“Seharusnya kita sudah dekat,” ujar Rendy. Dia menggaruk kepalanya sambil membolak-balik selembar peta lecek di atas kepalanya. Astri mengangguk pasrah, dia sudah terlalu lelah untuk protes ataupun sekadar meladeni perkataan Rendy. Yanti yang sedari tadi duduk di atas batu juga hanya terdiam. Nafasnya terengah-engah. Kaus dan kardigan cokelat yang dia kenakan tampak basah oleh keringat.

Setelah beristirahat untuk minum selama lima menit, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ketiganya berjalan beriringan, menapaki rumput, ilalang tinggi dan pepohonan besar yang menutup langit di atas mereka dengan rapat.

Rendy yang berjalan paling depan dengan sigap mengayunkan belati yang dibawanya untuk membuka jalan. Sementara Astri dan Yanti melihat ke sekeliling, mencari tanda-tanda keberadaan manusia di tengah belantara ini.

Sekitar satu setengah jam kemudian mereka akhirnya menemukan sebuah jalan setapak kecil yang sepertinya sering dilewati oleh manusia. Rendy dan Yanti kompak berseru girang.

Mereka mulai berjalan dengan lebih cepat. Seiring dengan pemandangan hutan yang mulai berubah menjadi ladang-ladang, mereka mulai mencium bebauan yang aneh.

“Ini …, bau belerang?” tanya Yanti sambil menutup hidung.

Astri menggeleng, “Ini bau besi,” ujarnya. “Lihat, kita sudah dekat,” lanjutnya sambil menunjuk ke lereng gunung berapi yang mulai terlihat di depan mereka.

“Getihwesi,” ujar Rendy sambil menelan ludah.

Semakin mereka mendekat ke arah desa itu, aroma besi semakin kuat tercium. Semakin lama Astri bisa semakin jelas melihat lanskap dan kontur desa yang berdiri di tanah miring lereng gunung berapi. Sebuah jalan setapak yang cukup besar membelah desa menjadi dua bagian. Jalan itu membentang dari gapura desa hingga terus menanjak, mungkin sampai ke puncak dan kawah gunung berapi.

“Memangnya gunung berapi ini masih aktif?” tanya Astri.

“Gunung Laduwesi seharusnya sih sudah nggak aktif,” jawab Rendy sambil melihat ke arah kawah gunung yang jelas-jelas sedang mengeluarkan asap. Ekspresi bingung tampak tergambar jelas di wajahnya.

“Teman-temanmu mungkin sedang berada di atas sana, ya?” tanya Yanti, yang dijawab dengan anggukan oleh Rendy.

Setelah berjalan lagi selama setengah jam, mereka akhirnya tiba di dekat gapura desa. Di depan sana terlihat ada seorang pria bercaping sedang sibuk memotong rumput dan mengumpulkannya dalam ikatan-ikatan besar.

Pria itu mendongak, menyadari kehadiran mereka bertiga. Alih-alih menyapa, pria yang sepertinya masih berusia dua puluh tahunan itu malah terkejut dan mulai berteriak-teriak.

“Heeeeeeeeh! Sedang apa kalian di sini? Sana Pulang! Pulang! Huss!”

“Eh, selamat sore, mas,” sapa Yanti.

Pria itu tidak menggubrisnya. Dia malah mengambil batu kerikil dan mulai melemparkannya ke arah mereka bertiga. Astri dan Yanti menjerit sambil menghindar dan bersembunyi di belakang tubuh Rendy. Sementara itu Rendy yang masih terkejut hanya bisa melindungi diri dan dua orang gadis di belakangnya dengan berlindung di balik carrier besar yang dibawanya.

“Wan! Berhenti!” teriak seseorang dari kejauhan. Seorang pria paruh baya bergegas berlari ke arah mereka.

Pria di hadapan mereka langsung berhenti melempar kerikil. Dia terburu-buru mengumpulkan ikatan rumput dan berlari menjauh sambil tertawa cekikikan.

“Kalian tidak apa-apa?” tanya pria itu.

“Apaan sih barusan?” tanya Yanti dengan suara bergetar.

“Maaf, mas, mbak, yang tadi itu namanya Wawan. Dia sedikit miring,” jelas pria itu sambil membuat tanda miring di depan dahi dengan jari telunjuknya. Dia memperkenalkan diri sebagai Kusumo, salah satu perangkat desa di Getihwesi. Kusumo kemudian membantu membersihkan carrier Rendy yang kotor akibat lemparan kerikil Wawan.

“Mas dan mbak ini dari mana dan mau ke mana?” tanyanya setelah bersalaman dengan mereka bertiga.

“Anu, saya dari Direktorat Meteorologi dan Geofisika[1]. Teman-teman saya sudah lebih dulu datang ke sini untuk mengamati aktivitas Gunung Laduwesi,” ujar Rendy.

Kusumo mengerutkan kening, kebingungan. “Belum ada rombongan lain yang datang ke sini, tuh,” ujarnya. “Masnya yakin mereka sudah duluan?”

“Loh, mereka sudah berangkat sejak kemarin, kok.” ujar Rendy dengan nada sedikit tinggi, panik.

“Apa mereka tersesat, Ren? Kita saja rasanya tadi berputar-putar terus di dalam hutan,” ujar Yanti.

“Mbak Astri dan mbak Yanti ini dari tempat yang sama juga?” tanya Kusumo sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang dan beruban.

“Oh, nggak. Kami bertiga baru bertemu hari ini. Kebetulan saja tujuan kami sama-sama mau berkunjung ke desa bapak,” jawab Yanti.

Terdengar suara gemuruh di kejauhan. Mereka kompak menengok ke atas. Langit dengan cepat berubah menjadi kelabu. Asap dari kawah gunung tampak menebal.

Kusumo tiba-tiba menyambar ransel milik Rendy. Ekspresi wajahnya panik.

“Sebaiknya kita lanjutkan di rumah kepala desa saja. Cuacanya mulai jelek, saya khawatir sebentar lagi hujan, bahaya buat kalian,”

“Bahaya?” tanya Astri.

Kusumo tidak menjawab. Dia tergesa-gesa berjalan ke arah gapura desa. Mereka bertiga mengikuti di belakang.

Ketika melewati gapura desa, bau besi semakin kuat terasa. Sebagian besar rumah penduduk yang mereka lewati memasang semacam wewangian ataupun dupa di depan pintu rumah, mungkin untuk mengurangi aroma besi.

Pemandangan aneh terlihat di sepanjang jalan desa. Di sana sini mereka melihat penduduk desa sedang berdiri mematung. Tatapan dan ekspresi wajah mereka terlihat kosong. Beberapa terus menerus melihat ke arah langit yang semakin mendung.

Rendy mencoba menyapa mereka, tapi tak banyak yang menggubrisnya. Hanya ada satu atau dua orang yang mengangguk singkat ke arahnya.

Astri baru menyadari bahwa sebagian besar penduduk desa terlihat kurus kering, dengan ceruk mata dalam, dan kantung mata yang besar. Walaupun tertutup oleh pakaian yang dikenakannya, Kusumo sedikit banyak memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan penduduk desa lainnya.

Sambil berjalan, Yanti bercerita bahwa dia sebenarnya adalah tim survei dari kelompok pecinta alam di kampusnya. Rencananya dalam waktu dekat mereka ingin mengadakan pendakian dan kamping di wilayah sini.

“Kok mbaknya sendirian? Perempuan pula yang diminta survei,” Kusumo berdecak tak percaya.

“Ya saya kira nggak sejauh dan seterpencil ini lokasinya, Pak. Sebelum-sebelumnya saya memang sudah sering jadi tim survei, tapi baru kali ini rasanya sampai mau mati. Untung ada Rendy dan Astri,” jawab Yanti sambil tertawa renyah.

“Kalau mbak Astri?” tanya Kusumo.

“Hmm, saya butuh jalan-jalan saja, Pak. Rasanya penat sekali di kota,” jawabnya dengan singkat dan datar.

Mereka berempat tiba di sebuah tepas[2] persegi yang terbuat dari bambu. Di salah satu bagian dari tepas itu, berdiri sebuah rumah yang berukuran jauh lebih besar daripada rumah lainnya. Astri menebak bahwa itu adalah rumah kepala desa yang dimaksud. Aroma lavender memenuhi seluruh bagian dari tepas, mengalahkan bau besi yang menusuk hidung mereka sepanjang jalanan tadi.

Kusumo mempersilakan mereka bertiga untuk duduk-duduk dan melepas lelah di tepas itu. Dia sendiri pamit sebentar untuk menemui kepala desa.

Setelah memastikan Kusumo pergi, Yanti mencolek lengan Astri. “Kok kamu nggak bilang terus terang tadi?”

“Belum waktunya,” bisiknya pada Yanti. Astri belum percaya sepenuhnya dengan Kusumo. Lagipula banyak hal aneh tentang desa ini yang tak dimengertinya. Termasuk asal-muasal bau besi yang tercium di mana-mana.

Tak lama berselang, terdengar tetesan hujan turun. Mendadak terdengar suara lengkingan, seperti seluruh penduduk desa berteriak secara bersamaan. Mereka bertiga menutup telinga mendengar teriakan itu.

Lengkingan itu diikuti oleh jendela-jendela dan pintu rumah penduduk dibanting terbuka dengan terburu-buru. Seluruh penduduk desa terlihat keluar dari dalam rumah, menyambut hujan yang turun.

Orang-orang yang sedari tadi berdiri diam mulai berlari dan membentuk kelompok-kelompok kecil. Mereka melepaskan pakaian, melompat, berteriak, menari-nari, menyambut hujan yang turun.

Perlahan wajah dan tubuh orang-orang itu dipenuhi oleh noda berwarna merah. Mereka semua seperti bersimbah darah. Beberapa menampung cairan itu di dalam mulut mereka, sebelum memuntahkannya ke tanah.

Rendy dan Yanti memekik tertahan saat memperhatikan rintik hujan yang turun. Cairan yang turun di tempat itu ternyata lebih menyerupai cairan kental berwarna merah tua. Tetesnya jatuh pelan-pelan dan besar-besar.

Dengan tangan gemetar Astri mencoba untuk menampung air hujan itu di tangannya. Rasanya lengket dan kental. Cairan itu tidak terjatuh dengan mudah dari telapak tangannya. Astri mendekatkan telapaknya ke hidung, bau besi yang sangat pekat tercium dari cairan itu.

“Ini hujan darah,” ujarnya lirih.

***

[1] sekarang BMKG
[2] serambi depan; beranda depan

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x