Dasar babi-babi kapitalis. Keluhku dalam hati sore itu. Aku keluar dari dalam gedung tempatku bekerja dengan perut, dompet, serta wajah mengkerut dan kosong. Hari inipun hasilnya nihil.

Setelah berjalan selama beberapa menit ke arah jalan raya, aku menyetop sebuah metromini. Bau keringat dan asap rokok langsung menyeruak pada saat aku mendekati pintu masuknya. Bau-bauan itu menyengat kedua lubang hidungku, membuat rambut-rambut di dalamnya menjadi keriting.

Sebelum tubuhku sepenuhnya masuk ke dalam, aku menyadari sesuatu.

“Penuh bang.” Kataku malas sambil melihat ke dalam.

“Belakang kosong lae.” Dia menunjuk ke bagian belakang metromini.

“Udah kayak sarden gini dibilang kosong.” Aku menggerutu.

“Kau mau naik nggak?” Dia menatapku dengan bengis.

Sebenarnya aku tak mau berdesak-desakan, tapi jika kupikir lagi, jam sibuk begini pasti semua metromini penuh, lagipula karena saat ini sudah cukup sore, aku malas jika harus menunggu lagi. Jadi kupaksakan diriku masuk ke dalam.

Sambil berjalan aku melihat ke sekelilingku. Tak ada pemandangan yang aneh di dalam sini, seperti biasa angkutan bobrok ini isinya tak jauh dari orang-orang berkasta rendah sepertiku. Orang-orang malang yang tak punya cukup uang untuk menyewa taksi, dan cukup malas untuk menyicil motor cina. Orang-orang yang menghabiskan setengah hidupnya demi rupiah yang sebenarnya tak seberapa.

Tanpa bersusah payah mengatakan permisi aku menyelinap di antara ketiak para buruh dan anak sekolah yang basah. Aku menahan napas, mencoba mencari-cari sudut tempat berdiri yang agak lowong dan punya stok udara yang manusiawi untuk dipakai bernapas.

*

Mobil ini melaju lebih lambat daripada seekor siput. Naik metromini sebenarnya seperti memakan buah simalakama. Jika tak mati jantungan karena sopirnya kebut-kebutan, kita mati bosan menunggu sopirnya memenuhi kuota angkutan.

Merasa bosan dengan macet rutin ini, aku memutuskan untuk menatap keluar jendela. Menyibukan diri dengan menatap mega senja. Ah, tapi rupanya hal itupun terlalu mewah bagi kami. Yang kulihat diluar sana bukannya awan yang menggelayut memerah karena mencumbu langit, tapi hanyalah onggokan dinding beton simetris yang pongah dan berdiri sok gagah.

Aku kemudian melihat barisan mobil mewah yang tampak kontras dengan rongsokan yang sedang kunaiki ini. Tiba-tiba sebuah anekdot klasik terlintas di dalam benakku.

“Bos, mobil baru ya? Bagus amat.”

“Iya dong. Makannya kamu kerja yang rajin. Kalau kamu kerjanya rajin, telaten, ulet, dan bikin banyak untung buat perusahaan, suatu hari nanti..”

“Saya bisa beli mobil seperti ini?”

“..Saya bisa beli mobil yang lebih bagus lagi.”         

Aku tersenyum miris di dalam hati.

Tapi kemudian aku menyadari, walau semewah apapun mobil yang para taipan itu punya, toh ujung-ujungnya terkena macet juga bukan? Mereka tak bisa lari. Setidaknya selama pagi dan sore, mereka sejajar dengan metromini ini. Sederajat dengan kami.

Ah, konyol. Tentu saja berbeda! Mereka terjebak macet di dalam kendaraan ber-AC dengan parfum wangi aroma terapi, fasilitas TV dan radio mumpuni, bahkan mungkin dengan sebuah kulkas mini. Sementara kami di sini kepanasan dengan parfum aneka aroma ketek-pi dan hiburan berupa live show simfoni pengamen dan mijon setengah dingin dari pedagang asongan.

Nah, baru saja kubicarakan tiba-tiba seorang pengamen dan pedagang asongan muncul dari pintu metromini.

Pengamen itu masih terlihat muda. Dia berperawakan tinggi dan kurus, rambut dan pakaiannya tampak tak begitu terurus, hanya gitarnya saja yang masih terlihat mulus. Dia menyapa seluruh penumpang, kemudian mulai menyanyikan lagu.

Seperti biasa, senjata utama para pengamen ini jika tidak lagu pop yang sedang ngehits, pastilah lagu-lagu Iwan Fals.

Sementara itu si pedagang asongan yang sepertinya masih anak-anak usia sekolah mendatangi bangku metromini satu persatu. Menawarkan beraneka macam rokok dan minuman.

Aku menghela napas. Maaf-maaf saja bang, dek. Aku tak bisa memberi apa-apa.

Bukannya pelit, gajiku saja selama empat bulan ini belum cair. Masih ditahan oleh para babi gemuk di ruang direksi sana. Alasan mereka banyak sekali. Dari mulai resesi ekonomi global sampai dengan banjir kiriman. Besok-besok mungkin mereka akan menyalahkan harga durian yang sedang naik.

Ada Ratusan karyawan yang tak menerima hak mereka selama berbulan-bulan. Terpaksa berhutang ke sana-sini untuk sekadar membeli beras dan indomie.

Jika saja mereka ikut merasakan semua ini, aku tak akan punya banyak pikiran buruk. Sayangnya aku tahu sendiri kalau para direksi itu baru saja berlibur keliling eropa saat liburan tahun baru kemarin. Bangke..

Kutatap nanar pengamen itu, kuperhatikan sekali lagi dirinya.

Dia tampak serius membawakan lagu “Ibu” dari Iwan Fals. Suaranya bagus, tak asal-asalan menyanyi. Jemarinya dengan lincah melompat dari satu kunci ke kunci yang lain. Walaupun dia tampak tersenyum, kulihat gurat-gurat kelelahan terpancar di wajahnya. Kedua matanya menerawang sendu ke arah kami. Entah karena mengharap iba, atau karena dia teringat kepada ibunya pada saat menyanyikan lagu itu, aku tak yakin.

Tapi ada sesuatu yang lain terpancar dari kedua mata itu. Pandangan matanya bening dan tulus. Sesuatu yang tak kudapati di dalam tatap mataku belakangan ini.

Pikiranku berkelebat.

Dari jam berapa pengamen ini bekerja? Berapa jam dia bekerja? Berapa sih penghasilannya satu hari? Makan apa dia malam ini? dimana dia tidur? Keluarganya yang lain dimana? Apakah dia adalah tumpuan keluarganya?

Pertanyaan itu terus bertambah dan bertambah, membuatku gundah.

Aku mengalihkan pandanganku kepada si pedagang asongan.

Sialnya anak itu punya tatapan mata yang sama dengan si pengamen. Pertanyaan yang sama kembali berkelebat.

Dengan segala kekurangan dan keterbatasan kesempatan yang mereka miliki,  keduanya punya tatapan mata yang tak ada padaku saat ini. Tatapan mata mereka memancarkan keikhlasan.

Mulutku langsung mengucap istighfar. Tuhan rupanya telah menegurku karena sering mengeluh dan mengumpat.

Kurogoh saku celanaku, mengambil satu-satunya lembaran lima ribu rupiah yang ada di sana. Kubeli sebotol air putih dari anak itu, kemudian kuberikan kembaliannya kepada si pengamen.

Keduanya menerima uang itu dengan senang dan  tanpa mengeluh. Mereka terseyum ke arahku sambil mengucapkan terima kasih. Aku balik mengucapkan terima kasih kepada keduanya.

Aku tak ingin seperti para bedebah di ruang direksi itu. Meski mereka menahan rezeki yang menjadi hakku. Aku tetap tak boleh menahan rezeki yang jadi hak orang lain.

***

Bandung, 31 Januari 2013

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
44 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
utie89

keren keren keren..
harus banyak belajar nih dari mas ilham ^-^

ilhammenulis

makasih mbak. punya mbak utie juga bagus-bagus kok. hehehe 😀

utie89

😳
tapi masih jauhlah.
kamu lebih produktif kayaknya.. 🙂
isinya cerpen semua, kenapa ngga dibukukan aja?
udah pernah coba ikut lomba cerpen??

ilhammenulis

cerpen saya malah dikit kok mbak. hehehe

biasanya saya nulis serial, kalau ada waktu bisa di cek di bagian project 🙂

kalo lomba-lomba jarang ikut. biasalah, masalah pede yang masih kurang :p

Mita Alakadarnya

bagus ceritanya,,,
Kasihan anak kecilnya, masih keci udah harus cari ulang,,,,
btw selamat ulang tahunnnn,,, #telat# 😀

Mita Alakadarnya

typo, ulang >> uang 😀

ilhammenulis

makasih ya, walaupun emang banyak yang pura-pura, tapi nggak sedikit juga yang kerja sepenuh hati loh 🙂

Mita Alakadarnya

sama-sama,,
eh serialnya yang Source kapan di lanjut??
saya sudah baca yang sense n source lho, dan saya suka 🙂

ilhammenulis

ini lagi disusun kok.. bentar lagi part 5 mulai. hehehe 😀

chrismanaby

Hmm,… bagusss ceritanya, rasanya sama disaat saya melihat pengamen, pengemis dijalanan, banyak pertanyaan di otak saya
btw, Happy birthday yaa 😀 smga makin sukses Amin 😀

ilhammenulis

terima kasiiiih 😀

ayoo mana lagi postingan di blognya 🙂

chrismanaby

Hehhee,.. lagi di rancang 😀

airyz

wihhhh, met ultah mas..

bagus ceritanya 🙂

ilhammenulis

Makasih mas airyz 🙂

ayoo mana postingan barunya? :p

MPASD

Aih, padanan katanya lebih rapi dari kamar pengantin baru. Bagus mas, menyadarkan saya untuk lebih melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda

Oh iya, selamat panjang umur, semoga ulang tahun

ilhammenulis

sayangnya saya belum pernah masuk ke kamar pengantin baru mas, jadi gak tau gimana rapinya itu.. hehehehe

terima kasih ucapan panjang umurnya, 😀

ars

endingnya sip. win-won solution. baik si anak atau si pengamen mendapat jatahnya

ilhammenulis

Udah rezekinya mereka dapet segitu.. :3

ulaai

Lebih sedih lagi kalau ada anak kecil ngamen/jual koran dan mereka kayak gitu krn disuruh orangtuanya… i found them a lot near my school. Anak-anak usia 6-7an gitu. Orang tuanya gelar karpet di ujung jalan sambil ngemis, sedangkan anak2nya dipaksa melas2 ke orang2 biar beli korannya. Kan kasihan 🙁

Good story anyway 🙂

ilhammenulis

Eksploitasi itu.. tega bener ortunya. :I

juniblossom

y ham, maaf baru ngucapin… :3
Smga semua yg direncanain terwujud 🙂

Suka ham, diksinya aku suka…
Mantebh!

juniblossom

Selamat ulang tahun… 😀

ilhammenulis

Huhaha.. makasih jun. Kalo soal diksi, punya juni biasanya lebih asik malah. Mana postingan 7HariMenulisnya? 😀

juniblossom

Ada di blog ku ham, another geje… :3

Aku suka ide ide cerita yang kamu bikin, kepikiran aja nulis itu… #jempol

wanspeak

diksinya keren. makna flash fictionnya dapet. wes top-lah kalo mau nerbitin buku. 🙂

ilhammenulis

kamu ikut yang 7HariMenulis gak wan? ayo ikutan :3

Evan

WOW,, mantapp Ilham!!! Oia,, Met Ultah yah,, maaf baru tahu,, semoga dilancarkan urusannya, dilapangkan rizkinya,, dan dimudahkan jodohnya.. ^_^

ilhammenulis

aaaamiiiin banget buat yang terakhir. hahaha.. makasih mas evan 😀

Evan

hahahhaa,,, jadi mau dulu2an nih?? :p

ilhammenulis

widiiih, senior dulu deh~ monggo :p

Orin

Aaaah…selalu suka sm cerita2nya Ilham…
Eh, happy ‘belated’ birthday ya Ham, best wishes for you^^

ilhammenulis

makasih teh orin 😀 eniwei yang kemaren follow akun teteh itu saya. hehehe :”>

ahsinmuslim

yup, keren. bahasanya sangat mengalir. salut untuk pemilik laman ini. salam kenal 🙂

ilhammenulis

terima kasih mas. salam kenal juga 😀

Langit

selamat ulang tahun dek 😛

pasti udah punya segudang draft buat dipublish 5 hari ke depan #7harimenulis

ilhammenulis

segudang draft yang harusnya udah dipublish dari kapan taun mbak ._.

Langit

aku gak pernah punya gudang draft ._.

ilhammenulis

punya saya juga bukan gudang sih.. ransel doang kali ya ._.

Langit

ini bocah cepet banget dah balesnya… gak kerja pasti 😛 *panggilin kakap*

ilhammenulis

ini kakapnya lagi baca One Piece episode terbaru :v

arip

Dan saya belum pernah merasakan metromini, yg ada DAMRI dengan AC dan jok yg lumayan nyaman. OOT.

ilhammenulis

bersyukurlah kang… hahahaha

herv

keren ceritanya. menginspirasi sekaligus menyadarkan..
udah lama pengen bikin flash fiction berbau sosial, ga melulu cinta2an, tapi ga pernah terlaksana. saya perlu banyak berguru di sini.. 😀

ilhammenulis

*efek SK yang nggak turun-turun :I

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
44
0
Beri Komentarx
()
x