Siang tadi ceritanya saya makan siang sama bos dan bendahara kantor. Di tengah-tengah obrolan saat makan, ada sebuah cerita yang membuat saya seperti terkena lightning struck.

Jadi kita lagi cerita-cerita soal salah seorang koki di rumah makan yang keluar, terus dia mendirikan usaha sejenis di kota yang sama. Terkadang ketika hal seperti itu terjadi kita terpentok pertanyaan

“Etis nggak sih hal kayak gitu? Jadi pegawai yang udah kita didik, kita kasih ilmu, terus setelah selesai belajar dia keluar dan bikin usaha sejenis yang nyaingin usaha kita.”

Well, jujur kalau saya yang jadi bossnya. perasaan kesal pasti ada. hal yang wajar lah ya.. dan mungkin sebagian dari teman-teman juga begitu ya?

Tapi terus bos cerita sesuatu. katanya saat dulu dia kuliah, dia punya teman.

Nah ayah temannya ini punya sedikit metode bisnis yang aneh dan nggak konvensional.

Jadi ayah temannya ini. (saya sebut saja ‘beliau’ ya.) punya sebuah toko buku. Pada suatu hari, ada seorang pemuda yang datang ke toko itu, seorang pengangguran. Beliau kemudian menerima pemuda itu jadi pegawainya.

Setelah beberapa tahun, setelah dia ngerti semua hal yang diperlukan dalam bisnis pertokoan buku, pemuda itu menemui beliau. dia mengundurkan diri.

Beliau bertanya apa alasannya? pemuda itu bilang bahwa dia juga mau buka usaha toko buku. kemudian beliau bertanya, mau buka toko di mana? pemuda itu kemudian menyebutkan nama satu daerah.

Nah, pada titik ini saya berpikir, okelah dia mau bikin usaha sejenis, yang penting kan jauh dari sini. nggak akan ngaruh ke bisnis saya.

Tapi beliau lain, beliau malah melarang pemuda itu untuk membuka toko buku di daerah tersebut.

“Jangan, kamu bukanya di sini saja, di seberang toko saya.” katanya.

Nah loh, aneh kan? Saya mengerutkan kening. kok gitu ya? malah nyuruh calon kompetitornya buat ngebuka usaha pas di depan muka dia.

Tapi pemuda itu menolak, dengan alasan dia nggak punya biaya buat nyewa tempat di depan itu, karena terlalu mahal.

Tau apa yang beliau bilang? beliau bilang

“Jangan khawatir, nanti saya bantu modalnya.”

Oke, di titik ini saya bener-bener udah lost. nggak ngerti lagi dengan jalan pikirannya. Kemudian jadilah pemuda itu membuat toko buku di seberang toko bukunya. setelah beberapa tahun, toko kecil pemuda itu udah sama besarnya dengan toko beliau.

Bos saya kemudian bertanya kepada beliau, menanyakan kenapa dia membiarkan ada pesaing bisnis yang langsung tumbuh di depan batang hidungnya?

Beliau kemudian berkata, bahwa dia senang pemuda itu punya keinginan untuk maju, dan dia ingin membantu bekas pegawainya itu sebanyak yang dia bisa. jadi kalau lokasinya ada di depan dia gampang membantu kalau bekas pegawainya ada kesulitan.

“Tapi bukannya itu bakal mengurangi penghasilan toko bapak?”

“Tidak akan,” katanya yakin. “Ibaratnya dulu nilai saya sepuluh, sedangkan dia nol. sekarangpun nilai saya tetap sepuluh kok, tapi dia sudah berubah, sekarang nilai dia sepuluh juga. dan itu karena bantuan saya. itu yang membuat saya senang. Saya sudah membantu orang lain menjadi sukses.”

“Kalau orang itu nggak berjualan di sana bapak malah bisa dapet nilai lima belas.” kata bos saya.

“Kata siapa?” dia tersenyum.

“Rezeki nggak bekerja dengan cara seperti itu. dia tak akan pernah tertukar, membantu menambah rezeki orang lain tak akan mengurangi rezeki kita kok.”

si bapak pemilik toko buku
Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
mhilal

Cara berpikirnya bagus. Si bapak itu cocok jadi teladan

danirachmat

Temen kantor cerita mertuanya juga kayak bapak penjual toko buku itu. Bantu banyak banget orang waktu muda, sekarang katanya sebulan bisa 3 kali jalan-jalan ke luar negeri dibiayain orang yang dulu dibantunya.
Rejeki memang tidak bekerja dengan cara itu ya..

Ana Rezky

Sepakat banget dengan beliau, kak. Rezeki tiap2 orang itu sudah diatur oleh Tuhan.

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x