Mimpi tentang kakaknya selalu dimulai dengan pemandangan yang sama. Gunung Vesuvius meletus; menggelegar, melahap seluruh penduduk kota Pompeii. Sementara dia dan kakaknya melayang di angkasa, memerhatikan semua itu dari kejauhan. Teriakan putus asa dan rintih kesakitan memekakan telinganya. Udara terasa pengap dan panas. Langit di atasnya merah, dan daratan di bawah membara. Pada titik ini kakaknya akan menoleh dan tersenyum.

Semua hal yang diberikan bisa diambil lagi, ingat itu, bisik kakaknya lirih.

Biasanya mimpinya akan berakhir di situ. Tapi kali ini tidak, Astri bisa merasakan bau mayat-mayat yang terbakar, serta bangunan-bangunan dan bebatuan yang meleleh. Dia bisa mencium dengan jelas,

bau amis darah dan besi memenuhi udara …

Astri seketika terbangun. Napasnya memburu, peluh membasahi kening dan lehernya. Sambil menenangkan diri dia mengecek jam tangan, ternyata masih pukul empat pagi. Diliriknya Yanti yang masih lelap tertidur, dia sebenarnya ingin membangunkan Yanti, tapi dia khawatir Yanti masih kelelahan akibat perjalanan kemarin.

Dia merasa sesuatu yang amat ganjil sedang terjadi. Astri bertekad jika hari ini dia tidak mendapat informasi apapun tentang keberadaan kakaknya, dia harus angkat kaki dari tempat ini secepatnya.

Karena pakaiannya terasa lengket, Astri turun dari dipan untuk berganti pakaian. Ketika sedang membuka ransel, dia mendengar suara gemerisik dari luar jendela. Pelan-pelan dia berdiri dan mengintip ke luar. Samar-samar dia melihat dua sosok pria sedang berdiri di kejauhan.

Awalnya dia tidak yakin siapa kedua orang pria itu, tapi lama kelamaan dia bisa melihat wajah mereka. Kedua orang itu adalah Kusumo dan Wawan. Wawan memikul sebuah karung besar di punggungnya. Astri tidak bisa mendengar apa yang kedua orang itu bicarakan. Yang jelas sepertinya Kusumo sedang memarahi Wawan. Tak lama berselang Wawan terseok-seok pergi sambil memanggul karung, Kusumo juga menghilang entah kemana.

Selesai mengganti pakaian gadis itu memutuskan untuk keluar dari kamar. Jika dia ingin menyelidiki keberadaan kakaknya dengan cepat, dia tidak bisa terus-menerus berdiam diri dan menunggu sesuatu terjadi. Dia harus lebih proaktif dalam mencari informasi.

Astri berjalan menyusuri lorong hingga tiba di bagian depan rumah, di tempat lukisan diri Pringadi terpasang. Tak disangka, dia bertemu dengan Rendy di sana. Rendy sedang duduk di sebuah kursi kayu.

“Loh, udah bangun, Mas?” tanyanya sambil ikut duduk.

Rendy tidak segera menjawab. Dia hanya menatap Astri selama beberapa detik. Dari gerak tubuh dan ekspresi wajahnya, pria itu terlihat gelisah.

“Belum ada kabar juga dari teman-teman saya,” ujarnya kemudian.

“Mas Rendy nunggu semalaman di sini?”

Rendy menggeleng. “Enggak, kok. Saya kebangun beberapa jam yang lalu dan enggak bisa tidur lagi. Waktu saya jalan ke toilet, samar-samar saya ngeliat dari jendela ada ular besar lewat di seberang jalan sana. Saya jadi makin khawatir sama keadaan teman-teman saya di luar sana.”

Astri terkesiap, berarti yang dia lihat bukan hanya sekadar halusinasi. Dia jadi berandai-andai apakah Rendy juga melihat ada tangan dan kaki menjuntai dari tubuh ular itu.

“Kamu nggak kelihatan kaget. Jangan-jangan kamu juga lihat?” tanya Rendy.

“Ya, saya juga lihat. Mas lihat keanehan di ular itu nggak?”

“Keanehan gimana?”

Belum sempat Astri menjelaskan apa yang dilihatnya tadi malam, pintu depan rumah terbuka. Pringadi dan Kusumo melangkah masuk. Kedua orang itu tampak terkejut melihat Astri dan Rendy.

“Loh, sedang apa kalian?” tanya Kusumo.

“Apa ada kabar soal teman-teman saya, Mas?” Potong Rendy.

Kusumo dan Pringadi bertukar pandangan, kemudian menggeleng bersamaan. “Kalau ada tamu yang datang, warga pasti sudah mengarahkannya ke rumah ini. Tapi sejak semalam tidak ada kabar apa-apa. Nanti setelah sarapan kita bisa coba menyisir hutan untuk mencari mereka, Mas jangan terlalu khawatir,” jelas Pringadi sambil menenangkan Rendy.

“Anu … apa sebelum teman-teman Mas Rendy, pernah ada kasus orang hilang juga di desa ini?” Astri akhirnya memberanikan diri untuk bertanya tentang kakaknya.

“Tentu saja pernah. Tapi bukan terjadi pada tamu dan pendatang seperti kalian. Biasanya ada saja satu-dua penduduk yang hilang karena tersesat di hutan, atau terjatuh di jurang.” jawab Kusumo.

Pringadi kemudian duduk di dekat Astri, sementara Kusumo duduk di sebelah Rendy. Kedua pria itu kembali bertukar pandangan.

“Memangnya kenapa, Mbak Astri?” tanya Pringadi sambil menatap Astri dengan lekat, membuatnya sedikit tidak nyaman.

Astri menghela napas, kemudian dia mulai bercerita.

“Sebenarnya tujuan saya datang ke sini adalah untuk mencari kakak saya, Winda. Dia hilang tiga tahun yang lalu. Waktu itu kakak saya pamit untuk pergi kuliah, tapi nggak pernah pulang lagi ke rumah. Kami sudah mencari kemana-mana. Kami juga sudah meminta bantuan kepada polisi, detektif, sampai dukun, tapi Kakak nggak pernah diketahui keberadaannya sama sekali.”

“Hmm, lalu apa hubungannya dengan desa Getihwesi? Apa ada petunjuk kalau dia pergi ke sini?” tanya Pringadi.

Astri terdiam selama beberapa detik. Jemarinya meremas tangan kursi dengan erat. “Entahlah,” ujarnya. “Mungkin ini hanya firasat saja. Tapi beberapa hari yang lalu saya menemukan potongan artikel terselip di laci meja belajar Winda. Artikel itu dari koran tiga tahun yang lalu, tentang aktivitas vulkanik di gunung Laduwesi.”

“Jadi hanya karena secuil potongan artikel itu kamu menebak bahwa kakakmu hilang di desa ini?” ujar Kusumo.

“Bapak enggak usah defensif begitu. Saya enggak menebak atau menuduh apa-apa. Saat ini saya dan keluarga sudah putus asa, petunjuk sekecil apapun rasanya perlu saya telusuri. Makanya sebelum bertanya pada siapa-siapa, saya mencoba mencari informasi sebanyak mungkin, agar tidak ada salah paham,” jelas Astri dengan nada ketus.

“Mas Kusumo tidak ada maksud untuk lancang, mohon dimaafkan ya, mbak,” ujar Pringadi menengahi. “Tapi yang dia katakan sebelumnya memang benar, kok. Tak pernah ada kasus orang luar yang hilang pada saat berkunjung ke desa kami.”

“Wah, kok ngumpul enggak ngaja-ngajak, sih,” tiba-tiba terdengar celetukan suara dari arah belakang. Astri menoleh, rupanya Yanti sudah bangun. Gadis itu masih mengenakan daster dengan potongan yang agak seronok. Tanpa permisi Yanti mengambil posisi duduk di antara Astri dan Pringadi.

“Mas Pringadi jam segini kok udah bangun?” tanya Yanti sambil menoleh dan tersenyum ke arah Pringadi.

“Musim hujan merah seperti ini, saya lebih sibuk dari biasanya. Karena harus bolak-balik mengecek kondisi kawah Laduwesi. Kami juga harus membuat upacara dan merapalkan doa untuk memohon agar gunung tidak meletus,” jawab Pringadi tanpa menoleh ke arah Yanti.

“Wah, bolehkah kami lihat upacaranya?” tanya Yanti. Kali ini sambil merapatkan posisi duduknya ke arah Pringadi.

“Maaf, mbak, tapi orang luar dilarang untuk melihat dan mengikuti ritual kami,” jawab Pringadi. Setelah itu Pringadi cepat-cepat berdiri dan berjalan menjauh. “Saya permisi dulu ya, Mas dan Mbak, masih ada yang harus saya kerjakan. Yuk, Mas Mo.”

Setelah mengatakan itu, Pringadi dan Kusumo berajalan masuk ke salah satu ruangan. Yanti tiba-tiba memasang wajah masam. Astri dan Rendy bertukar pandangan, keheranan.

Tiba-tiba Rendy berdehem, kemudian berbicara. “Omong-omong soal ritual, penduduk desa ini sepertinya masih menganut paham animisme. Menarik juga kalau-“

“Kok kamu ngobrol-ngobrol sama Mas Pringadi enggak ngajak aku sih, Tri?” potong Yanti sambil mendelik sebal ke arah Astri.

“Loh, Mbak Yanti kan tidur, masa saya bangunin. Lagian saya enggak ada niatan buat ngobrol sama dia, kok. Kebetulan aja tadi ketemu, iya kan Mas Rendy?” sanggah Astri. Rendy mengiyakan dengan anggunkan singkat.

“Jangan macem-macem, ya, kamu, awas!” ancam Yanti. Dia kemudian berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Astri dan Rendy. Astri dan Rendy kembali bertukar pandangan. Astri menebak bahwa Rendy mulai menyadari ada yang aneh dengan sikap Yanti semenjak tiba di desa ini.

*

Astri tidak ingin kembali lagi ke kamar, dia malas jika harus langsung bertemu lagi dengan Yanti. Jadi Astri berjalan-jalan di sekitar rumah Pringadi, menungu waktu sarapan tiba. Rendy pada mulanya menemani Astri berjalan-jalan, sekaligus untuk mendinginkan kepala, katanya. Tapi baru beberapa saat, Rendy berbalik arah dan mengatakan bahwa dia igin bersiap-siap dulu sebelum berangkat mencari teman-temannya, jadilah Astri berjalan-jalan sendirian.

Tak terasa rupanya Astri berjalan cukup jauh, karena dia bisa melihat gapura desa berdiri tak jauh dari tempatnya berada sekarang. Astri berhenti berjalan. Dia menatap kosong ke arah gapura desa, dan gunung Laduwesi yang terlihat berdiri dengan sangat pongah.

Tiba-tiba dia merasa bulu kuduknya meremang. Astri sontak melihat ke sekelilingnya. Ada seseorang atau sesuatu sedang memperhatikan gerak-geriknya.

Tapi belum sempat di membuktikan kecurigaannya, dia mendengar namanya disebut dari kejauhan. Astri menoleh, Rendy melambaikan tangan, memberitahukan bahwa sarapan sudah siap. Seketika itu juga perasaan diawasi menghilang.

Sama seperti kemarin, makanan disajikan di tepas rumah. Menu sarapan yang disajikan juga mirip dengan menu cemilan sore kemarin, yaitu umbi-umbian beserta sayuran segar.

Seolah menangkap rasa heran Astri, sambil makan Kusumo bercerita bahwa di desa itu nasi adalah makanan langka, karena tidak tumbuh dengan subur di ladang-ladang yang mereka miliki. Pringadi menambahkan bahwa mereka pernah beberapa kali mencoba membeli beras dari desa dan kota sekitar, tapi rasa dari nasi rupanya tidak cocok dengan lidah mereka.

“Mungkin ini ada hubungannya dengan kandungan besi dari makanan yang berasal dari luar desa ini. Bagi penduduk sini mungkin kadarnya terlalu rendah,” tebak Rendy sambil mengunyah ubi rebus.

Ketika mereka tengah menikmati sarapan, satu-persatu penduduk desa bermunculan. Pringadi langsung mengajak mereka ikut sarapan. Sebagian ikut duduk dan menyantap makanan yang terhidang, sementara sebagian lainnya yang mengaku sudah sarapan di rumah duduk menunggu sambil mengobrol satu sama lain.

Penduduk dibagi menjadi tiga kelompok. Jika ditambah dengan Astri, Yanti, dan Rendy, total ada lima belas orang yang menjadi tim pencari. Kusumo memberikan arahan dan area pencarian kepada masing-masing kelompok. Sebelum berangkat, Pringadi memberikan wejangan agar jangan sampai terpisah-pisah, karena khawatir malah akan menambah daftar orang hilang.

Astri sebenarnya ingin minta bertukar kelompok, karena dia kebetulan satu kelompok dengan Yanti. Sebenarnya dia tidak ingin membesar-besarkan masalahnya dengan Yanti. Hanya saja, dia bisa merasakan sedari tadi Yanti terus-menerus menatapnya dengan bengis. Membuatnya tidak nyaman.

Kelompok Astri ditugaskan untuk melakukan pencarian di sekitar lereng Laduwesi. Selain Astri dan Yanti, ketiga orang lainnya adalah laki-laki. Ada Sucipto dan Parmin yang merupakan ayah dan anak, serta Yatmo, yang ditugaskan oleh Kusumo sebagai ketua kelompok.

Yatmo dan Sucipto berjalan di depan. Keduanya membawa parang, dan bertugas membuka jalur. sementara Parmin yang tampak masih cukup muda berada paling belakang, memastikan tidak ada yang terpisah jalan.

Seandainya saja Yanti tidak sedang marah kepadanya, pencarian ini akan jauh lebih menyenangkan. Astri beberapa kali mencoba untuk mengobrol dengan Yanti, tapi gadis itu tidak menggubrisnya. Yanti terus menerus cemberut dan bermuka masam, jadi Astri menyerah, dan memutuskan untuk fokus mencari teman-teman Rendy.

*

Entah sudah berapa jam mereka berjalan. Astri mulai jengah dengan pemandangan pohon dan ilalang. Seiring dengan matahari yang semakin meninggi, semangatnya kian memudar. Tubuhnya terasa gerah dan lelah.

Sejauh ini, pencarian mereka tidak menghasilkan apapun. Berteriak sesering dan sekeras apapun, hanya terdengar gema sebagai jawaban. Astri sungguh-sungguh berharap kelompok lain segera menemukan sesuatu, agar dia bisa segera kembali ke desa.

Astri menoleh ke belakang, sudah beberapa lama Yanti tak terdengar suaranya. Astri memperhatikan wajah Yanti yang semakin berubah menjadi pucat. Pandangan matanyapun berubah menjadi semakin nanar.

“Pak, Yanti sepertinya kelelahan, bisa kita berhenti sebentar?” celetuk Astri.

“Urus urusanmu sendiri, Astri!” gertak Yanti.

Yatmo dan Sucipto bertukar pandangan. Mereka terlihat ragu-ragu.

“Ya udahlah, toh saya juga kebelet pipis. Kita berhenti saja dulu.” ujar Yanti tanpa malu-malu.

Mereka kemudian berhenti berjalan dan duduk di bawah sebuah pohon pinus besar. Astri mengipas-ngipas wajahnya dengan selembar kain, sementara Sucipto dan Yatmo duduk di atas dedaunan, merokok. Yanti pergi ke semak belukar yang jaraknya tak terlalu jauh dari sana. Tak berapa lama kemudian, Parmin yang sebelumnya berdiri di dekat batang pohon, ikut menghilang.

Astri memperhatikan kepergian Parmin dengan sedikit rasa curiga, karena Sucipto dan Yatmo jelas-jelas melihat kepergian Parmin, tapi keduanya tidak berkomentar sedikitpun. Bertanyapun tidak.

Tak berapa lama Astri merasakan bahwa kedua pria itu beberapa kali melirik ke arahnya.

Astri menelan ludah. Matanya awas memperhatikan sebuah parang yang berada di dekat Yatmo. Ke mana parang satu lagi? pikir Astri. Lalu dia ingat bahwa sepertinya satu parang lagi dibawa oleh Parmin.

Tiba-tiba terdengar suara erangan dari kejauhan. Astri sontak berdiri. Begitu pula kedua pria di hadapannya. Mereka bertiga berdiri terpaku, saling menatap.

Kedua pria itu tiba-tiba menyeringai. Kemudian mereka berlari menerjang ke arah Astri.

Astri langsung melempar sebongkah besar batu yang dia pungut dari tanah. Batu meluncur dengan cepat, dan tepat mengenai wajah Yatmo, membuatnya mengaduh dan jatuh terjengkang.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Astri segera berteriak memanggil nama Yanti, sambil tergesa-gesa berlari ke arah Yanti. Astri berlari menembus semak belukar tinggi. Langkahnya tertatih-tatih karena kakinya seringkali tersangkut ilalang. Dia dapat merasakan kedua orang tadi mengejarnya dengan cepat.

Astri berjongkok, kemudian merangkak di dalam lindungan semak belukar. Sekali lagi terdengar suara erangan itu lagi, kali ini makin keras. Anehnya suara erangan itu seperti berasal dari pria, bukan suara wanita.

Astri mempercepat langkahnya, hingga dia berhasil menembus semak-semak.

Alangkah terkejutnya dia, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Yanti. Yanti berdiri kaku, tubuhnya bersimbah darah. Astri semakin terkejut ketika melihat di hadapan Yanti, Parmin sedang berguling sambil meronta-ronta.

Ada dua buah lengan tergeletak tak jauh dari tempat Parmin berguling.

Yanti menoleh ke arah Astri sambil menyeringai. Parang yang dia genggam tampak bersinar kemerahan diterpa cahaya matahari.

bau amis darah dan besi memenuhi udara …

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x