Ada cukup banyak hal yang terjadi pada tahun 2011. Saya lulus kuliah, menjadi pengangguran karena moratorium, kenalan dengan bang Noor. H. Dee di forum Sindikat Penulis, galau karena terlalu lama melajang, membuat konsep awal platform menulis sipenulis.com, dan juga menyelesaikan Novel fiksi sains remaja yang berjudul Sense.

Sense sendiri awalnya berbentuk serial, dan pertama rilis di blog ini (dulu masih wordpress) pada April 2010 hingga November 2011. Setelahnya, naskah serial itu diedit dan dirampingkan, sehingga menjadi sebuah draf novel.

publikasi pertama di facebook dan blog
publikasi versi pertama dari novel Sense

Draf novel itu kemudian saya kirimkan ke beberapa penerbit mayor. Sepanjang tahun 2012 hingga pertengahan tahun 2013 menjadi masa penantian. Satu demi satu penerbit saya kirimi naskah, satu demi satu pula menolaknya. Selain mungkin karena kualitasnya yang pas-pasan, “pasar belum siap,” adalah feedback yang kerap saya terima.

Tahun 2013 itu pula, akhirnya ada satu penerbit mayor yang menerima. Setelah beberapa kali berkirim e-mail, saya dipertemukan dengan salah seorang editor lepas mereka. Naskah kembali direvisi, kali ini diputuskan untuk dibagi menjadi dua bagian, karena ternyata terlalu tebal untuk diterbitkan dalam satu buku.

Setelah kurang lebih enam bulan proses revisi, naskah akhirnya disetujui oleh redaksi. Saya disodori kontrak penerbitan, yang tentu saja segera saya tandatangani dan kirim kepada mereka.

Saya kembali menunggu. Namun hingga separuh lebih tahun terlewati di tahun 2014, belum kunjung ada kabar tentang proses penerbitan Sense. Setelah melakukan konfirmasi, ternyata penerbitan novel dibatalkan. Apa mau dikata, saat itu pihak penerbit sedang shifting fokus ke bisnis lain selain menerbitkan buku-buku fiksi.

🙁

Semenjak itu, saya jadi merasa sangat lelah dengan semua proses penerbitan buku. Saya pikir, sudahlah, memang bukan jodohnya terbit secara fisik. Pajang saja semua di platform sipenulis.com, yang kebetulan memang sedang (sedikit) naik daun.

No photo description available.
Sampul novel di sipenulis.com

Setelah itu semuanya terlupakan. Life goes on. Memang tidak benar-benar terlupakan, karena rupanya tetap ada beberapa kawan yang getol mengingatkan bahwa saya punya draf novel yang belum juga terbit. Seakan tak mau kalah dengan kawan-kawan saya itu, istri saya sendiri juga seringkali menggoda dan meminta saya untuk mencoba lagi mengirimkan naskahnya.

Lompat ke tahun 2020. Saat pandemi melanda, selama beberapa bulan saya terpaksa bekerja dari rumah. Bisa dibilang bobot pekerjaan ikut menurun drastis, karena pekerjaan saya pada dasarnya mengharuskan terjun langsung ke lapangan. Momen ini dijadikan senjata oleh Istri saya. Apa mau dikata, saya tak bisa lagi beralasan sibuk dan capek karena bekerja.

Saya kembali membaca ulang drafnya. kemudian merevisi lagi naskahnya, untuk kesekian kali. Namun sekarang benar-benar sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Rencananya adalah mencoba sekali lagi mengirimkan naskah itu ke penerbit mayor. Jika gagal, maka novelnya akan diterbitkan sendiri, karena kebetulan saat itu saya dan beberapa kawan sedang rajin mempublikasikan novel di google play books dengan menggunakan bendera Minima Press

e-books yang diterbitkan di bawah bendera Minima Press

Sayangnya, saya tak benar-benar mencari tahu tentang demografi buku dari penerbit tujuan saya. Alhasil, pada awal tahun 2021, saya diajak video conference oleh salah satu editor.

“Naskah ini menarik, tapi kenapa dikirimkan kepada kami? Buku-buku kami kan biasanya bernuansa keagamaan,” ujarnya.

Saya tidak bisa menjawab dengan lugas, karena menyadari ketololan diri sendiri yang tidak banyak riset sebelum mengirimkan naskah.

Setelah penolakan terakhir itu. Saya sepenuhnya mengalihkan perhatian pada penerbitan mandiri. Dari mulai proofreading, layouting, cover, hingga memilih percetakan. Ada banyak sekali hal yang harus dipersiapkan. Masalah biaya awal juga jadi bahan pertimbangan yang serius, karena saya tidak mungkin mengambil jatah uang untuk keperluan sehari-hari, sehingga bisa dibilang saya harus menabung dulu.

sampul novel edisi cetak

September 2021, proses pencetakan buku selesai. Ada rasa haru yang menyeruak ketika saya pertama kali membuka kardus yang dikirimkan oleh percetakan. Rasanya percaya-tidak percaya. Harus saya akui, ternyata novelnya terasa lebih keren dalam bentuk cetak.

Lebih terharu lagi saat teman-teman yang memesan buku akhirnya menerima bukunya. Respons mereka begitu antusias.

Mau tidak mau saya jadi berpikir, mungkin jika bukunya diterbitkan lebih lama lagi, respon mereka akan lebih mengharukan lagi.

***

Anyway, jika ada yang ingin mencoba membaca novelnya, bisa cek di sini

Jika ada yang berminat membeli ebooknya di Google Play Books, bisa cek di sini

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Beri Komentarx
()
x