Site icon Ilham.Menulis

[Fiksi] – Simbol (Bagian II – Selesai)

Kami menyusuri sebuah lorong yang panjang dan gelap. Penerangan hanya berasal dari satu-dua lampu LED yang berada di langit-langit. Kapten berjalan paling depan sementara Ollie berjaga paling belakang. Di antara mereka berdua aku dan Lewis berjalan beriringan. Aku berjaga dengan extra siaga karena Lewis hanya bisa menggunakan sebelah tangannya.

“Bagaimana keadaan tanganmu?” bisikku lirih.

“Hal terakhir yang sedang kukhawatirkan saat ini adalah kondisi tanganku,” balasnya sambil melihat ke sekeliling. “Di mana kita sekarang? Kenapa kita belum sampai? Bagaimana kalau kita tersusul?”

Aku menelan ludah, bisa jadi yang dia katakan itu benar. Cepat atau lambat akan ada yang merangsek masuk ke tempat ini. Entah itu tentara Imperium, tentara Republik, atau bahkan para Crawler. Kami sedang berada tepat di tengah-tengah pusaran medan pertempuran.

Kapten terlihat sibuk meneliti cetak biru bangunan di dalam tabletnya, kemudian tiba-tiba dia mematikan dan menyimpan tabletnya kembali di dalam ransel.

“Cetak biru ini sudah tak relevan,” dengusnya kesal.

“Maksudnmu palsu, kapten?” celetuk Ollie dari belakang.

Kapten menoleh dan menatapnya dengan berang, “tak usah bicara yang tak penting! Ayo, kita harus bergegas,” teriaknya.

Bergegas ke mana? Lorong-lorong ini panjang, berliku, dan bercabang. Mirip seperti sebuah labirin perangkap tikus. Tapi kami tak punya pilihan lain selain memercayakan semuanya kepada kapten. Kuharap apapun rencana yang ada di dalam kepalanya, bisa cepat dilakukan. Kami tak punya banyak persediaan oksigen lagi.

Sayup-sayup dari arah belakang kami terdengar suara ledakan. Kemudian seisi bangunan bergetar. Kami melihat ke atap dengan sedikit khawatir. Butiran-butiran debu dan pasir berjatuhan menimpa kepala kami.

Tak berapa lama kemudian kami melewati sebuah ruangan besar serupa aula. Di dalamnya ada altar dan banyak sekali bangku kosong yang berserakan. Kapten berseru girang, kemudian memerintahkan kami untuk melakukan pengamanan teritori di dalam ruangan itu.

Kami mendobrak masuk. Aku bergerak dengan cepat menuju ke balik sebuah meja besar. Sembari terus meringkuk aku melihat keadaan sekitar. Lewis berjaga di balik sabuah tiang, sementara Kapten dan Ollie menyusuri bagian-bagian lain dari ruangan ini.

“Ruangan ini kosong. Kapten, kau dengar itu? Ada suara gumaman. Suara doa,” ujar Ollie.

Kapten mengangguk, dia mendengarnya. Aku sendiri tidak mendengar suara apapun.

Ollie menunjuk ke sebuah celah sempit di samping altar. Ada retakan besar di lantai dan dinding sekitar celah itu. Kapten berhasil masuk ke dalam, kami semua segera mengikutinya.

“Kita sudah dekat. Celah inilah yang terbentuk pada saat gempa beberapa waktu lalu terjadi. Simbol itu pasti ada di dekat sini.” bisik Ollie dari belakangku. Aku mengangguk. Seiring dengan gumaman doa yang semakin terdengar kencang di udara, Irama jantungku semakin tak karuan.

“Hey! bernapas dengan normal. Oksigenmu turun drastis!” Lewis menyikutku. Aku menunduk dan melihat monitor di lenganku. Dia benar, persediaan oksigenku turun dengan cepat.

Kapten membuat tanda berhenti dengan lengan kanannya. Kami seketika mematung. Beberapa meter di hadapan kami, celah ini melebar menjadi serupa ruang terbuka yang dipenuhi dengan stalagmit dan stalagtit.

Ruang terbuka itu dipenuhi dengan orang-orang berjubah cokelat. Mereka semua serempak sedang bersimpuh dan bersujud. Menyembah sambil komat-kamit melafalkan doa dalam bahasa kuno. Mereka bersujud dengan posisi melingkar, ke arah sebuah gundukan tanah di bagian tengah ruangan.

Seberkas cahaya keemasan dari permukaan tampak menyinari gundukan tanah itu.

Dan disanalah simbol itu berada. Mataku seketika basah, dan air mataku mengalir memasahi bagian dalam masker oksigen. Aku berani sumpah bahwa benda itu lebih indah dari apapun yang pernah kulihat. Selama ini kami hanya pernah melihat benda itu dalam pemutaran video-video propaganda. Karena kesalahan para leluhur kami, benda itu musnah sama sekali dari muka bumi.

Sebuah simbol. Harapan akan masa depan planet ini.

Sebuah tunas tanaman pertama yang tumbuh alami setelah ratusan tahun lamanya.

Tiba-tiba Kapten berlari dan merangsek ke tengah kerumunan orang yang sedang berdoa. Pekikan dan teriakan orang-orang berjubah itu membuatku kembali ke dunia nyata. Kapten mulai menembakan senapannya membabi-buta, membubarkan kerumunan masa yang melarikan diri sambil berteriak meminta tolong.

Dengan satu gerakan singkat kapten menyambar tanaman itu dan memasukannya ke dalam sebuah tabung transparan. Terdengar lolongan dan tangisan dari para pendoa yang tak berdaya.

Kami segera berlari keluar dari dalam gua. Orang-orang itu berusaha untuk menghentikan kami. Tapi kami bersenjata senapan laser, sementara mereka tidak. Jadi hasil akhinya tentu saja mudah ditebak.

Kami terus berlari menyusuri lorong. Napasku berpacu tak karuan. Kulihat kapten memeluk tabung itu dengan sangat erat.

“Sebentar lagi! Ayo, kita harus segera keluar dari tempat ini!” teriaknya.

“Kapten, koordinat titik penjemputan sudah dikirimkan!” teriak Ollie sambil mengetik di layar monitornya. “Ikuti aku!” Ollie melompat ke depan kemudian memimpin kami menyusuri lorong-lorong hingga kembali ke bagian depan bangunan.

Tapi langkah kami terhenti. Di bagian depan bangunan ini, tempat pintu besar sebelumnya terpasang, sudah ada sebuah lubang besar. Mayat-mayat pasukan Imperium dan pasukan Republik bergelimpangan. Di dekat mereka, sebuah Crawler duduk sambil menggeram. Kukunya tampak berkilau kemerahaan. Lidahnya terjulur. dan gigi-gigi runcingnya belepotan karena noda darah.

Kondisi makhluk itu terlihat buruk. Rusak parah. Tapi dia tetap saja merupakan ancaman besar. Sementara itu, di bagian luar bangunan terlihat pertempuran dahsyat masih berlangsung. Masing-masing pihak berebutan untuk dapat masuk ke dalam bangunan, hanya untuk kemudian dibantai oleh para Crawler di pintu depan.

“Kita tak punya waktu lagi. Seseorang harus jadi umpan seperti Max,” ujar Kapten sambil terus memeluk tabungnya.

Ucapannya tak masuk akal, Kondisi dalam ruangan seperti ini tak memungkinkan rencana itu dilakukan. Itu hanya seperti melemparkan mangsa kepada hewan liar.

“Tak mungkin dilakukan, kapten,” ujar Lewis.

“Diam! Cepat kau pergi jadi umpan. Tunas ini harus berhasil kita bawa pulang,” ujarnya lagi.

“Kapten, dengar, kita harus pikirkan rencana … ” Ollie ikut membujuk Kapten. tapi pria itu benar-benar sudah sinting. Dia menendang Lewis hingga terpental dan mendarat di dekat Crawler itu. Lewis mengerang ketakutan.

“Bedebah!” seru Ollie.

Ollie segera berlari untuk menyelamatkan Lewis. Tanpa pikir panjang aku segera menyusulnya dan membantu dengan menembakan senapanku ke arah Crawler itu. Sementara itu kulihat kapten berlari menjauhi kami. Dia melarikan diri sendirian menuju ke titik penjemputan.

Ollie berhasil menarik Lewis sebelum Crawler itu mengoyak tubuhnya dengan cakar. Makhluk itu berusaha untuk berdiri. Kulemparkan sisa granat yang ada di dalam tas pinggangku untuk mengulur waktu. Makhluk itu bangkit, dan kami bertiga harus menghadapinya.

Crawler itu berjalan dengan pincang. dua buah kakinya dalam kondisi tak bisa digunakan. Kami berpencar dan menembakinya bersama-sama. Tapi makhluk itu sudah menentukan targetnya. Dia terus menerus mengincar Lewis, yang semakin lama semakin kesulitan untuk menghindar.

“Serahkan ini padaku! Kau harus segera menyusul kapten sebelum terlambat!” teriak Ollie.

“Ollie! jangan sinting, kau tak mungkin bisa menghadapi makhluk itu sendirian!” balasku.

“Dengar! Kau harus memastikan Kapten berhasil membawa tunas itu pulang. Benda itu adalah harapan kita satu-satunya. Memilikinya berarti menguasai masa depan planet ini. Pergilah. Sampaikan salamku pada ibu kita!” perintahnya.

Tanpa sadar aku berpaling dan mulai berlari. Apa yang harus kukatakan pada Ibu jika aku kembali tanpa Kakakku satu-satunya?

Tapi aku tak punya pilihan lain. Ollie benar, misi ini lebih penting daripada nyawa kami semua. Aku berlari sambil menyelinap di antara reruntuhan bangunan. Karena tubuhku yang kecil dan lariku yang gesit, aku berhasil menyelinap keluar dari arena pertempuran. Beberapa ratus meter di depanku, Kapten sedang diburu oleh sekelompok pasukan Imperium. Di atasnya, pesawat penjemput kami berputar-putar sambil menembaki para tentara di daratan.

“Drone Republik sedang menuju kemari, kalian harus segera naik.” ucap suara dari radio kami.

Kapten menengok ke arahku, kemudian membuat tanda agar aku mendekat. Tapi di antara kami masih ada beberapa tentara yang sibuk menembak. Posisi kapten semakin terjepit, dia terdesak di balik reruntuhan sebuah gedung berlantai lima.

Aku memutuskan untuk berlari memutar dan masuk ke dalam reruntuhan gedung dari belakang. Setelah itu aku naik ke lantai dua dan menembaki para tentara Imperium dari salah satu jendela. Mereka terkejut dan tak menyangka serangan mendadak yang kulancarkan. Dua orang berhasil kuhabisi, sementara sisa dua orang lagi melarikan diri.

Aku melompat dari jendela, dan menghampiri kapten yang sedang terduduk lemas. Dia terkena luka tembakan di beberapa tempat.

Control, kapten terluka,” ujarku sambil melihat ke arah pesawat penjemput.

“Bagaimana kondisi paket?”

Kulihat tabung itu aman. Kapten memeluknya dengan sangat erat.

“Aman,” jawabku.

“Segera amankan paket ke dalam pesawat.”

“Bagaimana dengan kapten? dengan Ollie dan Lewis?”

Tak terdengar jawaban selama beberapa detik.

“Prajurit, segera amankan paket ke dalam pesawat,” ulang control.

Aku menelan ludah dan mengambil tabung itu dari pelukan kapten. Kapten yang sedang sekarat tampak terengah-engah. Dia menatapku selama beberapa detik, entah berusaha mengatakan apa, kemudian dia tak bergerak sama sekali.

“CRAWLER!” teriak control.

Aku menoleh, dari arah reruntuhan, tiga Crawler berlari ke arahku. Aku segera membungkus tabung itu kemudian memanjat naik ke lantai teratas reruntuhan bangunan. Pesawat penjemput segera menembakan rudal dan senapan, tapi aku tahu itu akan sia-sia.

Tiba-tiba salah satu Crawler sudah berada di bawahku. Aku terus berlari.

Sekarang Pesawat penjemput hanya berada beberapa meter di depanku. Pintu depannya membuka, dua orang prajurit muncul dari balik pintu dan mulai menembakan senapan untuk mengusir Crawler yang kini sudah berada sangat dekat dengan kakiku. Antara aku dan pesawat saat ini hanya terpisah jarah lebih dari satu meter.

“Lompat!” perintah control.

Aku menambah tenaga lariku, kemudian melompat.

Dari belakang, dapat kurasakan Crawler itu meraih kakiku, dan mencengkramnya. Di hadapanku, dua orang prajurit mengulurkan tangan, berusaha meraihku.

Tapi dari pantulan masker mereka, aku tahu yang mereka inginkan adalah tabung ini, bukan diriku. Jadi kuputuskan untuk melemparkan tabung itu ke arah mereka. Setelah itu aku menoleh ke arah kakiku, separuh badanku sudah tidak ada.

Perlahan sosok Crawler itu menghilang, digantikan oleh sosok Ollie, Lewis, Max, dan kapten. Mereka semua tak mengenakan masker oksigen. Mereka semua tersenyum bangga kepadaku.

***

Bandar Lampung, 20 Januari 2021

Bagikan
Exit mobile version