“Apa ini?” tanya seorang anak sembari menyodorkan selembar kain persegi berwarna hijau dengan tali di kedua sisinya.

Pria yang berada di dekatnya menengok. Dia lalu berjongkok sambil mengamati benda itu. Tanpa diduga titik air mata muncul dan segera menumpuk di sudut matanya. Buru-buru dia menyeka matanya dengan punggung telunjuk.

“Ini adalah masker. Dahulu kala, sewaktu ayah masih kecil, setiap orang harus memakai benda seperti ini jika ingin bepergian ke luar rumah.”

“Masker ini berbeda dengan helm oksigen yang kita gunakan, ya?”

“Tentu saja berbeda. helm yang kita gunakan jauh lebih canggih,” jawab pria itu sambil mengetuk-etuk kaca bening di helm anaknya. “Ayo, kita harus bergegas, sebentar lagi malam tiba,” lanjutnya.

Mereka kemudain berdiri dan kembali berjalan. Baru beberapa meter kaki mereka menyusuri jalan setapak, anaknya kembali bertanya.

“Ayah, apa itu rumah?” tanyanya dengan dahi berkerut.

Pria itu menggumam selama beberapa detik, mencoba mencari penjelasan sesederhana mungkin. “Rumah adalah tempat kita menetap dan tinggal untuk tidur setiap malam,” jelasnya.

“Tapi kita tak pernah tinggal dan tidur di tempat yang sama, Yah.”

Pria itu menghela napas, lalu menatap hamparan gurun gersang di sekelilingnya.

Pertanyaan anaknya membuat dia jadi berandai-andai. Jika saja dulu semua orang patuh memakai masker dan tidak berkumpul dengan satu sama lain, mungkin virus itu tak akan sempat bermutasi dan memakan banyak sekali korban. Mungkin tak akan ada pihak-pihak yang kemudian menjadikannya senjata biologis untuk membunuh para lawan politik dan musuh negara. Mungkin blok barat dan timur tak akan jadi saling curiga, dan senjata nuklir tak akan mereka luncurkan ke seluruh sudut dunia.

Jika saja itu semua tak terjadi, mungkin anaknya akan tahu apa yang disebut dengan rumah.

Bandung, 1 Januari 2021

karya ini dibuat ulang dari postingan #30haribercerita yang saya buat untuk akun IG Minimapress

-ilham
Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x