“Yakin rumahnya yang ini?” tanya Sisca. Danu mengangguk singkat, sambil memarkirkan mobilnya di halaman depan. Setelah mematikan mesin dia keluar dari dalam mobil, lalu melihat ke sekeliling. Rumah itu tampak berantakan. Ilalang tumbuh subur di setiap sudut taman. Debu dan sampah menumpuk di sana sini.

“Seingatku dulu rumahnya tak sebobrok ini,” gumam Danu. Dia merasa udara di sekitarnya berat karena bau apek yang menyeruak dari dalam rumah. “Kamu nyium bau apek, ga?”

“Kayaknya dari dalam rumah. Kapan terakhir kali rumah ini ditempati?” jawab Sisca sambil menutup hidung.

“Paman meninggal lima tahun yang lalu. Sejak itu rumah ini nggak pernah ditempati lagi.”

Danu merasa tertipu mentah-mentah. Padahal dia sudah senang ketika ayahnya berkata akan memberikan rumah sebagai hadiah pernikahan. Dia kira rumah macam apa, ternyata rumah bekas pamannya.

Sisca menepuk pundaknya dari belakang, “jangan merengut gitu, dong. Seenggaknya sekarang kita punya rumah, nggak perlu lagi numpang di rumah orangtua.”

“Tapi ini rumah bekas orang sinting, Ca.”

“Hus, paman sendiri dibilang orang sinting. Yuk, masuk. mudah-mudahan dalamnya nggak separah di luar.”

Danu mengikuti Sisca masuk ke dalam rumah. Sesuai dugaannya, dalam rumah itu sangat berantakan, dan terlihat tak layak untuk ditinggali. Baunyapun jauh lebih menyengat daripada di luar.

“Apa kubilang, paman sebelum meninggal berubah jadi orang sinting dulu. Dia terus-terusan mengurung diri di rumah dan nggak mau keluar,” keluh Danu.

“Kalau nggak salah pamanmu yang ini bekas pesirkus, kan?”

Danu mengangguk. Pamannya dulu adalah pesirkus terkenal, nama panggungnya adalah Zamrun Mata Elang. Pamannya adalah pelempar pisau ulung. Dia bisa melempar pisau sambil berakrobat dan tetap mengenai sasaran. Sebelum jadi sinting pamannya jarang ada di rumah, dalam satu tahun paling hanya satu atau dua bulan. Sisanya dihabiskan dengan berkeliling ke seluruh negeri, mengunjungi kota demi kota untuk beratraksi dengan kelompoknya.

Sisca mengeluarkan kamera saku dan mulai memotret seluruh bagian ruangan dan kamar. Dia ingin mendokumentasikan separah apa kondisi di rumah ini, agar bisa dengan tepat menghitung biaya dan jumlah tukang yang dibutuhkan untuk membereskannya.

“Kalau dia lebih sering bepergian, seharusnya rumahnya nggak seberantakan ini,” celetuk Sisca.

“Nggak selalu seperti ini. Sewaktu dia masih aktif bermain sirkus rumah ini malah selalu terawat. Kondisinya Jadi begini setelah dia jadi sinting,” jawab Danu.

Mereka kemudian masuk ke kamar utama, yang kondisinya jauh lebih berantakan. Kasur berdebu yang tak sempat dibereskan. Meja rias dengan botol-botol tumpah, serta dinding dengan wallpaper biru yang sudah koyak di sana-sini. Lantai kamar itu lengket, seperti dilumuri oleh lem.

“seingatku paman menyimpan seluruh kostumnya di lemari ini. Kamu mau lihat?”

Tanpa menunggu jawaban Sisca, Danu membuka dan mengacak-acak lemari pakaian. Lemari itu ada banyak sekali kostum sirkus, beraneka warna dan pola. di bagian atas lemari bertumpuk wig dengan corak yang tak kalah banyaknya dengan kostum-kostum itu.

“Penuh sekali, kita harus buang semua ini,” gumamnya.

“Nu, sepertinya ada banyak tikus di rumah ini,” ujar Sisca sambil memotret lubang-lubang kecil yang diplester di dinding, di antara wallpaper yang terkoyak.

“Tikus?” Danu beralih dari lemari. Dia berjongkok untuk melihat lubang-lubang itu lebih dekat. Ternyata memang benar. Ada banyak sekali lubang yang diplester semen di seluruh bagian tembok. Plester itu terlihat dibuat dengan terburu-buru dan tidak rapi.

“Tunggu, sepertinya di ruangan-ruangan lain juga ada, deh,” Sisca kemudian melihat-lihat gambar yang tadi dia ambil dari seluruh bagian rumah. Danu bangkit dan ikut melihat kamera Sisca. Hampir di setiap foto ada lubang yang diplester. Walaupun ukurannya kecil, tapi jumlahnya cukup banyak dan tidak hanya ada di dekat lantai. Ada juga yang di tengah tembok, bahkan di dekat langit-langit.

“Kita harus panggil pest control. Satu lagi tambahan biaya,” gerutu Danu.

“Pokoknya kita inventarisir aja dulu semua masalah rumah ini, baru kita tentukan prioritasnya, ” jelas Sisca.

Danu mengangguk setuju. Mereka lalu mengelilingi seluruh bagian rumah, hingga akhirnya tiba di halaman belakang. Kondisi tempat itu juga serupa dengan halaman depan, berantakan. Tapi selain itu, di tempat ini juga masih berdiri beberapa set papan target.

“Ini tempat pamanmu berlatih, ya?”

“Ya,” jawab Danu sambil mengamati papan-papan itu. “Coba lihat sini, bekas tancapan pisaunya benar-benar hanya berada di bagian tengah target.”

“Pamanmu benar-benar hebat, ya.”

Dulu sewaktu masih duduk di sekolah dasar, Danu pernah beberapa kali menghabiskan masa libur sekolah bersama pamannya di rumah ini. Setiap pagi dia akan menemani pamannya berlatih melempar pisau. Dia bahkan sempat beberapa kali mencoba menjadi sukarelawan dengan menaruh sebutir apel di atas kepalanya. Dan pamannya berhasil menancapkan tidak hanya satu, tapi tiga pisau menembus apel itu.

Danu sebenarnya sangat mengidolakan pamannya. Ketika mendengar pamannya tiba-tiba berhenti menjadi pesirkus dan mengurung diri di rumah, dia merasa terpukul dan kecewa, apalagi setelah mengetahui bahwa pamannya meninggal.

Bagai dapat membaca kegelisahan Danu, Sisca tiba-tiba bertanya, “Eh, pamanmu meninggal karena apa? Kamu nggak pernah cerita.”

Danu menatap Sisca selama beberapa detik, kemudian berbisik pelan, “dia bunuh diri.”

“Eh? pamanmu mati bunuh diri? Shit, jangan bilang pamanmu bunuh diri di rumah ini,” lanjutnya sambil mengusap-usap jidat.

Danu mengangguk.

*

Beberapa hari kemudian mereka berdua kembali ke rumah itu dengan membawa sebuah mobil pick up. Rencananya hari ini mereka akan memilah-milah barang dan perabotan. Barang-barang yang sudah usang atau tak diperlukan akan diangkut dan dibuang.

Agar pekerjaan itu cepat selesai, mereka membagi tugas. Danu membersihkan ruang tamu dan kamar-kamar, sementara Sisca membersihkan ruang tengah dan dapur.

Hingga sore hari, mereka masih belum menyelesaikan kegiatan itu.

“Kuhitung lubangnya ada tiga puluh dua, Nu.” ujar Sisca sambil menumpuk sebuah dus berisi pernak-pernik di sudut ruangan.

“Kamu dengar ada suara tikus, ga? tadi Aku denger ada suara-suara dari dalam tembok,” ujar Danu tanpa menoleh. Kedua tangannya sibuk memasukkan buku-buku dan majalah ke dalam kotak.

“Nah, aku juga dengar. Tapi suaranya nggak seperti suara tikus, sih. srek-srek-srek, gitu, kayak suara apa ya? Entahlah, tapi bukan tikus.”

Danu berpikir sebentar, mencoba mengingat-ingat suara yang dia dengar dari dalam tembok. Dia juga merasa suaranya lebih berat dari suara gerakan tikus.

“Eh, ini foto pamanmu?” tanya Sisca sambil mengambil selembar foto di antara tumpukan buku.

Danu mengambil foto dan buku tempat foto itu diselipkan. “Ini buku catatan Paman,” ujarnya sambil membolak-balik buku yang dipenuhi oleh tulisan tangan pamannya. Pandangannya kemudian beralih ke foto yang dipegang oleh Sisca.

“Oh, aku ingat orang-orang ini,” ujar Danu. Di dalam foto hitam putih itu berdiri tiga orang pria berkostum. Mereka berpose di depan sebuah tenda besar.

“Paman yang di tengah. Dua orang ini sahabat karibnya, yang kiri kalau nggak salah Robby Melar, sementara yang kanan.. siapa ya, oh iya, Sulaeman Raja Sanca.”

Sisca terkekeh mendengar nama-nama aneh itu. “Jadi yang satu adalah manusia elastis, dan satunya pawang ular, begitu?”

“Ya, kira-kira begitulah,” Danu ikut terkekeh. “Omong-omong, kamu udah selesai? Sebaiknya kita lanjut besok aja, ini udah terlalu sore,” lanjutnya.

“Oke, aku juga harus mampir ke kantor malam ini. Sebentar, aku mau ke toilet dulu. Kamu tunggu aja di depan.”

Sisca bergegas pergi, sementara itu Danu berdiri dan membersihkan pakaiannya dari debu-debu yang menempel. Tak berapa lama tiba-tiba dia mendengar suara teriakan Siska dari dalam kamar mandi.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaak,”

Danu terkesiap. Dia segera berlari dan membanting pintu kamar mandi hingga terbuka. Sisca sedang berdiri di pojok, wajahnya pucat pasi. Dia menunjuk ke arah lubang di dinding seberang kamar mandi yang plesternya sudah terbuka.

“Ada apa?”

“Ular… tadi aku lihat ada kepala ular menyembul dari lubang di dinding.”

*

“Kami tidak menemukan adanya tikus maupun ular, Pak.” ujar salah seorang petugas. Segera setelah Sisca melihat ular, mereka menelepon dan membuat janji dengan jasa pest control. Keesokan harinya seluruh bagian rumah itu diperiksa, termasuk ke lubang-lubang di dinding yang banyak mereka temukan.

“Tapi istri saya kemarin melihatnya di toilet,” ujar Danu.

Petugas itu menggelengkan kepala. “Jika benar ada ular bersarang, pastinya ada tanda-tanda seperti kotoran, tulang-belulang binatang kecil dan juga sisik bekas ular itu lewat, atau lebih parah lagi bekas telur dari anak-anak ular. Tapi tak ada yang seperti itu.”

Petugas itu berpikir sebentar, kemudian berbicara lagi.

“Hanya saja lubang-lubang itu memang aneh. Tadi kami periksa, dan sepertinya lubang-lubang itu terhubung satu sama lain. Saya bukan tukang bangunan, tapi kalu bapak ingin menutup semua saluran lubang-lubang itu, sama saja dengan membongkar dan membata ulang seluruh tembok rumah ini.”

“Jadi itu lubang apa? kan nggak mungkin tiba-tiba ada,” Sisca menimpali sambil mengerutkan kening.

Petugas itu mengangkat bahu, “Yang jelas ular nggak mungkin bisa membuat lubang seperti itu di dinding bata, tikus juga tak akan bisa,”

Danu dan Sisca saling bertukar pandang, mereka tidak yakin apa yang harus dilakukan dengan lubang-lubang itu.

*

Sudah satu minggu berlalu semenjak mereka mulai menempati rumah itu. Sedikit demi sedikit rumah itu mereka rapikan. Dimulai dari membersihkan halaman depan dan halaman belakang, kemudian mengganti wallpaper yang sudah usang dan robek-robek.

Walaupun petugas pest control mengatakan bahwa di rumah itu tidak ada tikus maupun ular, tapi mereka masih mendengar suara sesuatu bergerak di dalam dinding rumah.

Awalnya mereka mencoba untuk mengabaikan suara-suara itu, tapi lama kelamaan suara itu semakin sering terdengar dan membuat mereka gelisah. Sisca bahkan beberapa kali berteriak karena melihat ular keluar dari dalam lubang.

Danu sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. Tapi setiap kali Sisca berteriak karena melihat ular, plester di dindingnya pasti rusak dan terbuka, sehingga harus mereka tutupi lagi.

“Lakukan sesuatu, dong! Aku udah nggak tahan,” geram Sisca pada suatu malam.

“Apa misalnya?” Danu balik bertanya. Dia sendiri bingung harus bagaimana.

“Mungkin nggak sih itu ular peliharaan pamanmu? Dia sengaja melubangi dinding agar ular itu bisa bebas bergerak dengan leluasa.” ujar Sisca.

“Tapi kata orang dari pest control kan nggak ada tanda-tanda keberadaan ular, Ca.”

“Ya bisa aja dia salah, kan? Aku jelas-jelas sering lihat ular. Kamu nggak percaya?” Sisca berbicara dengan nada tinggi. Rasanya dia sudah mau meledak karena stress

“Aku percaya, cuma Aku bingung kita harus bagaimana. Mungkin teman paman si Raja Sanca menitipkan salah satu ularnya? Apa kita coba hubungi dia?”

“Kamu tahu di mana dia sekarang?”

Danu menggeleng sambil menghela napas panjang. Danu berdiri, kemudian berjalan bolak-balik sambil berpikir. Pasti ada sesuatu yang bisa jadi petunjuk tentang lubang-lubang itu. Kemudian bagai disambar petir, dia berlari ke arah rak buku. “Buku catatan paman! Mungin ada sesuatu di situ,” sahutnya kepada Sisca.

Tak lama kemudian Danu kembali ke kamar sambil membawa buku catatan pamannya. Dia membolak-balik halaman buku itu, mencoba mencari-cari informasi soal ular.

Mereka berdua duduk di ranjang sambil membaca buku catatan paman Danu. Setelah beberapa menit membaca, alih-alih menemukan soal ular atau lubang di dinding, mereka malah menemukan sebuah kenyataan yang cukup menganggu.

“Ini.. Apa benar pamanmu melakukannya?” tanya Sisca. Danu tidak menjawab, dia hanya menunduk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Dia sedang mencoba mencerna semuanya.

Di dalam buku itu pamannya menulis bahwa dia dikeluarkan dari sirkusnya karena tak sengaja melempar pisau yang mengenai dan menewaskan Robby Melar pada saat latihan. Dia tak ditangkap dan dipenjara karena polisi juga menganggapnya sebagai kecelakaan. Tapi semenjak itu dia tidak bisa lagi mendapatkan pekerjaan sebagai pesirkus, jadi dia terpaksa pulang ke rumah.

Di halaman-halaman selanjutnya pamannya menulis bahwa semenjak itu dia terus menerus dihantui oleh arwah dari Robby Melar. Bertahun-tahun dia mengaku dihantui oleh Robby Melar. Kemanapun dia lari Robby selalu mengikutinya. Hingga pada halaman terakhir pamannya menulis bahwa dia sudah tak tahan lagi, dan memutuskan untuk gantung diri

“Apa kubilang, dia itu sinting. Dia merasa bersalah karena tak sengaja membunuh sahabatnya, jadi dia depresi dan bunuh diri.”

“Tapi, bagaimana kalau Pamanmu benar?”

“Benar gimana? maksudnya dia dihantui oleh manusia elastis?”

srek srek srek..

Tiba-tiba suara itu terdengar lagi. Sisca menelan ludah, suaranya terdengar dari dinding kamar tidur.

“Nu, kamu denger, Ga?”

Danu mengangguk. “Kalau itu beneran ular, sebaiknya kalau dia muncul, kita tangkap aja.”

“Bagaimana kalau itu bukan ular?” tanya Sisca.

Danu tak mau memikirkan kemungkinan lain. Dia berdiri dan meraih batang sapu dari sudut kamar. Mereka berdua bungkam, mencoba mendengarkan suara yang bergerak di dinding kamar. Suara itu menuju ke salah satu lubang yang telah diplester.

Danu bergerak pelan-pelan mendekati lubang itu. Sisca mengekor di belakangnya, meringkuk di belakang punggung Danu. Sedikit demi sedikit plester dinding itu rontok. Danu menahan napas dan bersiap-siap memukul.

Srek srek srek.

Plester itu terbuka. perlahan sesosok kepala ular keluar dari dalam lubang. Moncong ular itu panjang dan aneh. Mirip dengan.. jemari tangan?

Tanpa berpikir lagi Danu segera mengayunkan batang sapu sekuat tenaga. Pada saat itulah dia menyadari bahwa yang dipukulnya itu bukan kepala ular.

Itu adalah sebuah tangan seseorang yang menyerupai kepala ular.

Batang sapu itu berhasil ditangkap dan dicengkeram dengan kuat oleh tangan itu. Sontak Danu dan Sisca berteriak bersamaan.

“Itu tangan! itu tangan!” seru Sisca.

Batang sapu itu ditarik dengan kuat hingga terlepas dari genggaman Danu. Tangan itu kemudian melemparkan sapu jauh-jauh.

“Astaga.. astaga..” Danu dan Sisca mundur pelan-pelan, kemudian naik ke atas kasur.

Dari atas kasur mereka melihat sisa bagian tangan itu keluar dari dalam lubang kecil. Lubang yang tak seharusnya muat dimasuki oleh manusia.

Srek srek srek..

Setelah tangan, keluarlah kepala. Disusul dengan badan, tangan, dan kaki-kaki.

Semua bagian tubuhnya terpilin satu sama lain, terlipat sedemikian rupa seakan tak bertulang. Menjadi sesosok bagai ular berbentuk pipih dan panjang. Sebelah tangannya menjadi mocnong, sementara sebelah kakinya menjadi ekor.

Danu dan Sisca kembali berteriak-teriak. Mereka melompat dari kasur dan berusaha untuk keluar dari dalam kamar. Tapi makhluk itu lebih cepat. dia meliuk-liuk di lantai, kemudian membanting pintu kamar hingga tertutup.

Ada suara rintihan yang keluar dari sebuah lubang di bagian tengah makhluk itu. Kemungkinan itu adalah mulutnya.

Makhluk itu menggeliat-geliat sambil merintih. Tubuhnya yang pipih perlahan memekar, menampakan ruas kaki dan tangan dengan proporsi dan bentuk tak wajar.

Robby Melar perlahan berdiri. Kedua mata merahnya menatap mereka lekat-lekat.

***

Bandar Lampung, 16 September 2020

Masih merupakan bagian dari kisah-kisah yang terinspirasi dari Junji Ito. Kisah lainnya berjudul Perut yang Berbisik dan Bayangan di dalam Cermin

Foto Sampul: Photo by RAPHAEL MAKSIAN on Unsplash

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
2 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Amela

Pantes dark banget. Inspirasinya junji ito.. Awalnya kupikir itu si sanca, ternyata malah robby melar

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
2
0
Beri Komentarx
()
x