Pada hari itu, Romi memutuskan untuk pulang lebih awal. Kepalanya pening seperti mau pecah. Walau begitu, dia tidak ingin ke dokter, dia hanya ingin merebahkan diri di kasurnya yang empuk.

Ketika dia melangkahkan kaki keluar dari pintu depan kantor, jam di tangannya baru menunjukkan pukul setengah lima sore.

Dia menyusuri trotoar di sepanjang jalan besar, menuju ke halte bus tempat dia biasa naik.  Bagi Romi yang setiap hari selalu pulang kerja larut malam, pemandangan sore hari malah terasa amat ganjil.

Udara di sekitarnya terasa pengap dan lembap, jalanan terasa penuh sesak dan bising. Di hadapannya hilir mudik orang-orang yang tidak biasa dia temui saat pulang malam hari.

Sejenak dia berhenti, menengadah, lalu mengernyit. Langit sore hari seharusnya berwarna jingga bukan? Seperti yang tergambar di dalam puisi-puisi ataupun prosa. Tapi dia hampir yakin langit di atasnya saat ini berwarna merah, bukan jingga.

Romi tiba di halte bus. Dia berdiri diam, menunggu kedatangan bus kota. Di sebelahnya ada beberapa orang yang juga sedang menunggu. Romi sudah membayangkan dirinya harus berjibaku pada saat naik ke atas bus, berebutan dengan penumpang-penumpang lain.

tak berapa lama kemudian bus datang. Saat bus itu menepi dan pintu depannya terbuka, Romi bergegas, dia tidak ingin ketinggalan. Namun ternyata orang-orang di sekitarnya naik ke dalam bus dengan sangat tertib. Tidak ada yang saling sikut maupun saling berebut.

Pintu bus menutup, dan bus kembali melaju di jalanan. Romi berdiri di dekat pintu masuk. Mendadak dia oleng, pandangannya berkunang-kunang, dan kepalanya terasa semakin pening.

Romi memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Setelah sakit kepalanya mereda, dia baru melepaskan tangan dari kepalanya.

Dia melihat ke sekeliling. Walau di sekelilingnya sangat sunyi dan tak terdengar ada suara orang yang sedang bercakap-cakap, ternyata bus itu penuh sesak.

Pada saat itulah dia melihat sesuatu.

Di sana, di antara orang-orang yang sedang berdiri, beberapa meter di depannya, ada sebuah bangku bus yang kosong.

Romi mengerutkan kening. Kenapa tak ada yang duduk di sana? Sementara banyak sekali penumpang yang berdiri?

Tebakan awalnya adalah bangku itu dikhususkan untuk penumpang lansia atau wanita yang sedang hamil, tapi dia melihat ada beberapa orang lanjut usia dan seorang ibu yang sedang hamil berdiri di dekat bangku itu.

Romi sangat penasaran. Terlebih lagi, karena kepalanya yang pusing, dia ingin duduk. Maka dia mencoba mendekat.

Setelah berdiri tepat berada di depan bangku itu, Romi menatap bangkunya dengan lekat. Sekilas tak ada yang aneh, bangku itu berwarna oranye, sama seperti bangku-bangku lainnya, dan sudah lumayan kumal. Romi menelan ludah, dia ingin duduk.

Perlahan, Romi berbisik kepada seorang pria yang berada di sampingnya, mencoba untuk memastikan.

“Mas, kok enggak duduk aja?”

Pria yang dia ajak bicara hanya meliriknya, kemudian dia menggeleng pelan.

Belum puas dengan tanggapan itu, Romi beralih pada seorang wanita yang ada di samping pria itu.

“Mbak, kok enggak duduk? Ini kan kosong?”

Wanita itu tak menggubrisnya, dia terus menunduk sambil memainkan ponsel.

Romi mengernyit, brengsek, umpatnya dalam hati.

Karena tidak yakin dengan apa yang sedang terjadi. Romi memutuskan untuk menahan diri, walau kepalanya sekarang semakin berdenyut-denyut.

Halte demi halte dilewati, dan banyak penumpang yang naik turun. Bangku-bangku di sebelah bangku itu silih berganti terisi, tapi bangku itu tetap tak ada yang menduduki.

Romi berjongkok, memperhatikan bangku tersebut. Apakah bangkunya rusak? Apakah atap di atasnya bocor? Semakin lama memperhatikan, Romi semakin heran, semakin penasaran, dan semakin ingin duduk di bangku itu.

Pada saat dia sedang memeriksa bangku itu, dia merasakan penumpang-penumpang lain di sekelilingnya melirik dan menatapnya.

“Woy! Kok enggak ada yang duduk di sini, sih?” ujarnya setengah berteriak.

Semua orang di bus itu kini menatapnya, tapi mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Ah, persetan, batinnya lagi.

Romi menatap bangku itu sekali lagi, menarik napas, kemudian duduk di bangku itu. Sontak semua yang berada di bus itu terkesiap. Mata mereka membelalak. Beberapa menutup mulut mereka dengan sebelah tangan.

Kemudian terdengar suara riuh rendah, mereka saling berbisik, membicarakan Romi dengan bahasa yang entah apa tak dimengertinya.

Kepalanya semakin terasa pusing.

“Ada apa sih?” tanyanya pada seorang pria tua yang duduk di sebelahnya. Tapi pria tua itu sontak berdiri dan menjauhinya dengan takut-takut.

Dia semakin merasa tidak nyaman. Kepalanyapun semakin sakit. Pada halte berikutnya, Romi segera berdiri dan turun dari bus tersebut. Dia sempat melihat orang-orang yang menatapnya dari atas bus pada saat dia berjalan di trotoar.

Romi melihat ke sekitarnya. Karena turun terburu-buru, dia tidak tahu sekarang sedang berada di mana. Dia berjalan di sepanjang trotoar, tempat ini sepi, dan gelap. Langit di atasnya berwarna hitam, tanpa ada satu bintangpun terlihat. Sumber cahaya yang dia punya hanyalah temaram lampu dari bangunan di sekitarnya serta dari lampu jalanan.

Anehnya, sakit kepalanya sekarang menghilang.

Setelah beberapa menit berjalan, dia melewati sebuah toko, sepintas Romi melihat ada yang aneh di pantulan bayangannya. Romi berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Nyatakah yang barusan dia lihat?

Perlahan Romi berbalik, dia dengan takut mengintip ke jendela, memastikan apa yang dia lihat dari jendela itu tadi.

Saat menatap bayangnnya di jendela, Romi sekarang tahu kenapa orang-orang di bus histeris melihatnya.

Romi berteriak, matanya membelalak.

***

Sebuah cerita pendek yang pernah tayang di Sipenulis.com tahun 2014 silam.

Sampul: Photo by Filippo Ascione on Unsplash

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x