Site icon Ilham.Menulis

[Fiksi] – Rezeki

Dasar babi-babi kapitalis. Keluhku dalam hati sore itu. Aku keluar dari dalam gedung tempatku bekerja dengan perut, dompet, serta wajah mengkerut dan kosong. Hari inipun hasilnya nihil.

Setelah berjalan selama beberapa menit ke arah jalan raya, aku menyetop sebuah metromini. Bau keringat dan asap rokok langsung menyeruak pada saat aku mendekati pintu masuknya. Bau-bauan itu menyengat kedua lubang hidungku, membuat rambut-rambut di dalamnya menjadi keriting.

Sebelum tubuhku sepenuhnya masuk ke dalam, aku menyadari sesuatu.

“Penuh bang.” Kataku malas sambil melihat ke dalam.

“Belakang kosong lae.” Dia menunjuk ke bagian belakang metromini.

“Udah kayak sarden gini dibilang kosong.” Aku menggerutu.

“Kau mau naik nggak?” Dia menatapku dengan bengis.

Sebenarnya aku tak mau berdesak-desakan, tapi jika kupikir lagi, jam sibuk begini pasti semua metromini penuh, lagipula karena saat ini sudah cukup sore, aku malas jika harus menunggu lagi. Jadi kupaksakan diriku masuk ke dalam.

Sambil berjalan aku melihat ke sekelilingku. Tak ada pemandangan yang aneh di dalam sini, seperti biasa angkutan bobrok ini isinya tak jauh dari orang-orang berkasta rendah sepertiku. Orang-orang malang yang tak punya cukup uang untuk menyewa taksi, dan cukup malas untuk menyicil motor cina. Orang-orang yang menghabiskan setengah hidupnya demi rupiah yang sebenarnya tak seberapa.

Tanpa bersusah payah mengatakan permisi aku menyelinap di antara ketiak para buruh dan anak sekolah yang basah. Aku menahan napas, mencoba mencari-cari sudut tempat berdiri yang agak lowong dan punya stok udara yang manusiawi untuk dipakai bernapas.

*

Mobil ini melaju lebih lambat daripada seekor siput. Naik metromini sebenarnya seperti memakan buah simalakama. Jika tak mati jantungan karena sopirnya kebut-kebutan, kita mati bosan menunggu sopirnya memenuhi kuota angkutan.

Merasa bosan dengan macet rutin ini, aku memutuskan untuk menatap keluar jendela. Menyibukan diri dengan menatap mega senja. Ah, tapi rupanya hal itupun terlalu mewah bagi kami. Yang kulihat diluar sana bukannya awan yang menggelayut memerah karena mencumbu langit, tapi hanyalah onggokan dinding beton simetris yang pongah dan berdiri sok gagah.

Aku kemudian melihat barisan mobil mewah yang tampak kontras dengan rongsokan yang sedang kunaiki ini. Tiba-tiba sebuah anekdot klasik terlintas di dalam benakku.

“Bos, mobil baru ya? Bagus amat.”

“Iya dong. Makannya kamu kerja yang rajin. Kalau kamu kerjanya rajin, telaten, ulet, dan bikin banyak untung buat perusahaan, suatu hari nanti..”

“Saya bisa beli mobil seperti ini?”

“..Saya bisa beli mobil yang lebih bagus lagi.”         

Aku tersenyum miris di dalam hati.

Tapi kemudian aku menyadari, walau semewah apapun mobil yang para taipan itu punya, toh ujung-ujungnya terkena macet juga bukan? Mereka tak bisa lari. Setidaknya selama pagi dan sore, mereka sejajar dengan metromini ini. Sederajat dengan kami.

Ah, konyol. Tentu saja berbeda! Mereka terjebak macet di dalam kendaraan ber-AC dengan parfum wangi aroma terapi, fasilitas TV dan radio mumpuni, bahkan mungkin dengan sebuah kulkas mini. Sementara kami di sini kepanasan dengan parfum aneka aroma ketek-pi dan hiburan berupa live show simfoni pengamen dan mijon setengah dingin dari pedagang asongan.

Nah, baru saja kubicarakan tiba-tiba seorang pengamen dan pedagang asongan muncul dari pintu metromini.

Pengamen itu masih terlihat muda. Dia berperawakan tinggi dan kurus, rambut dan pakaiannya tampak tak begitu terurus, hanya gitarnya saja yang masih terlihat mulus. Dia menyapa seluruh penumpang, kemudian mulai menyanyikan lagu.

Seperti biasa, senjata utama para pengamen ini jika tidak lagu pop yang sedang ngehits, pastilah lagu-lagu Iwan Fals.

Sementara itu si pedagang asongan yang sepertinya masih anak-anak usia sekolah mendatangi bangku metromini satu persatu. Menawarkan beraneka macam rokok dan minuman.

Aku menghela napas. Maaf-maaf saja bang, dek. Aku tak bisa memberi apa-apa.

Bukannya pelit, gajiku saja selama empat bulan ini belum cair. Masih ditahan oleh para babi gemuk di ruang direksi sana. Alasan mereka banyak sekali. Dari mulai resesi ekonomi global sampai dengan banjir kiriman. Besok-besok mungkin mereka akan menyalahkan harga durian yang sedang naik.

Ada Ratusan karyawan yang tak menerima hak mereka selama berbulan-bulan. Terpaksa berhutang ke sana-sini untuk sekadar membeli beras dan indomie.

Jika saja mereka ikut merasakan semua ini, aku tak akan punya banyak pikiran buruk. Sayangnya aku tahu sendiri kalau para direksi itu baru saja berlibur keliling eropa saat liburan tahun baru kemarin. Bangke..

Kutatap nanar pengamen itu, kuperhatikan sekali lagi dirinya.

Dia tampak serius membawakan lagu “Ibu” dari Iwan Fals. Suaranya bagus, tak asal-asalan menyanyi. Jemarinya dengan lincah melompat dari satu kunci ke kunci yang lain. Walaupun dia tampak tersenyum, kulihat gurat-gurat kelelahan terpancar di wajahnya. Kedua matanya menerawang sendu ke arah kami. Entah karena mengharap iba, atau karena dia teringat kepada ibunya pada saat menyanyikan lagu itu, aku tak yakin.

Tapi ada sesuatu yang lain terpancar dari kedua mata itu. Pandangan matanya bening dan tulus. Sesuatu yang tak kudapati di dalam tatap mataku belakangan ini.

Pikiranku berkelebat.

Dari jam berapa pengamen ini bekerja? Berapa jam dia bekerja? Berapa sih penghasilannya satu hari? Makan apa dia malam ini? dimana dia tidur? Keluarganya yang lain dimana? Apakah dia adalah tumpuan keluarganya?

Pertanyaan itu terus bertambah dan bertambah, membuatku gundah.

Aku mengalihkan pandanganku kepada si pedagang asongan.

Sialnya anak itu punya tatapan mata yang sama dengan si pengamen. Pertanyaan yang sama kembali berkelebat.

Dengan segala kekurangan dan keterbatasan kesempatan yang mereka miliki,  keduanya punya tatapan mata yang tak ada padaku saat ini. Tatapan mata mereka memancarkan keikhlasan.

Mulutku langsung mengucap istighfar. Tuhan rupanya telah menegurku karena sering mengeluh dan mengumpat.

Kurogoh saku celanaku, mengambil satu-satunya lembaran lima ribu rupiah yang ada di sana. Kubeli sebotol air putih dari anak itu, kemudian kuberikan kembaliannya kepada si pengamen.

Keduanya menerima uang itu dengan senang dan  tanpa mengeluh. Mereka terseyum ke arahku sambil mengucapkan terima kasih. Aku balik mengucapkan terima kasih kepada keduanya.

Aku tak ingin seperti para bedebah di ruang direksi itu. Meski mereka menahan rezeki yang menjadi hakku. Aku tetap tak boleh menahan rezeki yang jadi hak orang lain.

***

Bandung, 31 Januari 2013

Bagikan
Exit mobile version