“Jangan disentuh, bahaya!” Teriak seseorang di belakang Astri. Mendengar teriakan itu, Astri sontak menarik tangannya dari bawah tetasan air. Ia menoleh ke belakang, Kusumo tergopoh-gopoh berlari ke arahnya. Di sebelah Kusumo berjalan seorang pria. Pria itu mengenakan beskap[1]. Dia terlihat masih muda, mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari Astri. Wajahnya halus, dan sorot matanya lembut.

“Air hujan merah ini berbahaya jika disentuh,” ujar pria itu. Suaranya ternyata sehalus dan selembut sorot matanya. Dia menyeka tangan Astri dengan sapu tangan putih yang dibawanya, seraya memperkenalkan diri. “Saya Pringadi, Kepala Desa Getihwesi. Mas Mo, tolong antar Mbaknya ini diantar cuci tangan,” perintahnya.

Kusumo mengangguk. Dia lantas mengajak Astri untuk mencuci tangannya di sebuah pancuran yang berada di dekat situ.

“Berbahaya bagaimana, Pak?” Tanya Rendy.

Pringadi tidak langsung menjawab, melainkan mempersilakan semua tamunya untuk duduk di atas sebuah tikar luas yang tersedia di sana. Saat Astri selesai mencuci tangan, telah terhidang beberapa kudapan hangat seperti kacang dan ubi rebus yang diantarkan oleh seseorang dari dalam rumah Pringadi. Astri lalu duduk di dekat Yanti. Dia dapat merasakan Pringadi menatapnya dengan lekat. Walaupun sorot matanya lembut, tapi dia tetap merasakan bulu kuduknya meremang saat menatap balik pria itu.

Ditemani rintik hujan dan hidangan hangat, Pringadi mulai bercerita.

Dia memulai cerita tentang dirinya sendiri. Pringadi bernama lengkap Raden Pringadi Notosuryo, adalah keturunan ke-empat dari keluarga Notosuryo yang menjadi Kepala Desa di Getihwesi. Sesuai adat di desa itu, posisi kepala desa memang diberikan secara turun-temurun dari ayah ke anak atau menantu laki-laki. Kebetulan Pringadi adalah anak satu-satunya, jadi ketika ayahnya meninggal enam tahun yang lalu, dia yang memang sebenarnya masih terlalu muda, harus meneruskan jejak ayahnya.

“Waktu itu saya sedang kuliah di Semarang dan dipanggil pulang tiba-tiba. Saat saya sampai di sini Romo sudah meninggal, seminggu setelahnya saya sudah harus menjadi Kepala Desa. Semenjak itu saya belum pernah lagi keluar dari desa,” ujarnya sambil tersenyum.

Pringadi berdehem, kemudian lanjut bercerita.

“Soal hujan berwarna merah ini, Mas dan Mbak semua pasti sadar akan aroma besi yang tercium sepanjang perjalanan ke sini, kan? Aroma itu memang sudah mengendap di tanah kami. Asalnya dari kawah Laduwesi di atas sana. Batuan dan laharmya banyak mengandung unsur besi,” jelasnya.

“Sedikit demi sedikit serbuk besi yang banyak berada di sekitar kawah tertiup dan terbang bersama dengan abu dari kawah Laduwesi. Serbuk besi itu lalu tersangkut dan terkumpul di awan, hingga akhirnya turun kembali dalam bentuk air hujan. Itulah yang menyebabkan air hujan menjadi asam, berwarna merah, dan berbau besi. Jika terkena kulit lama-lama bisa membuat melepuh,”

“Hmm, ini menarik sekali. Jika memang itu yang terjadi, seharusnya sumber air dan tanaman di sini juga ikut tercemar. Ini juga harusnya mempengaruhi kesehatan penduduk di desa. Selama ini belum pernah ada yang meneliti?” tanya Rendy dengan mata berbinar. Menurutnya ini bisa jadi sebuah penelitian dan penemuan besar.

“Belum ada. Saya sebenarnya senang sekali jika ada yang berniat melakukan kunjungan atau penelitian ke desa ini. Kapan ya ada orang kota terakhir berkunjung ke desa kita, Mas Mo? Sepertinya dari kecamatan atau kabupaten saja sudah lama sekali.”

“Kalau tidak salah empat atau lima tahun yang lalu, Den. Apa itu, ya? Oh iya, pendataan penduduk,” jawab Kusumo sambil mengusap-usap janggut.

“Desa sekitar dan pemerintah kabupaten jarang memperhatikan kami. Bahkan sepertinya malah sengaja mengabaikan,” Pringadi kembali tersenyum, namun kali ini terlihat kecut.

“Loh, kenapa?” tanya Yanti.

“Mereka takut karena adanya fenomena hujan merah ini. Mereka bilang desa kami dikutuk,” sambar Kusumo sambil mengambil sepotong ubi yang asapnya masih mengepul.

Kusumo kemudian menceritakan kepada Pringadi perihal rekan-rekan Rendy yang seharusnya tiba di desa ini untuk memantau aktivitas Gunung Laduwesi. Senada dengan yang dikatakan oleh Kusumo, Pringadi juga mengaku baru pertama kalinya dia mendengar tentang hal itu.

“Apa mereka tersesat ya, Mas Mo? Coba besok kita cari di hutan sekitar sini.”

“Siap, Den,” jawabnya lugas.

“Anu, maaf, kalau untuk kamping apakah bisa diizinkan? Sepertinya teman-teman dari kampus juga akan senang sekali berkunjung ke tempat yang nggak biasa seperti desa ini.”

Pringadi terlihat berpikir selama beberapa saat. Mungkin dia sedang menimbang-nimbang untung ruginya.

“Kami janji akan menghormati dan menjaga alam di Gunung Laduwesi ini, Pak. Pokoknya datang dan pergi tanpa jejak dan tanpa sampah,” lanjut Yanti meyakinkan. Dia membaca gelagat ragu pada diri Pringadi.

“Baiklah, tapi sebaiknya menunggu aktivitas di kawah mereda. Sekarang abu masih tebal dan tinggi. Mungkin satu atau dua bulan lagi, Mbak Yanti,” jawab Pringadi. “Kalau Mbak Astri ada permintaan? sedari tadi terlihat diam saja,” lanjutnya.

“Kalau bisa saya ingin berkeling dan jalan-jalan saja di sekitar gunung Laduwesi, Pak,” jawabnya.

“Begini saja. Besok kita coba naik saja ke kawah. Kebetulan di dekat situ ada padang ilalang dan padang bunga yang cukup bagus. Oh iya, saya masih ada pekerjaan lain. Kalian silahkan beristirahat di rumah saya saja. Sekarang kamarnya sedang disiapkan,” ujar Pringadi sambil berdiri. Setelah bersalaman, dia masuk ke dalam rumah, meninggalkan mereka bertiga dengan Kusumo

Tak lama kemudian terlihat ada dua orang perempuan tua berjalan keluar dari dalam rumah. Mereka membawa dua plastik hitam besar.

“Sepertinya kamar untuk kalian sudah selesai disiapkan,” ujar Kusumo.

Masih ditemani Kusumo, mereka masuk ke dalam rumah Pringadi. Bau dupa yang tajam segera tercium, mengalahkan bau besi yang berasal dari luar. di Luar dugaan, ternyata bagian dalam rumah itu cukup luas, walau terkesan seram dan gelap. Kepala desa sepertinya memiliki hobi berburu, karena di bagian ruang tamu ada banyak sekali kepala binatang yang diawetkan. Di situ juga ada sebuah lukisan besar yang menampilkan sosok Pringadi.

Astri mengerutkan kening ketika melihat lukisan itu. Dia ingin mendekat, tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat Kusumo sedang memperhatikan gerak-geriknya.

Kusumo membawa mereka melewati sebuah lorong yang mengarah ke bagian belakang rumah. di sana ada dua ruangan yang pintunya terbuka.

“Silakan mas dan mbak beristirahat di sini. Besok pagi-pagi kita berangkat. Kalau ada apa-apa, saya tidur di ruangan sebelah sana,” jelasnya sambil menunjuk ke sebuah ruangan di dekat pintu keluar.

“Toilet di mana, Pak?” tanya Rendy. Kusumo menunjuk ke pintu belakang. “Toiletnya ada di luar. Kalau mau ke sana malam-malam, sebaiknya bareng-bareng saja, atau minta antar sama saya.”

Setelah itu mereka masuk ke kamar masing-masing. Di kamar Astri dan Yanti, tersedia dua kasur kecil dan sebuah lemari kayu. Setelah memastikan Kusumo pergi, Astri dan Yanti duduk di tepi kasur masing-masing.

“Bagaimana? kamu masih curiga?” tanya Yanti.

“Entahlah, tapi memang ada yang aneh dengan desa ini. Kamu nggak ngerasa?” jawab Astri lirih.

“Kalau kamu udah sering berkunjung ke desa terpencil seperti ini, kamu pasti nggak akan merasa heran. Orang desa memang aneh-aneh,” dengus Yanti.

“Mas Pringadi itu masih muda sekali, ya. Tampan pula. Dia sudah menikah apa belum, ya?”

Astri kemudian teringat kembali akan lukisan yang dia lihat di ruang depan. “Mbak, kamu tadi lihat nggak lukisan Pak Pringadi?”

“Lihat, kenapa?” tanya Yanti sambil berganti pakaian.

“Wajah Pak Pringadi sama persis dengan yang ada di lukisan itu, padahal lukisannya udah pudar. Aku kira umur lukisannya sudah lebih dari dua puluh tahun,” ujar Astri.

“Hah? maksudmu gimana?”

Tapi Astri hanya menggelengkan kepala. Dia tidak bisa menjelaskannya dengan mudah. “Nggak apa-apa, mbak. Mungkin sebaiknya kita istirahat dulu,” ujarnya.

Kemudian mereka berdua berbaring dalam diam. Menjelang petang, suara hujan perlahan menghilang, digantikan dengan suara-suara baru.

Astri dan Yanti bangkit, kemudian mendekat ke arah jendela kamar. Seluruh penduduk desa seperti kompak melafalkan entah doa atau mantra bersama-sama.

“Mereka berdoa dalam bahasa apa?” bisik Yanti.

“Bahasa jawa kuno,” jawab Rendy dari belakang mereka. Keduanya serentak menengok karena terkejut. Rendy berdiri di ambang pintu dengan membawa sebuah teko.

“Apa sih kalian. Ini saya bawain wedang jahe dari Pak Kusumo. Katanya nanti semakin malam akan semakin dingin, minum ini bisa membuat tidur lebih nyenyak,” ujarnya sambil meletakan teko dan dua buah gelas di atas meja.

“Barusan saya ngobrol dengan Pak Kusumo di halaman belakang. Dia bercerita banyak. Katanya penduduk desa ini masih menganut ajaran lama, bukan Islam maupun Hindu. Selama ratusan tahun bisa dibilang mereka menyembah gunung Laduwesi. Nah, setiap malam setelah hujan merah turun, mereka biasanya merapalkan mantra penolak bala.” jelas Rendy.

Setelah itu Rendy pamit dan kembali ke kamarnya. Sementara Astri dan Yanti terus berbincang sambil menikmati wedang jahe panas. Tak berapa lama kemudian rasa kantuk mulai datang tak tertahankan, sehingga mereka memutuskan untuk tidur. Di luar sana, lantunan mantra masih terdengar di seluruh bagian desa.

Entah pukul berapa, Astri terjaga karena merasa sangat haus. Setelah minum segelas air, dia kembali ke kasurnya untuk melanjutkan tidur. Tapi sayup-sayup dia mendengar suara gemerisik di luar jendela.

Astri terdiam sebentar. Di luar sana sudah tak terdengar lagi lantunan matra yang dirapalkan oleh para penduduk. Hanya sebatas suara jangkrik bersahutan.

Alih-alih merasa kedinginan, dia malah merasa udara di dalam kamar ini sangat pengap dan panas. Astri berjalan ke arah jendela, kemudian membukanya untuk membiarkan udara luar masuk.

Sesaat setelah membuka jendela, Astri malah menjerit ketakutan.

Wawan sedang berjongkok di bawah jendela. Kedua matanya membelalak bulat, melotot ke arah Astri.

***

[1] baju jas pendek, berleher tinggi, berlengan panjang, berkancing di atas dan di sisi sebelah kiri

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x