Terdengar suara getaran dari atas meja. Hemi refleks menjulurkan tangannya dari atas tempat tidur, meraba-raba posisi ponsel pemberian ayahnya. Ponsel itu tak memiliki layar, dan hanya memiliki sembilan tombol speed dial, yang berisi nomor-nomor penting.

“Hmmmh? Siapa ini?” gumannya dengan kedua mata masih terpejam.

“Kakak? Kakak masih bangun?” Bisik suara di balik telepon.

Hemi menggosok-gosok kedua matanya dengan sebelah tangan, “Ngapain kamu nelepon-nelepon kakak?” dengusnya.

“Kakak masih marah?” tanya suara itu pelan, seperti takut-takut.

“Hmm..” Hemi kembali menggumam.

Kemudian dia mendengar suara isakan pilu.

“Kenapa kamu nangis?”

“Nggak nangis kok.”

“Bohooooong. Dasar cengeng.” Hemi malah meledeknya.

“Alif nggak bisa bobo, kak.”

Hemi mengerutkan kening, “Mama kemana? Ini pake hape mama kan?”

“Mama udah bobo dari tadi. Alif takut, kak. Diluar hujan, terus banyak gledek.”

Baru saja Alif selesai berbicara, kilat menyambar di luar jendela Hemi, disusul oleh dentuman keras. Hemi seketika mematung karena terkejut.

“Alif? Alif? Kamu nggak apa-apa?”

Namun tak terdengar jawaban apapun.

“Alif!”

Tiba-tiba terdengar suara garukan di jendela. Hemi menelan ludah. Perlahan dia bangkit dari tempat tidur, seraya berjalan mendekati tirai jendelanya.

Deg!

Sebuah bayangan terlihat bergerak-gerak dari balik tirai, sebentuk jemari kurus dengan kuku-kuku panjang. Dia tiba-tiba teringat cerita-cerita seram yang selalu diceritakan oleh teman-teman sekolahnya.

Hemi kembali menelan ludah, dan mulai menahan napas.

Dia berjalan mendekat. dengan tangan sedikit gemetar dia menyentuh tirai jendela, kemudian perlahan menyibaknya.

Dia langsung bisa bernapas lega. Ternyata yang dilihatnya adalah dahan pinus yang menggesek jendela kamarnya karena terkena angin.

Tiba-tiba kilat menyambar lagi, Hemi kaget bukan main. Dia refleks melompat kembali ke tempat tidur dan meringkuk di balik selimut.

“Kakak? Kakak?” Suara Alif kembali terdengar dari ponsel.

“Kamu denger suara gledek tadi? Deket banget.” Hemi berbisik, “Alif, diluar sana seram.” Suara Hemi bergetar karena takut.

“Alif juga takut.”

“Kita tidur lagi aja, Al.”

“Jemput Alif, kak. Alif takut.”

“Kamu kan udah sama mama.” Hemi cemberut.

“Alif pengen sama kakak lagi.”

“Kakak nggak bisa kesana. Udah malam, kakak takut.”

“Kakak benci sama Alif ya? Maafin Alif, kak.” Dia mulai terisak.

“Eh? Bukan karena itu.”

“Alif minta maaf.. Alif nggak serius kok waktu bilang nggak mau ketemu kakak lagi seumur hidup. Alif juga nggak serius waktu bilang benci sama kakak.” Dia kemudian menangis.

“Jangan cengeng, kamu kan udah masuk SD sekarang.” Jawab Hemi sambil menyeka air yang menggunung di ujung matanya.

“Alif mau tidur bareng kakak lagi. Jemput Alif kesini, kak.”

“Tapi diluar sana gelap, hujan badai juga. Besok aja ya?”

“…..” tidak terdengar jawaban, tak lama kemudian sambungan telepon diputus.

Hemi meletakan ponselnya. Dia melihat ke arah jendela sambil menggigit bibir bawahnya. Rupanya hujan turun semakin deras di luar.

Apa yang harus dia lakukan?

Dia lalu melihat ke seberang tempat tidurnya, dimana Alif biasanya tidur. Walaupun menyebalkan, tapi Alif adalah anak yang baik. Harusnya pertengkaran tadi siang tidak perlu terjadi. Harusnya dia berikan saja boneka itu kepada Alif. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia juga merindukan adiknya.

Hemi lalu memantapkan hati. Dia akan menyelinap dan menjemput adiknya.

Tapi dia butuh persiapan.

Dia segera membuka lemari pakaian dan laci mejanya. Hemi mengganti piyamanya dengan kaos dan celana pendek. Dia kemudian mengenakan setelan jas hujan berwarna kuning yang baru dibelikan oleh ayahnya minggu lalu. Jas hujan itu tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya, terutama sepatu bootsnya, tapi dia tidak peduli.

Dia membuka ransel, mengeluarkan semua isinya, kemudian dengan telaten memasukan sebuah payung, pakaian ganti, serta beberapa bungkus tango sebagai bekal makanan. Tak lupa dia mengambil sebuah senter dari dalam laci meja.

Pakaian ganti, jas hujan, payung, makanan, senter, lilin, semua siap! Ah iya, peta.. aku butuh peta... Hemi mengacak-acak buku sekolahnya, mencari-cari sebuah atlas. Dia kemudian atlas itu ke dalam tas.

Hemi berdiri di depan pintu kamarnya. Menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya.

Dia membuka pintu kamar. Gelap. Lorong yang menuju ke lantai satu gelap gulita. Dia menyalakan senter, dan mulai berjalan perlahan, menyusuri dinding lorong. Tubuhnya gemetar ketakutan.

Selangkah demi selangkah dilaluinya dengan penuh ketegangan. Rasanya dari tiap sudut kegelapan itu bisa seketika keluar sesosok makhluk mengerikan yang akan membuatnya pingsan, atau mungkin menariknya menuju ke sarang mereka.

Ini semua demi Alif..

Dia sampai di ujung tangga yang menuju ke lantai satu. Hemi berhenti sejenak, mengatur irama napasnya. Sejauh ini dia baik-baik saja.

Hemi pelan-pelan turun, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara dan membangunkan siapapun. Setiap langkah yang diambilnya membuat jantungnya berdegup makin kencang. Kilatan halilintar masih sesekali menyambar, pun angin di luar sana masih menderu.

Hemi sampai di anak tangga terakhir. Dia melompat ke lantai.

Dia berbelok ke kiri, menghadap ke sebuah pintu.

Hemi menarik napas. Dia kemudian membuka daun pintu.

Dia masuk ke dalam kamar utama, tempat Alif tidur berdua dengan ibunya.

***

Tanjungpinang, 17 Februari 2015

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
6 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
ana

Astaga, kirain meraka tinggal di rumah yang beda, eh ternyata cuma beda kamar doang.. Terus apa gunanya si Hemi pake jas hujan? Aneh-aneh aja tuh bocah

isnawati

pdahal cuma 1 rumah aja yaa..
tp kq bawa peta, payung, jas hujan sgala sihh,,

orang awam

Buset, pas habis baca kok saya dpet sensasi macam “so cute”, “so sweat”, “ihh, lutuna~”, dan semacamnya

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
6
0
Beri Komentarx
()
x