Ilham.Menulis

[Fiksi] – Getihwesi (Bagian I)

“Seharusnya kita sudah dekat,” ujar Rendy. Dia menggaruk kepalanya sambil membolak-balik selembar peta lecek di udara. Astri mengangguk pasrah, dia sudah terlalu lelah untuk protes dan mengomel. Yanti yang sedari tadi duduk di atas batu juga hanya terdiam. Nafasnya terengah-engah. Kaus dan kardigan yang dia kenakan tampak basah oleh keringat.

Setelah beristirahat untuk minum selama lima menit, mereka bertiga memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar setengah jam kemudian mereka menemukan jalan setapak yang sepertinya sering digunakan oleh warga sekitar.

Seiring dengan rapatnya pepohonan hutan yang berubah menjadi ladang-ladang, di sekeliling mereka mulai tercium bebauan yang aneh.

“Ini …, bau belerang?” tanya Yanti sambil menutup hidung.

Astri menggeleng, “Ini bau besi,” ujarnya. “Lihat, kita sudah dekat,” lanjutnya sambil menunjuk ke lereng gunung berapi yang mulai terlihat di depan mereka.

“Getihwesi,” bisik Yanti sambil menelan ludah.

Semakin mereka mendekat ke arah desa itu, aroma besi semakin kuat tercium. Semakin lama Astri bisa semakin jelas melihat lanskap dan kontur desa yang berdiri di tanah miring lereng gunung berapi. Sebuah jalan setapak yang cukup besar membelah desa menjadi dua bagian. Jalan itu membentang dari gapura desa hingga terus menanjak, mungkin sampai ke puncak dan kawah gunung berapi.

“Gunung berapi itu masih aktif?” tanya Astri.

“Itu Gunung Laduwesi, seharusnya sih nggak aktif,” jawab Rendy sambil melihat ke arah kawah gunung yang jelas-jelas sedang mengeluarkan asap. Ekspresi bingung tampak tergambar jelas di wajahnya.

“Teman-temanmu mungkin sedang berada di atas sana, ya,” ujar Yanti, yang dijawab dengan anggukan oleh Rendy.

Setelah berjalan kurang lebih tiga puluh menit, mereka akhirnya tiba di dekat gapura desa. Mereka melihat seorang pria bercaping sedang sibuk memotong rumput dan mengumpulkannya dalam ikatan-ikatan besar.

Pria itu mendongkak, menyadari kehadiran mereka bertiga. Alih-alih menyapa, pria yang sepertinya masih berusia dua puluh tahunan itu malah terkejut dan mulai berteriak-teriak.

“Sedang apa kalian di sini? Pulang! Pulang! Huss!”

“Eh, selamat sore, mas,” sapa Yanti.

Pria itu tidak menggubrisnya. Dia malah mengambil batu kerikil dan mulai melemparkannya ke arah mereka bertiga. Astri dan Yanti menjerit sambil menghindar dan bersembunyi di belakang tubuh Rendy. Sementara itu Rendy yang masih terkejut hanya bisa melindungi diri dan dua orang gadis di belakangnya dengan berlindung di balik carrier besar yang dibawanya.

“Wawan! Berhenti!” teriak seseorang dari kejauhan. Seorang pria paruh baya bergegas berlari ke arah mereka.

Pria yang disebut Wawan langsung berhenti melempar kerikil. Dia terburu-buru mengumpulkan ikatan rumput dan berlari menjauh sambil tertawa cekikikan.

“Kalian tidak apa-apa?” tanya pria itu.

“Apaan sih barusan?” tanya Yanti dengan suara bergetar.

“Maaf, ya. Yang tadi itu namanya Wawan. Dia memang sedikit miring,” jelas pria itu sambil membuat tanda miring di depan dahi dengan jari telunjuknya. Dia memperkenalkan diri sebagai Kusumo, salah satu perangkat desa di Getihwesi. Kusumo kemudian membantu membersihkan carrier Rendy yang kotor akibat lemparan kerikil Wawan.

“Mas dan Mbak ini dari mana dan mau ke mana?” tanyanya setelah bersalaman dengan mereka bertiga.

“Anu, saya dari Direktorat Meteorologi dan Geofisika[1]. Teman-teman saya sudah lebih dulu datang ke sini untuk mengamati aktivitas gunung berapi di Getihwesi,” ujar Rendy.

Kusumo mengerutkan kening, kebingungan. “Belum ada tuh, rombongan lain yang datang ke sini,” ujarnya. “Masnya yakin mereka sudah duluan?”

“Loh, mereka sudah berangkat sejak kemarin, kok.” ujar Rendy dengan nada sedikit tinggi, panik.

“Apa mereka tersesat, Ren? Kita saja rasanya tadi berputar-putar terus di dalam hutan,” ujar Yanti.

“Mbak Astri dan mbak Yanti ini dari tempat yang sama juga?” tanya Kusumo sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang dan beruban.

“Oh, nggak. Kami bertiga baru bertemu hari ini. Kebetulan saja tujuan kami sama-sama mau berkunjung ke desa bapak,” jawab Yanti.

Terdengar suara gemuruh di kejauhan. Mereka kompak menengok ke atas. Langit dengan cepat berubah menjadi kelabu. Asap dari kawah gunung tampak menebal.

“Sebaiknya kita ngobrol di rumah kepala desa saja, ya. Cuacanya mulai jelek. Takutnya sebentar lagi hujan,” Kusumo kemudian menawarkan diri untuk membantu membawa ransel mereka, tapi mereka bertiga menolak.

Ketika melewati gapura desa, bau besi semakin kuat terasa. Sebagian besar rumah penduduk yang mereka lewati memasang semacam wewangian ataupun dupa di depan pintu rumah, mungkin untuk mengurangi aroma besi.

Penduduk desa ini bisa dibilang ramah. Setiap kali berpapasan, mereka selalu melemparkan senyum dan memberi salam dengan anggukan singkat.

Sambil berjalan, Yanti bercerita bahwa dia sebenarnya adalah tim survei dari kelompok pecinta alam di kampusnya. Rencananya dalam waktu dekat mereka ingin mengadakan pendakian dan kamping di wilayah sini.

“Kok sendirian? Perempuan lagi yang disuruh pergi.” Kusumo berdecak tak percaya.

“Ya saya kira nggak sejauh dan seterpencil ini lokasinya, Pak. Sebelum-sebelumnya saya memang sudah sering jadi tim survei, tapi baru kali ini rasanya sampai kepayahan. Untung ada Rendy dan Astri.” jawab Yanti sambil tertawa renyah.

“Kalau mbak Astri?” tanya Kusumo.

“Hmm, saya butuh jalan-jalan saja, Pak. Rasanya penat sekali di kota,” jawabnya dengan singkat dan datar.

Mereka berempat tiba di sebuah tepas[2] persegi yang terbuat dari bambu. Di salah satu bagian dari tepas itu, berdiri sebuah rumah yang berukuran jauh lebih besar daripada rumah lainnya. Astri menebak bahwa itu adalah rumah kepala desa yang dimaksud. Aroma lavender memenuhi seluruh bagian dari tepas, mengalahkan bau besi yang menusuk hidung mereka sepanjang jalanan tadi.

Kusumo mempersilakan mereka bertiga untuk duduk-duduk dan melepas lelah di tepas itu. Dia sendiri pamit sebentar untuk menemui kepala desa.

Setelah memastikan Kusumo pergi, Yanti mencolek lengan Astri. “Kok kamu nggak bilang terus terang tadi?”

“Belum waktunya,” bisiknya pada Yanti. Astri belum percaya sepenuhnya dengan Kusumo. Lagipula banyak hal aneh tentang desa ini yang tak dimengertinya. Termasuk asal-muasal bau besi yang tercium di mana-mana.

Tak lama berselang, terdengar tetesan hujan turun. Mendadak terdengar suara berisik. Jendela-jendela dan pintu rumah penduduk dibanting menutup dengan terburu-buru. Para penduduk yang berada di luar berlarian masuk ke rumah, meninggalkan apapun yang sedang mereka kerjakan.

“Kenapa mereka buru-buru? hujannya kan kecil,” gumam Rendy sambil melihat ke sekitarnya.

“Mungkin karena itu,” Astri menunjuk ke arah tetes hujan dari atap yang mulai menggenang di ceruk-ceruk tanah.

Rendy dan Yanti memekik tertahan.

Tetes hujan yang turun di tempat itu ternyata lebih menyerupai cairan kental berwarna merah tua. Tetesnya jatuh pelan-pelan dan besar-besar.

Astri menampung air hujan itu di tangannya. Rasanya lengket dan kental. Cairan itu tidak terjatuh dengan mudah dari telapak tangannya. Astri mendekatkan telapaknya ke hidung, bau besi yang sangat pekat tercium dari cairan itu.

***

[1] sekarang BMKG
[2] serambi depan; beranda depan

Bagikan
Exit mobile version