Beberapa hari yang lalu, saat timnya memutuskan untuk menyelidiki fenomena gunung berapi Laduwesi, salah seorang senior di kantor mendatangi kubikel Rendy. Seniornya itu adalah pria paruh baya dengan rambut dan kumis tebal yang mulai berwarna putih. Sambil mengembuskan asap rokok, senior itu berbicara pelan-pelan di dekat telinganya.

Kalian enggak usah ke sana, percuma. Hampir semua peneliti lama di sini sudah tahu soal fenomena di gunung Laduwesi, tapi mereka membiarkan saja. Penelitian kalian hanya akan menambah pertanyaan daripada jawaban. Ada banyak hal ganjil terjadi di sana, hal mistis dan di luar akal sehat, salah-salah kalian semua enggak bisa pulang.

Pria itu juga mengatakan bahwa kawah Laduwesi hanya aktif setiap selama satu minggu setiap tiga tahun sekali. Setelah ada aktivitas vulkanik kecil, gunung itu akan tertidur lagi.

Mirip seperti binatang yang sedang hibernasi, ujar seniornya itu, sambil kembali mengembuskan asap rokok.

Rendy merasa seharusnya dia tidak mengabaikan peringatan seniornya itu. Dia sempat membicarakannya dengan teman-temannya yang lain. Tapi mereka semua hanya tertawa dan mengatakan bahwa itu semua hanyalah berita bohong. Orang-orang tua itu hanya malas kerja, ujar salah seorang dari anggota timnya.

Rendy beruntung karena adiknya tiba-tiba sakit. Jadi dia harus menunda keberangkatannya selama satu hari. Jika saja dia ikut dengan rombongan timnya, mungkin saat ini dirinya ikut menghilang atau tersesat di hutan atau dimakan binatang buas, atau entah apalah yang terjadi sebenarnya dengan teman-teman timnya yang lain.

Semuanya terjadi seperti yang dikatakan oleh seniornya itu. Keanehan demi keanehan muncul satu persatu, bahkan dari sebelum dia menjejakan kaki di Getihwesi.

Dari awal pendakian, dia sudah merasa aneh karena bertemu dengan Astri dan Yanti. Menurut informasi yang dia dapat, desa itu bukan lokasi wisata, dan jarang sekali dikunjungi oleh orang luar. Namun bisa kebetulan sekali dia bertemu dengan dua orang yang berbarengan ingin berkunjung ke Getihwesi.

Hujan merah dan bau besi yang tercium sore tadi membuatnya merinding. Perilaku para penduduk desa juga sangat ganjil. Dia sebenarnya ingin langsung mengemas lagi barang-barangnya dan pulang. Tapi dia tidak bisa meninggalkan begitu saja teman-temannya yang hilang. Dia juga tidak ingin dua orang gadis yang kebetulan jadi teman perjalanannya ikut takut dan panik.

Jadi dia mencoba untuk bersikap biasa saja.

Tadi malam Rendy tidak bisa memejamkan kedua matanya. Kamar yang dia tempati terasa berbau aneh dan pengap. Sudut-sudut gelap yang tak terkena cahaya lentera tampak mencekam.

Karena tidak kunjung jatuh tidur, Rendy memutuskan untuk duduk-duduk di ruang tamu. Kira-kira menjelang tengah malam, dia mendengar suara-suara yang berasal dari luar. Dia mengintip dari tirai jendela ruang tamu.

Di luar, dia melihat penduduk desa berjalan sambil membawa obor. Mulut mereka terlihat komat-kamit, membisikkan sesuatu yang entah itu mantra atau doa. Rendy mengerutkan kening. Dia tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. yang jelas itu sepertinya bukan doa dari agama-agama yang dia kenal.

Cahaya obor terlihat membentang dari desa hingga samar-samar terlihat di puncak gunung Laduwesi. Cahaya-cahaya itu bergerak pelan-pelan menjauhi kawah, menuju ke arah desa.

Beberapa penduduk desa mulai berkumpul di satu titik, membentuk lingkaran yang semakin lama semakin terlihat membesar, seiring dengan semakin banyaknya penduduk yang berkumpul. Rendy menelan ludah. jantungnya mulai berdegup kencang, tapi dia tidak bisa berhenti melihat semua pemandangan itu.

Dia tidak bsia melihat dengan jelas bagian tengah dari lingkaran itu, tapi sepertinya ada api unggun, karena ada cahaya terang terlihat dari bagian tengah. Tak lama kemudian mereka semua duduk, hanya menyisakan Kusumo yang berdiri di tengah-tengah lingkaran.

Pria tua itu berputar-putar mengelilingi api unggun dengan kedua tangan terangkat. Beberapa menit kemudian terasa sebuah getaran kecil. Langit di sekitar kawah Laduwesi terlihat berwarna kemerahan.

Kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Rendy tidak bisa memastikan apa yang dilihatnya adalah nyata. Bisa saja pada malam tadi dia begitu kelelahan dan mengantuk, sehingga membayangkan hal yang bukan-bukan. Bisa jadi dia sedang bermimpi buruk.

Yang terjadi adalah, Rendy melihat segaris api meluncur turun dari atas kawah Laduwesi. Garis api itu meliuk-liuk di udara. Semakin lama terlihat semakin membesar, hingga akhirnya meluncur turun ke tengah-tengah api unggun. Ketika garis api itu menyatu dengan api unggun, serempak seluruh warga bersujud.

Terdengar samar suara geraman. Api unggun terlihat semakin membesar. Kusumo mundur beberapa langkah, begitupula seluruh penduduk desa yang bersujud, mereka bergerak mundur sambil terus bersimpuh dan menundukkan kepala.

Bara api mulai berlompatan dari dalam api unggun. Perlahan, ada sesuatu merangkak keluar dari dalam api itu. Sesosok wajah bertaring, kemudian sepasang tangan dengan jemari runcing.

Bratalaha … Bratalaha …

Terdengar gumaman dari para penduduk desa. Pelan, namun terdengar jelas di dalam kepalanya. Rendy menahan napas. Dia pasti benar-benar sedang bermimpi.

Makhluk itu menggeliat. Setelah kedua lengannya terbebas, tubuhnya perlahan terlihat. Ramping, bersisik, sangat panjang. Makhluk itu terus menggeliat-geliat, hingga ekor dan kedua kakinya keluar dari tengah api unggun. Setelah sepenuhnya keluar, Rendy menyadari bahwa makhluk itu memiliki wajah, sepasang lengan dan kaki manusia, namun bertubuh sangat panjang seperti ular.

Bratalaha … Bratalaha …

Beberapa penduduk mencoba menghampiri makhluk itu. Tanpa tedeng aling-aling, kedua lengan panjang makhluk itu bergerak, menangkap dua orang warga dalam satu gerakan. Terdengar teriakan-teriakan panik. Kusumo mencoba untuk mendekat dan berbicara dengan makhluk itu, sementara penduduk lain lari berhamburan.

Mulut makhluk itu membuka, menampakkan sederet gigi tajam dan sebentuk lubang raksasa. Sedetik kemudian, kepala kedua orang yang digenggamnya menghilang, digantikan dengan semburan darah dari leher dan tubuh yang menggelepar.

Setelah itu semuanya menjadi gelap. Rendy kehilangan kesadaran.

*

Rendy terbangun. Dia sedang berada di ruang tamu, tertidur dengan posisi duduk di kursi.

Teringat kejadian tadi, Rendy segera berdiri dan mngintip ke luar rumah. Tapi tak ada apapun di luar sana. Tak ada penduduk desa yang berkumpul, tak ada bekas-bekas api unggun, tak ada mayat tanpa kepala, tak ada bekas darah yang berceceran, juga tak ada makhluk mengerikan berwajah manusia dan berbadan ular.

Rendy kembali ke kursinya. Duduk sambil merenungkan mimpinya barusan. Semuanya terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Rendy mengatur napas, berusaha untuk tetap tenang. Hari ini dia harus bisa menemukan teman-temannya, kemudian pergi dari tempat terkutuk ini.

Tiba-tiba dari arah lorong, dia melihat Astri berjalan menghampirinya.

Rendy kembali mengatur napas, dia harus bersikap tenang. Dia harus kembali berbohong, seolah-olah semuanya baik-baik saja.

***

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x