“Cepat-cepat, lewat sini!” teriakku sambil menunjuk ke sebuah terowongan yang terbentuk di sela-sela akar sebuah pohon besar.

Di belakangku, tiga anak kecil berusia enam tahunan mengekor. Kami berempat mengenakan piyama kusam yang sudah compang-camping karena usia dan juga telah tergores ranting dan dahan pepohonan di sana-sini.

“Di mana yang lainnya?” tanya seorang anak di belakangku.

“Mereka sudah lebih dulu pergi. Jangan khawatir, kita akan segera menyusul mereka.” jawabku sambil tersenyum setulus mungkin.

“Aku takut. hutan ini gelap sekali!” seru seorang anak lainnya.

“Mana yang lebih kau takutkan, kegelapan atau orang-orang dewasa di tempat itu?” Aku balik bertanya. Anak itu tidak menjawab, tapi aku yakin tak ada di antara mereka semua yang mau kembali ke tempat itu. Tempat terkutuk yang dipenuhi orang-orang bersenjatakan tali pecut dari ikat pinggang dan batang rotan.

Kami merangkak masuk ke dalam terowongan akar. Tempat itu sebenarnya cukup sempit, tapi karena kami semua masih kecil dan berbadan kurus kering, kami bisa masuk dengan mudah.

“Ke mana kita akan pergi?”

“Ke tempat yang aman. Yang lainnya sudah sampai, kita yang terakhir. Ayo cepat!”

Setelah melewati terowongan akar itu, kami tiba di sebuah area terbuka yang cukup lebar. Aku meraih tangan ketiga anak itu dan memandu mereka berjalan di antara kegelapan malam. Tak berapa lama, kami tiba di sebuah tempat. di hadapan kami tak ada apa-apa selain kegelapan.

“Kita sudah dekat,” sahutku lega.

“Tapi, tak ada apa-apa di sini. Di mana teman-teman yang lain?”

Aku menyeka keringat di dahiku, seraya menunjuk ke arah bawah. “Kalian tak bisa melihat mereka? mereka semua sedang menunggu kita di bawah. Di bawah sana aman, orang-orang itu tak akan bisa mengejar kita.”

Ketiga anak itu serempak melongok ke bawah, ke bibir jurang yang terletak tak sampai setengah meter dari tempat mereka berdiri.

Ketika mereka melongok, aku segera berlari dan mendorong jatuh ketiganya ke dalam jurang.

Aku tak bohong, di bawah sana memang tempat teraman. Tak akan ada seorangpun yang bisa menemukan kami, apalagi menyakiti kami lagi.

Aku mengatur napas selama beberapa detik, kemudian memejamkan kedua mataku.

Sekarang giliranku menyusul mereka semua yang tergeletak di dasar jurang.

***

Bandung, 2 Januari 2020

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x