Ilham.Menulis

[Fiksi] – Simbol (Bagian I)

Kami berlima meringkuk di balik sebuah tembok beton reruntuhan bangunan peradaban lama. Di seberang sana riuh dengan desingan senapan laser dan dentuman granat antimatter. Tentara Imperium dan Republik perlahan tapi pasti mulai merangsek masuk dan menjadikan tempat ini arena pertempuran.

Negara kecil ini akan segera hancur. Tapi sebelum itu terjadi, kami harus bisa mengambil benda yang menjadi penyebab semua peperangan ini. Sebuah harapan. Sebuah simbol.

Antara kami dan tempat benda itu disimpan, berdiri beberapa buah Crawler, robot-monster setinggi tiga meter. Cakar-cakar mereka berlapis baja, bisa dengan mudah mengoyak dinding beton. Keenam mata mereka berputar liar, mengawasi keadaan sekitar. Punggung mereka berdengung, dengan lubang-lubang yang mengeluarkan asap panas.

Aku mengecek monitor yang tepasang di pergelangan tanganku. Indikator udara kami sudah mulai berkedip merah. Kami hanya punya waktu kurang lebih satu jam untuk menyelesaikan tugas kami. Lebih dari itu kami akan mati kehabisan udara.

“Kita harus mengalihkan perhatian ketiga Crawler itu. Ada yang punya ide?” tanya kapten pleton. Dia sepertinya benar-benar sudah kehabisan akal. Padahal pintu masuk ke tempat tujuan kami berjarak tak lebih dari seratus meter dari sini.

“Kita bisa menunggu Pasukan Republik atau Imperium datang dan menghabisi mereka,” ujar Lewis dengan napas putus-putus. Bagian luar helmnya penuh dengan bercak darah, dan sebelah tangannya tak bisa dipakai karena tertembak.

Kapten menggeleng. “Tak akan sempat,” kilahnya.

Terdengar suara desisan di angkasa. Kami serempak tengadah. Drone-drone milik Republik melintas, membelah langit yang berwarna kuning dan oranye. Salah satu drone menukik tajam, berusaha menembak para Crawler. Tapi makhluk-makluk itu terlalu gesit. Mereka lari berpencar. Ketika drone itu mengejar salah satu dari mereka, ketiga Crawler lainnya berbalik mengejar pesawat drone. Dengan satu lompatan besar dan sabetan drone itu terbelah dua dan hancur menghantam tanah.

Kami berlima menyaksikan itu sambil menelan ludah. Kami tak punya kesempatan jika harus berhadapan langsung dengan monster-monster itu.

Kapten pleton memandangi kami satu persatu. Dia lalu berjongkok dan mengambil empat batu berwarna hitam dan satu batu berwarna abu-abu. Sambil menggenggam kelima batu itu Kapten mulai berorasi.

“Kalian semua sudah bersumpah, demi leluhur dan anak cucu kalian, bahwa apapun yang terjadi kalian akan membawa pulang benda itu ke negara kita. Sekarang adalah waktu untuk membuktikan ucapan kalian. Harus ada yang tinggal dan menjadi umpan.”

Jantungku berdegup kencang. Harus kuakui itu memang rencana terbaik saat ini. Aku menatap tiga anggota pleton lainnya yang tersisa. Max, Lewis dan Ollie.

Kapten memasukan kelima batu itu ke dalam sebuah kantung kulit. Kami bergantian mengambil batu dari dalam kantung itu.

“Jika aku yang mendapat batu berwarna putih, Ollie yang akan memimpin pleton ini selanjutnya,” bisik kapten. Kami serempak mengangguk.

Aku memejamkan mata sebelum melihat warna batu yang kupilih. Batu itu berwarna hitam. Tak bisa kupungkiri bahwa itu membuatku merasa lega.

Max mengangkat batu yang dia pilih. “Kurasa aku yang akan jadi umpan,” ujarnya.

Aku tak bisa melihat wajah Max di balik helm oksigennya. Tapi bisa kubayangkan dia pasti ingin menangis. Max adalah salah satu yang termuda di antara kami. Di kamp pelatihan dia adalah rekrutan yang paling kekanak-kanakan.

Apa boleh buat. Perang yang berkepanjangan membuat usia wajib militer semakin dimajukan. di antara kami berempat, hanya Ollie yang berusia di atas dua puluh tahun. Sementara sisanya masih remaja. Terutama Max, dia masih berusia dua belas tahun.

“Setidaknya aku bisa lebih cepat bertemu dengan orangtua dan kakak-kakakku,” katanya sambil terkekeh.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Padahal jika aku mengajukan diri untuk jadi umpan mungkin dia akan dengan senang hati menerimanya.

Kapten meremas pundak Max selama beberapa detik. “Pengorbananmu tak akan sia-sia,” ujarnya.

Kapten kemudian menjelaskan rencananya. Max akan menarik perhatian keempat Crawler itu dengan beberapa granat cahaya. Walaupun tidak ada jaminan, tapi kemungkinan besar mereka akan mengejar Max. Untuk mengulur waktu Max akan berlari ke arah timur, ke tengah puing-puing bangunan. Itu akan sedikit menyulitkan gerak mereka. Jika beruntung, sebelum sempat dihabisi, Max akan bertemu dengan tentara Imperium atau Republik, dan membiarkan mereka mengatasi para Crawler itu.

“Kalau kau selamat, segera kembali ke pesawat dan bersiap-siap untuk proses ekstraksi. Ada yang masih punya granat mesiu? berikan beberapa kepada Max.” ujar kapten sambil mengakhiri penjelasan. Aku segera merogoh tasku dan memberikan dua granatku kepadanya.

“Kukira Crawler tak mempan dengan bahan peledak seperti ini?” tanya Max sambil memasukkan granat yang baru saja kuberikan.

“Ini untukmu meledakkan diri jika terdesak,” bisik Ollie kepadanya. Seketika Max terdiam sambil mengangguk-angguk. “Jauh lebih baik daripada dicabik-cabik oleh cakar Crawler,” lanjutnya.

Max mengambil napas panjang. DIa membetulkan posisi masker oksigennya, kemudian berdiri dan mulai berlari. Dengan sigap dia melemparkan granat cahaya ke arah para Crawler. Keempat robot raksasa itu menoleh dan berdesis. Dengan kecepatan yang tak masuk akal mereka merayap mengejar Max.

Kami tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera berlari ke arah sebuah pintu besar berlapis baja yang sebelumnya dijaga oleh para Crawler.

Ollie segera membongkar panel kunci di pintu itu berusaha untuk membuka kuncinya.

Kami akan lebih aman berada di dalam bangunan ini. Bangunan berbentuk segi enam tanpa jendela ini dianggap sebagai wilayah suci, sehingga tidak ada orang yang diperbolehkan membawa senjata di dalamnya. itu sebabnya bagian luar bangunan ini dijaga ketat oleh Crawler yang jauh lebih kompeten dan cepat menghabisi nyawa dibandingkan dengan prajurit biasa.

Terdengar ledakan yang cukup besar. Salah satu Crawler tampak terlempar ke udara. Keempat kakinya bergerak-gerak menggapai udara. Aku mengambil teropong dan mengarahkannya ke timur. Api dan asap terlihat mengepul dari kejauhan. Itu adalah suara dari granat mesiu yang kuberikan kepada Max.

“Max sudah tewas. Cepatlah, mereka sebentar lagi akan kembali ke tempat ini!” teriak Kapten. Hanya sepersekian detik kemudian, keempat robot itu tampak merayap mendekati posisi kami. Aku mengangkat senapanku, bersiap-siap menembak.

Shit, aku masih butuh waktu!” teriak Ollie.

Tiba-tiba terdengar rentetan suara laser. Aku kembali mengenakan teropong. Dari panji-panji yang mereka bawa, bisa kulihat bahwa itu adalah pasukan Imperium. Para Crawler berlarian, berusaha untuk menghindar.

Selama beberapa detik para Crawler itu terlihat terdesak dan mundur. Namun ketika posisi pasukan Imperium semakin maju, salah satu Crawler mulai mendesis. Panel-panel di Punggungnya yang berasap membuka, menampakan puluhan roket berukuran kecil. Dalam waktu satu detik setidaknya ada selusin roket yang meluncur dari punggung makhluk itu, dan menghantam tepat di tengah tengah kerumunan tentara Imperium.

Terdengar erangan dan rintih kesakitan. Bagian-bagian tubuh terlihat berterbangan ke udara bersama dengan puing-puing bangunan.

Tiba-tiba seseorang menarik rompi dan memaksaku masuk ke dalam pintu yang entah sejak kapan sudah terbuka. Aku tersungkur ke lantai. Setelah aku masuk Ollie segera menutup kembali pintu besi itu dan menguncinya.

Kami berhasil masuk, tapi bisakah kami keluar dengan selamat jika makhluk-makhluk itu masih ada disana?

***

Bagikan
Exit mobile version