Pagi itu sang mualim dibangunkan oleh semburat sinar matahari dari sela-sela jendela kabin. Setelah mengerjap beberapa kali, dia bangun sambil menggaruk kepala. Sang mualim kemudian membuka tirai penutup jendela, membiarkan cahaya menerangi ruangan mungil yang menjadi tempatnya tidur setiap malam.

Setelah meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal karena harus tidur dengan posisi meringkuk, dia berpakaian dan berjalan keluar dari kamarnya.

Sang mualim berjalan menyusuri lorong panjang menuju ke arah dek bawah. Tak ada seorangpun terlihat di sepanjang lorong itu, dan satu-satunya suara yang terdengar adalah suara langkah kakinya yang sedikit tertatih di lantai kayu.

Begitu membuka pintu dek bawah, sang mualim langsung disambut oleh embusan angin dan aroma laut. Dia menghirup udara banyak-banyak, sambil melihat ke sekeliling. Di kejauhan ramai terlihat berbagai kapal tanker dan kapal kargo bergerak lambat, berlalu-lalang.

Berbeda dengan kapal-kapal itu, kapal yang ia tinggali tertambat sekitar 300 meter dari sebuah dermaga tua dan sepi. Air laut terlihat keruh di sekitar kapalnya, mungkin akibat karat atau kebocoran pipa kapal.

Sang mualim mendengus, mencoba tak memedulikan pemandangan kontras ini. Dia berpaling dan berjalan ke bagian kapal yang menghadap ke arah dermaga tua. Ada sebuah tali dan katrol terpasang di bagian bawah lambung kapal. Di dekat tali itu, terapung sebuah rakit kayu yang berisi sebuah kardus cokelat. Sang mualim bergegas menurunkan tali dan mengangkat kardus itu.

Dia meletakan kardus di lantai dek, lantas membukanya dengan penuh semangat. Kardus itu berisi bahan makanan untuk satu minggu ke depan. Karena di kapal ini tidak ada generator listrik yang berfungsi, dia selalu dikirimi makanan kaleng dan selai yang bisa bertahan cukup lama tanpa alat pendingin.

Dengan riang dia mengambil sekaleng manisan buah, lalu membawanya ke dek atas, ke dalam ruang kemudi. Sang mualim duduk di kursi kapten. Kakinya terangkat, dan dia menyantap manisan buah dengan lahap. Sesekali tangannya bergerak untuk menyeka sarang laba-laba yang menghalangi pemandangan jendela ruang kemudi.

Ekspresi riangnya berubah kelabu ketika pandangan matanya tertuju kepada dinding yang berada tepat di belakang kursi kemudi. Dinding abu-abu itu penuh dengan coretan turus penanda hari. Setelah menelan buah terakhir di dalam kaleng manisan, dia berdiri dan menambah satu garis di dinding itu.

Sang mualim mulai menghitung, hari ini ternyata adalah hari ke-2568 dia berada di atas kapal ini, sendirian.

*

Ini semua gara-gara kontrak sialan itu. Sang mualim seharusnya membaca kontrak yang disodorkan kepadanya dengan lebih teliti. 2568 hari yang lalu kapal yang ditumpanginya disita oleh otorita pelabuhan Colombo karena surat izin yang ternyata kadaluarsa. Seluruh awak kapal diminta keluar, seluruh kargo diturunkan, kecuali satu orang yang ditugaskan oleh pengadilan untuk menjaga kapal hingga masalah ini diselesaikan.

Karena diiming-imingi imbalan cukup besar, sang mualim setuju untuk menjadi penjaga kapal hingga semua urusan hukum selesai. Baginya tak masalah satu atau dua minggu menikmati kapal besar ini sendirian, sekaligus sebagai ajang latihan agar saat diangkat menjadi kapten suatu hari nanti, dia sudah memahami setiap senti dan seluk beluk dari kapal tanker ini.

Sayangnya, walaupun tujuh tahun telah berlalu, urusan hukum kapal ini belum juga selesai, dan dia tetap tidak boleh meninggalkan kapal. Akhir tahun ke-dua ada perwakilan dari perusahaan yang datang. Sang mualim memohon untuk bisa dilepaskan dari kontrak itu, tapi mereka menolak permohonannya.

Mereka berkata bahwa hanya ada dua jalan keluar bagi sang mualim. Permasalahan hukum selesai, atau ada orang baru yang bersedia menjadi penjaga menggantikannya. Mereka akan mengupayakan sang mualim diganti, tapi hingga saat ini sepertinya tak ada seorangpun yang bersedia menjadi penggantinya.

Menjaga kewarasan dalam kesendirian dan kesunyian seperti ini bukan perkara mudah. Dia harus punya rutinitas agar pikirannya tak kosong. Dia sudah belajar, semakin sering pikirannya kosong, pikiran-pikiran buruk mulai berdatangan dan memenuhi isi kepalanya.

Untungnya selalu ada hal yang bisa dia lakukan di kapal ini.

Setiap pagi sang mualim akan mengepel dan mengelap beberapa bagian kapal. Ini adalah pekerjaan tanpa akhir, karena bagaimanapun dia berusaha membersihkan kapal itu, selalu ada bagian yang kotor dan berdebu kembali.

Setelah itu sang mualim akan berburu tikus dan serangga. Walaupun tidak kekurangan makanan, tapi dia jarang sekali mendapatkan kiriman daging. Dia pernah berusaha memancing, tapi tak ada satupun ikan berenang di dekat kapal itu karena airnya yang keruh dan mungkin beracun. Mau tidak mau dia harus memakan satu-satunya daging yang banyak tersedia di kapal itu.

Pada siang hari, jika punya cukup banyak cadangan air hujan, sang mualim akan mencuci dan menjemur pakaiannya di atas dek. Sambil menunggu cucian kering, dia akan memutar dinamo analog untuk mengisi baterai lampu darurat, agar dia tidak terlalu dilingkupi kegelapan pada malam hari.

Setiap sore dia akan berolahraga dengan berlari mengelilingi kapal kargo itu dua atau tiga putaran, diselingi dengan senam ringan. Setelah itu dia akan duduk-duduk hingga malam dan waktu tidurnya tiba.

Beberapa malam tertentu, saat bulan bersinar terang, sang mualim akan terus duduk di dek atas sambil memadangi cahaya dari pelabuhan dan kapal-kapal di kejauhan, seperti malam ini.

Walaupun mencoba memikirkan berbagai hal, akhirnya Sang mualim tetap saja termenung, melamun. Dia merutuki nasib malangnya. Selama tujuh tahun ini dia sudah kehilangan banyak hal.

Karirnya sebagai pelaut mandek, tanpa melaut dia dia tak akan dipromosikan menjadi kapten kapal.

Tak ada satupun teman-teman awak kapal lain yang memedulikan nasib dan mengiriminya surat.

Empat tahun yang lalu Istrinya menceraikannya untuk menikah dengan pria lain.

Namun yang paling membuatnya sedih adalah saat ibunya meninggal tiga tahun lalu, dia tidak bisa datang untuk menghadiri pemakamannya.

Dia seorang diri.

Sang Mualim berdiri dan mulai berjalan-jalan di dek atas.

Dia menyadari bahwa dia sudah tak punya hal yang bisa dia perjuangkan. Dia sudah tak punya tujuan lain sampai kontrak ini selesai.

Tapi sampai kapan? Sudah tujuh tahun berlalu. Perusahaan dan pengadilan mungkin sudah melupakan tentang kapal ini dan dirinya.

Sang mualim mendongak, menatap bulan di kejauhan, berharap bulan menjawab dan menemaninya berbincang. Setelah beberapa menit, dia menelan ludah.

Ada satu cara agar dia bisa keluar dari neraka kesunyian ini. Cara yang biasanya dia buang jauh-jauh dari dalam pikirannya.

Dia menatap kegelapan pekat yan ada di bawahnya. Tak ada apapun, hanya debur ombak. Tangannya menggenggam besi pembatas dengan kuat, setelah itu dia melompat terjun, menuju kegelapan.

*

Sang mualim terbangun.

Maatanya mengerjap karena cahaya mentari di luar jendela. Dia duduk di tempat tidur sempitnya, seraya melihat kedua tangannya yang kini tampak tembus pandang.

Sang mualim menghela napas, bahkan kematian tidak bisa membuatnya lolos.

Dia seharusnya membaca kontrak sialan itu dengan lebih teliti.

***

Bandar Lampung, 17 April 2021

terinspirasi dari kisah nyata pelaut Suriah bernama Mohammed Aisha yang harus menjaga kapal kargo sendirian selama empat tahun lebih.

sumber gambar: Photo by Philippe Oursel on Unsplash

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x