Dua minggu yang lalu aku berpapasan dengan seorang lelaki tua.

Tubuh lelaki tua itu terlihat ringkih. Wajahnya bertekuk. Dia berjalan tertatih menyusuri trotoar di pinggir jalan raya.

Dipikulnya tiga batang bambu panjang. Di ujung tiap bambu terpasang kincir angin mainan dengan bilah berwarna warni. Merah, kuning, hijau.

Zaman sekarang, siapa yang mau membeli mainan kuno semacam itu? pikirku.

Aku mengkhawatirkan lelaki tua itu, tapi hanya sambil lalu.

Keesokan harinya, aku kembali bertemu dengan lelaki tua itu di trotoar.

Ada sedikit senyum di wajahnya yang bertekuk. Dalam pikulannya kini ada dua batang bambu panjang.

Mungkin jika aku membelinya, senyumnya akan lebih lebar, pikirku sambil lalu.

Beberapa hari kemudian, aku melihat kincir angin yang dibawanya hanya tinggal satu.

Syukurlah, rupanya masih ada orang yang cukup dermawan untuk membeli kincir angin dagangannya. Kutebak tak akan lama hingga seluruh kincir angin miliknya terjual.

Tiga hari yang aku bertemu lagi dengan lelaki tua itu. Ternyata kincir angin terakhir itu belum juga laku, wajah si lelaki tua kembali bertekuk.

Terbersit dalam pikiranku untuk membeli kincir anginnya. Besok saja kalau belum terjual, pikirku.

Kemarin aku tidak menemukan lelaki tua itu di jalanan. Kupikir semua kincir anginnya sudah habis terjual. Dia mungkin pulang ke rumahnya dengan wajah tersenyum.

Aku pulang dengan hati senang.

Hari ini aku melihat lagi kincir angin lelaki tua itu. Merah, kuning, hijau. Berwarna warni. Berputar pelan ditiup semilir angin.

Kincir angin itu menancap di atas pusara.

Di dekatnya, terlihat seorang wanita tua dengan wajah bertekuk.

Bandar Lampung, 11 Mei 2021

Gambar sampul: Photo by Al Soot on Unsplash

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x