Suatu malam, seorang wanita mendatangi klinik dokter Gerry. Wanita itu mengeluhkan bahwa perutnya belakangan ini sering berbisik dan menyuruhnya untuk makan berbagai benda.

Wanita itu mengenakan daster abu-abu bergaris. Menurutku dia cukup cantik. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Kulitnya putih, tapi cenderung pucat.

Wajahnya tirus dan pipinya cekung. Di bawah matanya ada kantung berwana kehitaman. Tebakan pertamaku dia sepertinya menderita anemia atau hipotensi. Dari ukuran buncit di perutnya, wanita itu seperti sedang hamil di usia enam belas sampai delapan belas minggu.

Aku dan Reno tertawa geli saat mendengar wanita itu mengatakan perutnya sering berbisik. Kami sangka dia sedang membuat lelucon.

“Ibu baru pertama kali ke sini?” tanya Reno sambil mengeluarkan buku tamu dari dalam laci. Perempuan itu mengangguk. Matanya terus melihat kesana-kemari, dia terlihat sangat gelisah.

Seperti yang biasa kami lakukan ke pasien lainnya, kami menyuruhnya duduk. Kebetulan malam itu sudah cukup larut, dan tidak ada lagi pasien lainnya yang mengantre.

Aku menyerahkan sebuah pulpen kepadanya. Wanita cepat-cepat menuliskan nama “Mirna” di buku tamu. Tangannya terlihat gemetar ketika sedang menulis.

“Ibu Mirna nggak apa-apa? Apa ada yang sakit?” tanyaku.

“Kan sudah kubilang perutku ini selalu berbisik! Aku ingin suara bisikannya berhenti!” serunya.

Tiba-tiba tubuh Mirna melenting ke belakang. Dia menutupi telinganya dengan kedua tangan.

“Diam! Diam! Diaaaaam!”

Aku dan Reno segera berdiri dan berjaga di belakang Mirna. Aku khawatir Mirna akan pingsan atau semacamnya. Tak lama kemudian Mirna berdiri, dia mengacungkan pulpen yang sedang dipegangnya tinggi-tinggi ke angkasa sambil berteriak-teriak.

“Tidaaaaaaak! Nggak mau! Aaaaaaaaaaaaaaaa!” Suara Mirna terdengar melengking, aku sampai harus menutup telingaku.

Sepersekian detik kemudian, sesuatu yang tak pernah kulihat seumur hidupku terjadi. Mirna memasukkan puplen itu ke dalam mulutnya, dia berusaha untuk menelannya bulat-bulat.

Aku bergegas menghampiri Mirna karena kulihat dia seperti kesulitan bernapas. Sementara Reno hanya berdiri terpaku di belakangku.

“No, panggil Ayahmu!” teriakku sambil menepuk-nepuk punggung Mirna. Aku berharap semoga saja pulpen itu masih sempat dikeluarkan.

Reno terkesiap, kemudian dia bergegas menuju ke ruang praktek. Tapi ternyata pintu ruangan itu lebih dulu terbuka. Kulihat kepala dokter Gerry melongok keluar.

“Ada apa ini? ribut sekali!” ujar dokter Gerry sambil melihat ke arah kami.

Sebelum aku sempat mengatakan apa-apa, Mirna sudah menepis tanganku dan langsung berlari ke arah dokter Gerry. Dia menarik-narik kerah jas labnya, membuatku menahan napas karena panik.

“Dok, Dok! tolong! Buat perutku diam. Aku tak tahan lagi mendengar bisikannya! Baru saja dia menyuruhku memakan pulpen!”

*

Aku tak mengerti apa yang dipikirkan oleh dokter Gerry. Kupikir seharusnya Mirna segera dibawa ke Rumah Sakit untuk dioperasi, karena jelas-jelas dia sudah menelan bulat-bulat sebuah pulpen. Aku dan Reno sudah memberitahu dokter Gerry perihal pulpen itu, tapi dokter Gerry malah memarahi Reno karena dia pikir anaknya itu tidak becus menjaga keselamatan pasien.

Mirna dibaringkan di tempat tidur. Karena sudah ada dokter di hadapannya, wanita itu terlihat lebih tenang. Aku dan Reno berdiri di dekat pintu, sementara dokter Gerry duduk di samping Mirna.

“Kenapa ibu menelan pulpen? Itu sangat berbahaya.” ujarnya sambil menyiapkan stetoskop.

“Tolong Aku, Dok. Sudah dua hari ini perutku menyuruhku makan yang aneh-aneh. Sekrup, serbuk kayu, lem aibon, penggaris besi, mainan plastik, pokoknya segala macam. Dan dia nggak pernah diam sampai aku benar-benar memakan benda-benda itu. Tolong aku, Dok, buat dia diam, Aku sudah muak!” jelas Mirna sambil terisak. Tangannya erat menggenggam jas dokter Gerry.

Aku dan Reno bertukar pandangan. Walaupun tidak bertukar kata, tapi kupikir kami sependapat. Sepertinya Mirna ini kurang waras. Aku menyiku pinggang Reno sambil berbisik, menanyakan nomor Rumah Sakit jiwa terdekat. Bisa saja Mirna kabur dari sana. Tapi Reno hanya menggeleng sambil menundukkan kepala.

“Sekarang kita periksa dulu perutnya ya, Bu Mirna.”

Dokter Gerry meraba perut Mirna yang buncit. Setelah itu dia mengarahkan stetoskopnya ke perut Mirna, sembari menekan-nekan berbagai titik di perutnya. Saat stetoskop itu berada di sekitar permukaan bagian lambung Mirna, dokter Gerry mengerutkan kening. Dia melepaskan stetoskopnya, kemudian memandang Mirna dengan wajah penuh rasa heran.

Mirna balas menatap dokter Gerry. Kedua bahunya naik-turun, dan napasnya mulai memburu. Dokter Gerry buru-buru mengenakan lagi stetoskopnya dan menempelkan ujung benda itu di tempat tadi.

“Sekarang dokter percaya, kan?” tanyanya.

“Kenapa, Dok?” Aku ikut bertanya. Tapi dokter Gerry hanya mengangkat sebelah tangannya, sambil memberi isyarat agar aku diam.

Untuk kedua kalinya dokter Gerry melepaskan stetoskopnya. Dia kemudian menoleh ke arah kami.

“Berikan termometer yang ada di saku bajumu,” pintanya kepada Reno sambil mengulurkan tangan.

“Untuk apa?” tanya Reno.

“Anak tolol! Jangan banyak tanya! Berikan saja!” teriak Dokter Gerry.

Jika dokter Gerry sudah membentak Reno seperti itu, jantungku selalu dag-dig-dug tak karuan. Walaupun Reno juga adalah seorang dokter, sekaligus anak semata wayangnya, tapi dia selalu kasar kepada Reno. Setiap hari ada saja kekerasan verbal dan fisik yang dialami oleh Reno.

Sepertinya di mata dokter Gerry, Reno tak pernah melakukan hal yang benar.

Aku menelan ludah, kemudian mendorong bahu Reno agar dia segera memberikan termometer itu. Aku tak ingin kejadian minggu lalu terulang. Pelipis Reno lebam karena dilempar baki oleh dokter Gerry.

Dokter Gerry menyambar termometer dari tangan Reno, kemudian memberikannya kepada Mirna.

“Dok, jangan! nanti benda itu dia makan!” teriakku. Dan benar saja, segera setelah termometer itu berpindah tangan, Mirna memasukkannya ke dalam mulut.

Aku berlari menghampiri Mirna untuk menolongnya, tapi dokter Gerry berdiri dan menghalangi langkahku.

“Dok, dia tersedak!”

Mirna memang tampak kesulitan menelan. Beberapa kali dia seperti mau muntah. Matanya juga berkaca-kaca, seperti orang yang terpaksa melakukan itu semua.

“Kita harus membawanya ke rumah sakit.” Kataku lagi.

“Kita tunggu dulu,” jawab dokter Gerry nyaris berbisik.

Setelah termometer itu berhasil ditelan, Mirna tampak kelelahan. Dia hanya terbaring lemas sambil tengadah. Tatapannya kosong melihat ke langit-langit.

Dokter Gerry meminta Reno menyiapkan dan menyetel mesin USG, sementara aku diperintahkan untuk diam di kursi.

Reno mengoleskan ultrasound gel di perut Mirna, kemudian dokter Gerry menempelkan tranduser dan melihat-lihat hasil USG di layar. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat layar mesin USG dengan cukup jelas.

“Lihat, No. Di lambung wanita ini ada sesuatu yang aneh,” ujarnya kepada Reno.

Aku ikut melihat ke arah layar. Kusangka aku akan menemukan pulpen dan termometer tersangkut di lambung Mirna.

Tapi ternyata tidak, tidak ada apa-apa di lambungnya. Kecuali.. ada sebuah lingkaran aneh di bagian tengah lambungnya.

“Itu.. sebuah lubang?” tanya Reno.

“Ya,” jawab dokter Gerry. Matanya terlihat berbinar-binar.

“Di mana termometer dan pulpennya?” tanya Reno lagi.

“Sepertinya benda-benda itu masuk ke dalam lubang. Dan yang dia katakan itu benar, dengan stetoskop memang bisa terdengar dengan jelas perutnya berbisik.” jawab dokter Gerry sambil sedikit menyeringai. Aku bisa melihat keringat mulai menetes dari lehernya.

“’aku mau makan termometer,’ perutnya membisikkan itu tadi,” ujar dokter Gerry.

“Dok, kurasa kita harus membawa Mirna ke rumah sakit, dia harus segera ditolong.” Aku tak tahan lagi, bisa kurasakan dokter Gerry punya niat jahat terhadap Mirna.

“Reno! kasih tahu dokter Gerry, wanita itu harus segera dirawat!” kataku lagi.

“Viki benar, Yah. Kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit.” Ujar Reno dengan suara pelan. Aku tahu dia mengatakannya dengan takut-takut.

Tak pelak tamparan dokter Reno menyambar pipi Reno. Suaranya kencang sekali.

“Anak Goblok! Kamu tahu kalau ini penemuan penting? Kita harus menelitinya. Jangan sampai hal ini diketahui dokter lain.”

“Dok, Anda sudah gila apa?” protesku.

“Sudah, sudah! Kalian berdua keluar! Saya nggak butuh bantuan kalian! Viki, kamu saya pecat. Nggak perlu datang lagi ke klinik.” Teriaknya sambil mendorongku dan Reno keluar dari ruang praktek.

Sebelum menutup pintu, dia melotot ke arahku sambil menunjuk-nunjuk.

“Kalau kamu berani membocorkan soal ini kepada siapapun, kuhabisi kamu dan keluargamu.”

Setelah itu pintu ruang praktek dibanting tertutup. Menyisakan aku dan Reno yang tak tahu harus berbuat apa.

*

Walaupun bertentangan dengan apa yang kuyakini, tapi aku menuruti peringatan dokter Gerry. Sungguh aku takut untuk memberitahukan semuanya kepada orang lain. Aku memang tak tahu pasti bahwa dia akan melaksanakan ancamannya, tapi aku tak mau mengambil risiko.

Malam itu setelah kami diusir, Reno berkata bahwa dia akan kembali ke klinik untuk membujuk ayahnya lagi. Dia tahu yang diperbuat oleh ayahnya itu tidak benar. Aku hanya bisa berharap Reno bisa membujuk ayahnya tanpa disertai dengan dirinya yang dibuat babak belur terlebih dahulu.

Reno mengatakan bahwa dia akan segera memberiku kabar begitu ada berita terbaru soal Mirna. Selama beberapa hari ini setiap malam aku menunggu di dekat telepon, tapi Reno tak juga menghubungiku. Jadi aku berhenti menunggunya, dan memilih untuk mencoba melupakan semua kejadian itu.

Kemudian pada suatu malam, Reno tiba-tiba muncul di depan rumahku. Seperti yang kuduga, wajahnya terlihat lebam. Dia juga terlihat seperti orang yang sudah berhari-hari tidak tidur.

Aku menyuruh Reno masuk, tapi dia menggeleng.

“Kita harus menghentikan Ayah,” ujarnya pelan.

Masih berdiri di depan pintu, Reno menceritakan semuanya. Ternyata walaupun dia sudah datang setiap hari dan membujuknya, dokter Gerry tetap tidak mau membawa Mirna ke Rumah Sakit. Setiap datang dia selalu dipukuli dan diusir oleh dokter Gerry.

“Jadi apa yang harus kita lakukan, No? Apa menurutmu kita ke Polisi saja?”

“Jangan! Aku nggak mau Ayah dipenjara. Please Vik, jangan sampai itu terjadi.”

“Lalu bagaimana?” tanyaku bingung.

“Aku punya rencana. Kita masuk ke klinik dan bawa Mirna ke Rumah Sakit. Dengan bantuanmu kita pasti berhasil. Aku akan menghentikan Ayah, sementara itu kamu yang bawa Mirna keluar.”

“Yakin? Nanti kamu dihajar dokter Gerry lagi.”

Reno mengangguk. “Nggak apa-apa, yang penting Mirna selamat dulu. Aku khawatir akan keselamatannya jika terlalu lama bersama Ayah.”

Bisa kulihat ekspresi marah di wajah Reno. Mungkin dia sudah muak diremehkan oleh ayahnya. Kupikir Reno selama ini memang hanya ingin membuktikan kepada Ayahnya kalau dia adalah anak yang berguna, dan layak untuk dibanggakan. Tapi entah mengapa dokter Gerry tak bisa melihat itu semua.

Kami pergi saat itu juga menggunakan mobil Reno. Sesampainya di klinik, Reno mengeluarkan kunci cadangan dan membuka pintu samping pelan-pelan.

Karena sudah cukup larut, klinik itu hanya diterangi oleh beberapa lampu berwarna kuning. Samar-samar aku bisa mendengar suara lenguhan.

“Itu suara Mirna? Dari mana asalnya?” tanyaku.

Reno hanya memberikan tanda agar aku mengikutinya. Kami berjalan cepat-cepat menyusuri koridor, menuju ke arah ruang operasi.

Samar-samar terlihat seberkas cahaya dari balik ruang operasi. Suara lenguhan dan erangan Mirna terdengar semakin keras.

Kami membuka pintu pelan-pelan, sambil mengintip ke dalam.

Aku terkesiap, darahku rasanya tiba-tiba terhisap entah kemana, membuat kepalaku pusing.

Di dalam sana, Mirna dibaringkan di atas ranjang, tanpa busana. Ukuran perutnya tidak normal, besar sekali. Sulur-sulur urat berwarna keunguan samar terlihat di seluruh permukaan perutnya.

Mirna berbaring dengan gelisah, bergerak kesana kemari. Tangan dan kakinya diikat oleh tali. Ke tiang-tiang tempat tidur.

Dokter Gerry juga ada di sana. Berdiri mematung memandangi Mirna.

Kami membuka pintu dan masuk ke dalam. Aku tak sanggup berkata-kata. Pemandangan di hadapanku ini sungguh mengerikan, sekaligus menyedihkan.

“Ah, Viki, coba lihatlah. Ini luar biasa sekali.” ujar dokter Gerry dengan wajah berseri-seri.

“Lubang di perutnya tak pernah berhenti berbisik dan meminta makan. Semakin lama benda yang dia minta semakin besar, hingga tak bisa lagi masuk melalui mulutnya. Coba lihat ke sini,” lanjutnya.

Dokter Gerry tampak sangat antusias. Dia menarik tanganku cepat-cepat. “Jangan, takut. Nggak apa-apa.”

Sekarang perut Mirna terlihat dengan jelas. Ada sayatan vertikal di sepanjang perutnya.

“Dok, kita harus membawanya ke rumah sakit!” seruku.

“Omong kosong,” sanggahnya. “Mirna baik-baik saja. Bahkan nafsu makannya semakin bertambah. Seperti yang kukatakan tadi, sekarang makanan yang dia minta besar besar, seperti televisi, sepeda roda tiga, ban. Jadi kami harus berimprovisasi dan membuat sayatan ini untuk memberinya makan.”

“Kami?” tanyaku sambil menoleh ke arah dokter Gerry.

“Ya, aku dan Reno.” dia menyeringai.

Aku menoleh ke arah Reno, yang terlihat sedang mengunci pintu ruang operasi.

“Maaf, Vik, Aku nggak bisa melawan Ayah.”

“Mau apa kalian!”

Dokter Gerry mencengkram bahuku kuat-kuat, lalu menarikku ke arah perut Mirna.

“Kamu pikir kamu bisa membuat Reno melawanku, hah? Nggak bakal bisa! Dia itu pengecut yang tak ada gunanya. Dia nggak bisa hidup sendiri tanpa ayahnya. Sekarang lihat sini. Kemarin malam perutnya berbisik, kamu tahu dia ingin makan apa? Manusia.. Ya, dia ingin makan manusia, jadi harus kita berikan sebelum dia mati kelaparan.”

Sayatan di perut Mirna mulai membuka, menampakan serangkaian gigi-gigi tajam berukuran besar. Di bagian tengahnya, ada lubang berwarna hitam.

Aku berteriak sambil meronta-ronta. Lubang itu mulai menggeram, baunya sungguh tak tertahankan.

“Tolooooong! Reno! Tolooooong!” teriakku sambil terus meronta-ronta. Satu-satunya harapanku adalah Reno, yang sedang meringkuk ketakutan di dekat pintu keluar.

Gigi-gigi itu semakin dekat dengan kepalaku. Kedua tanganku sekuat tenaga menahan pinggiran tempat tidur. Sementara Mirna bertambah gelisah. Badannya terus bergerak-gerak.

Perut Mirna semakin terbuka lebar. Dari dal am lubang itu muncul sulur-sulur bergigi, mencoba menjangkau kepalaku.

“Renooooo, please, tolong aku!!!”

Tapi Reno bergeming. Ternyata dia memang manusia tak berguna seperti yang dikatakan Ayahnya. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri.

Jadi dengan kekuatan terakhir yang kumiliki, aku menendang kemaluan dokter Gerry. Dia mengerang sambil memegangi kemaluannya. Aku menggunakan kesempatan itu untuk mendorongnya, dan berguling ke samping.

Alih-alih menjangkauku, sulur-sulur itu ternyata lebih dulu mengenai kepala dokter Gerry. Dokter Gerry berteriak histeris. Dalam waktu singkat badannya terangkat ke udara dan masuk dengan kepala terlebih dahulu ke dalam lubang di perut Mirna.

Mereka bergumul selama beberapa waktu. Badan dokter Gerry terbanting kesana kemari, sampai tempat tidur Mirna akhirnya patah. Begitupula seluruh ikatan tangan dan kakinya.

Teriakan dokter Gerry terhenti, setelah itu hanya terdengar bunyi krauk-krauk dari dalam perut Mirna.

Aku beringsut ke sudut ruangan. Jantungku berdebar dengan sangat kencang.

Mirna berdiri diam. Perutnya menganga. Bola matanya berputar-putar, menatapku dan Reno bergantian.

Samar-samar aku bisa mendengar bisikkan dari perut Mirna.

Krauk-krauk-krauk…

***

Bandar Lampung, 5 September 2020

Masih merupakan bagian dari kisah-kisah yang terinspirasi dari Junji Ito. Kisah lainnya berjudul Rumah Pesirkus dan Bayangan di dalam Cermin

Foto Sampul: Cassidy Rowell on Unsplash

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x