengajak Denova bersalaman, Denova menyambut uluran tangan itu, mereka berjabat tangan.

“Gak apa-apa Den, saya juga minta maaf udah nampar kamu.” Dimi tersenyum.

Denova terkekeh, yah, dia memang merasa pantas mendapatkan tamparan itu.

“Kamu gak butuh saya kan Den, di samping kamu udah ada seorang wanita yang pantas buat kamu, jaga dia baik-baik, jangan buat dia menangis lagi.” Dimi menatap Rindang, Rindang hanya terdiam, malu-malu, saat ini dia mengerti apa yang terjadi. Kak Den sudah memantapkan hatinya, hanya untuknya..

µ

Denova dan Rindang memandangi pesawat Dimi yang melayang jauh di angkasa. Di antara putihnya awan. tatapannya kemudian beralih ke kedua bola mata Rindang.

“Kakak janji, semuanya akan kembali seperti sedia kala, bahkan lebih baik.”

Rindang mengangguk, matanya berkaca-kaca, dia memeluk Denova, dan mulai menangis, tapi kali ini adalah tangis bahagia.

-END-

Yak, selesai juga.. awalnya saya iseng-iseng aja ikutan, sebagai selingan nulis Sense, tapi ternyata gak semudah yang dibayangkan.. nulis satu bab ending ini makan waktu sampai dua hari. entah kenapa saya gak bisa nemu ending yang pas.. (pengennya sih Rindang nembak mati Denova, terus Dimi kecelakaan pesawat~ hahaha, piss mbak Amel :D)

Tapi akhirnya saya nikmati juga, biar lebih afdol saya berusaha nahan diri dengan gak ngeliat karya temen-temen yang lain dulu.. takutnya jadi sedikit terpengaruh. hehehe

NB : itu ada sedikit cameo pasangan remaja aneh di kantin, tolong jangan digubris, abaikan saja. hahahaha

Menang gak menang gak masalah, yang penting ikut ngeramein ya mbak 🙂

Cerita ini diikutkan Giveaway Suka-suka Dunia Pagi

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
16 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
HESTY

wahhh ceritanya berkualitas yahh,, beda deh kalo udah biasa nulis cerpen 😀 *beda bgt ama crita sayah* ahahahahay
betewe itu ngapah pemain SENSE jadi muncul juga,, hihihihi saya udah donlot loh 😀

Ayahnya Ranggasetya

hallo, maaf baru sempat berkunjung balik. akhir-akhir ini saya jarang blogwalking lagi. makasih ya, sudah mengunjungi blog saya.
cerita tentang denova ini saya pernah awalnya di blog pagi-pagi buta (kalau nggak salah), tapi dulu, udah lama. Endingnya manis, membaca ceritanya juga manis. benar kata komentator pertama itu, kelihatan penulisnya udah biasa menulis cerita

Evan

Iya bener, setuju sama Hesty.. kalo udah master yang bikin cerita apapun, pasti bagus.. keren..
good luck buat kontesnya 😀

Adi Nugroho

wah mas Evan, kesempatan kita dapat voucher makin menipis, ahaha

Evan

Mas Adi : iya bener kesempatan kita buat dpat voucer menipis nih, hehhee
Mas Ilham : ajarin saya lah mas supaya expert tulis menulis

sulunglahitani

waaah, ending yang manis. 🙂

~Amela~

aaaah, makin bingung nentuin pemenangnya… apa vouchernya buat aku aja yaa *dilempar jumrah*..
hahaha.. makasih ham, sudah kaupenuhi janjimu..

tapi kok Denovanya jadi kayak si Angga ya? kalau ngomong pake saya.. biasanya Den pake aku2an.. hehehhe 😀

Puteriamirillis

ahahah…angga dan vetra, saya terkejud saya teringat, ternyata ituh tokoh sense! keren dah…alurnya juga keren sy menuntaskan semuanya.tiap kata.goodluck!

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
16
0
Beri Komentarx
()
x