#19 – Semangat Belajar

Saat berkunjung ke Bangkok pada tahun 2014, ada sebuah tempat yang sangat ingin saya kunjungi.

Tempat itu bukan Grand Palace, Wat Arun, maupun Flower Market, tetapi Masjid. Di kota dengan ratusan kuil megah ini, saya ingin tahu apakah ada masjid yang tak kalah megahnya.⁣

Niat tinggalah niat. Karena sibuk mengunjungi lokasi wisata yang lain, sampai hari terakhir di Bangkok saya tidak sempat menuntaskan niat menjelajah masjid-masjid di Bangkok.

Saya hanya sempat berkunjung ke satu masjid.⁣

Continue reading “#19 – Semangat Belajar”

#18 – Latte Factor

Teori Latte Factor dipopulerkan oleh David Bach, seorang Financial Expert berkebangsaan Amerika Serikat.

Latte Factor merujuk kepada kebiasaan sebagian orang dalam membelanjakan uang (dengan jumlah yang dirasa tak seberapa) namun secara rutin.

Continue reading “#18 – Latte Factor”

[Fiksi] – Tempat Teraman

“Cepat-cepat, lewat sini!” teriakku sambil menunjuk ke sebuah terowongan yang terbentuk di sela-sela akar sebuah pohon besar.

Di belakangku, tiga anak kecil berusia enam tahunan mengekor. Kami berempat mengenakan piyama kusam yang sudah compang-camping karena usia dan juga telah tergores ranting dan dahan pepohonan di sana-sini.

Continue reading “[Fiksi] – Tempat Teraman”

#17 – Mendefinisikan Kebahagiaan

Maret 2015, tak lama setelah batal menikah, saya pergi backpacking ke Jepang.⁣

Berbekal sebuah buku guide terbitan tahun lawas dan uang tunai seadanya, saya dan satu orang kawan menyusuri jalur darat Tokyo – Kyoto – Osaka selama kurang lebih 10 hari.⁣

Continue reading “#17 – Mendefinisikan Kebahagiaan”

#16 – Tentang sipenulis.com

Tahun 2010an, jika kita googling dengan kata kunci “komunitas menulis” atau “komutas penulis” ada kemungkinan kita akan menemukan forum sindikat penulis di laman pertama.

Forum Sindikat Penulis dibuat pada tahun 2009 untuk kemudian ditinggalkan begitu saja oleh si empunya. Orang itu tidak menyadari bahwa dengan senyap dan perlahan forum itu menjadi semakin ramai. Saya sendiri bergabung dengan forum itu pada tahun 2011.

avatar si pencipta forum: konon dia bisa tidur di mana saja, bahkan saat mengendari motor

Di sana saya kebetulan berkenalan dengan si pembuat forum yang ternyata tiba-tiba muncul kembali. Dia menyebut dirinya sebagai tukangtidur. Di luar sana, dia lebih dikenal sebagai Noor H. Dee, seorang cerpenis sureal dan salah satu editor buku anak tersohor di Indonesia.

Tak pernah saya sangka perkenalan di forum itu adalah sebuah awal dari persahabatan dua pria dengan beda usia cukup jauh, yang saat ini telah berlangsung hampir satu dekade lamanya.

Continue reading “#16 – Tentang sipenulis.com”

#15 – Catatan

Pernahkah kalian membuat jurnal/diary/catatan harian? Saat ini mungkin sudah cukup ketinggalan zaman, ya? Perannyapun sudah diambil alih oleh platform blog seperti wordpress dan blogspot serta microblogging seperti twitter.

Namun siap menulis di dalam platform online artinya kita siap membagikan pemikiran kita kepada seluruh dunia, (atau kepada circle terdekat kita, tergatung setelan privasi yang kita pilih). Artinya juga kemungkinan besar akan ada feedback berupa dukungan ataupun bantahan. Ada yang tersanjung ataupun tersinggung. Ada yang mengerti, tapi tak sedikit pula yang menyalaharti.

Jika kita menyadari adanya implikasi itu, tentunya akan ada proses bernalar yang cukup panjang sebelum akhirnya kita mempublikasikan tulisan kita. Bukan tidak mungkin kita malah jadi merasa ragu dan merasa buah pemikiran kita tak cukup penting dan berbobot untuk dipublikasikan. Kita juga mungkin merasa minder dan malu karena kosakata kita yang terbatas dan ejaan kita yang sering gawal.

Pada akhirnya, bisa saja semua proses bernalar itu membuat tulisan kita tak lagi menjadi tulisan yang jujur. Setidaknya tak jujur untuk diri kita sendiri.

Continue reading “#15 – Catatan”

#14 – Empty House

Tahun 2008, saat pindah ke Bintaro untuk melanjutkan sekolah, saya baru menyadari bahwa selama empat belas tahun sebelumnya saya tinggal di rumah yang terletak di sebuah jalan dengan nama yang ternyata cukup nyeleneh; Jalan Burujul.

Continue reading “#14 – Empty House”

#13 – Random Things About Pokémon

Saat masih SD saya rutin mengaji di masjid dari mulai magrib sampai isya. Saya dan beberapa anak seusia lainnya akan duduk berbaris, kemudian bergantian membaca Al-Quran sambil dikoreksi oleh guru ngaji. Di sela-sela menunggu antrian, kami biasanya mengobrol dan bercanda. Topik yang kala itu sering diobrolkan tak jauh dari game-game yang biasa kami mainkan sepulang sekolah di rental PS.

Suatu hari seorang teman mengaji datang dengan membawa sebuah gimbot ke masjid.

Well, saya pernah punya gimbot dan tahu seperti luar dalamnya, tapi gimbot yang dibawa anak itu berbeda. Setelah diperhatikan baik-baik, gimbot itu ternyata adalah sebuah Gameboy Color.

Continue reading “#13 – Random Things About Pokémon”

Debu

Kita terombang-ambing dalam waktu,

bagai debu-debu yang berterbangan ditengah sorotan mentari senja di balik jendela.

Hidup terasa semakin tergesa.

Kemarin dua puluh lima, hari ini tiga puluh, esok mungkin tiga puluh lima.

Besertanya ada goresan-goresan luka, duka, dan air mata. Juga canda, tawa, dan suka cita.

Aku harap bilangan-bilangan itu menjadikan kita bertambah dewasa, Aku harap angka-angka itu membuat kita semakin bijaksana.

Aku harap kita terus saling percaya dan saling menjaga.

Tak apa walau bagai debu-debu yang berterbangan, selama kita terombang-ambing bersama.

Hingga sorot mentari senja tak lagi tampak di balik jendela.

Bandar Lampung, 14 Oktober 2020

Untuk Noury, selamat datang di usia tiga puluh.

– suamimu yang kurang romantis

Sumber foto sampul: Photo by Steve Halama on Unsplash