Yanti tak habis pikir. Setelah segala hal dia lakukan untuk melupakan sejenak masalah hidupnya, dia malah harus berurusan dengan Astri.

Tak digubrisnya Parmin yang menggeliat-geliat di tanah sambil mengerang kesakitan. Dia juga tak peduli dengan dua pria lainnya yang sedang berdiri terpaku di dekat semak belukar. Kedua matanya tajam menatap Astri, tanpa berkedip.

Dia bisa merasakan tiap tetes darah Parmin yang menempel di wajah, pakaian, tangan, serta parang yang digenggamnya. Tiap bulir darah yang menetes ke tanah membuat dadanya semakin panas, semakin bersemangat.

Tiap detik yang berlalu terasa sangat lama. Tak ada seorangpun yang bergerak. Mereka semua menyadari bahwa salah langkah sedikit saja bisa membuat nyawa mereka terancam.

Napas Yanti kian memburu.

Harus ada yang mulai bergerak, pikir Yanti. Jika Astri tak mau, berarti aku …

Sayangnya, baru sesenti dia menggerakan parang, Astri sudah berbalik dan lari ke dalam semak-semak. Yanti segera berlari mengejarnya.

*

Selama dua tahun terakhir, pikiran Yanti disesaki oleh nama Martin, kakak tingkat sekaligus Wakil Ketua kelompok Pecinta Alam di kampusnya. Martin yang tampan. Martin yang berwibawa. Martin yang bermata sendu. Martin yang memiliki perut ramping. Martin yang tinggal di Rumah Kost Dharma Bakti, Blok A Lantai dua, kamar nomor 205. Martin yang selalu bangun antara jam lima hingga lima lewat lima belas. Martin yang selama seminggu terakhir selalu mandi dengan mengenakan handuk biru di kamar mandi paling ujung. Martin yang pernah mendapat nilai lima pada mata pelajaran Biologi saat ujian semester satu kelas lima SD.

Yanti tergila-gila pada lelaki itu, tapi dia tak pernah cukup berani untuk mengutarakan perasaannya. Walaupun begitu, saat ada perempuan binal bernama Cindy tiba-tiba mendekati Martin, Yanti tak terima. Dia murka, sampai-sampai dia menghabiskan dua jam jatah tidurnya setiap hari untuk menuliskan cacian dan makian yang bisa dia pikirkan ke dalam secarik surat, lalu mengirimkannya ke rumah Si Jalang Cindy.

Sebenarnya bukan perkara sulit untuk menyingkirkan Cindy, dia punya beberapa ide. Tapi Yanti tak bisa. Selama Martin masih terlihat bahagia bersama dengan wanita itu, dia tak bisa melakukannya. Mungkin nanti, setelah Martin bosan atau mulai menjauh, dia bisa menyingkirkan Cindy, untuk selamanya.

Karena merasa muak melihat kebersamaan Martin dan Cindy, Yanti memutuskan untuk pergi menenangkan diri. Yanti tidak peduli bahwa Gunung Laduwesi saat ini konon sedang aktif. Dia tidak peduli dengan desas-desus miring tentang desa Getihwesi. Dia juga tidak peduli bahwa pada akhirnya ternyata dia harus melakukan survei sendirian.

Berbekal ransel dan ucapan hati-hati di jalan dari Martin, Yanti pergi.

Untuk pergi ke kaki gunung Laduwesi, dia harus dua kali berganti bus AKAP, disusul dengan dua kali berganti mobil Angkot. Di Angkot kedua itulah dia bertemu dengan Rendy. Saat mengetahui bahwa mereka ternyata memiliki tujuan yang sama, keduanya langsung menjadi akrab.

Sesampainya di kaki gunung, mereka bertemu dengan seorang wanita yang sedang berdiri tercenung sambil memegangi selembar peta.

Wanita itu menoleh ke arahnya. Bukannya senang, seketika darah di seluruh tubuh Yanti seakan mendidih. Wanita di hadapannya-yang bernama Astri, memiliki wajah yang sangat mirip dengan Cindy.

*

Sepanjang pendakian gunung, Yanti terus menahan diri. Dia masih cukup waras untuk menyadari bahwa Astri bukanlah Cindy. Meskipun wajah keduanya serupa, tapi sifat mereka berbeda 180 derajat. Astri pendiam, sementara Cindy centil. Astri bersuara lembut, sementara Cindy cempreng.

Kesimpulan sementara; Astri oke, Cindy tidak, pikirnya.

Astri kemudian bercerita bahwa dia sedang mencari petunjuk keberadaan kakaknya yang menghilang tiga tahun lalu, dia merasa bahwa peristiwa itu ada hubungannya dengan gunung Laduwesi. Yanti hanya mengangguk-angguk, dia tak cukup dekat dengan Astri untuk peduli dengan cerita dan masalah hidupnya.

Setiap kali melihat wajah Astri, Yanti selalu teringat dengan Cindy, membuat suasana hatinya semakin jelek. Untuk mengalihkan pikiran itu, dia terpaksa kembali memenuhi kepalanya dengan fantasi tentang Martin.

Ketika mereka akhirnya tiba di desa Getihwesi, bertemu Wawan si sinting, dan Kusumo si tua bangka, kepalanya masih dipenuhi Martin.

Hingga akhirnya dia bertemu dengan Mas Pringadi. Yanti tak bisa bernapas, jantungnya seakan berhenti berdetak. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, kepalanya kosong sama sekali.

Martin pergi, Pringadi datang.

Sayangnya kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Astri adalah biang keladinya. Pringadi terlihat lebih memerhatikan Astri daripada dirinya. Kesimpulan yang dia ambil tentang Astri rupanya salah. Astri dan Cindy sama-sama tidak oke. Sama-sama wanita jalang penggoda lelaki.

Kekesalannya kian memuncak setelah dia memergoki mereka bedua mengobrol di ruang tamu. Astri sengaja tak mengajaknya. Si jalang itu memang ingin main curang, mencuri-curi waktu untuk bisa mengobrol dengan Pringadinya.

Tapi kali ini Yanti tidak berniat untuk kalah. Dia sudah mengalah dari Cindy, maka dia akan mati-matian berusaha mengalahkan Astri. Dia harus bisa mendapatkan perhatian Pringadi, apapun caranya. Jika ini berarti Astri harus mati, ya biarlah terjadi.

Saat sarapan pagi, Yanti segera menghampiri Kusumo. Dia ingin punya waktu berdua saja dengan Astri, jadi dia berusaha untuk ikut campur dalam pembagian regu. Selain itu, dia juga mencoba menggali sebanyak mungkin informasi tentang Pringadi.

Sesuai dugaannya, Pringadi memang belum menikah. Menurut Kusumo, Pringadi hanya boleh menikah dengan gadis yang memiliki darah penduduk Getihwesi, sebagai bagian dari tradisi mempertahankan kemurnian garis keturunan leluhurnya.

“Pasti banyak gadis di desa ini yang mau dengan Mas Pringadi dong kalau begitu?” tanya Yanti.

“Banyak. Hanya saja Den Pringadi selalu menghindar. Tak ada satupun yang sreg di hatinya,” jawab Kusumo sambil terkekeh.

“Kalau saja mbak Yanti punya darah penduduk Getihwesi, mungkin Den Pringadi mau menikah,” katanya lagi sambil mengedipkan mata, kemudian berlalu pergi.

Punya darah penduduk Getihwesi

Punya darah penduduk Getihwesi

Kalimat itu terus berulang di dalam kepalanya. Kusumo memberikan petunjuk kepadanya, dia yakin. Dia harus mencari tahu apa maksud dari kalimat itu. Tapi itu bisa dia lakukan nanti, setelah dia menghabisi Astri.

*

Rupanya tak mudah berlari dengan membawa sebilah parang. Lengannya kebas akibat menyabet putus kedua tangan Parmin. Napasnya masih memburu, dadanya masih terasa amat sesak. Satu-satunya hal yang membuat dia terus berlari adalah rasa bencinya terhadap Astri.

Yanti ingin mengakhiri perburuan ini dengan cepat, sayangnya Astri lebih lincah dari dirinya. Jarak di antara mereka semakin lama-semakin lebar. Astri cukup mungil untuk bisa berlari di bawah dahan-dahan pohon, sementara dia harus beberapa kali menebaskan parangnya agar bisa lewat.

Tapi Yanti tak mau menyerah begitu saja. Dia mencoba mencari rute lain untuk memotong jalan lari Astri. Dari ujung matanya dia masih bisa melihat Astri berlari tergopoh-gopoh menuju ke atas gunung. Yanti beruntung karena sebagai pendaki dia lebih memahami topografi pegunungan daripada Astri. Tak lama lagi Astri harus berhenti berlari dan mulai mendaki. Di depan sana tanah semakin curam, membentuk tebing setinggi dua-tiga meter yang cukup terjal untuk didaki.

Di sanalah Astri berdiri terpaku. Terjebak di antara Yanti dan tebing. Astri terduduk, meringkuk ketakutan.

Yanti menyeringai. Akhirnya ada hal baik yang terjadi kepada dirinya.

“Mbak, tolong, jangan … ” rintihnya. Suara pilu itu malah terdengar indah di telinga Yanti, membuatnya semakin bersemangat. Membuatnya teringat akan wanita-wanita lain yang pernah dia singkirkan.

Yanti menarik lengan Astri, memaksanya berdiri. Dia tersenyum melihat Astri ketakutan.

“Apa salahku? Kenapa?” tanya Astri. Air mata mulai menetes dari kedua matanya.

“Makanya jadi perempuan enggak usah ganjen! Gini akibatnya!” teriak Yanti penuh emosi.

“Ganjen bagaimana, Mbak? Kamu salah paham … ”

Yanti tak mau mendengar lagi. Dia mengacungkan parangnya, bersiap untuk menebas leher Astri.

Tapi tiba-tiba Yanti merasakan perih di pelipis kanannya. Gerakan tangannya terhenti. Sesuatu yang panas mengalir dari pelipisnya, jatuh membasahi sepatunya. Yanti menoleh ke bawah.

Darah … Dan bukan darah Astri maupun Parmin, melainkan darahnya sendiri, menetes dengan cukup deras.

Yanti menoleh. Dia melihat bayangan seseorang menyembul keluar dari balik pepohonan.

Brengsek …

Setelah itu pandangannya mengabur, kemudian berangsur gelap.

***

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x