Mungkin manusia memang perlu sekarat. Bukan untuk mati, tetapi agar bisa mensyukuri hidup dengan hakiki.

Mungkin manusia memang perlu sering terjatuh dan menangis tersedu. Sebelum kita sadar bahwa masa lalu, sebagaimanapun asam dan kelabu, hanyalah serupa benalu. Tak lebih daripada debu yang dengan sendirinya akan tersapu saat kita memutuskan untuk melangkah maju.

Mungkin manusia memang diciptakan seperti itu. Selayaknya bola karet yang melesat kian pesat ketika dihempas dengan lebih keras. Seperti bongkahan logam kusam yang bisa jadi indah hanya jika telah berkali-kali terbenam bara panas dan tempaan deras.

Mungkin tiap hari yang kita lalui dengan rupa variasi, naik-turun, gembira-murung, atas-bawah, senang-susah, semua itu pada akhirnya akan menjadi sebentuk frekuensi. serupa detak nadi yang membetuk melodi unik milik kita pribadi.

Mungkin begitu.

Terserah denganmu, tapi aku ingin percaya bahwa semuanya memang telah digariskan seperti itu.

Maka ketika aku tengah berada di bawah, terombang ambing dalam balutan lahar panas, terbenam dan terhimpit batuan cadas, itu adalah penantian. sebuah bentuk pendewasaan.

Aku ingin percaya bahwa pada akhirnya nanti aku akan melebur, menjadikan tanah di sekitarku gembur dan subur. Lalu Aku akan tumbuh kembali, dari mulai biji, perlahan menjadi tunas untuk kemudian menjadi pohon berkayu, berdaun penuh dan teduh. Dan aku ingin percaya bahwa kelak aku akan menjadi tempatmu berteduh, beristirahat dari segala keluh dan peluh.

Semoga.

Dalam hidup, orang-orang datang dan pergi. banyak dari mereka memutuskan untuk sekedar singgah, sedikit yang memutuskan untuk menetap.

dan satu yang berjanji untuk menemani.

sehidup, semati.

– Tanjungpinang, 10 Agustus 2015
Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x