Astri merasakan tubuhnya ditarik tiba-tiba. Dia menoleh. Di belakangnya berdiri seorang pria muda yang mengenakan setelan beskap[1]. Pria itu bermata teduh dengan kulit putih pucat. Usia pria itu mungkin hanya beberapa tahun lebih tua daripada dirinya. Setelah menarik tubuh Astri, dia mengeluarkan sapu tangan putih dan mengelap jemari Astri yang basah dengan noda berwarna merah.

“Mbak, air hujan merah ini berbahaya jika tidak segera dibersihkan,” ujar pria itu. Suaranya ternyata sehalus dan selembut sorot matanya. “Perkenalkan, saya Pringadi, Kepala Desa Getihwesi. Mas Mo, tolong antar Mbaknya ini diantar cuci tangan,” perintahnya.

Kusumo yang berdiri tak jauh dari Pringadi mengangguk. Dia lantas mengajak Astri untuk mencuci tangannya di sebuah kendi pancuran yang berada di dekat situ.

“Kalau air hujan ini berbahaya, kenapa mereka semua malah mandi hujan seperti itu, Pak?” tanya Rendy sambil menunjuk ke arah para penduduk yang masih asyik menari dan mandi hujan.

Pringadi menatap Rendy dan Yanti bergantian. Dia lalu tersenyum simpul. “Itu karena kami, penduduk desa Getihwesi, berbeda dengan kalian,” jawabnya dengan suara lirih.

Dengan satu gerakan singkat Pringadi mempersilakan semua tamunya untuk kembali duduk. Mereka semua duduk melingkar di atas sebuah tikar jerami. Saat Astri selesai mencuci tangan, telah terhidang beberapa kudapan hangat seperti kacang dan ubi rebus yang diantarkan oleh seseorang dari dalam rumah Pringadi.

Astri duduk di dekat Yanti. Dia dapat merasakan Pringadi menatapnya dengan lekat. Walaupun sorot matanya lembut, tapi dia tetap merasakan bulu kuduknya meremang saat menatap balik pria itu.

Ditemani rintik hujan dan hidangan hangat, Pringadi mulai bercerita.

“Saya paham kalau Mas dan Mbak semua pasti terkejut melihat hujan berwarna merah ini. Nyatanya ini memang bukan pemandangan yang biasa dilihat oleh orang luar. Kalian semua mencium aroma besi yang tercium sepanjang perjalanan ke sini, kan? Aroma besi itu memang sudah mengendap di tanah desa kami. Asalnya dari kawah Laduwesi di atas sana. Konon bebatuan dan laharnya banyak mengandung partikel besi,” jelasnya.

“Serbuk besi yang banyak berada di sekitar kawah gunung terbang bersama dengan abu yang dimuntahkan dari kawah Laduwesi. Partikel besi itu tersangkut dan terkumpul di awan, hingga akhirnya turun kembali bersama dengan air hujan. Itulah kenapa air hujan menjadi asam, berwarna merah, dan berbau besi. Itu juga sebabnya jika terkena lama-lama bisa membuat kulit melepuh,”

“Loh, kalau begitu seharusnya penduduk desa menghindarinya, kan? bukannya malah mandi hujan seperti itu,” tanya Rendy.

“Begini, Mas Rendy. Karena tanah desa kami mengandung partikel besi yang tinggi, hanya sedikit jenis tanaman kebun dan sayuran yang bisa tumbuh di sini. Kalaupun ada, ukurannya buahnya kecil, dan sudah tentu dengan kandungan besi yang tinggi sekali.”

Pringadi mengambil jeda untuk minum, kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Kami sudah turun temurun makan hasil bumi seperti itu. Seiring dengan berjalannya waktu, sepertinya tubuh kami semua beradaptasi, dan tubuh kami perlu asupan zat besi yang lebih tinggi dari orang lain. Maka setiap kali hujan merah turun, semua penduduk memanfaatkannya untuk mendapatkan asupan zat besi untuk tubuh mereka.”

“Hmm, ini kasus yang menarik sekali, loh, selama ini belum pernah ada yang meneliti, mas?” tanya Yanti dengan mata berbinar.

Astri menoleh ke arah Yanti. Dia membaca ada yang berbeda dari gelagat perempuan itu.

“Sayangnya belum ada. Saya sebenarnya senang sekali jika ada yang berniat melakukan kunjungan atau penelitian ke desa ini. Kapan ya ada orang kota terakhir berkunjung ke desa kita, Mas Mo? Sepertinya dari kecamatan atau kabupaten saja sudah lama sekali.” jawab Pringadi.

“Kalau tidak salah empat atau lima tahun yang lalu, Den. Apa itu, ya? Oh, pendataan penduduk,” jawab Kusumo sambil mengusap-usap janggut putihnya.

“Kenyataannya, desa sekitar dan kabupaten jarang memperhatikan kami. Bahkan mungkin malah sengaja mengabaikan,” Pringadi tersenyum kecut.

“Loh, kenapa? Sepulang dari sini nanti saya akan promosi soal desa ini ke teman-teman saya, deh, agar desa ini bisa jadi obyek wisata yang diperhatikan,” ujar Yanti berapi-api.

“Mungkin mereka takut karena adanya fenomena hujan merah ini,” tebak Rendy.

“Betul. Mereka bilang desa kami dikutuk,” sambar Kusumo sambil mengambil sepotong ubi yang asapnya masih mengepul.

Kusumo kemudian menceritakan kepada Pringadi perihal rekan-rekan Rendy yang seharusnya tiba di desa ini untuk memantau aktivitas Gunung Laduwesi.

“Apa mereka tersesat ya, Mas Mo? Coba besok kita suruh beberapa orang cari di hutan sekitar sini,” perintah Pringadi.

“Siap, Den,” jawabnya lugas.

“Kalau begitu kalian bertiga sebaiknya istirahat saja dulu sambil menunggu teman-teman Mas Rendy. Kamar untuk kalian sedang dibersihkan. Saya masih ada pekerjaan lain, jadi saya permisi dulu,” ujar Pringadi sambil berdiri. Setelah bersalaman, dia masuk ke dalam rumah, meninggalkan mereka bertiga dengan Kusumo.

Tak lama kemudian terlihat ada dua orang perempuan tua berjalan keluar dari dalam rumah. Mereka membawa dua plastik hitam besar.

“Sepertinya kamar untuk kalian sudah selesai disiapkan,” ujar Kusumo.

Masih ditemani Kusumo, mereka masuk ke dalam rumah Pringadi. Bau dupa yang tajam segera tercium, mengalahkan bau besi yang berasal dari luar. di Luar dugaan, ternyata bagian dalam rumah itu cukup luas, walau terkesan seram dan gelap. Kepala desa sepertinya memiliki hobi berburu, karena di bagian ruang tamu ada banyak sekali kepala binatang yang diawetkan. Di situ juga ada sebuah lukisan besar yang menampilkan sosok Pringadi.

Yanti berhenti di depan lukisan itu. Dia mencolek-colek pinggang Astri.

“Tri, sepertinya Mas Pringadi belum nikah kan, ya?”

“Hah?” tanya Astri kebingungan.

“Dia berwibawa banget, ganteng pula. Masih seumuran kita padahal.”

Astri tidak menjawab, dia malah mengerutkan kening ketika melihat lukisan itu. Dia ingin mendekat, tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat Kusumo sedang memperhatikan gerak-geriknya.

Kusumo membawa mereka melewati sebuah lorong yang mengarah ke bagian belakang rumah. di sana ada dua ruangan yang pintunya terbuka.

“Silakan mas dan mbak beristirahat di sini. Besok pagi-pagi kita berangkat. Kalau ada apa-apa, saya tidur di ruangan sebelah sana,” jelasnya sambil menunjuk ke sebuah ruangan di dekat pintu keluar.

Astri dan Yanti masuk ke dalam sebuah kamar berukuran sedang. Tidak ada banyak barang di kamar itu, selain dua buah dipan dan sebuah lemari kayu kecil. Astri membuka lemari, kemudian meletakkan ranselnya di dalam situ.

“Ranselmu mau disimpan di sini juga, mbak?” tanyanya sambil menoleh. Tapi Yanti tidak menjawab, wajahnya terlihat menatap kosong ke arah dinding.

“Mbak Yanti!” ulangnya dengan suara agak kencang.

“Eh? Ya? Kenapa?” jawab Yanti setengah terkejut.

Astri menghampiri kemudian duduk di sebelahnya. “Kamu nggak apa-apa?”

Yanti menggeleng pelan. “Mungkin saya kelewat capek. Oh iya, harusnya kamu tadi cerita ke Mas Pringadi soal kakak kamu yang hilang di desa ini. Dia pasti bisa bantu,” lanjutnya sambil merebahkan diri di dipan.

“Belum tentu kakak hilang di desa ini. Bisa jadi kejadiannya seperti rombongan teman-teman Rendy, tersesat di hutan,” kilah Astri.

“Kalau gitu lebih baik kita tidur dulu, Tri. Besok pagi kita coba cari petunjuk lagi. Kalau kamu nggak enak mau bertanya ke Mas Pringadi, biar saya aja yang wakilkan,” ujar Yanti semabil tersenyum nakal.

“Ih, kenapa sih kamu, mbak,” protes Astri. Walaupun dia baru mengenal Yanti hari ini. Tapi dia merasa sikap perempuan itu jadi aneh sekali setelah bertemu dengan Pringadi.

Astri beranjak dari dipan. Dia berniat untuk menutup jendela agar tidak ada serangga atau apapun masuk ke dalam kamar saat mereka sedang tidur.

Ketika tangannya meraih daun jendela, Astri melihat sebuah bayangan samar-samar terlihat di bawah pepohonan di seberang sana. Astri memicingkan mata, bayangan itu bergerak-gerak pelan, meliuk-liuk, seperti seekor ular berukuran besar. Makhluk itu merayap hingga akhirnya menghilang dibalik pepohonan.

Astri menelan ludah, kemudian cepat-cepat menutup jendela.

“Kenapa, Tri?” tanya Yanti.

“Saya baru aja ngelihat ular besar sekali,” jawabnya.

“Nggak aneh, kita kan di tengah gunung,” ujar Yanti setengah tertidur.

Astri mengangguk pelan. Dia sengaja tidak memberitahukan kepada Yanti bahwa ular yang dilihatnya tadi bergerak melata dengan beberapa pasang kaki manusia.

***

[1] baju jas pendek, berleher tinggi, berlengan panjang, berkancing di atas dan di sisi sebelah kiri

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x