Seorang pria berjalan dengan santai di sepanjang jalan setapak yang terbuat dari batu kali yang sudah kusam, menuju ke sebuah taman. Wajahnya tirus, tulang pipi dan dagunya menonjol dengan jelas. Kulitnya sedikit pucat. Di bawah kelopak matanya ada sebuah kantung berwarna kehitaman. Kantung itu bergerak naik turun seiring dengan kedipan matanya. Rambutnya panjang, terlihat sedikit basah seperti baru dibilas, pun dengan kumis dan janggutnya, terpotong dengan rapi.

Senyum merekah selalu terlihat di bibirnya.

Pria itu memakai pakaian sederhana, kemeja kusut yang dirangkap dengan sweater abu-abu. Dua duanya sudah usang, bolong di sana sini. Aroma sabun colek tercium dari pakaiannya. Pria itu membawa sebuah tas ransel kumal dengan tambalan di sana-sini, serta sebuah tikar yang dia ikat dengan tali sepatu bekas.

Kedatangannya ke taman ternyata mengundang perhatian beberapa orang yang sedang berada di sekitar tempat itu. Mereka dengan penuh keingintahuan melirik dan saling berbisik.

Ini orangnya? Tak mungkin!

Sumpah.. betul dia orangnya. Kemarin aku lihat sendiri..

Ayolah, dia cuman pengemis. Kalau dia punya uang sebanyak itu, tak mungkin dia mengemis..

Senyumnya makin lebar kala mendengar semua bisikan itu. Dia terus berjalan.

Dia berhenti tepat di bawah sebuah pohon mapple yang daunnya sudah mulai meranggas di sana-sini. Beberapa orang sudah berkumpul di sana, menunggunya.

“Tolong geser sedikit,” ujarnya.

Orang-orang itu mundur beberapa langkah, memberinya ruang.

Pria itu melepaskan ikatan tikarnya. Dia mengibas-ngibaskan tikar yang dia gunakan duduk sekaligus tidur setiap malam, mengenyahkan debu-debu serta bekas tanah dari permukaannya.

Setelah mengatur posisi duduknya selama beberapa menit, dia mengeluarkan sebuah papan dari dalam ranselnya. Papan itu di cat putih, dengan tulisan hitam yang sudah pudar karena usia dan cuaca.

Dia menancapkan papan itu ke dalam tanah.

Seratus ribu untuk satu cerita.

Ternyata benar..

Dasar sinting!

Mungkin uangnya palsu, Apa kita harus menghubungi polisi?

Kemarin ada beberapa orang yang mengantri, kau mau coba?

Awas, dia bisa saja penipu.

Bisikan-bisikan itu ramai terdengar lagi.

“Silakan duduk dan buktikan sendiri,” kata pria itu.

Tapi mereka bergeming. Walaupun penasaran, mereka masih merasa ragu dan takut. Mereka semua sepertinya lebih suka menonton sambil berkomentar. Mereka menunggu kedatangan satu orang pemberani untuk mencoba.

Tiba-tiba seorang pemuda mengacungkan tangan. Dia berjalan dengan malu-malu ke depan kerumunan. Dia bertubuh tinggi, kurus, cengan mata cekung dan ada bekas lebam di pipinya. Pemuda itu memandang lekat tulisan di papan.

“Ini bukan bercanda, kan?” tanyanya.

Pria itu mengangguk, “akan kuberikan seratus ribu untuk satu cerita.”

“Memangnya kau punya? Aku mau lihat dulu uangnya.”

Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang seratus ribuan yang sudah sedikit lusuh.

“Itu asli?”

“Tentu saja. Dengar, tak ada yang memaksamu. Kalau kau mau, silakan duduk. Aku akan mendengarkan semua cerita, keluh kesah, rahasia, harapan, impian, serta keputusasaanmu. Kalau tidak mau, silakan pergi. Jangan menghalangi orang lain datang,” jelas pria itu dengan tegas.

“Kau tak akan menceritakan kisah-kisahku kepada orang lain kan?”

Pria itu terkekeh, “untuk apa?”

Pemuda itu berpikir keras, menimbang untung ruginya.

“Cih, masa bodoh lah.”

Pemuda itu kemudian duduk. Pria itu dengan sopan menyuruh kerumunan orang untuk sedikit menjauh, memberikan ruang agar mereka pemuda itu bercerita dengan tenang dan nyaman.

“Kalian bisa kembali lagi saat pemuda ini telah selesai.”

“Kapan dia selesai?” Terdengar sebuah celetukan dari dalam kerumunan.

“Saat dia mengatakan kalau ini sudah selesai.” Pria itu menunjuk si pemuda.

Setelah kerumunan di sekitar mereka membubarkan diri, pemuda itu mulai bercerita.

Dia menceritakan semua masalahnya dengan suara pelan, nyaris berbisik. Matanya nanar menatap ke tikar selama dia bercerita. Ada atmosfir aneh di sekitarnya. Hawa menenangkan yang membuatnya leluasa untuk bercerita. Dia merasa aman.

Pemuda itu menceritakan tentang bagaimana dia sering dianiaya di sekolahnya karena warna kulitnya. Bagaimana ibunya sering memukulinya di rumah karena dia dianggap anak badung. Dan bagaimana dia harus melarikan diri dari rumahnya saat dia hampir ditusuk oleh pacar ibunya yang baru. Untuk kemudian hidup di jalanan selama lima tahun berikutnya. Pria itu mendengarkan semuanya dengan serius, dengan penuh perhatian.

Satu jam berlalu. Pemuda itu kini sedang menangis tersedu-sedu di hadapannya, menumpahkan semua emosi dan beban hidupnya.

Pria itu menepuk-nepuk pundaknya.

“Bagaimana rasanya setelah bercerita?”

“Aneh sekali, rasanya lega.” Dia terkekeh sambil mengusap pipinya yang basah. “Terima kasih,” lanjutnya.

Pria itu menggeleng. “Akulah yang harusnya berterima kasih. Ceritamu tadi luar biasa.”

Pemuda itu pergi setelah dia memberinya uang seratus ribu. Setelah dia pergi, orang-orang berdatangan dan mulai berebut untuk bisa duduk di atas tikar usangnya.

*

Sore harinya, Pria itu melihat ada seorang pemuda yang memakai setelan jas sedang memperhatikannya dari sebuah bangku di seberang jalan. Awalnya dia tidak terlalu memikirkan tentang pemuda itu, sampai beberapa jam kemudian saat dia akan menggulung tikarnya, si pemuda masih duduk di sana.

“Kau mau bercerita?”

“Mungkin,” pemuda itu mengangkat bahu. Seperti masih belum yakin.

“Sayang sekali uangku sudah habis. Datang lagi saja besok atau lusa,” jawabnya sambil memperlihatkan isi saku celananya.

“Aku tak butuh uangmu. Tapi bisakah kamu menjawab beberapa pertanyaanku sebagai imbalannya?”

“Tentu saja.”

Pemuda itu mendekat dan duduk di hadapannya. Sorot matanya tajam. Dia seperti sedang memendam sesuatu. Luka mungkin? Atau kekecewaan karena cinta? Pria itu tidak bisa menebak sebelum pemuda itu benar-benar bercerita.

“Nah, apa yang mau kau ceritakan? Apa kau punya pengalaman unik? Atau tragedi kehidupan? Kisah cinta? Apapun akan aku dengarkan.”

Pemuda itu berpikir selama beberapa detik, kemudian mulai bercerita.

“Mungkin Ini sedikit membingungkanmu. Karena aku sebenarnya punya kehidupan yang luar biasa.”

Pria itu mengangguk-angguk.

“Aku berasal dari sebuah keluarga kecil. Kami tinggal di sebuah rumah di pinggiran kota. Kami bahagia. Well, kami tidak kaya, tapi bahagia.

“Ayahku bekerja di sebuah firma hukum yang cukup besar. Dia adalah pegawai yang baik, teladan yang tak pernah membuat banyak masalah. Ayah pendiam, tapi dia selalu jadi panutan kami. Penghasilannya cukup, dan jika ditambahkan dengan bonus yang dia dapatkan saat menyelesaikan sebuah kasus, kami sekeluarga bisa berlibur ke luar negeri satu tahun sekali. Tidak terlalu buruk kan?

“Ibuku adalah seorang wanita mungil cerewet yang tidak bisa diam. Atau jika itu terlalu frontal, kita katakan saja beliau sangat ‘lincah’. Ibu selalu bersemangat mejalani kehidupan. Dia sangat senang membuat kue. Jadi sebagai hadiah ulangtahun pernikahan mereka sepuluh tahun yang lalu, Ayah membuatkan ibu sebuah toko roti di halaman sebelah rumah kami. Agar ibu bisa menyalurkan semua energi berlebihnya. Dan aku bisa mendapatkan uang jajan lebih dari hasil membantu di toko ibu. Menyenangkan sekali sebenarnya, karena kami setiap hari bisa makan roti buatannya yang sangat lezat.

“Oh iya. Aku punya seorang adik laki-laki. Anak cerdas dan lugu. Sekarang dia sedang menyelesaikan studinya di luar kota. Awalnya ibu tidak mengizinkan, karena dia takut adik tidak bisa hidup sendiri. Tapi setelah beberapa kali diyakinkan, akhirnya beliau memberikan izin. Bisa dibilang prestasinya cukup bagus. Yah, memang bukan mahasiswa terbaik. tapi dia sudah punya masa depan yang cukup menjanjikan.”

Pemuda itu berhenti selama beberapa saat untuk mengambil napas.

“Lalu apa yang terjadi?”

“Kenapa kau berasumsi ada sesuatu yang terjadi?” Pemuda itu tersenyum kecut.

“Ayolah, tak mungkin kan tak ada sesuatu yang terjadi. Cerita bahagia seperti itu biasanya berujung tragedi.”

Pemuda itu terkekeh sambil terus menatapnya, “entahlah ini bisa disebut tragedi atau bukan. Tapi beberapa tahun yang lalu ayah mulai sakit.”

“Nah, ayo kita bicarakan tentang hal itu, kalau kau tak keberatan,” pria itu terlihat bersemangat.

“Tentu saja aku tidak keberatan. Beberapa tahun yang lalu, ayah mulai berubah. Ibu bilang mungkin perubahan itu karena tekanan pekerjaan. Dia mulai jadi lebih pemurung dan pendiam. Ayah dari awal memang sosok pendiam, jadi ketika dia berubah, kami sedikit terlambat menyadarinya. Dia semakin jarang berbicara dengan kami.  Pada hari-hari biasanya, dia akan memberikan satu atau dia buah wejangan untuk kami pada saat makan malam. Tapi lama kelamaan wejangan-wejangan itu tak pernah lagi keluar dari mulutnya. Kamipun terlampau ragu untuk memulai percakapan.

“Ibu menyarankannya untuk berobat. Tapi ayah tidak pernah mau mendengar. Semakin hari sakitnya semakin parah. dia mulai sering berbicara sendiri. Berhalusinasi.”

“Ayahmu jadi gila?” Kedua mata pria itu berbinar-binar karena senang dengan arah cerita ini.

Pemuda itu mengangguk, “sepertinya begitu.”

“Lalu apa yang terjadi? Kalian memasukannya ke rumah sakit jiwa? Dia stress dan membunuh ibumu? Atau dia berlari-lari telanjang ke jalanan?”

Pemuda itu mengangkat bahu, “dia mati.”

“Kalian membunuhnya?”

Pemuda itu tertawa kecil. Bukannya menjawab, dia malah merogoh ke dalam saku jasnya, mengeluarkan sebungkus rokok. Dia menawarkan sebatang kepada pria itu, tapi pria itu menolaknya. Pemuda itu menyalakan rokok, menghisapnya beberapa kali. Mengepulkan asapnya ke udara, sebelum akhirnya dia berbicara lagi.

“Jangan konyol. Mana mungkin kami berbuat seperti itu. Suatu pagi ibu menemukannya  mati bunuh diri.”

“Dengan cara apa?”

“Cara mengerikan,” seringainya.

“Ayolah, berikan sedikit detailnya! Lalu apa yang terjadi?” Pria itu amat tertarik mendengar kelanjutannya. Dia merasa jantungnya berdebar-debar tak karuan.

“Tak ada. Kami melakukan apa yang harus kami lakukan. Kami melanjutkan hidup. Ibu memang sempat bersedih atas kejadian itu. Tapi pada akhirnya kami baik-baik saja tanpa dia.”

“Lalu?”

“Itu saja cerita dariku.”

“Ceritamu tidak menarik,” pria itu menggeleng kecewa.

“Aku tak pernah bilang ceritaku akan menarik.”

“Huh! Baiklah. Sekarang apa yang mau kau tanyakan? Apa kau mau tahu kenapa aku melakukan semua ini? atau dari mana aku mendapatkan semua uangku? Atau dari mana aku berasal? Atau apa?”

Pemuda itu menunjuknya dengan batang rokok. “Ayo kita mulai dengan itu?”

“Yang mana?”

“Darimana kau bisa dapat semua uang ini?”

“Dulu aku punya tabungan, jumlahnya lumayan banyak.”

“Lalu kenapa pakaian dan dandananmu seperti pengemis begini?”

Pria itu terkekeh. “Dengarkan dulu. Dulu memang aku memiliki cukup banyak uang, tapi sudah habis. Aku sudah lama menjadi seorang ‘Pendengar’ seperti ini. dan asal kau tahu, seratus ribu untuk satu orang bukanlah jumlah yang sedikit. Setelah uangku habis, aku mencari uang sebisaku. Menyapu jalan, berjualan koran, terkadang mengutil dompet ataupun mengemis. Apa saja boleh. Aku hanya menggunakan uang itu untuk makan dan mandi saja, sisanya aku kumpulkan untuk kemudian aku gunakan seperti ini.”

“Jadi kau tidak melakukan hal seperti ini setiap hari?”

“Tentu saja tidak. Tadi itu seratus ribu terakhirku.”

“Kedengarannya konyol. Tapi hey, itu uangmu. Terserah mau kau apakan.”

Pemuda itu kemudian merubah sedikit posisi duduknya karena telapak kakinya pegal. “Lalu, darimana kau berasal?” Lanjutnya.

“Aku berasal dari sebuah kota. Tidak terlalu jauh, Jaraknya hanya beberapa ratus kilometer ke timur dari kota ini. Di sana aku punya sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. Aku dulu bekerja sebagai..”

Pemuda itu menggeleng, “kau bohong.”

“Bohong soal apa?” Dia terkejut. Baru kali ini ada orang yang menuduhnya berbohong.

“Kau tidak punya tiga anak.”

“Tentu saja aku punya.”

“Oh ya? Coba ceritakan tentang anak perempuanmu.”

“Namanya Anne, usianya sekarang tiga tahun. Dia adalah anak lucu dengan pipi bulat dan rambut hitam dikuncir. Dia sangat senang berlari-lari di halaman belakang rumah kami di atas bukit. Dia juga senang menari ballet. Istriku sengaja membelikannya rekaman-rekaman tarian ballet untuk dia tonton setiap hari,” jelas pria itu.

“Oke, kalau begitu. Ngomong-ngomong kapan kau mulai menjadi pengelana seperti ini?”

Pria itu mencoba mengingat-ingat.

“Sekitar delapan atau sembilan tahun yang lalu. Setelah selesai menjalankan tugas sebagai tentara perdamaian.”

Pemuda itu terkekeh, sambil terus menggeleng-gelengkan kepala.

“Apanya yang lucu?”

“Bagaimana mungkin kau pergi delapan tahun yang lalu tapi punya anak perempuan umur tiga tahun? Anak siapa itu?”

Pria itu mengerutkan kening. Pemuda itu benar. Dia sepertinya salah mengingat. Dia mengingat-ingat lagi. Sepertinya anak perempuan tadi adalah anak salah satu orang yang pernah bercerita kepadanya beberapa waktu yang lalu.

“Ah maaf, aku lupa. Kau benar. Aku hanya punya dua anak laki-laki. Usia mereka sekarang mungkin pertengahan dua puluh. Salah satu dari mereka berhasil masuk ke universitas terkenal di luar negeri. Sayangnya anak keduaku hanya bisa tinggal di rumah setelah tertabrak..”

“Berapa usiamu sekarang?” potong pemuda itu.

Tiba-tiba Pria itu merasakan kepalanya berdenyut, seperti tersetrum listrik.

“Hey! Biarkan aku menyelesaikan ceritaku. Aku tak pernah memotong ceritamu kan? Sekarang usiaku sekitar empat puluh lima tahun. Kenapa?”

“Itu karena yang kuceritakan adalah cerita sebenarnya. Fakta. Kenyataan. Tapi kau dari tadi berbohong.”

“Jangan asal bicara kau!” Pria itu mendelik marah.

“Dari mana kau tahu anakmu berhasil masuk universitas di luar negeri? Apa kau masih sering menghubungi keluargamu? Tapi biarlah, ayo kita bahas pekerjaanmu. Terakhir kali bertugas sebagai tentara perdamaian, kau bertugas di mana?”

“Sebentar, biar kuingat-ingat. Ah iya! Serbia.”

“Kau bohong lagi. Itu sudah lebih dari delapan tahun yang lalu.”

Dia menatap pemuda itu. Kepalanya berdenyut. Matanya mulai berkunang-kunang.

“Siapa yang peduli perang itu sudah berapa tahun yang lalu?”

“Aku peduli.”

“Sebaiknya kau pergi. Ini mulai tak lucu.” Pria itu memegangi kepalanya dengan tangan kanan.

“Aku memang tidak sedang melucu. Coba kau ingat-ingat lagi, siapa kau sebenarnya?”

“Diam! Sana pergi!” Pria itu menghempaskan tangannya ke depan. merasakan kepalanya jadi sangat berat, dan denyutnya semakin hebat, membuatnya kesakitan.

“Kau bukan seorang tentara! Itu mungkin cerita seorang veteran perang yang kau aku sebagai ceritamu sendiri. Usiamu sudah jauh lebih dari empat puluh lima tahun, coba saja beli kaca.” Pemuda itu terus berbicara, membuatnya semakin pusing.

“Brengsek! Ya, aku dulunya bukan tentara. Aku dulu adalah seorang pencuri, dan tak punya keluarga lagi di dunia ini. Aku sendirian!” Pria itu mulai mengerang.

“Bohong! Kau bukan seorang pencuri. Dan kau masih punya keluarga.”

“Aaaaaarrgh!! Apa maumu sebenarnya? Siapa kau?” Dia mulai menjambak-jambak rambutnya sendiri. Kebingungan. Matanya berputar-putar, memandang ke sekelilingnya, kemudian kepada pemuda itu, begitu terus bergantian. Pria itu mulai tertawa tak karuan, sambil bercucuran air mata. Dia kemudian telungkup sambil terus melantur dan merapalkan semua kisah yang selama bertahun-tahun ini terus dia dengar.

Pemuda itu berdiri, lalu membersihkan debu-debu yang menempel di kemeja serta celananya. Dia menatap jijik ke arahnya.

“Sudah kami duga kau akan jadi seperti ini. Tak lebih dari selongsong kosong. Manusia tanpa jiwa. Kau merasa bosan dengan kehidupanmu, merasa bosan dengan keluargamu. Tapi bukannya mencoba untuk memperbaiki semuanya, kau malah lari dari kenyataan dan melakukan hal konyol seperti ini. Kau berharap untuk mengisi kekosongan hidupmu dengan kisah-kisah orang lain. dan tanpa sadar akhirnya kau melupakan kisah hidupmu sendiri.”

Pemuda itu kembali berjongkok, mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu, yang kini terlihat kosong melompong.

“Kau sudah mati. Sesaat setelah kau pergi dari rumah dan berusaha untuk menjadi orang lain yang bukan dirimu sendiri. Kau sudah kami anggap mati, Pa. Mati dengan cara paling mengerikan di dunia.”

***

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
2 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Mohamad Prima Andika

gaya tulisannya ilham bgt hehe

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
2
0
Beri Komentarx
()
x